BIBLEMORE

PROPER THEOLOGY – TEOLOGIA TENTANG ALLAH

1. Definisi Allah

Siapakah Allah? Beberapa teolog memberikan definisi sesuai pemahaman mereka masing-masing yang bersumber dari Alkitab, antara lain:

(a)    A.H. Strong, “Allah adalah Roh yang tak terbatas dan sempurna; di dalam Dia segala sesuatu bersumber, terpelihara, dan berakhir.”

(b)   Herman Hoeksema, “Allah adalah Pribadi yang esa, tak terbagi, mutlak, rohani semata‑mata, memiliki kesempurnaan yang tak terbatas, sepenuhnya imanen dalam seluruh dunia, namun pada hakikatnya transenden terhadap segala yang ada.

(c)    J.0. Buswell, “Allah adalah roh, tidak terbatas, kekal, tidak berubah dalam diri‑Nya, kebijaksanaan‑Nya, kuasa‑Nya, kekudusan‑Nya, keadilan‑Nya, kemurahan‑Nya, dan kebenaran‑Nya.”

(d)   Louis Berkhof, “Allah itu esa, sempurna, tidak berubah, dan tak terbatas dalam pengetahuan dan kebijaksanaan‑Nya, kebaikan dan kasih‑Nya, kasih karunia dan kemurahan‑Nya, kebenaran dan kekudusan‑Nya.”

2. Penyataan Allah

Alkitab menyatakan bagaimana manusia dapat mengenal Allah. Dari dirinya sendiri manusia yang berdosa mustahil mengenal Allah secara benar. Di dalam diri manusia ada kerinduan akan Allah yang sejati, namun karena keberdosaannya, manusia tidak dapat memahami segala sesuatu tentang Allah (Pengkh. 3:11). Satu-satunya jalan agar manusia mengenal Allah adalah menerima penyataan diri Allah sendiri (revelation) tentang Diri‑Nya.

Istilah “penyataan” berasal dari istilah Yunani αποκαλυyι (apokalupsi, Ing.: revelation) yang berarti “membuka selubung sehingga hal yang tersembunyi menjadi terbuka dan terlihat dengan jelas.” Jadi manusia hanya dapat mengenal Allah sejauh Allah menyatakan diri‑Nya dan sejauh manusia mau menerima dan percaya kepada penyataan Allah sendiri.

Allah menyatakan Diri‑Nya melalui pelbagai sarana dengan berulang kali dan dalam pelbagai cara (Ibr. 1:1). Ada 2 (dua) penyataan Allah: yaitu penyataan umum (general revelation) dan penyataan khusus (specific revelation).

2.1.Penyataan Umum

Secara umum Allah menyatakan Diri‑Nya melalui tiga sarana:

(a)    alam semesta (Ayub 12:7‑9; Maz. 8:2‑4; 19:1‑7; Yes. 40:12‑14) – Dengan mengamati alam ciptaan‑Nya, manusia dapat mengenal kemahakuasa-an‑Nya, kemuliaan‑Nya, kedashyatan‑Nya, dan kebaikan‑Nya. Penyataan ini tidak dapat menuntun manusia kepada keselamatan. Penyataan ini berisi suatu panggilan umum dari Allah kepada manusia agar kembali kepada‑Nya, namun telah dikaburkan oleh keberadaan dosa di dalam dunia (Roma 1:18‑23). Namun penyimpangan terjadi, ketika manusia kemudian mempercayai mitos‑mitos.

(b)   sejarah umat manusia (Maz. 75:7‑8; Roma 13:1) ‑ dimana nasib para raja dan kerajaan‑kerajaan berada di tangan Allah. Terutama sekali Allah menyatakan diri‑Nya melalui sejarah bangsa Israel. Melalui sejarah, manusia dapat mengenal kuasa, pemeliharaan, keadilan, dan kasih Allah. Namun penyimpangan terjadi, ketika manusia kemudian mempercayai penyembahan berhala.

(c)    hati nurani (Pengkh. 3:11) ‑ di dalam hati nurani terdapat kesadaran tentang benar dan salah, yang membedakan antara yang baik dan yang benar serta mendorong kita melakukan yang benar. Namun ternyata hati nurani manusia telah tercemar, baik oleh budaya, pendidikan, lingkungan, maupun pemahaman keagamaan yang keliru, maka hanya dengan hati nurani pun manusia tidak dapat mengenal Allah secara benar, sehingga kemudian menyimpang dan menimbulkan politeisme.

2.2. Penyataan Khusus

Allah menyatakan Diri‑Nya secara khusus melalui hal‑hal berikut ini:

(a) Alkitab (Yoh. 6:68) ‑ dimana Allah menyatakan diri dan kehendak‑Nya. Alkitab menuntun manusia kepada keselamatan (2 Tim. 3:15). Ada mukjizat, nubuat, dan pengalaman pribadi tokoh‑tokoh iman dalam Alkitab yang menyatakan pribadi dan karya Allah kepada manusia.

(b) Yesus Kristus (Yoh. 1:18; Ibr. 1:2‑3; Kol. 1:15; 2:9) ‑ dimana melalui pribadi dan karya‑Nya manusia dapat memahami keberadaan, sifat, dan kehendak Allah. Yesus Kristus adalah pusat penyataan Allah dan sejarah umat manusia.

3.  Keberadaan Allah

Kepercayaan akan adanya Allah didukung oleh beberapa alasan. Namun dalam mempelajari pelbagai alasan tersebut, perlu dipahami bahwa:

(a)    Alasan‑alasan tersebut bukan merupakan bukti‑bukti terpisah akan adanya Allah; lebih tepat dikatakan bahwa itu merupakan dukungan dan penafsiran akan keyakinan adanya Allah yang sudah ada di dalam diri kita.

(b)   Karena Allah adalah roh, kita tidak boleh menuntut bukti‑bukti yang sama sebagaimana kita membuktikan benda‑benda fisik, tetapi hanya bukti‑bukti yang cocok untuk objek yang akan dibuktikan.

(c)    Bukti‑bukti itu harus merupakan hasil pengumpulan data, karena satu alasan saja untuk membuktikan adanya Allah tidak cukup, tetapi beberapa alasan nampaknya cukup memadai untuk mengikat suara hati dan mendorong kepercayaan.

3.1.   Argumentasi Kosmologis (Ibr. 3:4) ‑ “Segala sesuatu yang dimulai haruslah mempunyai sebab yang memadai. Alam semesta sudah dimulai; oleh karena itu, alam semesta haruslah memiliki suatu sebab yang memadai untuk menerangkan keberadaannya.” Alasan ini menunjuk akan adanya Sebab Pertama (Causa Prima) yang berada di luar alam semesta dan berakal‑budi tinggi.

3.2.   Argumentasi Teleologis (Maz. 8:4 dst., 19:2 dst., 94:9) ‑ “Tatanan yang teratur dan berdaya‑guna di dalam suatu sistem menyiratkan adanya akal budi tinggi dan maksud di dalam sebab pengatur. Alam semesta menunjukkan adanya tatanan yang teratur dan berdaya‑guna; oleh karena itu, alam semesta ini memiliki sebab yang berakal‑budi tinggi dan bebas.” Alasan ini membuktikan bahwa Penyebab Pertama itu berakal‑budi tinggi, bebas, berada di luar alam semesta, serta akbar dalam arti kata yang seluas‑luasnya.

3.3.   Argumentasi Anthropologis – “Ada fitur moral dan filosofis dalam diri manusia yang jika ditarik mundur akan berakhir pada awalnya di dalam Allah … Suatu kuasa yang tak diketahui … tidak akan pernah menghasilkan seorang manusia dengan intelek, perasaan, kehendak, kesadaran, dan kepercayaan kepada seorang Pencipta.” Alasan ini membuktikan bahwa adanya manusia yang memiliki bukan hanya fisik, tetapi juga moral, menunjukkan adanya Pencipta, yaitu Allah.

3.4.   Argumentasi Ontologis – “Alasan ini memperlihatkan bahwa kita memiliki gagasan tentang Allah. Gagasan ini sangat jauh lebih besar dari pada manusia itu sendiri. Karena itu, gagasan tersebut tidak mungkin berasal dari dalam manusia sendiri, tetapi hanya dapat berasal dari Allah sendiri.” Alasan ini membuktikan bahwa Penyebab Pertama tersebut tidak terbatas dan sempurna, bukan karena sifat-sifat ini jelas sekali dimiliki olehnya, tetapi karena keadaan mental manusia tidak mengijinkan manusia berpikir lain.

3.5.   Argumentasi Moral (Maz. 32:3; Pengkh. 12:14; Roma 1:19-32; 2:14-16) – “Setiap orang memiliki kesadaran serta kewajiban tentang apa yang benar dan apa salah, dan bersamaan dengan itu merasakan tanggung jawab yang tidak dapat dibantah untuk melakukan hal yang benar. Selain itu ia mempunyai perasaan bersalah dan menghakimi diri sendiri bila ia melakukan yang jahat.”

4. Teori-teori Antiteistik

Dosa telah begitu menggelapkan pandangan pemikiran manusia dan merusak hati mereka sehingga mereka menolak bukti-bukti yang telah ada. Ada 6 (enam) golongan besar dari mereka yang tidak mau mengakui penyataan Allah tentang Diri-Nya.

4.1.   Ateisme – ajaran yang tidak mengakui adanya Allah. Dalam ateisme ada tiga pandangan :

(1) Ateisme praktis – mengakui bahwa Allah ada entah di mana, tetapi mereka hidup dan bertindak seakan-akan tidak ada Allah yang kepadanya mereka harus bertanggung jawab.

(2) Ateisme dogmatis – mengakui secara terang-terangan bahwa mereka tidak mengakui adanya Allah ð Komunisme.

(3) Ateisme murni – menganut prinsip yang tidak sesuai dengan kepercayaan akan Allah atau yang mendefinisikan Allah dengan menggunakan istilah-istilah yang melanggar pemakaian bahasa pada umumnya. Misalnya, Allah disebut sebagai “prinsip aktif yang bekerja dalam alam” atau “kesadaran sosial,” atau “yang tidak dapat dikenal,” atau “personifikasi kenyataan,” atau “energi” ð Naturalisme.

4.2.   Agnostisisme – ajaran yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar tidak mungkin diperoleh dan bahwa semua pengetahuan yang ada bersifat relatif sehingga dengan demikian tidak pasti ð Empirisme, positivisme, pragmatisme.

4.3.   Pantheisme – ajaran yang menyatakan bahwa segala hal yang terbatas merupakan sekadar aspek, modifikasi, atau bagian dari satu pribadi yang kekal dan yang ada dengan sendirinya. Allah itu segalanya dan segalanya itu Allah.

(1)  Pantheisme materialistis ‑ zat merupakan penyebab pikiran dan segala sesuatu yang hidup.

(2) Hilozoisme ‑ setiap partikel zat memiliki suatu prinsip hidup di samping sifat‑sifat fisiknya; Panpsikisme ‑ akal dan zat itu berbeda, tetapi terpadu secara erat sekali dan tidak terpisahkan ð Stoa.

(3) Netralisme ‑ realitas terakhir bukanlah akal dan bukan pula zat, tetapi suatu bahan netral. Akal dan zat hanya merupakan wujud atau aspek dari bahan netral itu.

(4) Idealisme ‑ realitas terakhir adalah akal dan bahwa dunia ini merupakan hasil akal, baik hasil akal individual maupun hasil akal yang tak terbatas.

(5) Mistisisme Filosofis ‑ realitas terakhir merupakan suatu kesatuan utuh yang tidak dapat dijelaskan; diri manusia bukanlah sekedar mirip realitas terakhir itu, tetapi identik dengannya; dan persekutuan dengan yang absolut ini terjadi melalui usaha moral dan bukan melalui gagasan abstrak yang teoritis.

4.4.   Politeisme ‑ ajaran yang menyatakan bahwa terdapat banyak Allah. Paham ini terwujud dalam penyembahan berhala-penyembahan berhala (Roma 1:22-23). Pemujaan berhala berarti pemujaan setan (1 Kor. 10:20).

4.5.   Dualisme ‑ ajaran yang menyatakan bahwa realitas terakhir terdiri atas dua substansi atau dua prinsip yang berbeda dan tak bisa diuraikan lagi. Ini bisa berbentuk: gagasan dan obyek, pikiran dan zat, baik dan jahat, yang baik (Tuhan) dan yang jahat (Iblis).

4.6.   Deisme ‑ ajaran yang menyatakan bahwa Allah hanya hadir dengan kuasa‑Nya ketika menciptakan alam semesta. Allah telah membekali ciptaan‑Nya dengan hukum‑hukum yang tidak mungkin berubah atas mana Allah melakukan pengawasan ala kadarnya. Ia telah memberikan makhluk ciptaan‑Nya kemampuan tertentu, menempatkan mereka di bawah hukum-hukum‑Nya yang tak mungkin berubah, lalu membiarkan mereka berusaha untuk menentukan nasibnya sendiri.

5.  Nama‑nama Allah

Alkitab menuliskan bahwa Allah menyatakan Diri‑Nya kepada manusia melalui beberapa nama.

(1) El = Allah, yaitu istilah umum bagi yang ilahi, dan dipakai untuk meliput semua anggota golongan yang ilahi. Istilah Elohim yang jamak biasanya dipakai oleh para penulis di PL dengan memakai kata kerja dan kata sifat tunggal untuk menunjuk satu gagasan tunggal. Nama‑nama dengan istilah “El‑” misalnya:

  • EI‑Elyon = Allah Yang Mahatinggi (Maz. 78:35)
  • EI‑Olam = Allah yang kekal (Kej. 21:33)
  • EI‑Shaddai = Allah Yang Mahakuasa (Kej. 17:1)

(2)  Yahweh = TUHAN, yaitu nama pribadi yang paling baik dari Allah Israel. Istilah ini dikaitkan dengan kata kerja Ibrani “ada”. Yang berarti “dia yang ada dengan sendirinya,” atau “dia yang menjadikan ada.” (Kel. 6:2, dst.). Nama‑nama dengan istilah “Yahweh” atau “Yehovah” misalnya:

Ÿ    Yehovah Jireh ‑ TUHAN yang menyediakan (Kej. 22:8,14)

Ÿ    Yehovah Nissi ‑ TUHAN‑lah panji‑panjiku (Kel. 17:15)

Ÿ    Yehovah Raah ‑ TUHAN‑lah gembalaku (Maz. 23: 1)

Ÿ    Yehovah Rapha ‑ TUHAN yang menyembuhkan (Kel. 15:26)

Ÿ    Yehovah Roi ‑ TUHAN adalah gembalaku (Maz. 23: 1)

Ÿ    Yehovah Shalom ‑ TUHAN adalah keselamatanku (Hakim 6:24)

Ÿ    Yehovah Shamma ‑ TUHAN hadir di situ (Yeh. 48:35)

Ÿ    Yehovah Tsidkenu ‑ TUHAN keadilan kita (Yer. 23:6)

Ÿ    Yehovah Zebaoth ‑ TUHAN semesta alam (1 Sam. 1:3)

(3)  Adonai, berarti “Tuhanku”. Orang Yahudi menggunakan kata ini saat menyebut YHWH. Istilah ini mengungkapkan ketergantungan dan kepatuhan, yaitu sikap seorang hamba terhadap tuannya, atau seorang isteri terhadap suaminya. Istilah ini berkenaan dengan kehadiran Allah bersama bala tentara sorga (Maz. 89:7‑9; Yak. 5:4)

(4)  Dalam PB, digunakan istilah Theos (Allah ‑ sebagai padanan kata El), Kurios (Tuhan ‑ sebagai padanan kata Adonai).

6. Sifat‑sifat Allah

Alkitab juga menyatakan sifat‑sifat Allah kepada kita; semuanya sempurna. Sifat yang satu berkaitan dengan sifat lainnya. Oleh para teolog, sifat‑sifat Allah ini dikelompokkan menjadi 2 (dua) bagian besar: absoult dan relatif, intransitif dan transitif, moral dan non‑moral, imanensi dan transendensi.

(1)   sifat‑sifat yang menyatakan imanensi Allah, yaitu sifat yang dapat dikomunikasikan dalam batas tertentu, antara lain:

Ÿ    mahabijaksana (Yes. 31:2)

Ÿ    mahabaik dan rahmani (Maz. 145:9)

Ÿ    mahakudus (Amsal 9: 10)

Ÿ    mahabenar (Yer. 10:10)

Ÿ    mahaadil (Maz. 21:12)

Ÿ    mahamurah (Roma 11:22)

Ÿ    kasih (Yoh. 3:16)

Ÿ    setia (1 Kor. 10:13)

(2)   sifat‑sifat yang menyatakan transendensi Allah, yaitu sifat yang tidak dapat dikomunikasikan, yang tidak mempunyai kesamaan dalam diri manusia, antara lain:

Ÿ    tidak diciptakan

Ÿ    tidak berubah ‑ immutable (Maz. 102:28)

Ÿ    mahakuasa ‑ omnipotent (Ayub 5:17; Why 19:6)

Ÿ    mahatahu ‑ omniscient (Roma 11:33)

Ÿ    mahahadir ‑ omnipresent (I Raja 8:27)

Ÿ   kekal ‑ eternal (I Tim. 1:17)

7. Ketritunggalan Allah

Istilah “Tritunggal” (Ing.: Trinity = Three in Unity) berarti “Tiga dalam Satu”. Sekalipun tidak secara eksplisit dituliskan dalam Alkitab, tetapi dari bagian-bagian Alkitab kita tahu bahwa Allah kita adalah Allah Tritunggal, artinya: Allah yang Esa dalam tiga Oknum yang berbeda (Ul. 6:4).

7.1.  Salah Pengertian tentang Tritunggal

Dalam Sejarah Gereja, pernah muncul pengajaran yang salah dalam memahami doktrin Tritunggal ini.

(a)    Tri‑teisme ‑ Di era gereja purba, orang‑orang seperti John Ascunages dan John Philoponus mengajarkan bahwa ada tiga Allah di mana ketiganya hanya berelasi dalam hubungan yang saling lepas, seperti halnya ketiga murid Yesus: Simon Petrus, Yohanes, dan Yakobus.

(b)   Sabellianisme (Modalisme) ‑ Pengajaran ini disampaikan oleh Sabellius (± 200 AD), yang bertolak-belakang dengan Tri‑teisme. Ia mengajarkan tentang Bapa, Anak, dan Roh Kudus, tetapi ketiganya dipandang sebagai cara berada atau tiga wujud dari satu Allah, bukan sebagai Pribadi.

(c)    Arianisme ‑ Arius mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah yang tidak diciptakan; karena Kristus berasal dari Bapa, berarti Kristus diciptakan oleh Bapa. Arius menyangkal keilahian Yesus Kristus. Ia menyatakan bahwa ada suatu ketika dimana Kristus tidak ada. Arius dan pengajarannya dihukum pada Konsili di Nicea tahun 325.

7.2. Pengertian tentang Tritunggal Yang Benar

Berikut ini merupakan sebagian ayat yang merupakan dasar doktrin Tritunggal ini:

(a)    Kata Ibrani untuk “Allah” adalah “Elohim” yaitu memiliki akhiran “‑im” yang menunjukkan kejamakan (Kej. 1:1).

(b)   Kata ganti “Kita” dalam proses penciptaan menunjukkan kejamakan (Kej. 1:26).

(c)    Formula penyampaian berkat Allah dalam Perjanjian Lama (Bil. 6:24‑26).

(d)   Penyataan Allah secara menyeluruh dalam pembaptisan Yesus Kristus: Allah Bapa yang berfirman, Yesus Kristus adalah Oknum Kedua yang menjadi manusia, dan Allah Roh Kudus yang turun dalam bentuk merpati (Mat. 3:16‑17).

(e)    Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus menyatakan ketritunggalan Allah (Mat. 28:19‑20).

(f)    Formula berkat rasuli “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2 Kor. 13:13).

(g)    Ayat‑ayat lain ‑ 1 Pet. 1:21; 1 Yoh. 5:7, d1l.

Secara singkat, konsep Allah Tritunggal dapat dipahami melalui bagan SEGITIGA, di mana Bapa, Anak, dan Roh Kudus di titik-titik sudutnya. Sisi-sisinya diberi label “bukan”, kemudian di bagian tengahnya diberi label “Allah”, dan dari ketiga sudut ditarik garis ke label tengah tersebut dan garis penghubung itu bisa diberi label “adalah”.

8. Ketetapan Allah

8.1. Hakekat Ketetapan Allah

Ketetapan Allah (the decrees of God) telah ditetapkan dalam kekekalan di masa lampau dan mengacu pada kedaulatan Allah untuk mengontrol setiap hal dan semua peristiwa.

Ketetapan Allah ini dinyatakan dalam Efesus 1: 11, bahwa Ia “… di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak‑Nya”. Jadi ketetapan Allah adalah maksud‑Nya yang kekal menurut keputusan kehendak‑Nya, dimana bagi kemuliaan‑Nya Ia telah menetapkan segala sesuatu yang terjadi”. Allah mempunyai kekuasaan dan kontrol mutlak. Namun harus dinyatakan juga bahwa manusia bertanggung-jawab untuk tindakannya yang berdosa. Allah tidak pernah menciptakan dosa atau kedaulatan‑Nya menggantikan tanggung jawab manusia.

8.2. Sifat‑sifat Ketetapan Allah

Berikut ini adalah sifat‑sifat ketetapan Allah:

(1)   Ketetapan Allah adalah suatu rencana tunggal yang mengarahkan segala sesuatu.

(2)   Ketetapan Allah meliputi segala sesuatu yang dibentuk dalam kekekalan masa lalu, tetapi dinyatakan saat ini (Efs. 1:4).

(3)   Ketetapan Allah merupakan suatu rencana yang bijak karena Allah yang bijaksana merencanakan apa yang terbaik (Roma 11:33‑36).

(4)   Ketetapan Allah sesuai dengan kedaulatan kehendak‑Nya. Ia melakukan apa yang Ia ingin lakukan.

(5)   Ketetapan Allah memiliki dua aspek:

(a)    kehendak‑Nya yang mengarahkan: Ia menciptakan (Yes. 45:18), Ia mengontrol alam semesta (Dan. 4:35), Ia menetapkan raja dan pemerintahan (Dan. 2:21), Ia memilih orang‑orang untuk diselamatkan (Efs. 1:4).

(b)   kehendak‑Nya yang mengijinkan: Ia mengijinkan adanya perbuatan dosa (misalnya saat orang Israel meminta seorang raja ‑ I Sam. 8:5‑9, 19‑22), tetapi sebenarnya Ia telah menetapkan adanya raja-raja dari silsilah Abraham (Kej. 17:6; 35:11), yang berpuncak pada Mesias. Orang‑orang berdosa, tetapi rencana Allah tetap tergenapi.

(6)   Tujuan ketetapan Allah adalah kemuliaan‑Nya.

(7)   Meskipun segala sesuatu diarahkan oleh ketetapan Allah, manusia tetap bertanggung jawab atas perbuatan dosanya.

(8)   Beberapa aspek ketetapan Allah dikerjakan oleh manusia. Ini menunjukkan bahwa ketetapan Allah bukan “takdir” dimana manusia sama sekali tidak memiliki tanggung jawab di dalamnya.

8.3. Wujud Ketetapan Allah

Ketetapan Allah nampak dalam hal‑hal berikut:

(1)   Dalam alam materi ‑ penciptaan, penetapan bangsa dan batas‑batas, umur hidup manusia, cara mati manusia.

(2)   Dalam alam sosial ‑ menetapkan jodoh dan keluarga, pemerintahan.

(3)   Dalam alam rohani:

(a)    Urutan ketetapan Allah ‑ pemilihan, kejatuhan manusia, penerapan anugerah hidup kekal.

(b)   Dosa dan ketetapan Allah ‑ Allah mengijinkan manusia melakukan kejahatan, namun Ia bukanlah pencipta kejahatan atau menghendaki orang berbuat dosa; Allah bisa langsung mencegah perbuatan dosa; Allah bisa mengarahkan perbuatan dosa manusia untuk menggenapi rencana‑Nya; Allah menentukan batas‑batas perbuatan jahat dan mengontrolnya.

(c)    Keselamatan dan ketetapan Allah ‑ Allah menetapkan orang percaya untuk diselamatkan; Ia memilih orang Yahudi dan non-Yahudi untuk disatukan dalam satu Tubuh, yaitu Kristus; Allah memilih orang percaya untuk menerima berkat‑berkat pribadi.

—– 00000 —–

Sumber: Paul Enns, Moody Handbook of Theology (Revised Edition) Moody Publishers, 1989.

1 Komentar »

  1. trims pak Petrus bagi pengetahuannya.

    Komentar oleh fery puji Kristanto — Agustus 24, 2012 @ 9:05 am | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: