BIBLEMORE

CHRISTOLOGY

CHRISTOLOGY

TEOLOGI TENTANG YESUS KRISTUS

1. Pendahuluan

Pada suatu kesempatan, Tuhan Yesus bertanya kepada murid‑ murid‑Nya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Siapakah Kristus itu? Mempelajari doktrin Kristologi, perihal kepribadian dan karya Kristus, sangat penting bagi setiap orang Kristen.

Kristologi adalah ilmu tentang kehidupan Kristus sekaligus tentang kekristenan. Membicarakan perihal kekristenan berarti berbicara tentang Kristus. Tuhan Yesus Kristus adalah segala‑galanya dalam kehidupan Kristen.

2. Permasalahan Kristologi

Isu‑isu kontemporer dalam Kristologi melibatkan beberapa masalah yang perlu dibahas, antara lain:

2.1. Permasalahan Teologis

Mempelajari Kristologi dengan metode penelusuran historik mengakibatkan timbulnya pandangan‑pandangan Kristologi yang bertentangan dengan Kristologi tradisional (bahwa Yesus adalah Allah dan Manusia).

Teologi Liberal mengatakan bahwa Yesus dalam iman Kristiani berbeda dari Yesus dalam sejarah. Menurut pandangan Liberal, Yesus bukanlah Allah dalam rupa manusia dan bukanlah pekerja mujizat, melainkan “seorang yang baik, guru kebenaran‑ kebenaran rohani yang mulia” ‑ Penelusuran tentang Yesus dalam sejarah menghasilkan pula beberapa pengamatan, antara lain: penyangkalan bahwa Yesus historik itu bukanlah Yesus yang kita imani dan tidak ada mujizat‑mujizat yang terjadi.

Selain pandangan Liberal, ada juga dua pandangan Kristologi yang disebut “Christology from Above” (Kristologi dari “Atas”) dan “Christology from Below” (Kristologi dari “Bawah”).

2.1.1. Kristologi dari Atas

Emil Brunner dalam bukunya, The Mediator, menguraikan inti pandangan ini.

a. Dasar untuk memahami Kristus bukanlah Yesus historik, melainkan khrugma (kérugma), yaitu pemberitaan Gereja tentang Kristus.

b. Dalam merumuskan suatu Kristologi, Surat‑Surat Paulus dan Injil Yohanes perlu diutamakan daripada Injil Sinopsis, sebab Surat-Surat Paulus dan Injil Yohanes merupakan tafsiran teologis tentang Kristus, sedangkan Injil Sinopsis hanya merupakan “laporan” tentang pengalaman dan pekerjaan Yesus.

c. Iman kepada Kristus tidak berdasar pada atau dibenarkan oleh bukti rasio karena iman itu tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Pernyataan mengenai Yesus mengajar murid‑murid‑Nya di tepi pantai masih bisa dipertanyakan, tetapi pernyataan mengenai Yesus sebagai Oknum kedua dalam Tritunggal tidak perlu dipertanyakan lagi.

Kristologi dari Atas ini memang mempunyai segi positif yang bermanfaat bagi jemaat. Penganut‑penganut pandangan Kristologi ini menekankan nilai dan tujuan inkarnasi mempunyai dampak bagi orang percaya kepada Yesus. Kristologi ini juga mempunyai komitmen yang kuat terhadap kegaiban yang memberi kemungkinan adanya Yesus ilahi yang mengerjakan mujizat. Kelemahan pandangan masalah kesubjektifitasan juga menandai pandangan ini. Bagaimanakah kita yakin bahwa Kristus yang kita kenal melalui kesaksian para rasul adalah Kristus yang sejati dan bukan Kristus dari perasaan kita saja?

2.1.2. Kristologi dari Bawah

Pandangan ini menyatakan bahwa Kristologi yang sejati sangat mungkin, yaitu bahwa penelusuran historik dapat mengakibatkan kepercayaan pada keilahian Yesus Kristus. Kepercayaan tersebut merupakan kesimpulan dan bukan dugaan awal penelusurannya. Wolfhart Pannenberg dalam bukunya, Jesus ‑ God and Man memberi penjelasan tentang pandangan ini, selain mengkritik pandangan Kristologi dari Atas.

a. Tugas Kristologi adalah memberi bukti yang logis kepada kepercayaan tentang keilahian Yesus.

b. Kristologi dari Atas cenderung mengabaikan segi kehistorikan Yesus dari Nazaret itu.

c. Kristologi dari Atas hanya mungkin bagi Allah sendiri dan bukan bagi kita. Kita hanya manusia dengan segala keterbatasan dan kita harus memulai penelusuran kita dari perspektif itu.

Pannenberg kemudian menguraikan pendekatannya yang dibedakan dengan jelas dari Kristologi dari Atas.

a. Penelusuran historik di balik kerugma PB sangat mungkin dan merupakan keharusan teologis. Memang biografi Yesus tidak dapat disusun secara kronologis, tetapi paling tidak kita dapat menemukan siapakah Yesus itu dari kesaksian para rasul. Ini harus dilakukan karena jikalau tidak, mungkin saja kita tidak percaya kepada Yesus sejati, melainkan kepada Matius, Lukas, dan Paulus saja.

b. Sejarah itu merupakan satu kesatuan dan bukan dualistis. Hidup dan karya Yesus bukan terpisah dari sejarah umum. Jadi, metode penyelidikan sejarah sekuler perlu dipakai juga dalam penelusuran tentang Yesus.

c. Sangat jelas bahwa Kristologi dari Bawah dapat membuktikan kemanusiaan dan keilahian Yesus melalui pengesahan dari Allah. Pengesahan itu dapat dilihat pula dalam kebangkitan Yesus. Kebangkitan itu berarti bahwa Allah menyetujui pengakuan‑pengakuan Yesus tentang diri‑Nya.

Kelebihan pandangan ini adalah mengurangi kesubjektifitasan yang tidak semestinya. Pandangan ini juga mendorong kita untuk jangan mendasarkan iman pada perkataan orang‑orang percaya yang lain. Kelemahannya terletak pada kenyataan bahwa sukses Kristologi ini mencoba menetapkan bukti historiknya dengan keyakinan objektif yang sebenarnya sulit dicapai.

2.1.3. Kristologi alternatif

Kristologi alternatif bagi orang‑orang Injili adalah paduan dari unsur‑unsur Kristologi Atas dan Kristologi Bawah. Tidak hanya iman saja ataukah penelusuran historik saja, melainkan kedua‑duanya yang jalin‑menjalin, saling bergantung dan berkembang secara simultan. Dengan bertambahnya pengetahuan kita tentang Kristus dalam kerugma maka kita juga lebih memahami dan mengintegrasikan data dari penelitian kepada pengertian kita. Demikian pula sebaliknya. Dengan bertambahnya pengetahuan kita tentang Yesus historik, maka kita lebih diyakinkan bahwa kesaksian para rasul tentang Kristus dalam iman itu benar. Iman kepada Kristus akan membawa kita untuk mengenal Yesus dalam sejarah.

3. Pribadi dan Karya Yesus Kristus

Apakah dalam mempelajari Kristologi, kepribadian, dan karya Kristus tidak bisa dipisahkan? Kalau tidak, urutan manakah yang pertama? Beberapa ahli mendekati pelajaran tentang kepribadian Kristus melalui karya‑Nya bagi manusia. Alasan‑alasan yang dikemukakan adalah:

(1) Untuk menciptakan hubungan yang jelas antara Kristologi dan Soteriologi.

(2) Untuk menyatakan relevansi doktrin Kristus.

Namun, walaupun alasan‑alasan tersebut sangat baik, tetapi ada kelemahan‑ kelemahannya. Sehubungan dengan alasan pertama, maka perlu diketahui bahwa jikalau penekanan diberikan kepada apa yang Kristus perbuat bagi umat manusia, maka kebutuhan manusialah yang cenderung untuk mendikte bagaimana pemahaman tentang kepribadian Kristus itu dibentuk. Sehubungan dengan alasan kedua, dapat dicatat bahwa sangat berbahaya jika pemahaman tentang kepribadian Kristus itu bergantung pada apa yang dirasakan sebagai kebutuhan.

4. Pra‑keberadaan dan Kekekalan Kristus

Kekekalan dan ketuhanan Kristus menjadi satu, tidak terpisahkan. Mereka yang menyangkal kekekalan‑Nya juga menolak ketuhanan‑Nya. Jika ketuhanan Kristus ada, tidak ada masalah untuk menerima kekekalan‑Nya.

4.1. Bukti Langsung

4.1.1. PerjanjianLama

(a) Mikha 5:2 – Pernyataan ini menekankan bahwa “yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala”. Meskipun Yesus lahir di Betlehem (nubuat dalam ayat ini), itu bukan mula‑Nya; Ia telah ada “sejak dahulu kala”.

(b) Yesaya 9:6 – Kristus disebut “Bapa yang kekal”. Ini bukan berarti bahwa Kristus adalah Bapa, karena mereka adalah dua person berbeda dalam Tritunggal. Ini bukan berarti bahwa Kristus juga mempunyai panggilan Bapa. Penyebutan “Bapa yang kekal” menggambarkan. baik pra‑keberadaan‑Nya maupun kekekalan‑Nya.

4.1.2. Perjanjian Baru

Ada banyak ayat‑ayat dalam PB yang secara eksplisit menegaskan kekekalan Yesus Kristus.

(a) Yohanes 1:1 – Dalam Bahasa Yunani, untuk kata “adalah” dalam ayat “pada mulanya adalah Firman” digunakan kata ην, en, kata imperfek yang menekankan keberadaan terus‑menerus di masa lampau. Jadi, ayat ini dapat diterjemahkan: “Pada mulanya Firman terus‑menerus ada”. Yohanes memberikan tanda bahwa bagaimana pun orang berpikir, Firman terus‑menerus ada.

(b) Yohanes 8:58 – Meskipun Abraham hidup 2000 tahun sebelum Kristus, Ia dapat berkata “sebelum Abraham jadi, Aku telah ada”. Meskipun Yesus lahir di Bethlehem, Ia mengklaim bahwa Ia telah ada sebelum Abraham. Kalimat ini penting untuk diperhatikan. Sebelum Abraham lahir, Kristus terus‑menerus ada. Pernyataan “Aku telah ada”, tentunya juga suatu referensi untuk ketuhanan‑Nya dan suatu klaim kesamaan dengan Yahweh. “Aku telah ada” adalah referensi dalam Kel. 3:14, dalam mana Allah mengidentifikasikan Diri‑Nya sebagai “AKU ADALAH AKU”.

(c) Ibrani 1:8 – Dalam ayat 8, penulis Surat Ibrani mulai dengan serangkaian kutipan dari PL. Kata pengantar dari pernyataan ini ialah, “tetapi tentang Anak Ia berkata”, lalu pernyataan selanjutnya ditujukan kepada Kristus. Oleh karena itu., pernyataan “tahta‑Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya” adalah sebagai referensi kekekalan Kristus.

(d) Kolose 1: 17 – Paulus mengatakan, “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu”, menekankan sekali lagi kekekalan dan pra keberadaan Kristus melalui pemakaian kalimat dalam waktu sekarang.

4.2. Bukti Tidak Langsung

1. Asal Kristus dari sorga membuktikan keberadaan kekal Kristus

Yoh. 3:13 menekankan bahwa Kristus “turun dari sorga”. Bila Kristus turun dari sorga lalu Bethlehem tidak mungkin menjadi mula‑Nya. Ayat ini membuktikan bahwa Ia diam di sorga sebelum datang ke dunia. Oleh karena itu, Ia kekal (Yoh. 6:38).

2. Karya pra‑inkarnasi Kristus membuktikan keberadaan kekal‑Nya

Yoh. 1:3 mengatakan bahwa Kristus menjadikan segala sesuatu (“segala” adalah tegas). Bila Ia menjadikan segala sesuatu maka Ia harus kekal (1 Kor. 8:6).

3. Sebutan Kristus membuktikan keberadaan kekal‑Nya

(a) Yahweh – Dalam Yoh. 12:41, Ia berkata bahwa Yesaya melihat “kemuliaan‑Nya”, suatu referensi untuk Kristus dalam konteks ini. Namun, Yohanes mengutip dari Yes. 6:10 di mana Ia dengan jelas mengacu kepada Yahweh (Yes. 6:3,5). Jadi, Yohanes menyamakan Yesus dengan Yahweh, Allah dari PL; karena Yahweh kekal jadi Yesus kekal adanya.

(b) Adonai – Dalam Mat. 22:44 Kristus mengutip Maz. 110:1, “Tuhan telah berfirman kepada Tuanku” dan menerapkannya kepada Diri‑Nya sendiri. Sebutan “Tuhan” adalah Adonai, salah satu sebutan Tuhan dalam PL. Jika Kristus disebut Adonai, maka Ia kekal karena Tuhan kekal adanya.

4. Para theopani membuktikan keberadaan kekal‑Nya

Seorang theopani bisa dirumuskan sebagai: “Ia merupakan Person kedua dalam Tritunggal yang datang dalam bentuk manusia …. Satu dari tiga yang disebut TUHAN, atau Yahweh, dalam peristiwa yang dicatat dalam Kej. 18, adalah Person kedua dari Tritunggal.”

Dikenalnya Kristus dengan penglihatan Malaikat Tuhan (theopani) dapat didemonstrasikan dengan cara berikut ini. Malaikat Tuhan diakui sebagai dewa. Ia disebut sebagai Tuhan (Hak. 6:11,14; catatan dalam ayat 11 Ia disebut sebagai “Malaikat Tuhan”, sedangkan dalam ayat 14 Ia disebut “Tuhan”). Malaikat Tuhan dalam Kejadian lainnya berbeda dari Yahweh karena Ia berbicara kepada Yahweh (Zakh. 1:11; 3:1‑2, Kej. 24:7). Malaikat Tuhan tidak mungkin adalah Roh atau Bapa karena baik Roh maupun Bapa tidak pernah menampakkan diri dalam bentuk fisik (Yoh. 1:18). Malaikat Tuhan tidak lagi menampakkan diri setelah kelahiran Kristus. Tidak pernah disebutkan lagi tentang Malaikat Tuhan dalam PB; Ia berhenti menampakkan diri setelah kelahiran Kristus.

5. Nubuat Kristus dalam PL

5.1. Nubuat tentang Silsilah-Nya

Pokok Nubuatan

Nubuatan

Penggenapan

Dilahirkan dari anak dara

Kejadian 3:15

Matius 1: 16

Keturunan Sem

Kejadian 9:26

Keturunan Abraham

Kejadian 12:2

Matius 1: 1

Keturunan Ishak

Kejadian 17:19

Matius 1:2

Keturunan Yakub

Kejadian 25:23; 28:13

Matius 1:2; Roma 9:10-13

Keturunan Yehuda

Kej. 49:10; Maz. 72:7; 122:7;

Yer. 23:6; Zakh. 9:10

Matius 1:3

Keturunan Daud

2 Samuel 7:12-16

Matius 1:1

5.2. Nubuat tentang Kelahiran‑Nya

Pokok Nubuatan

Nubuatan Penggenapan

Caranya

Yesaya :14

Matius 1:23

Tempatnya

Mikha 5:2

Matius 2:6




5.3. Nubuat tentang Kehidupan-Nya

Pokok Nubuatan

Nubuatan

Penggenapan

Pemberi Pratanda-Nya

Yes. 40:3; Mal. 3:1

Matius 3:3; 11: 10;



Yoh. 1:23

Misi-Nya

Yes. 9:1-2; 61:1

Lukas 4:18-19

Pelayanan-Nya

Yes. 53:4

Mat. 8:17; 11:5-6; 12:19-21

Pengajaran-Nya

Maz. 78:2

Matius 13:35

Presentasi-nya

Zakh. 9:9; Maz. 118:26;

Mat. 21:5,9; 22:4


110:1


Penolakan terhadap-Nya

Maz. 118:22; Yes. 29:13;

Mat. 21:42; 15:8-9; 26:31;


Zakh. 13:7; Yer. 18:1-2;

27:9-10


19:1-15; 32:6-9; Zakh.



11:12-13











5.4. Nubuat tentang Kematian‑Nya

Pokok Nubuatan

Nubuatan

Penggenapan

Kematian yang menyakitkan

Mazmur 22

Matius 27

Kematian yang keras

Yesaya 52-53

Yoh. 1:29; 19:1,18





5.5. Nubuat tentang Kemenangan‑Nya


Pokok Nubuatan

Nubuatan

Penggenapan

Kebangkitan-Nya

Mazmur 16: 10; 22:22

Kisah 2:24, 27-28; lbr. 2:12

Kenaikan-Nya

Mazmur 68:18

Efesus 4:8


5.6. Nubuat tentang Pemerintahan‑Nya


Pokok Nubuatan

Nubuatan

Penggenapan

Pemerintahan-Nya

Mazmur 2:6-9; 24:7-10

Kini – dalam hati orang


Yes. 9:6-7; 11:1-6

percaya dan Penguasa Sejarah



Masa depan – dalam Kerajaan



1000 Tahun Damai dan dalam



Langit Baru dan Bumi Baru


6. Ketuhanan Kristus

6.1. Arti Ketuhanan Kristus

Pada abad‑abad awal Gereja, ada kelompok‑kelompok yang menyangkal Kristus sebagai manusia benar‑benar. Akan tetapi, sebaliknya yang menjadi perhatian dewasa ini adalah penyangkalan terhadap keilahian Kristus. Dalam 200 tahun yang lampau, Teologi Liberal telah dengan dahsyat menyatakan suatu penyangkalan atas ketuhanan Kristus.

Namun C.S. Lewis benar, ketika ia mengatakan bahwa satu‑satunya pilihan yang ada tentang Person Kristus ialah: Ia seorang pembohong, seorang gila, atau Tuhan. Dengan mengingat klaim yang begitu banyak yang dibuat Kristus, adalah tidak mungkin untuk hanya menyebut‑Nya seorang “guru yang baik”. Ia mengklaim bahwa Ia jauh melebihi dari sekedar seorang guru.

Untuk menegaskan bahwa Kristus adalah Allah tidak hanya dengan mengatakan bahwa Ia “seperti Allah”. Kristus mutlak sama dengan Bapa dalam Person‑Nya dan karya‑Nya. Kristus adalah “Allah yang tidak dapat dikurangi. Untuk memberikan komentar atas ayat “(Kristus) ada dalam rupa Allah” dalam FIp. 2:6, B.B. Warfield berkata, “Dengan cara yang paling mungkin diungkapkan, Ia diakui benar‑benar Allah, untuk memiliki seluruh kegenapan atribut yang membuat Allah adalah Allah. “

Suatu serangan kepada ketuhanan dari Yesus Kristus adalah suatu serangan kepada karang dasar Kristen. Dalam jantung kepercayaan ortodoks ada pengakuan bahwa Kristus mati sebagai suatu kematian pengganti untuk menyediakan penyelamatan bagi kemanusiaan yang hilang. Jika Yesus hanya seorang manusia Ia tidak dapat mati untuk menyelamatkan dunia, tetapi karena ketuhanan‑Nya, kematian‑Nya mempunyai nilai tidak terhingga di mana Ia dapat mati untuk seluruh dunia.

6.2. Pengajaran tentang Ketuhanan Kristus

Kitab Injil dipenuhi dengan klaim pribadi dari Kristus maupun kesaksian dari yang lainnya tentang ketuhanan‑Nya. Injil Yohanes khususnya kaya dalam penekanan ketuhanan Kristus.

(1) Nama‑ nama‑Nya

(a) Allah – Dalam Ibr. 1:8, penulis menyatakan keistimewaan Kristus di atas malaikat dan menganggap Maz. 45:6‑7 berasal dari Kristus. Superskrip untuk kutipan Maz. 45:6‑7 adalah, “Tetapi tentang Putra Ia berkata“; lalu ia mengutip Mazmur yang berbunyi, “Tahtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya” dan oleh karena itu Allah. Kedua sebutan “Allah” mempunyai referensi Putra (Ibr. 1:8). Setelah melihat Kristus yang bangkit dengan luka‑luka‑Nya, Tomas mengaku, “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh. 20:28). (Beberapa orang yang menolak ketuhanan Kristus secara menakjubkan mengatakan bahwa pernyataan Tomas adalah suatu jeritan profan). Tit. 2:13 mengacu kepada Yesus sebagai “Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus.” Aturan Granville Sharp dari tata bahasa Yunani mengatakan bahwa bila ada dua kata benda digabung dengan και, kai dan kata benda pertama mempunyai kata sandang serta yang kedua tidak mempunyai kata sandang, maka kedua kata benda mengacu kepada benda yang sama. Oleh karena itu, “Allah Mahabesar” dan “Juruselamat” keduanya mengacu kepada “Yesus Kristus”. Yoh. 1: 18 menerangkan bahwa “Anak Tunggal Allah” ‑ suatu referensi untuk Kristus ‑ telah menerangkan Bapa.

(b) Tuhan – Dalam debat Kristus dengan orang Farisi, Ia mendemonstrasikan bahwa Mesias lebih besar daripada hanya seorang keturunan Daud. Ia mengingatkan mereka bahwa Daud sendiri memanggil Mesias “Tuhanku” (Mat. 22:44). Dalam Roma 10:9,13, Paulus mengacu kepada Yesus sebagai Tuhan. Dalam ayat 9, ia menekankan bahwa ini pengakuan Yesus sebagai Tuhan yang berakhir dengan penyelamatan. Dalam ayat 13, Paulus mengutip dari Yoel 2:32 di mana referensinya tentang Tuhan; tetapi Paulus menerapkannya untuk Yesus, menegaskan kesamaan Kristus dengan Yahweh dari PL. Dalam Ibr. 1:10, penulis menerapkan Maz. 102:25 kepada Kristus menyebut‑Nya “Tuhan”.

(c) Putra Allah – Yesus mengklaim diri‑Nya sebagai Putra Allah dalam beberapa peristiwa (Yoh. 5:25). Sebutan untuk Kristus ini sering kali disalah-mengertikan; beberapa orang mengatakan ini berarti Putra, inferior terhadap Bapa. Namun, orang Yahudi mengerti klaim yang dibuat Kristus; tetapi dengan mengatakan Ia adalah Putra Allah, orang Yahudi berkata bahwa Ia membuat diri‑Nya setara dengan Allah (Yoh. 5:19).

(2) Atribut‑atribut –Nya

(a) Kekal – Yoh. 1: 1 menegaskan kekekalan Kristus. Kata kerja “adalah” (waktu imperfek ην, en ) berarti keberadaan‑Nya untuk selama‑lama-nya dalam waktu yang lampau. Dalam Ibr. 1:11‑12, penulis menerapkan Maz. 102:25‑27, mengutarakan kekekalan Allah, kepada Kristus.

(b) Mahahadir (Omnipresence) – Dalam Mat. 28:20, Kristus menjanjikan kepada murid‑murid-Nya, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Dengan mengakui bahwa Kristus mempunyai sifat manusia dan sifat ilahi, seharusnya ditulis bahwa dalam rupa manusia‑Nya, Ia mempunyai tempat di sorga, tetapi dalam ketuhanan‑Nya Ia berada di mana-mana. Hadirnya Kristus di mana‑mana (Yoh. 14:23; Efs 3:17; Kol. 1:27; Why. 3:20).

(c) Mahatahu (Omniscience) – Yesus mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia dan oleh karena itu Yesus sendiri tidak mempercayakan diri‑Nya kepada mereka (Yoh. 2:25). Ia menceritakan kepada perempuan Samaria masa lampaunya, meskipun Ia belum pernah bertemu perempuan ini sebelumnya (Yoh. 4:18). Murid‑murid‑Nya mengetahui kemaha-tahuan‑Nya (Yoh. 16:30). Nubuat tentang kematian‑Nya menunjukkan kemahatahuan‑Nya (Mat. 16:21; 17:22; 20:18‑19; 26:1‑2).

(d) Mahakuasa (Omnipotence) – Yesus mempunyai segala kuasa di sorga dan di bumi (Mat. 28:18). Ia mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa, sesuatu yang hanya dapat dilakukan Allah (Mrk. 2:5,7, 10; Yes. 43:25; 55:7).

(e) Kekal abadi – Kristus tidak berubah; Ia tetap, sama, baik kemarin maupun hari ini, sampai selama‑lamanya (Ibr. 13:8). Ini atribut dari ketuhanan-Nya (Mal. 3:6; Yak. 1: 17).

(f) Kehidupan – Semua penciptaan ‑ manusia, binatang, tumbuh‑tumbuhan hidup karena mereka telah diberi kehidupan. Kristus berbeda, Ia mempunyai kehidupan dalam diri‑Nya sendiri; hidup‑Nya bukan kehidupan jadian, tetapi dalam Dia ada hidup (Yoh. 1:4; 14:6; Maz. 36:9; Yer. 2:13).

(3) Karya‑Nya

(a) Pencipta – Yohanes menulis bahwa “segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dan segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:3). Kol. 1:16 mengajarkan bahwa Kristus menciptakan tidak saja bumi, tetapi juga sorga dan kerajaan malaikat.

(b) Pemelihara – Kol. 1:17 mengajarkan bahwa Kristus adalah kekuatan kohesif alam semesta. Ibr. 1:3 mengatakan bahwa Kristus “telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada”. Ini adalah kekuatan dari partisip Yunani φερων, pheron.

(c) Pengampunan Dosa – Hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Kenyataan bahwa Yesus mengampuni dosa mendemonstrasikan ketuhanan‑Nya (Mrk. 2:1‑12; Yes. 43:25).

(d) Pembuat Mujizat – Mujizat dari Kristus adalah suatu pembuktian dari ketuhananNya. Ini adalah suatu penelitian berharga untuk mencatat mujizat yang diperbuat Kristus dan melihat klaim atas ketuhanan yang mendasari mujizat. Misalnya, ketika Yesus mengembalikan penglihatan orang buta, orang akan diingatkan kepada Maz. 146:8, “Tuhan membuka mata orang‑orang buta.”

(e) Ia disembah – Adalah suatu kebenaran Kitab Suci fundamental bahwa hanya Allah yang harus disembah (Ul. 6:13; 10:20; Mat. 4: 10; Kis. 10:25‑26). Kenyataan bahwa Yesus disembah oleh orang adalah suatu pembuktian kuat atas ketuhanan‑Nya. Dalam Yoh. 5:23, Yesus berkata bahwa Ia harus dihormati sama seperti orang menghormati Bapa. Jika Yesus bukan Allah, pernyataan ini akan sangat menghina Tuhan. Ucapan syukur dalam 2 Kor. 13:14, kasih karunia dari tritunggal Allah dibuktikan oleh yang percaya. Cara ucapan syukur menunjukkan persamaan dari person. Pada waktu masuk dengan kemenangan, Yesus menerapkan nyanyian dari anak‑anak untuk diri‑Nya dengan mengutip Maz. 8:2, “Dari mulut bayi‑bayi dan anak‑anak yang menyusu, Engkau telah menyediakan puji‑pujian” (Mat. 21:16). Maz. 8 ditujukan kepada Yahweh dan menggambarkan pujian yang diberikan kepadaNya; Yesus menerapkan pujian yang sama kepada diri‑Nya sendiri. Ketika orang buta yang telah disembuhkan Yesus bertemu denganNya dan mengetahui siapa Yesus, orang yang disembuhkan itu sujud menyembah‑Nya (Yoh. 9:38). Bahwa Yesus tidak menolak sembah sujud orang itu menandakan bahwa Ia adalah Allah. Dalam 2 Tim. 4:18, Paulus mengacu kepada Yesus sebagai Tuhan dan bagi‑Nyalah kemuliaan selama‑lamanya. Kemuliaan mengacu kepada Shekinah dari Allah dan hanya tentang ketuhanan. Dalam Flp. 2:10, Paulus melihat masa yang akan datang di mana segala yang ada di langit, yang ada di atas bumi, dan yang ada di bawah bumi akan menyembah Kristus.

(4) Ayat‑ayat Bukti tentang Ketuhanan Kristus

Dari banyak ayat‑ayat bukti tentang ketuhanan Yesus, hanya ada 6 (enam) ayat yang membuktikan ketuhanan Yesus secara eksplisit. Keenam ayat ini adalah: Yoh. 1:1, Yoh. 20:28, Flp. 2:6, Kol. 2:9, Tit. 2:13, dan Ibr. 1:8. Ayat‑ayat yang lain sulit dipakai karena kalau tidak mengandung masalah tekstual ayat‑ayat tersebut tidak membuktikan ketuhanan Yesus secara eksplisit. Berikut ini adalah penjelasan tentang keenam ayat‑ayat bukti ketuhanan Yesus.

1. Yohanes 1: 1 ‑ “Firman itu adalah Allah”

a. Tidak diragukan lagi bahwa yang dimaksud dengan Firman di sini adalah Yesus Kristus (lihat Yoh. 1: 14, Why. 19:13, 1 Yoh. 1: 1).

b. “Pada mulanya adalah Firman …” berbicara juga tentang praeksistensi atau kekekalan Yesus yang dibuktikan oleh Yoh. 8:58.

c. Kalimat yang diterjemahkan “Firman itu adalah Allah” dalam bahasa Yunani adalah “Allah adalah Firman itu” karena kata Allah dalam kalimatnya ada pada posisi empatik. Itu sebabnya kata θεος, theos dalam kalimat itu tidak memakai kata sandang tertentu (lihat juga Yoh. 1:6,12,13).

2. Yohanes 20:28 ‑ “Ya Tuhanku dan Allahku!”

a. Kata Tuhan dan Allah dalam kalimat itu dikatakan kepada Yesus.

b. Jikalau Yesus bukan ilahi, Ia seharusnya menegur Tomas ketika ia mengatakannya kepada Yesus. Tetapi Yesus tidak menegurnya melainkan memuji Tomas oleh karena imannya.

3. Filipi 2:6 ‑ “Dalam rupa Allah”

a. Istilah “dalam rupa Allah” dalam bahasa Yunani adalah μορφη θεου, morphe theou. Kata μορφη, morphe di sini berarti manifestasi dari sikap dan natur seseorang.

b. Alkitab Bahasa Indonesia Sehari‑hari (BIS) menerjemahkan istilah “morphe theou” itu “sama dengan Allah”.

c. Kristus selalu mempunyai dua natur: Ilahi (Flp. 2:6) dan Insani (Flp. 2:7).

4. Kol. 2:9 ‑ “Seluruh kepenuhan keallahan”

a. Tidak bisa diterima tafsiran yang mengatakan bahwa “dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keallahan” harus dimengerti seperti 2 Kor. 5:19, di mana dikatakan dalam bahasa Inggris, “God was in Christ … “ karena Kol. 2:9 tidak berbicara bahwa Allah (θεος, theos) ada dalam tubuh Yesus Kristus, melainkan seluruh kepenuhan keallahan (θεοτητος, theotetos) Allah berdiam dalam Kristus secara jasmaniah.

b. Sangat besar perbedaan antara kata θεος, theos (Allah) dengan kata theotetos εοτητος ‑ keallahan) sehingga dapat disimpulkan bahwa Yesus Kristus sungguh‑sungguh ilahi.

5. Tit. 2:13 ‑ “Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus”

a. Pembentukan kalimat dalam bahasa Yunani, ayat itu jelas mengacu kepada Yesus Kristus sebagai Allah: του μεγαλου qεου και σωτηρος ημων Іησου Хριστοu (Yang Mahabesar Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus). Perhatikan bahwa dalam kalimatnya hanya ada satu kata sandang tertentu (του: yang). Kai (dan) menghubungkan Theou (Allah) dengan soteros (Juruselamat). Menurut tata bahasa Yunani yang disebut Granville Sharp :


“Apabila kata Yunani kai menghubungkan dua kata benda berkasus sama, jika kata sandang tertentu του (tou) mendahului kata benda yang pertama dan tidak diulang sebelum kata benda yang kedua, maka kata benda yang kedua selalu mengacu kepada orang yang sama yang digambarkan atau dilukiskan oleh kata benda yang pertama. ” Jadi dalam hal ini, tata bahasa Yunani menyatakan keilahian Kristus.

b. Kalau dilihat dalam konteksnya, pasti kata Allah yang Maha-besar” mengacu kepada Kristus karena ayat 14 menyatakan bahwa penyerahan‑Nya bagi manusia.

c. Kata επιφανεια, epiphaneia selalu diartikan untuk Yesus dan bukan bagi Allah karena yang akan datang bukan Allah Bapa, melainkan Allah Anak Yesus Kristus.

6. Ibr. 1:8 ‑ “Tentang anak … tahta‑Mu, ya Allah”

a. Sangat jelas dalam terjemahan bahasa Indonesia bahwa Yesus disebut Allah.

b. Alkitab BIS memberikan catatan kaki yang bisa membingungkan, namun bacaan yang dinyatakannya mendukung bahwa Yesus itu Allah!

7. Uni Hipostatik

7.1. Arti uni hipostatik

Uni hipostatik dapat dirumuskan sebagai “person kedua, Kristus pra-inkarnasi datang dan mengambil bagi diri‑Nya rupa manusia dan tetap menjadi Tuhan untuk selama‑lamanya dan juga manusia benar‑benar, yang disatukan dalam satu person untuk selama‑lamanya”. Ketika Kristus datang, satu Person datang, bukan saja satu rupa; Ia mengambil rupa tambahan, rupa manusia ‑ Ia tidak saja diam dalam person manusia. Hasil dari uni dua rupa adalah theanthropic Person (Manusia ‑ Allah).

7.2. Keterangan tentang uni hipostatik

Dua rupa Kristus disatukan tidak terpisahkan tanpa campuran atau hilangnya identitas terpisah. Ia tetap untuk selama‑lamanya Manusia ‑ Allah, Allah penuh dan manusia penuh, dua rupa yang berbeda dalam satu Person untuk selama‑lamanya. “Melalui Kristus kadang‑kadang dimainkan melalui rupa manusia‑Nya dan dalam kasus lainnya melalui rupa Tuhan, dalam semua kasus apa yang Ia lakukan dan apa yang Dia dapat diatributkan kepada satu Person‑Nya. Meskipun jelas bahwa ada dua rupa Kristus, Ia tidak pernah dipertimbangkan sebagai sebuah kepribadian ganda. Dalam meringkas uni hipostatik, tiga fakta dicatat:

a. Kristus mempunyai dua rupa berbeda: manusia dan Tuhan;

b. Tidak ada campuran atau campur tangan dari kedua rupa;

c. Meskipun Ia mempunyai dua rupa, Kristus adalah satu Person.

7.3. Masalah dari uni hipostatik

Kesulitan terbesar dalam doktrin ini ialah hubungan dari dua rupa dalam Tuhan Yesus. Beberapa pendapat tentang masalah ini telah berkembang.

(a) Pandangan Calvinistik – John Calvin berpikir bahwa kedua rupa disatukan tanpa ada transfer atribut. Satu atribut tidak dapat diambil dari satu rupa tanpa mengubah inti pokok dari rupa itu. Walvoord mengatakan, “Kedua rupa disatukan tanpa ada kehilangan satu atribut pokok dan bahwa dua rupa mempertahankan identitas terpisah mereka. Tidak dapat terjadi campuran dari dua rupa; tidak terbatas tidak dapat ditransfer ke terbatas; akal tidak dapat ditransfer ke masalah; Allah tidak dapat ditransfer ke manusia, atau sebaliknya. Untuk merampas rupa keilahian Allah dari satu atribut tunggal pun akan merusak ketuhanan‑Nya, dan untuk merampas satu atribut manusia, dari manusia akan merusak kemanusiaan murni. Karena alasan ini, maka kedua rupa dari Kristus tidak dapat kehilangan atau mentransfer satu atribut tunggal pun.”

(b) Pandangan Lutheran – Pandangan Lutheran atas dua rupa mengajarkan bahwa atribut dari dua rupa ilahi disampaikan ke rupa manusia dengan beberapa hasil penting. Satu hasil doktrin yang penting ialah tubuh manusia dari Kristus ada di mana‑mana, Ia hadir di mana‑mana dari rupa ilahi Kristus ditransfer ke tubuh manusia Kristus. Akhirnya, rupa manusia Kristus berubah dalam keadaan hadir di mana‑mana pada saat kenaikan dan secara fisik hadir di elemen komuni kudus. Meskipun elemen‑elemen tidak berubah, person ikut serta Kristus yang hadir “dalam, dengan, di bawah dan dengan” roti dan cawan.

7.4. Hasil dari uni hipostatik

Kedua rupa sama pentingnya untuk penyelamatan. Sebagai manusia, Kristus dapat mewakili manusia dan mati sebagai manusia; sebagai Allah kematian Kristus dapat mempunyai nilai tidak terhingga “cukup untuk menyediakan penyelamatan bagi dosa‑dosa dunia”. Keimaman kekal dari Kristus berdasarkan uni hipostatik. “Melalui inkarnasi Ia menjadi dan oleh karena itu dapat bertindak sebagai manusia Imam. Sebagai Allah, keimaman‑Nya dapat untuk selama‑lamanya setelah pemerintahan Melkisedek, dan Ia tepat dapat menjadi Perantara antara Allah dan manusia”.

7.5. Kenosis dan uni hipostatik

Termasuk dalam masalah kenosis ialah interpretasi Flp. 2:7, “Ia mengosongkan diri‑Nya (Yunani: εκενωσεν ‑ ekenosen, dari kata κενωσις ‑ kenosis). Pertanyaan yang berbahaya ialah: Dari apa Kristus mengosongkan diri‑Nya?

Ahli Teologi Liberal mengatakan Kristus mengosongkan diri‑Nya dari ketuhanan‑Nya. Akan tetapi, jelas dari kehidupan‑Nya dan pelayanan‑Nya bahwa Ia tidak menanggalkan ketuhanan‑Nya, karena ketuhanan‑Nya tampak dalam berbagai peristiwa.

Ada dua hal pokok:

(a) “Kristus hanya melepas praktik bebas dari beberapa atribut relatif atau transitif. Ia tidak melepas atribut mutlak atau tetap dengan cara apa pun; Ia selalu sempurna, kudus, tepat, belas kasihan, benar, dan setia.” Pernyataan ini berguna dan memberikan pemecahan masalah dalam ayat-ayat seperti Mat. 24:36. Kata kunci dalam definisi adalah “bebas” karena Yesus dalam banyak peristiwa membuka atribut relatif‑Nya.

(b) Kristus mengambil bagi diri‑Nya suatu rupa tambahan. Konteks Flp. 2:7 memberikan pemecahan yang paling baik bagi masalah kenosis. Pengosongan bukan suatu pengurangan, tetapi suatu penambahan. Empat hal berikut (Flp. 2:7‑8) menerangkan pengosongan:

- Mengambil rupa hamba

- Menjadi sama dengan manusia

- Dalam keadaan sebagai manusia

- Ia telah merendahkan diri‑Nya dan taat sampai mati


“Pengosongan” Kristus mengambil rupa tambahan, Rupa manusia dengan pembatasan‑ pembatasannya, Ketuhanan‑Nya tidak pernah dilepas. John F Walvoord menjelaskan definisi kenosis dalam dua pengertian:

(i) Bahwa Yesus membatasi manifestasi keallahan‑Nya – Hal ini bukan berarti bahwa Yesus menanggalkan keAllahan- Nya, karena ketika ber‑kenosis Yesus tetap Allah sejati dan manusia sejati. Dengan demikian sifat‑sifat keallahan Yesus tetap ada pada saat inkarnasi‑Nya di bumi, tetapi Yesus membatasi manifestasi‑Nya dalam rangka melaksanakan karya penyelamatan‑Nya atas manusia.

(ii) Tanpa reputasi – Walaupun Yesus adalah Allah yang Maha Kuasa dan Maha Agung, tetapi Dia rela merendahkan diri, bahkan mengambil rupa seorang hamba.

Kedua hal itulah yang dimaksudkan dalam pernyataan “mengosongkan diri‑Nya”.

8. Inkarnasi Kristus

8.1. Arti Inkarnasi

Kata inkarnasi berarti dalam daging dan menunjukkan tindakan di mana Putra Allah kekal mengambil bagi Diri‑Nya suatu rupa tambahan, kemanusiaan, melalui kelahiran dari anak dara. Akibatnya ialah bahwa Kristus tetap tinggal tidak bercela, yang telah Ia miliki dari asal mula kekal, tetapi Ia juga memiliki kemanusiaan murni, tidak berdosa dalam satu Person selama‑lamanya (Yoh. 1:14; Flp. 2: 7‑8; 1 Tim. 3:6).

Meskipun kata inkarnasi tidak terdapat dalam Alkitab, namun komponen kata tersebut (“dalam” dan “daging”) ada di situ. Yohanes menulis bahwa Firman telah menjadi daging (Yoh. 1:14, LAI: “manusia”, sedangkan bahasa Yunani σαρξ, sarx ‑ daging. Ia juga menulis tentang kedatangan Yesus sebagai manusia (1 Yoh. 4:2, 2 Yoh. 7). Maksud pernyataan ini ialah bahwa Pribadi kedua Tritunggal mengambil rupa manusia bagi Diri‑Nya sendiri. Ia tak memiliki kemanusiaan sampai saat kelahiran, karena Tuhan menjadi manusia εγενετο, egeneto ‑ menjadi, Yoh. 1:14 dibandingkan dengan adanya ke‑4 “en” ‑ hakikat ‑ dalam ayat 1‑2). Meskipun demikian, kemanusiaan‑Nya adalah tanpa dosa. Suatu fakta yang dipertahankan oleh Paulus dengan menulis bahwa Ia datang “dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa ” (Rm. 8:3).

8.2. Penjelasan tentang Inkarnasi

(1) Genealogi/silsilah keturunan – Ada dua silsilah keturunan yang menjelaskan inkarnasi Kristus: Mat. 1:1‑16 dan Luk. 3:23‑38. Ada banyak diskusi dan kontroversi tentang hubungan kedua silsilah keturunan ini. Satu hal yang patut dicatat ialah: kedua silsilah keturunan menelusuri Yesus kembali sampai kepada Daud (Mat. 1:1; Luk. 3:31), dan karena itu menekankan kepada klaim‑Nya yang sah sebagai pewaris tahta Daud (Luk. 1:32‑33). Sepertinya Matius menerangkan keturunan Yusuf (ayat 16), dan karena seorang pewaris melakukan klaim melalui bapak, hak Yesus atas tahta Daud datang melalui Yusuf, bapak angkat‑Nya. Lukas menulis bahwa Yesus melalui Maria adalah keturunan Adam, dengan “menghubungkan Kristus dengan nubuat keturunan seorang perempuan”.

(2) Kelahiran dari anak dara – Kelahiran dari anak dara adalah sarana untuk pelaksanaan inkarnasi dan jaminan atas tidak berdosanya Putra Allah. Untuk alasan ini, kelahiran dari anak dara diperlukan. Yes. 7:14 meramalkan kelahiran dari anak dara dan Mat. 1:23 memberikan komentar, menandakan terjadinya penggenapan dalam kelahiran Kristus. Mat. 1:23 mengidentifikasi Maria sebagai “anak dara” ((παρθενος, parthenos) dengan jelas menunjukkan seorang anak dara). Teks Matius dan Lukas kedua‑duanya jelas dalam pengajaran tentang kelahiran dari anak dara. Mat. 1:18 memberi tekanan bahwa Maria hamil sebelum ia dan Yusuf hidup bersama; lagipula, ayat yang sama menunjukkan bahwa kehamilannya oleh Roh Kudus. Mat. 1:22‑23 menekankan bahwa kelahiran Kristus untuk menggenapi nubuat kelahiran dari anak dara yang tertulis dalam Yes. 7:14. Mat. 1:25 menekankan bahwa Maria tetap tinggal sebagai seorang anak dara sampai kelahiran Kristus. Luk. 1:34 menyatakan bahwa Maria belum bersuami, sedangkan dalam Luk. 1:35 malaikat menjelaskan kepada Maria bahwa anak yang akan dilahirkannya karena naungan Roh Kudus. Dalam Yes. 9:6, Nabi Yesaya menubuatkan bahwa seorang anak dara akan melahirkan (suatu petunjuk bagi kemanusiaan) dan bahwa sifatnya akan sedemikian rupa sehingga Ia mungkin ditunjuk sebagai Allah yang Perkasa (El Gibbor, suatu petunjuk bagi keallahan).

Yesaya memakai “El” hanya diperuntukkan kepada Allah (lihat 31:3); “Gibbor” artinya: pahlawan. Jadi, ayat ini artinya seorang pahlawan yang sifat utamanya ialah ilahi. Jadi, khusus dalam ayat yang satu ini, kemanusiaan dan keallahan Tuhan kita dinubuatkan.

Nama “Immanuel” menyingkapkan kebenaran yang sama tentang Tuhan (Yes. 7:14). Ini berarti bukan sekedar kehadiran Allah bersama umatNya dalam hal pemeliharaan‑Nya. Teks ini berarti bahwa justru kehadiran Putra yang lahir dari anak dara telah membawa Allah kepada umat‑Nya. Dalam nubuat ini, Yesaya meramalkan makna, inkarnasi sebagai suatu kelahiran dari anak dara.


Kaum Liberal telah menantang terjemahan “anak dara” untuk kata Ibrani “almah“, dengan mengatakan bahwa kata “bethulah” seharusnya dipergunakan jika Yesaya menginginkan agar yang ia maksudkan anak dara itu tidak disalah‑mengertikan. Memang benar bahwa “almah” artinya seorang dewasa secara seksual, gadis yang siap dikawinkan, dan “bethulah” artinya seorang wanita yang dipisahkan, biasanya seorang anak dara, tetapi tidak selalu demikian (Est. 2:17, Yeh. 23:3, Yoel 1:8). Jadi, tidaklah benar mengatakan seperti yang dikatakan para pengkritik bahwa penggunaan kata “bethulah” akan lebih tepat jika jelas‑jelas yang dimaksudkan oleh Yesaya dalam anak dara.

Rupanya “almah” bukan suatu istilah teknis untuk anak dara, tetapi menunjuk kepada seorang wanita muda, seorang yang memiliki sifat‑sifat seorang anak dara (Kej. 23:43). Tidak ada contoh yang membuktikan bahwa “almah” menandakan seorang wanita yang bukan anak dara. LXX (Septuaginta) menyebutkan kata ini tujuh kali dan dua di antaranya diterjemahkan sebagai παρθενος, parthenos, seperti hanya dalam Mat. 1:23. Jadi, kata tersebut artinya seorang wanita muda dengan usia siap untuk dikawinkan dan masih anak dara. Dan demikian juga hal ini perlu dalam hal penggenapan nubuat tersebut dalam kelahiran Kristus.

Siapakah wanita anak dara itu yang ditunjuk dalam nubuat tersebut? Penafsiran‑penafsiran mengenai hal ini termasuk dalam tiga kategori pokok:

(a) Penafsiran non‑mesianis yang pengertiannya ialah bahwa nubuatan tersebut digenapi oleh seorang wanita tak dikenal di masa lampau, yang mungkin anak dara, tetapi juga mungkin bukan anak dara. (Jika demikian, lalu bagaimanakah ayat 23 dapat dijelaskan?)

(b) Penafsiran mesianis secara tepat yang melihat nubuatan ditujukan hanya kepada Maria tanpa menunjuk kepada seorang gadis pun dalam masa Yesaya. Tak pelak lagi, hal ini menunjuk kepada Maria (ayat 23). (Akan tetapi pertanyaannya ialah apakah hanya kepadanya? Tanpa suatu referensi kepada seseorang dalam masa Yesaya, apakah nilainya tanda itu bagi Ahas?).

(c) Nubuat tersebut menunjuk baik kepada seseorang pada zaman Yesaya maupun kepada Maria di masa yang akan datang.

Siapakah gadis dalam zaman Yesaya menurut interpretasi ketiga? Di bawah ini merupakan jawabannya:

(a) Istri Ahas ‑ jika jawabannya benar, maka putranya adalah Hizkia.

(b) Seorang gadis tak dikenal di antara Israel ‑ jika jawabannya benar, maka putranya tidak diketahui.

(c) Istri kedua Yesaya yang belum dinikahinya ketika nubuat itu diberikan ‑ jika itu benar, maka putranya mungkin Maher‑Syalal Hasy‑Bas (Yes. 8:3) atau putra Yesaya yang lain yang tidak disebutkan. Dalam pandangan ke-3 tersebut istri pertama Yesaya, yaitu Syear Yashub (7:3) telah mati.

Matius jelas‑jelas melihat Kristus sebagai penggenapan nubuat Yesaya. Dalam hal ini tak dapat dipertanyakan. Pandangan mesianis secara tepat maupun referensi ganda kedua‑duanya mengakuinya.

8.3. Cara Inkarnasi

Kelahiran dari anak dara merupakan cara inkarnasi. Setelah digenapi, inkarnasi tersebut merupakan suatu penyataan Allah yang abadi. Hal ini mulai sejak kelahirannya dan berlanjut terus selama‑lamanya (walaupun sekarang sudah dalam tubuh yang bangkit).

Ketika Gabriel memberitakan kepada Maria bahwa ia akan mengandung Mesias itu, ia memprotes bahwa ia akan memerlukan seorang suami. Inti reaksi malaikat itu adalah bahwa Maria tidak memerlukan seorang suami, karena Roh Kudus akan turun atasnya dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaunginya (Luk. 1:35). Pernyataan itu lebih menekankan atas kenyataan keturunan ilahi dari Anak tersebut daripada atas caranya.

Dengan berhati‑hati Matius menjaga kenyataan tentang kelahiran dari anak dara dalam daftar silsilah Tuhan kita (Mat. 1:16). Ia mencatat bahwa Yusuf adalah suami Maria, tetapi hanya melalui Maria sajalah Yesus dilahirkan. Kata “yang melahirkan ” dalam bahasa Yunaninya adalah dalam bentuk tunggal untuk wanita, jelas‑jelas menunjukkan bahwa Yesus lahir dari Maria saja dan bukan dari Maria dan Yusuf.

Apakah tujuan kelahiran dari anak dara tersebut? Hal ini tidak diperlukan untuk sarana menjaga agar Kristus tetap tanpa dosa. Karena kalau Allah memang menghendakinya, mungkin saja Ia dapat melebihi sepasang orang tua untuk melindungi ketidakberdosaan bayi tersebut. Kelahiran dari anak dara berfungsi sebagai suatu tanda dari keunikan seorang Pribadi yang dilahirkan.

8.4. Tujuan‑tujuan Inkarnasi

Mengapa Allah mengutus Putra‑Nya dalam bentuk yang serupa dengan manusia berdosa? Alkitab memberitakan beberapa jawaban kepada pertanyaan ini.

(1) Untuk menyingkapkan Allah kepada kita – Meskipun Allah menyatakan Diri‑Nya dengan berbagai cara, termasuk kebesaran di alam sekitar kita, namun hanya inkarnasi sajalah yang telah menyatakan hakikat Allah, meskipun terselubung (Yoh. 1: 18, 14:7‑11). Jalan satu‑satunya manusia dapat melihat Bapa ialah mengenal Putra‑Nya, dan jalan satu‑satunya kita dapat melakukannya sekarang ialah dengan mempelajari catatan tentang kehidupan‑Nya dalam Alkitab. Karena Ia menjadi manusia, maka penyataan Allah adalah sebagai Pribadi, karena Ia Allah, maka penyataan tersebut sempurna kebenarannya.

(2) Untuk memberikan suatu teladan bagi kehidupan kita – Kehidupan Tuhan kita di dunia ditegakkan bagi kita sebagai suatu pola untuk kehidupan kita sekarang (1 Ptr. 2:21, 1 Yoh. 2:6). Tanpa inkarnasi kita tak akan dapat memiliki contoh tersebut. Sebagai manusia, menjadi suatu contoh pengalaman bagi kita.

(3) Memberikan suatu pengorbanan yang efektif untuk dosa – Tanpa inkarnasi tersebut, kita tak akan memiliki seorang Juruselamat. Dosa menuntut maut untuk pembayarannya. Allah tak dapat mati. Jadi, Juruselamat itu harus manusia agar dapat mati. Akan tetapi, kematian bagi seorang manusia biasa tidak dapat melunasi dosa yang abadi sehingga Juruselamat tersebut juga harus Allah. Kita harus memiliki seorang Juruselamat Manusia‑Allah dan kita memilikinya dalam Tuhan kita (Ibr. 10:1‑10).

(4) Agar mampu menggenapi perjanjian kepada Daud – Gabriel memberitakan kepada Maria bahwa Putranya akan diberi tahta Daud (Luk. 1:31‑33). Hal ini tidak digenapi oleh pemerintahan Allah yang tidak terlihat atas urusan‑urusan manusia (yang pasti Dia penuhi). Untuk mengisi tahta Daud diperlukan seorang manusia. Karena itu, Mesias harus seorang manusia. Akan tetapi menduduki tahta itu untuk selama-lamanya, menuntut yang menempatinya tak dapat mati. Dan hanya Allah yang memenuhi syarat. Jadi, orang yang akhimya menggenapi janji kepada Daud harus seorang Manusia‑Allah.

(5) Untuk memusnahkan pekerjaan Iblis (1 Yoh. 3:8) – Perhatikan bahwa pemusnahan ini terlaksana dengan munculnya Kristus. Fokusnya adalah pada kedatangan‑Nya dan tidak pada kebangkitan-Nya seperti yang mungkin diharapkan. Mengapa inkarnasi ini perlu untuk mengalahkan setan? Karena setan harus dikalahkan di arena di mana ia berkuasa, yaitu dunia ini. Jadi, Kristus diutus ke dunia ini untuk memusnahkan pekerjaan‑pekerjaan setan.

(6) Agar mampu menjadi seorang Imam Besar yang penuh rasa simpati (Ibr. 4:14‑16) – Imam Besar kita mampu merasakan kelemahan kita karena Ia diuji seperti kita. Namun, Allah tak pemah diuji sehingga perlulah bagi Allah menjadi manusia untuk dapat diuji supaya dapat menjadi seorang Imam yang penuh rasa simpati.

(7) Agar mampu menjadi seorang Hakim yang memenuhi syarat – Meskipun orang kebanyakan berpendapat bahwa Allah sebagai Hakim, kepada siapa semuanya akan menghadap, sebenarnya Yesuslah yang akan menjadi Hakim tersebut (Yoh. 5:22,27). Semua penghakiman akan dilakukan oleh Tuhan kita “karena Ialah Anak Manusia”. Inilah gelar yang menghubungkan‑Nya dengan dunia dan dengan misi‑Nya di dunia. Mengapa Hakim itu harus menjadi dan pernah hidup di dunia? Agar Ia bisa menggugurkan semua alasan yang mungkin akan dibuat oleh manusia. Mengapa Hakim tersebut harus juga Allah? Agar penghakiman‑Nya benar-benar jujur dan adil.

Karena itu, inkarnasi tersebut amat berpengaruh dalam hubungannya dengan pengetahuan kita tentang Allah, dengan keselamatan kita, dengan kehidupan kita sehari‑hari, dengan kebutuhan‑kebutuhan kita yang mendesak, dan dengan masa depan. Hal ini sesungguhnya adalah pusat fakta sejarah.

9. Kristus dalam Rupa Manusia

9.1. Arti Kristus dalam rupa manusia

Doktrin Kristus sebagai manusia, sama pentingnya dengan doktrin ketuhanan Kristus. Yesus harus menyatakan diri‑Nya sebagai manusia jika Ia harus mewakili kemerosotan kemanusiaan. Pertama‑tama Yohanes menulis untuk menghalau kesalahan doktrin yang menyangkal Kristus sebagai manusia (1 Yoh. 4:2). Bila Yesus bukan manusia benar‑benar, maka kematian di kayu salib hanya ilusi; Ia harus menjadi manusia benar‑benar untuk mati demi kemanusiaan. Injil mengajarkan Yesus dalam rupa manusia. Namun, mereka juga menunjukkan bahwa Ia tidak mempunyai dosa yang dimiliki manusia, sifat kemerosotan manusia (1 Yoh. 3:5).

9.2. Ia berasal dari kelahiran anak dara

Kelahiran dari anak dara adalah doktrin esensial, doktrin ini diperlukan jika Kristus adalah tidak berdosa. Jika Ia telah dilahirkan dari Yusuf, maka Ia akan memiliki sifat berdosa manusia. Ada cukup banyak bukti dalam Injil yang menegaskan kelahiran Kristus dari anak dara. Dalam Mat. 1:2‑15, bentuk aktif dari kata kerja digunakan: (ini tidak dicerminkan dalam New American Standard Bible) “Abraham memperanakkan Ishak” (ayat 2, versi King James). Namun, dalam ayat 6 ada perubahan yang disengaja ke dalam bentuk pasif, dalam menggambarkan kelahiran Yesus. Kata kerja dalam ayat “yang oleh siapa Yesus dilahirkan” adalah pasif dan menekankan kontras yang ada dengan semua orang pendahulu‑Nya yang melahirkan anak‑anaknya, Yusuf tidak memperanakkan Yesus.

9.3. Ia mempunyai tubuh dari daging dan darah

Tubuh Kristus “adalah seperti tubuh manusia lainnya, kecuali dalam beberapa kualitas yang berasal dari dosa dan kegagalan manusia”. Luk. 1‑2 menggambarkan kehamilan Maria dan kelahiran kanak‑kanak Yesus, menegaskan “dilahirkan sebagai manusia Penyelamat”. Yesus bukan suatu hantu seperti yang dipikir oleh para Docetist. Dalam kehidupan‑Nya setelah itu, Ia dikenal sebagai seorang Yahudi (Yoh. 4:9) dan sebagai tukang kayu yang mempunyai saudara‑saudara laki‑laki dan perempuan (Mat. 13:55). Akhirnya, Ia sangat menderita dalam bentuk manusia‑Nya: Ia mengalami kesakitan karena disesah (Yoh. 19: 1), menderita dalam penyaliban (Yoh. 19:18), dan di kayu salib Ia kehausan sebagai manusia (Yoh. 19:28). Elemen‑elemen ini menekankan kepada pribadi‑Nya sebagai manusia sejati.

9.4. Ia mempunyai perkembangan normal

Luk. 2:52 menggambarkan perkembangan Yesus dalam empat bidang: mental, fisik, spiritual, dan sosial. Ia terus berkembang dalam pengetahuan-Nya tentang masalah‑masalah. Ia tumbuh secara badaniah, Ia berkembang dalam kesadaran spiritual‑Nya (tidak ada interaksi dengan dosa, tentunya karena Ia tidak berdosa asal sampai kematian‑Nya); Ia berkembang dalam hubungan sosial‑Nya. Perkembangan‑Nya dalam keempat bidang sempurna; “pada setiap tahap ia sempurna untuk tahap itu”.

9.5. Ia mempunyai jiwa dan semangat manusiawi

Yesus adalah manusia sempurna, mempunyai tubuh, jiwa, dan semangat. Sebelum disalib, Yesus terharu jiwa‑Nya karena antisipasi salib (Yoh. 12:27). Ada kesadaran dalam diri‑Nya bahwa Ia harus menanggung dosa-dosa dunia, dan Yesus terguncang oleh prospek ini. Yoh. 11:33 menggambarkan dengan istilah yang lebih keras emosi yang dirasakan Yesus dalam semangat manusia‑Nya atas kematian teman‑Nya Lazarus. Atas prospek penyaliban Diri‑Nya yang akan datang, Yesus terharu dalam semangat manusia‑Nya (Yoh. 13:21); ketika Ia akhirnya mati, Ia menyerahkan nyawaNya (Yoh. 19:30).

9.6. Ia mempunyai sifat‑sifat manusia

Ketika Yesus telah berpuasa di padang gurun, Ia lapar (Mat. 4:2); ketika Ia dan murid‑murid‑Nya berjalan melintasi daerah Samaria Ia letih, oleh perjalanan dan berhenti di sumur untuk beristirahat (Yoh. 4:6); Ia haus karena perjalanan seharian di panas matahari (Yoh. 4:7). Yesus juga mengalami emosi manusiawi: Ia menangisi kematian teman‑Nya Lazarus (Yoh. 11:34‑35); Ia tergerak oleh belas kasihan melihat orang banyak karena mereka tidak mempunyai pemimpin yang mampu (Mat. 9:36); Ia mengalami kesedihan dan menangis atas kota Yerusalem (Mat. 23:37; Luk. 19:41).

9.7. Ia mempunyai nama‑nama manusia

Ia disebut “anak Daud”, menandakan Ia adalah keturunan dari Raja Daud (Mat. 1: 1). Ia juga dinamakan Yesus (Mat. 1:21), persamaan dari nama Yosua dari PL (berarti: “Yahweh menyelamatkan”). Ia dinyatakan dengan referensi “Manusia”. Paulus menulis tentang hari yang telah ditetapkan‑Nya ketika dunia akan dihakimi oleh seorang “Manusia” (Kis. 17:31). Sebagai manusia, Yesus juga seorang Perantara antara Allah dan manusia (1 Tim. 2:5).

9.8. Kristus mencapai kedewasaan kemanusiaan‑Nya

Di dalam kemanusiaan‑Nya, Tuhan Yesus mempunyai kepribadian sama seperti kita. Ini meliputi mind (otak, mental, cara berpikir), emosi, dan will (kehendak). Perkembangan proses mental terjadi pada Yesus. Misalnya, pada usia 12 tahun Ia pernah bertanya kepada alim ulama di bait Allah (Luk. 2:46). Pada usia 12 tahun Ia membuat orang terheran‑heran karena mampu menanyakan pertanyaan yang mengagumkan. Mereka kagum akan hikmat-Nya. Tuhan Yesus semakin besar dan bertambah hikmat‑Nya dan makin dikasihi Allah dan manusia (Luk. 2:52). Apakah hikmat yang dimiliki Yesus berasal dari pengaruh lingkungan keluarga, atau langsung dari Allah? Nampaknya, Ia mengalami proses pertumbuhan yang wajar dari keluarga. Tuhan Yesus juga sekolah, karena orang Yahudi sangat menekankan pentingnya sekolah yang berhubungan dengan rumah ibadah. Bila ada satu desa tidak ada sekolah, maka pimpinan desa itu bisa dikucilkan dari masyarakat Yahudi.

Bagaimana Tuhan Yesus mencapai suatu kedewasaan kemanusiaan (kesempurnaan, seperti yang ALLAH kehendaki)? Apa rahasianya? Makin meningkatkan berdisiplin (bertaat) untuk bisa takluk pada otoritas. Otoritas yang Ia hadapi adalah otoritas biasa, taat pada otoritas orang tua, otoritas keagamaan (imam), belajar taat pada Tuhan lebih dari pemerintah. Belajar tidak berontak akan mendewasakan karakter. Pelayanan 3,5 tahun itu dipersiapkan puluhan tahun dalam hal disiplin!

Kedewasaan seperti apakah yang dituntut? Ada dua aspek sikap moral:

a. Memenuhi kebenaran dari segala sudut – Ini berarti integritas; suatu kegenapan, tidak ada lobang. Tidak ada hal yang seharusnya ada, tetapi ternyata tidak ada. Integritas meliputi 3 hal:

- Segala sesuatu lurus tanpa ada bengkok

Segala sesuatu jujur tanpa plin‑plan

Segala sesuatu tulus tanpa ada kemunafikan

b. Menolak segala usaha si jahat untuk menjatuhkan kita ke dalam pencobaan (perangkapnya).

9.9. Hubungan Yesus sebagai manusia dengan Roh Allah

Dalam kemanusiaan‑Nya, Yesus hidup dengan Roh Allah sejak awal sampai akhir.

(a) Ia lahir dikuasai Roh Allah, dibaptis oleh Roh Allah supaya bisa memenuhi 2 tuntutan: tuntutan dari pihak manusia maupun Allah, dan tuntutan untuk memenuhi fungsi Mesias sesuai dengan Yes. 61. Tuhan Yesus dibaptis dalam Roh Kudus karena Dia adalah Anak Allah. Bukan karena baptisan Roh Kudus maka Yesus menjadi Anak Allah! Ia dibaptis dalam Roh Kudus agar sebagai Mesias Ia mampu melakukan tugas dari Allah.

(b) Roh Allah mengantar Kristus untuk dicobai di padang gurun (Mat. 4:1). Ia harus menghadapi iblis dan untuk itu Ia dilengkapi oleh Roh Kudus (dalam Yoh. 3:34 dikatakan Roh Kudus dicurahkan tanpa batas), supaya dalam diri‑Nya ada kekuatan menghadapi iblis dengan cara manusia.

Tuhan Yesus menghadapi cobaan ini bukan dengan menggunakan kuasa ilahi‑Nya, karena Allah tidak bisa dicobai dan hal itu menjadi tidak berguna bila dilakukan‑Nya. Apa tujuan Yesus dicobai? Tuhan Yesus harus menebus dosa manusia yang meliputi keinginan daging, mengikuti dunia, dan menyembah iblis. Ia harus menghadapi masalah ini dan memenangkannya bagi kita.

9.10. Hubungan Yesus sebagai manusia dengan Bapa

Tuhan Yesus mempunyai kesatuan dengan Bapa dalam segala esensi, tujuan, dan kehendak‑Nya. Ia mempunyai kesatuan dalam segala hal dengan Bapa dan Ia menyadari hubungan kesatuan‑Nya ini. Segala yang ada pada Bapa tergambar dari Anak. Bapa kudus dan Tuhan Yesus juga kudus. Bapa adalah kebenaran dan Tuhan Yesus juga adalah kebenaran. Bapa adalah kasih dan Tuhan Yesus juga adalah kasih.

Hubungan Anak dan Bapa sudah muncul pada saat Yesus berusia 12 tahun. Pada usia itu Tuhan Yesus heran bahwa orang tua‑Nya mencari‑Nya. “Masakan kamu mencari Aku; Aku harus ada di rumah Bapa‑Ku!” Yesus kemudian dibaptis untuk bisa melaksanakan fungsi‑Nya sebagai Mesias.

9.11. Peran Tuhan Yesus sebagai manusia

(a) Sebagai Domba yang harus disembelih untuk menghapus dosa manusia. Domba itu harus sempurna, kudus, tidak bercacat cela, dan mulia.

(b) Sebagai Nabi dan Mesias (Yes. 61:1); Hamba Allah dengan tugas khusus.

(c) <ebagai Imam Besar (Ibr. 4:15‑16), maka Ia harus mengalami pencobaan dalam segala bidang hidup, supaya Ia bisa menjadi Imam Besar yang mempersembahkan diri kepada Allah sebagai korban yang tidak bercacat bagi kita.

10. Kehidupan Yesus di Bumi

Kehidupan duniawi Kristus adalah penting dalam studi Kristologi, sama pentingnya seperti kehidupan‑Nya membuktikan keaslian Yesus dari Nazaret sebagai Mesias yang dijanjikan. Pengarang Injil menulis bahwa Yesus memenuhi nubuat PL sepanjang hidup‑Nya. Misalnya, Matius mempunyai 129 referensi dari PL. Banyak dari antaranya dikutip dengan formula pengantar seperti “supaya genaplah yang difirmankan” (Mat. 1:22; 2:5,15,17, 23, dst). Masing‑masing pengarang Injil menulis untuk orang banyak yang berbeda, tetapi semua pengarang Injil menekankan kepada keaslian dari klaim‑Nya sebagai Mesias.

10.1. Firman Kristus

Pengajaran Kristus penting untuk menunjukkan keaslian klaim‑Nya atas peran Mesias, oleh karena itu, pengarang Injil memberikan tempat yang cukup banyak untuk firman aktual dari pengajaran Kristus. Tabel berikut menggambarkan tekanan itu mengingat banyaknya tempat yang diberikan untuk firman aktual Kristus.


Firman Kristus dalam Kitab Injil

MARKUS

678

285

tiga per tujuh

TOTAL

3.779

1.934

hampir setengah


Tabel ini mengungkapkan bahwa dalam karangan gabungan mereka, total firman aktual Kristus adalah lebih dari separuh material dalam Injil. Jelas, pengarang Injil sepakat untuk memberi tekanan kepada firman yang diucapkan Kristus. Matius lebih banyak menekankan kepada firman Kristus daripada pengarang yang lain. Dalam Injilnya, Matius mencatat beberapa percakapan besar Kristus. Mat. 5‑7 mencatat Perjamuan di Bukit, yang mengungkapkan kuasa Kristus dalam pengajaran‑Nya. Sepanjang pengajaran, pernyataan seperti: “Kamu telah mendengar … tetapi Aku berkata kepadamu” terdengar dan mencerminkan kuasa Kristus. Ia mengajar berlawanan dengan tradisi dan para nabi; lagipula, Ia tidak mengutip ajaran guru lainnya (seperti yang biasanya dilakukan guru Israel); Ia adalah kuasa dalam diri‑Nya sendiri. Ketika percakapan selesai, orang banyak heran atas kuasa dalam pengajaran‑Nya; Ia sama sekali tidak seperti ahli Taurat.

Kemahatahuan Kristus juga dicerminkan dalam pengajaran‑Nya, seperti dalam perumpamaan dari kerajaan (Mat. 13), di mana Ia melihat kembali perjalanan zaman, dan di percakapan di Bukit Zaitun (Mat. 24:25), ketika Ia mengungkapkan peristiwa yang membawa perubahan besar yang akan terjadi dalam percobaan kesengsaraan. Dalam percakapan di kamar atas (Yoh. 14:16) Yesus memerintahkan kepada murid‑murid‑Nya, mengajar mereka kebenaran baru yang penting tentang pelayanan Roh Kudus. Dalam melakukan ini, Yesus sedang mempersiapkan perpisahan‑Nya dengan murid-murid‑Nya.

Sebagai tambahan, keempat Injil berisi banyak percakapan dan perumpamaan yang mencerminkan kuasa Kristus dalam pengajaran‑Nya. Pengajaran Kristus membuktikan aslinya klaim‑Nya sebagai Mesias; Ia memberi tahu bahwa perkataan yang Ia ajarkan adalah dari Bapa yang telah mengutus-Nya (Yoh. 12:49) dan bahwa Ia telah datang dari Bapa (Yoh. 17:8). Kata‑kata yang diucapkan Kristus adalah perkataan dari hidup yang kekal (Yoh. 6:63,68); dan mencerminkan hikmat Allah (Mat. 13:54); bahkan orang yang tidak percaya takjub atas hikmat dan kuasa dalam pengajaran‑Nya (Mrk. 6:2; Luk. 4:22). Perkataan Kristus penting dalam menerangkan klaim yang Ia berikan.

10.2. Mukjizat‑mukjizat Kristus

Yesaya bernubuat bahwa Mesias akan memberikan penglihatan kepada yang buta, pendengaran kepada yang tuli, kemampuan berbicara kepada yang bisu, dan menyembuhkan yang lumpuh (Yes. 29:18; 32:3; 35:56; juga Zef 3:19). Ketika pengikut‑pengikut Yohanes datang menanyakan tentang Yesus, Ia mengingatkan mereka nubuat‑nubuat itu dan menerapkannya kepada diri‑Nya (Mat. 11:4‑5). Mujizat‑mujizat yang diakukan Yesus adalah pembuktian atas ketuhanan‑Nya dan kemesiasan‑Nya; Ia melaksanakan mujizat Allah di tengah‑tengah orang banyak. Ketika mujizat‑mujizat dipelajari, kebenaran ini menjadi nyata. Banyak mujizat yang dilakukan Kristus mengantisipasi kerajaan millenium dan mesianik‑Nya.


Mukjizat-mukjizat Allah dariYesus

Mukjizat Yesus

Mukjizat Allah

Meredakan angin ribut (Mat. 8:23-27)

Maz. 107:29

Menyembuhkan orang buta (Yoh. 9:1-7)

Maz. 146:8

Mengampuni dosa (Mat. .9:2)

Yes. 43:25; 44:22

Membangkitkan yang mati (Mat. 9:25)

Maz. 49:15

Memberi makan 5.000 orang (Mat. 14:15-2 1)

Yoel 2:22-24


Hasil mujizat Kristus dalam millenium

Mujizat

Hasil dalam millenium

Nubuat

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Air menjadi anggur

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Sukacita, kegembiraan

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Yes. 9:3,4;

(Yoh. 2: 1 -11)


Yes. 12:3-6

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>5.000 orang diberi

makan (Mat 14:15-21)

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Kemakmuran, berlimpah

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Yes. 30:23-24;

Yes. 35:1-7

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Berjalan di atas air

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Perubahan lingkungan

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Yes. 30:41

(Mat. 14:26)



<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Menangkap ikan

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Berlimpah; kuasa atas

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Yes. 11:6-8

(Luk. 5: 1 -11)

dunia binatang


<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Meredakan angin ribut

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Kontrol atas elemen

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Yes. 11:9;

(Mat. 8:23-27)


Yes. 65:25

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Menyembuhkan orang

buta (Mat. 9:27-31)

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Tidak ada kebutaan fisik

atau spiritual

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Yes. 35:5

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Membangkitkan orang

mati (Mat. 9:18-26)

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Kehidupan kekal, orang

percaya tidak akan mati

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Yes. 65:20




Mujizat yang diseleksi dalam Injil Yohanes

Tanda-tanda

Hasil / Arti

Air berubah menjadi anggur (2: 1 -11)

Kualitas

Menyembuhkan anak laki-laki pegawai istana (4:46-54)

Ruangan

Menyembuhkan orang di kolam (5:1-18)

Waktu

Memberi makan 5.000 orang (6:1-14)

Jumlah

Berjalan di atas air (6:16-21)

Alam

Menyembuhkan orang buta (9:1-14)

Nasib

Membangkitkan Lazarus (11: 1-44)

Kematian


Nubuat Perjanjian Lama tentang Kristus

Topik

Nubuat

Ayat-ayat

Keturunan Kristus

Kelahiran anak dara

Kej. 3:15


Keturunan Sem

Kej. 9:26


Keturunan Abraham

Kej. 12:2


Keturunan Ishak

Kej. 17:19


Keturunan Yakub

Kej. 25:23; 28:13


Keturunan Yehuda

Kej. 49: 10


Keturunan Daud

2 Sam. 7:12-16

Kelahiran Kristus

Cara dilahirkan

Yes. 7:14


Tempat kelahiran

Mi. 5:2



Nubuat Perjanjian Lama tentang Kristus



Nubuat tentang Kristus yang digenapi

Ketika Yohanes mengarang Injilnya, ia memilih tujuh mujizat pra kebangkitan yang menunjukkan kuasa Kristus dalam dunia yang berbeda. Kristus melakukan banyak mujizat lainnya, tetapi yang tujuh itu mewakili dalam mencerminkan kuasa Kristus atas setiap dunia umat manusia.

KesaksianYesus kepada bangsa‑bangsa adalah mengenal firman‑Nya dan mujizat‑Nya ‑ pengajaran‑Nya dan mujizat‑Nya. Kedua‑duanya merupakan pem­buktian keTuhanan‑Nya dan ke‑Mesiasan‑Nya, oleh karena itu, Yesus mengingatkan Yohanes, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat” (Mat. 11:4).

11. Penolakan terhadap Kristus

Yesus datang sebagai Mesias Israel dan memberikan kesaksian untuk kemesiasan-Nya melalui firman-Nya dan mujizat-Nya. Pengarang Injil menulis riwayat Kristus dari sudut pandang tematis. Ini khususnya digambarkan dalan Injil Matius. Dalam pasal 5‑7, Matius menceritakan pengajaran Kristus dalam Perjamuan di Bukit dan menunjukkan kemesiasan‑Nya melalui pengajaran‑Nya (Mat. 7:28‑29); dalam pasal 8‑10, Kristus melakukan mujizat dalam berbagai dunia menunjukkan keaslian-Nya melalui mujizat‑Nya. Akibatnya, bangsa‑bangsa diberi kesaksian oleh Mesias melalui firman‑Nya dan mujizat‑Nya. Sekarang menjadi tanggung jawab bangsa-bangsa untuk menjawab Mesias, dan pemimpin agama adalah yang harus memimpin umat dalam mewartakan Mesias.

Dalam Mat. 12, masalah ini mencapai klimaks ketika pemimpin mengambil kesimpulan: “Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan(Mat. 12:24). Mereka mengakui bahwa Kristus melakukan mujizat, tetapi menarik kesimpulan bahwa Ia melakukan mujizat melalui kuasa setan. Bangsa‑bangsa menolak keme­siasan‑Nya. Akibatnya kerajaan yang ditawarkan Kristus tidak akan diberikan pada kedatangan‑Nya yang pertama, tetapi akan ditunda sampai kedatangan‑Nya yang kedua. Yesus lalu memberitahu murid‑murid‑Nya tentang adanya zaman interim yang akan berlangsung antara kedatangan‑Nya yang pertama dan yang kedua (Mat.13:1‑52).

12. Pencobaan Kristus

Meskipun Kristus berulang‑ulang “dicobai” selama pelayanan‑Nya (Luk. 4:13, 22:28; Mrk. 8:11), pencobaan terbesar‑Nya (Mat. 4:1 dan ayat‑ayat yang paralel) adalah fokus dari unit penelitian ini. Pencobaan‑Nya adalah suatu tes atas demonstrasi kemurnian‑Nya dan ketidak‑berdosaan‑Nya (Ibr. 4:15) tanpa ada satu kemungkinan tertarik kepada setan (Yak. 1: 13).

12.1. Ke-dapat‑berdosaan (Peccability) Kristus

Pandangan bahwa Kristus mampu bebuat dosa diberi istilah peccability (Latin: potuit non peccare, “dapat tidak berbuat dosa”) sedangkan pandangan bahwa Kristus tidak mampu berbuat dosa disebut impeccability (Latin: non potuit peccare, “tidak dapat berbuat dosa”). Di antara para penginjil masalahnya bukan apakah Kristus berbuat dosa atau tidak; semua penginjil akan menyangkal bahwa Kristus sebenarnya berbuat dosa. Pertanyaan dalam perdebatan adalah apakah Kristus mampu berbuat dosa. Pada umumnya (tidak selalu), kaum Calvinis percaya bahwa Kristus tidak mampu berbuat dosa, sedangkan kaum Armenis pada umumnya percaya bahwa Kristus mampu berbuat dosa, tetapi Ia tidak melakukannya.

Mereka yang berpegang kepada peccability Kristus/Kristus mampu berbuat dosa, berpikir atas dasar Ibr. 4:15: “Ia sama dengan kita, Ia telah dicobai hanya tidak berbuat dosa.” Jika pencobaan itu sungguh‑sungguh, maka Kristus sebenarnya dapat berbuat dosa, jika tidak pencobaan itu bukan suatu pencobaan sungguh-sungguh. Charles Hodge, seorang ahli teologi Reformasi, mungkin wakil yang terbaik dari pandangan ini. Ia mengatakan:


Bila Ia seorang manusia sejati, Ia seharusnya mampu berbuat dosa. Bahwa Ia tidak berbuat dosa dalam Provokasi yang paling hebat; ketika Ia dicerca Ia memberkati; ketika Ia menderita Ia tidak mengancam; Ia diam, sebagai Anak Domba di hadapan pencukur, dihadapkan kepada kita sebagai contoh. Pencobaan menyatakan secara tidak langsung kemungkinan berbuat dosa. Jika dari penempatan kepribadian‑Nya, Kristus tidaklah mungkin berbuat dosa, maka pencobaan‑Nya tidak benar‑benar dan tanpa akibat, dan Ia tidak dapat memberikan simpati kepada umat‑Nya.

Pelayanan melalui radio dan tertulis dari M.R. DeHaan dan Richard DeHaan juga mengajarkan tentang kemampuan berdosa Kristus.

Kekuatan yang diduga ada di dalam pandangan ini ialah bahwa hanya pandangan ini yang mengidentifikasi Kristus dengan kemanusiaan dalam pencobaan‑Nya ‑ pencobaan‑pencobaan itu adalah pencobaan benar‑benar. Kelemahan dari pandangan ini adalah bahwa Kristus tidak dipertimbangkan secukupnya dalam kepribadian‑Nya sebagai Allah maupun manusia.

Lagipula, kata “mencobai” (Yunani, πειραζω, peirazo) juga dipakai untuk Allah Bapa (Kis. 15:10; 1 Kor. 10:9; Ibr. 3:9) dan Roh Kudus (Kis. 5:9). Tidak mungkin seseorang akan mengatakan Allah Bapa atau Roh Kudus dapat berbuat dosa. Kesimpulannya ialah bahwa pencobaan tidak memerlukan kemampuan untuk berbuat dosa. Orang sungguh‑sungguh mencobai Allah Bapa dan Roh Kudus, tetapi tidak ada kemungkinannya bahwa Person‑Person dari Tritunggal berbuat dosa.

12.2. Ke‑tidak‑dapat‑berdosaan (impeccability) Kristus

Mereka yang berpegang kepada ketidak‑mampuan Kristus berbuat dosa mengatakan bahwa pencobaan Kristus oleh setan adalah sungguh‑sungguh, tetapi tidaklah mungkin untuk Kristus berbuat dosa. Beberapa observasi pengantar harus dicatat.

1. Observasi – Tujuan dari pencobaan ini ialah tidak untuk melihat apakah Kristus mampu berbuat dosa, tetapi untuk menunjukkan bahwa Ia tidak dapat berbuat dosa. Pencobaan datang pada saat yang kritis; awal dari pelayanan Kristus di depan umum. Pencobaan dirancang untuk menunjukkan kepada bangsa‑bangsa bagaimana uniknya Penyelamat mereka: Putra Allah yang tidak mampu berbuat dosa.

Kemampuan Kristus untuk berbuat dosa dapat dikaitkan dengan rupa manusia‑Nya; rupa ilahi‑Nya tidak mampu berbuat dosa. Meskipun Kristus mempunyai dua rupa, Ia merupakan satu Person dan tidak dapat menceraikan diri‑Nya dari ketuhanan‑Nya. Ke mana pun Ia pergi, rupa ilahi selalu hadir. Jika kedua rupa dapat dipisahkan, maka dapat dikatakan bahwa Ia mampu berbuat dosa dalam rupa manusia; tetapi karena rupa manusia dan rupa ilahi tidak dapat dipisah‑pisahkan dari Person Kristus, dan karena rupa ilahi tidak dapat berbuat dosa, maka harus ditegaskan bahwa Kristus tidak mungkin berbuat dosa.

2.Pembuktian – Bukti atas impeccability Kristus diterangkan oleh William Shedd dan yang lainnya dengan cara berikut ini.

(a) Kekekalan Kristus (Ibr. 13:8) – Kristus tetap sama dan oleh karena itu tidak mampu berbuat dosa. Jika Kristus dapat berbuat dosa ketika berada di dunia, maka Ia dapat berbuat dosa sekarang karena kekekalan‑Nya. Jika Ia dapat berbuat dosa di dunia, jaminan apa yang ada bahwa Ia tidak akan berbuat dosa sekarang?

(b) <emahakuasaan Kristus (Mat. 28:18) – Kristus Mahakuasa oleh karena itu mampu berbuat dosa. Kelemahan tersirat dalam kemungkinan ada dosa, namun tidak ada kelemahan macam apa pun dalam Kristus. Bagaimana Ia dapat Mahakuasa dan tetap mampu berbuat dosa?

(c) Kemahatahuan Kristus (Yoh. 2:25) – Kristus Mahatahu dan oleh karena itu tidak mampu berbuat dosa. Dosa bergantung kepada ketidaktahuan sehingga orang berbuat dosa dapat dicurangi, tetapi Kristus tidak dapat dicurangi karena Ia tahu semua hal, termasuk yang hipotesis (Mat. 11:21). Jika Kristus mampu berbuat dosa, maka Ia benar‑benar tidak tahu apa yang akan terjadi jika Ia berbuat dosa.

(d) Ketuhanan Kristus – Kristus tidak saja manusia, tetapi Ia juga Allah. Jika Ia hanya manusia, maka Ia mampu berbuat dosa, tetapi Allah tidak dapat berbuat dosa dan dalam kesatuan dua rupa, rupa manusia menyerah kepada rupa ilahi (jika tidak yang terbatas lebih kuat daripada yang tidak terbatas). Disatukan dalam satu Person dari Kristus ada dua rupa, manusia dan Tuhan; karena Kristus juga Tuhan, Ia tidak dapat berbuat dosa.

(e) Sifat pencobaan (Yak. 1: 14‑15) – Pencobaan yang datang kepada Kristus adalah dari luar. Namun, agar dapat terjadi dosa, harus ada respon dari dalam kepada pencobaan dari luar. Karena Yesus tidak memiliki sifat berbuat dosa, tidak ada dalam diri‑Nya untuk menjawab pencobaan. Orang berbuat dosa karena ada jawaban dari dalam kepada pencobaan dari luar.

(f) Kehendak Kristus – Dalam keputusan moral, Kristus hanya dapat mempunyai satu kehendak: melakukan kehendak Bapa‑Nya; dalam keputusan moral, kehendak manusia patuh kepada kehendak ilahi. Jika Kristus dapat berbuat dosa, maka kehendak manusia‑Nya akan lebih kuat daripada kehendak ilahi-Nya.

(g) Kuasa Kristus (Yoh. 10: 18) – Dalam ketuhanan‑Nya, Kristus mempunyai kuasa penuh atas manusia‑Nya. Misalnya, tidak seorang pun dapat mengambil hidupNya kecuali Ia memberikannya menurut kehendak‑Nya sendiri (Yoh. 10:18). Jika Kristus mempunyai kuasa atas hidup dan mati, Ia tentunya mempunyai kuasa atas dosa; jika Ia dapat menahan kematian dengan kehendak‑Nya, Ia dapat juga menahan dosa dengan kehendak‑Nya.

13. Kematian Kristus

13.1. Substitusi

Ada sejumlah teori tentang pentingnya kematian Kristus. PB menekankan, bahwa Kristus mati sebagai kematian subtitusi demi pendosa‑pendosa. Kematian‑Nya juga disebut vicarious, berarti: “satu sebagai pengganti yang lain”. Kata ganti benda dalam Yesaya menekankan sifat substitusi dari kematian Kristus: “Tetapi Ia tertikam oleh karena pemberontakan kita. Ia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepada‑Nya, dan oleh bilur‑bilur‑Nya kita menjadi sembuh.” Tujuan dari 1 Pet. 2:24 serupa: “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh‑Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran; Oleh bilur‑bilur‑Nya kamu telah sembuh.”

Penting karena keadilan Allah yang kudus, dipenuhi seluruhnya melalui penebusan dosa‑dosa oleh Kristus. Berdasarkan ini, Allah menyatakan orang berdosa digantikan. Dua kata depan Yunani mengajarkan aspek substitusi dari kematian Kristus.

1. Kata depan αντι ‑ anti, diterjemahkan “untuk”, berarti “sebagai gantinya” mengajarkan substitusi

Mat. 20:28 mengatakan: “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa‑Nya (anti) menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk. 10:45). Penggunaan kata anti dalam Luk. 11:11 menandakan bahwa “sebagai gantinya” (substitusi) adalah arti dasar dari kata depan ini.

2. Kata depan kedua, υπερ ‑ huper, berarti “di tempatnya” juga menekankan substitusi

1 Tim. 2:6 menyatakan bahwa Kristus “yang telah menyerahkan diri‑Nya sebagai tebusan bagi (huper) semua manusia.” Gal. 3:13 juga mengajarkan kebenaran ini, “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena (huper) kita.” Dengan mati di kayu salib, Kristus menyerahkan nyawa‑Nya sebagai substitusi seluruh umat manusia (2 Kor. 5:21; 1 Pet. 3:18). Semua dosa‑dosa orang yang percaya dibebankan kepada Kristus, yang menebus melalui kematian‑Nya.

13.2. Penebusan

Suatu kebenaran yang terkait ialah bahwa kematian Kristus menyediakan penebusan. 1 Kor. 6:20 menyatakan bahwa orang yang percaya “telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.” Dibeli adalah kata Yunani αγοραζω ‑ agorazo, yang menggambarkan seorang hamba yang telah dibeli di pasar budak masa lampau. Kristus membeli orang percaya dari pasar budak dosa dan membebaskannya (1 Kor. 7:23; Gal. 3:13; 4:5; Why. 5:9; 14:3,4).

14. Kebangkitan Kristus

14.1. <!–[endif]–>Pentingnya

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Kebangkitan menentukan sahnya iman Kristiani – Paulus berseru, “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masib hidup dalam dosamu” (1 Kor. 15:17).


<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Kebangkitan menandakan bahwa penderitaan salib telah disempurnakan – Ini adalah jaminan dari pengakuan Bapa atas pekerjaan Putra. Kristus berdoa agar cawan berlalu dari pada‑Nya (Mat. 26:39); ini adalah doa bukan untuk menghindari salib tapi untuk kematian agar hidup melalui kebangkitan (Maz. 16:10). Bapa mendengar doa‑Nya (Ibr. 5:7) dan membangkitkan Putra dari kematian, menandakan pengakuan‑Nya atas pekerjaan Kristus.


<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Kebangkitan harus ada dalam program Allah – Kristus menjanjikan Roh Kudus sebagai Penghibur bagi murid- murid‑Nya (Yoh. 16:7), tetapi Roh Kudus hanya dapat datang kepada mereka bila Kristus pergi (agar ada kebangkitan).


<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Kebangkitan menggenapi nubuat tentang kebangkitan‑Nya – Daud bernubuat tentang kebangkitan Kristus (Maz. 16:10); Petrus menjelaskan bahwa kebangkitan Kristus menggenapi nubuat dari Maz. 16:10. Kristus sendiri tidak saja bernubuat tentang kematian‑Nya, tetapi juga kebangkitan‑Nya (Mat. 16:21; Mrk. 14:28).


<!–[if !supportLists]–>14.2. <!–[endif]–>Bukti‑bukti


<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Kubur yang kosong – Jika Kristus tidak bangkit, maka tubuh‑Nya telah dicuri seseorang. Jika musuh‑musuh mengambil tubuh, mengapa tidak ada setelah itu? Murid‑murid tidak mungkin mencuri‑Nya karena tentara Romawi sedang menjaga kubur dan telah memberikan meterai atas kubur. Kubur yang kosong adalah bukti nyata dari kebangkitan‑Nya.


<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Bentuk dari kain kafan – Ketika Yohanes masuk dalam kubur “ia melihatnya dan percaya” (Yoh. 20:8). Yohanes melihat kain kafan masih dalam bentuk tubuh dan kain peluh “di tempat yang lain sudah tergulung” (Yoh. 20:7; 11:44). Yohanes mengetahui bahwa tidak seorang pun dapat mengambil tubuh dari kain kafan dan membiarkan kain kafan mempertahankan bentuk tubuh. Hanya ada satu penjelasan: tubuh Kristus telah keluar dari kain kafan.


<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Penampakan kebangkitan – Allah yang bangkit dilihat oleh banyak orang dalam 40 hari setelah Ia mati. Di antara mereka ada para wanita setia di kubur, dua orang di jalan ke Emaus, Petrus, kedua belas murid, 5.000 orang yang percaya pada saat yang bersamaan, Yakobus, para rasul, Paulus (Mat. 28:1‑10; Luk. 24:13‑35; 1 Kor. 15:5‑8). Saksi‑saksi itu adalah bukti-bukti penting untuk keragu‑raguan tentang kebangkitan Kristus. Penampakan sesudah kenaikan Tuhan Yesus kepada Paulus dan Yohanes dicatat dalam Kisah Para Rasul dan Wahyu.


<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Para murid yang sudah ditransformasi (diubahkan) – Para murid tahu bahwa Kristus sudah mati dan pada mulanya mereka ragu‑ragu tentang kebangkitan‑Nya, tetapi ketika mereka melihat Dia, mereka berubah sama sekali. Petrus dalam Kis. 2 sangat berbeda dengan Petrus dalam Yoh. 19. Pengetahuan tentang kebangkitan membuat Petrus berubah.


<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Observasi hari pertama dalam minggu itu – Para rasul langsung mulai berkumpul untuk memperingati kebangkitan Yesus (Yoh. 20:26; Kis. 20:7; 1 Kor. 16:2; Why. 1: 10).

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Eksistensi Gereja – Eksistensi gereja bergantung kepada fakta kebangkitan. Gereja muda tumbuh melalui pengkhotbahan dari doktrin (Kis. 2:24‑32; 3:15; 4:2).


<!–[if !supportLists]–>15. <!–[endif]–>Kenaikan Kristus


<!–[if !supportLists]–>15.1. <!–[endif]–>Fakta Kenaikan

Kenaikan Kristus dilukiskan dalam Mrk. 16:19, Luk. 24:51, dan Kis. 1:9. Ini juga disebutkan dalam Kis. 2:33, di mana Petrus mengatakan bahwa bukti kenaikan Kristus adalah fakta bahwa Ia mengirim Roh Kudus, yang disaksikan oleh begitu banyak orang pada hari Pentakosta. Petrus selanjutnya menekankan bahwa kenaikan Kristus adalah menggenapi Maz. 110:1 di mana Tuhan berkata, “Duduklah di sebelah kanan‑Ku.” Paulus memberi tekanan kepada kebenaran yang sama dalam Efs. 4:8 di mana ia mengatakan bahwa Kristus “naik ke tempat tinggi … dan Ia memberikan pemberian‑pemberian kepada manusia.” Kitab Ibrani mendorong orang yang percaya untuk datang mendekat ke tahta kasih karunia dengan percaya diri karena “kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah” (Ibr. 4:14). Petrus mengatakan bahwa orang yang percaya diselamatkan melalui permohonan kepada Tuhan yang sudah bangkit dan naik ke sorga (I Pet. 3:22).


<!–[if !supportLists]–>15.2. <!–[endif]–>Arti Kenaikan Kristus

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Mengakhiri pelayanan Kristus di bumi – Mengakhiri pelayanan duniawi Kristus. Memberi tanda bahwa periode pengekangan diri‑Nya selama tinggal sementara di bumi sudah berakhir.


<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Mengakhiri periode penderitaan‑Nya – Kemuliaan tidak lagi terselubung setelah kenaikan‑Nya (Yoh. 17:5; Kis. 9:3,5). Kristus sekarang dimuliakan dan dimahkotai di sorga.


<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Memberi tanda – Memberi tanda masuknya Manusia yang bangkit ke dalam sorga dan permulaan dari pekerjaan baru di sorga (Ibr. 4:14‑16; 6:20). Suatu representasi dari manusia dalam tubuh yang bangkit dan dimuliakan adalah Perantara orang Kristen.


<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Memungkinkan turunnya Roh Kudus (Yoh. 16:7) – Perlu bagi Kristus untuk naik ke sorga agar Ia dapat mengirim Roh Kudus.





<!–[if !supportLists]–>16. <!–[endif]–>Peran Kristus


Sepanjang sejarah pekerjaan Kristus dianggap berlipat tiga: Nabi, Imam, Raja. Erickson memakai istilah three offices of Christ yang menurut dia adalah menyatakan (revealing), memerintah (ruling), dan memperdamaikan (reconciling). Ketiga fungsi ini boleh dipisahkan sehingga seolah‑olah Kristus mempunyai fungsi yang terpecah‑belah atau pun menekankan salah satu dan mengabaikan yang lain.


<!–[if !supportLists]–>16.1. <!–[endif]–>Yesus Kristus sebagai Nabi

Yesus mengaku diri‑Nya sebagai seorang Nabi. Ketika orang‑orang Nasaret tidak menerima-Nya, Yesus berkata, “Seorang nabi dihormati di mana‑mana, kecuali di kampung halamannya dan dirumahnya sendiri” (Mat. 13:57). Kenabian Kristus diakui juga oleh para pengikut‑Nya bahkan ketika Ia memasuki Yerusalem khalayak banyak berteriak‑teriak, “Dia Nabi Yesus, dari Nasaret di Galilea!” (Mat. 21:11). Lihat ayat‑ayat Alkitab yang menyatakan Yesus sebagai Nabi dalam Mat. 21:46, Luk. 24:19, Yoh. 6:14, 7:40, 52, 9:17.


<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Misi Kristus


<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>Yesus menyadari bahwa Ia diutus oleh Allah Bapa (Mat 10:40; 15:24; Mrk. 9:37; Luk. 10:16; Yoh. 20:2 1).

<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>Yesus menyadari tujuan kedatangan‑Nya di dunia. Kesadaran ini terlihat dalam kata‑kata Yesus sendiri (Mrk. 2:17; 10:45).


Ayat‑ayat lain yang menyatakan kesadaran Yesus ini adalah: Mat. 5:17, 10:34, Luk. 12:49, Yoh. 1: 11, 5:43, 6:38, 8:42 dan 12:46.


<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Pesan Kristus


Pesan Kristus mempunyai banyak persamaan dengan pesan para nabi PL. Pesan‑Nya menyangkut hal‑hal mengenai:


<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>Injil dan keselamatan (Mat. 11:28, Luk. 4:18‑21, Yes. 40:9, 52:7)

<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>Kerajaan Allah (Mat. 4:17,5‑7,13, 9:35, Mrk. 1:14‑15, Luk. 17:20‑21, Yoh. 18:36)

<!–[if !supportLists]–>(c) <!–[endif]–>Kepemuridan (Mat. 4:19, 19:2 1, Luk. 9:23, Yoh. 12:26)

<!–[if !supportLists]–>(d) <!–[endif]–>Jemaat (Mat. 16:18, Mat. 5:13‑15, Yoh. 13:35)

<!–[if !supportLists]–>(e) <!–[endif]–>Eskatologi (Mat. 24:25, Mrk. 13, Yoh. 5:22, 27).

<!–[if !supportLists]–>16.2. <!–[endif]–>Yesus Kristus sebagai Imam

Seperti di dalam PL, kategori jabatan Imam, seperti jabatan Nabi juga diterapkan untuk Yesus oleh orang‑orang Kristen mula‑mula. Mereka menganggap pekerjaan‑Nya dari konteks peranan Imam dalam Israel. Sebenarnya, peranan sebagai Imam ini sangat berkaitan dengan kematian Kristus, tetapi jabatan atau fungsi keimaman ini meliputi seluruh pekerjaan Yesus sebagai Perantara Allah dan manusia serta Pendamai manusia kepada Allah.


<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Konsep‑konsep Perjanjian Lama


<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>Konsep korban bakaran – Dari PL, konsep persembahan korban bakaran mempunyai implikasi bahwa persembahan itu merupakan suatu pemberian (Allah mengaruniakan Anak‑Nya, Yesus menyerahkan nyawa‑Nya). Persembahan itu juga adalah sarana untuk menjalin hubungan atau persekutuan dengan Allah.



<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>Konsep hamba yang menderita – Hal ini sangat jelas dilihat dari Kitab Yesaya. Perhatikan perkembangan konsep di sini: dari bangsa kepada individu. Kidung Hamba pertama: Yes. 42:1‑4 (ditujukan kepada bangsa), Kidung Hamba kedua: Yes. 49:1‑6 (ditujukan kepada sisa dari bangsa Israel); Kidung Hamba ketiga: Yes. 50:4‑9 (dikaitkan dengan seorang Hamba), Kidung Hamba keempat: Yes. 52:13‑53:12 (Hamba yang Menderita yang menggantikan manusia).


<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Penerapan dalam Perjanjian Baru


<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>Pelayanan perdamaian (katalassw katallassö, katallagh katallagé) – Pekerjaan Kristus memperdamaikan manusia dengan Allah, Ia lakukan oleh karena dosa umat manusia yang mengasingkannya dengan Allah (Yes. 53:6, Roma 5:8). Dengan kapasitas-Nya sebagai Imam, Kristus membawa kembali umat manusia berdosa kepada Allah (Luk. 19: 10). Hal ini sangat nyata dalam perkataan Paulus, “…. melalui Kristus, Allah membuat kita berbalik kembali dengan Dia …” (2 Kor. 5:18‑2 1).


<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>Kematian Kristus – Kematian Kristus di atas kayu salib menyatakan kehendak Allah menyelamatkan umat manusia dari dosa (Yoh. 1:29, 1 Yoh. 4:14). Kematian Kristus juga menyatakan kasih Allah kepada kita (Yoh. 3:16, Roma 5:8, 1 Yoh. 4:9‑10).


<!–[if !supportLists]–>(c) <!–[endif]–>Hubungan manusia kepada kematian Kristus – Kematian Kristus adalah sebagai pengganti manusia (Yoh.10: 11, Mrk. 10:45, Gal. 2:20). Kebenaran ini juga dapat dilihat dalam motif “Anak Domba Allah” yang disembelih. Motif ini mempunyai makna yang berkaitan erat dengan pengalaman dan pelayanan orang-orang Kristen.


<!–[if !supportLists]–>§ <!–[endif]–>Baptisan – Kita semua mati, dikuburkan, dan dibangkitkan bersama‑sama dengan Yesus (Roma 6:4, dst).

<!–[if !supportLists]–>§ <!–[endif]–>Perjamuan kudus – Peringatan dan persekutuan akan penderitaan Kristus (Yoh. 6:52‑58, Flp. 3: 10).

<!–[if !supportLists]–>§ <!–[endif]–>Kehidupan – Yesus memohon kepada Bapa demi kita (Yoh. 17, Roma 8:33‑34, Ibr. 7:25, 9:24).

<!–[if !supportLists]–>§ <!–[endif]–>Pelayanan – Kristus menyertai kita dalam pemberitaan (marturia), persekutuan (koinonia), dan pelayanan (diakonia).

<!–[if !supportLists]–>16.3. <!–[endif]–>Yesus Kristus sebagai Raja

Yesus mengaku bahwa diri‑Nya sebagai yang Empunya kerajaan (Mat. 13:41). Ia berkata bahwa di dunia yang baru, Anak Manusia akan duduk di tahta‑Nya yang mulia (Mat. 19:28). Kitab‑kitab Injil melukiskan Yesus sebagai Raja yang memerintah atas segala sesuatu. Nabi Yesaya mengharapkan seorang Raja yang akan duduk di tahta Daud (Yes. 9:6‑7). Raja ini akan keluar dari Betlehem, kota Daud (Mi. 5:2). Penulis Surat Ibrani menerapkan Maz. 45:6‑7 kepada Yesus ketika Ia berkata, “Tahta‑Mu, ya Allah, akan kekal selama‑lamanya! Pemerintahan‑Mu adalah pemerintahan yang adil” (Ibr. 1:8).


<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Yesus adalah Raja yang terselubung


<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>Dalam inkarnasi‑Nya – Yohanes bersaksi bahwa Ia datang kepada umat‑Nya sendiri (Israel), tetapi mereka menolak‑Nya (Yoh. 1:10‑11). Ia lahir dengan segala kerendahan (Mat. 2, Luk. 2).



<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>Dalam kehidupan‑Nya – Orang‑orang tidak mengenal‑Nya sebagai Raja (Mat. 12:23, 22:41‑45, Mrk. 6:3). Walaupun demikian, Injil menyatakan silsilah-Nya sebagai anak Daud (Mat. 1: 1 ‑ 17).


<!–[if !supportLists]–>(c) <!–[endif]–>Dalam kesengsaraan‑Nya – Kesengsaraan dan penyaliban Kristus menunjukkan bahwa Ia adalah seorang Raja yang terselubung (Mat. 21:1‑11, 27:11‑14, 37, Yoh. 1:49, 6:15, 18:33‑38, 18:39‑19:22).


<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Yesus adalah Raja yang dinyatakan


<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>Yesus dinyatakan sebagai Raja dalam kebangkitan‑Nya (Roma 1:1‑3, Kis. 2:21‑35).

<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>Yesus dinyatakan sebagai Raja dalam kemuliaan‑Nya. Syair pujian dalam Flp. 2:5‑11 menyatakan kedudukan Yesus sebagai Raja yang ditinggikan Allah Bapa.

<!–[if !supportLists]–>(c) <!–[endif]–>Yesus dinyatakan sebagai Raja dalam kedatangan‑Nya. Kata-kata tentang kedatangan Yesus menyatakan kemuliaan dan kekuasaan‑Nya (1 Tes. 4:13‑18, Tit. 2:13, 1 Kor. 16:22, Why. 1:7).


<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Yesus adalah Raja yang memerintah – Yesus telah mulai memerintah sekarang, khususnya atas semesta alam (Mrk. 3:22‑26, Yoh. 12:13, 1 Yoh. 1:3, Kol. 1:17) dan atas jemaat‑Nya (Efs. 1:21 dst., Kol. 1:13,18). Yesus juga akan memerintah pada masa yang akan datang (1 Kor. 15:24‑25, Why. 19:16).


Ketiga peran Kristus sebagai Nabi, Imam, dan Raja adalah kunci untuk mencapai tujuan inkarnasi. Peran Nabi‑Nya termasuk mengungkapkan pesan Allah; sebagai Imam berhubungan dengan penyelamatan‑Nya dan pengantaraan‑Nya; sebagai Raja memberikan kepada‑Nya kuasa untuk memerintah Israel dan seluruh muka bumi. Semua tujuan ilahi dari ketiga peran historis secara sempurna mencapai puncaknya dalam Tuhan Yesus Kristus.


<!–[if !supportLists]–>17. <!–[endif]–>Pelayanan Kristus Dewasa Ini

<!–[if !supportLists]–>17.1. <!–[endif]–>Kristus membangun Gereja‑Nya

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Pembentukan Tubuh – 1 Kor. 12:13 mengatakan bahwa Roh Kudus membentuk Gereja, Tubuh dari Kristus; namun, Kristus sebagai Kepala dari Gereja membimbing dan mengawasinya. Kis. 2:47 mengatakan bahwa Kristus adalah yang membuahkan pertambahan dalam Gereja. Ini konsisten dengan Kis. 1: 1 di mana Lukas mengatakan bahwa Injil yang ia karang menggambarkan pekerjaan yang mulai dilakukan Kristus, dengan pengandaian bahwa pekerjaan‑Nya berlanjut hingga dewasa ini dalam membangun Gereja.


<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Pengarahan Tubuh – Kristus tidak saja Kepala jemaat, tetapi juga memimpin jemaat (Kol. 1:18) dengan memberikan bimbingan dan hukum tertinggi (Efs. 5:23‑24). Bila kepala manusia membimbing seluruh tubuh fisik, maka Kristus, sebagai Kepala jemaat, membimbing Gereja melalui firman Allah (Efs. ‑5:26).


<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Pemeliharaan tubuh – Jika orang memelihara tubuh mereka, maka Yesus Kristus adalah sumber kehidupan bagi Gereja; Ia adalah sarana untuk merawatnya menjadi dewasa (Efs. 5:29-30). Kristus dalam pekerjaan‑Nya saat ini, membawa Tubuh menuju kedewasaan.


<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Penyucian tubuh – Kristus terlibat dalam penyucian Tubuh. Ia membuahkan pengudusan bagi orang yang percaya (Efs. 5:25‑27). Ini menunjukkan pengudusan progresif di mana Kristus menyucikan jemaat.


<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Pemberian‑pemberian kepada tubuh – Kristus adalah sumber dari pemberian spiritual; Roh Kudus mengaturnya (Efs. 4:8,11‑13). Pemberian dikaruniakan dengan tujuan seluruh jemaat dapat ditingkatkan dan diperbanyak dengan cara ini. Efs.4:11‑13 menunjukkan pemberian‑pemberian yang diberikan kepada manusia sehingga Tubuh Kristus, jemaat, dapat tumbuh dewasa.

<!–[if !supportLists]–>17.2. <!–[endif]–>Kristus Berdoa bagi Orang Percaya


<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Perantaraan Kristus menjamin keamanan penyelamatan kita – Orang yang percaya, dapat kehilangan penyelamatannya hanya jika Kristus inefektif dalam peran‑Nya sebagai Perantara (Roma 8:34; Ibr. 7:25). Perantaraan Kristus termasuk:


<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>Kehadiran‑Nya di hadapan Bapa.

<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>Firman‑Nya yang diucapkan (Luk. 22:32; Yoh. 17:6‑26).

<!–[if !supportLists]–>(c) <!–[endif]–>Perantaraan‑Nya terus‑menerus (perhatikan waktu sekarang dari kata kerja yang dipakai).


<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Perantaraan Kristus mendamaikan kita dengan persekutuan dalam hal persekutuan itu dipecahkan karena dosa – Kristus disebut sebagai “Pengantara” orang yang percaya (Yunani: παρακλητος, parakletos), berarti “Pengacara, Pembela” (1 Yoh. 2:1). “Dalam literatur rabbi, kata ini dapat berarti orang yang menawarkan bantuan hukum atau orang yang bertindak sebagai penengah untuk kepentingan orang lain … kata ini tanpa diragukan berarti “pengantara” atau “dewan pembela” dalam konteks hukum.”


<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Kristus menyediakan tempat di sorga bagi kita (Yoh. 14:1‑3) – Dalam kemuliaan, Kristus menyediakan banyak tempat tinggal di rumah Bapa. Gambarannya ialah seperti seorang ayah oriental yang kaya, yang menambah ruangan tambahan ke rumahnya yang sudah besar agar dapat mengakomodasi anak‑anaknya yang sudah berkeluarga. Ada tempat bagi mereka semua.


<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Kristus menghasilkan buah dalam kehidupan orang yang percaya (Yoh. 15:1‑7) – Seperti sebuah pokok anggur terikat kepada ranting‑rantingnya dan mengambil kehidupan dan perawatan dari ranting‑ranting untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan buah, maka orang yang percaya diukir ke dalam kesatuan spiritual dengan Kristus untuk mendapat perawatan spiritual dari Kristus. Buah spiritual akan merupakan hasilnya.


<!–[if !supportLists]–>18. <!–[endif]–>Pekerjaan Kristus Yang Akan Datang


Pengharapan yang ada dalam Kitab Suci adalah restorasi terakhir dari semua hal di bawah Mesias. Dalam satu tahap kedatangan‑Nya akan menggenapi pengharapan mulia dari gereja, suatu peristiwa kebangkitan dan persatuan kembali (1 Kor. 15:51‑58; 1 Tes. 4:13‑18; Tit. 2:13); dalam tahap yang lain kedatangan‑Nya akan menghakimi bangsa‑bangsa yang tidak percaya dan setan (Why. 19:11‑21), dan akan menjadi pertolongan bagi bangsa‑bangsa‑Nya, Israel, dan pengangkatan pemerintahan millenium (Mi. 5:4; Za. 9: 10).


‑‑‑‑‑‑‑‑‑‑ 0000000000 ‑‑‑‑‑‑‑‑‑

2 Komentar »

  1. mau nanya nie kok tentang hasil Mujizat Kristus dlm Millennium ttg berjalan di atas air= perubahan lingkungan di Yes 30:41 kan tidak ada ayat itu..minta diralat ya.. Thanks.

    Komentar oleh stevanie — Agustus 29, 2008 @ 5:06 pm | Balas

  2. Terima kasih untuk koreksinya. Yang benar adalah Yesaya 43:1-2. Ada koreksi lainnya? Thanks a lot

    Komentar oleh petrusfs — September 3, 2008 @ 12:24 am | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: