BIBLEMORE

SOTERIOLOGY

 

SOTERIOLOGY – TEOLOGIA TENTANG KESELAMATAN

<!–[if gte vml 1]&gt;&lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

 

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Pendahuluan

 

Pengajaran tentang keselamatan sangat penting dalam Kekristenan. Pengajaran ini bukan dimaksudkan dalam arti sempit, yaitu bahwa keselamatan hanya merupakan langkah pertama dalam menerima Yesus Kristus dan dengan langkah tersebut seseorang praktis menjadi anak Allah, melainkan – seperti kata Harold M. Freligh – dalam arti yang lebih luas lagi, yaitu :

 

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>pengampunan dosa yang disertai dengan kesadaran akan hati nurani yang sudah dikuduskan;

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>kemenangan atas tabiat dosa yang menyebabkan kekalahan – kekalahan di dalam kehidupan seseorang;

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>berbagai segi dan akibat dari karya penebusan Yesus Kristus, baik untuk diri orang percaya secara obyektif, atau di dalam diri orang percaya secara subyektif; pembebasan orang percaya yang terakhir pada saat ia diubahkan, dibangkitkan dan dipermuliakan pada waktu kedatangan Tuhan Yesus Kristus.

 

Dalam pelajaran ini akan dilihat terlebih dulu istilah dalam bahasa Ibrani dan Yunani, yakni bahasa-bahasa yang dipakai dalam menulis Alkitab, kemudian memahami karya Yesus Kristus mulai dari penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya, yang semuanya memberikan dampak sangat penting bagi keselamatan. Kemudian akan dibahas tentang tiang-tiang keselamatan, teori-teori penebusan yang pernah digumuli dalam sejarah doktrin, serta prinsip pemilihan.

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Makna Keselamatan dalam Alkitab

<!–[if !supportLists]–>1.1. <!–[endif]–>Keselamatan dalam Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama digunakan beberapa kata Ibrani yang dapat diartikan sebagai keselamatan.

 

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>yeshuah – keselamatan. Kata kerja yasha’ berarti membebaskan dari sesuatu yang mengikat atau membatasi; selanjutnya dari segi militer berarti memberikan keleluasaan dan kelapangan kepada sesuatu. Pembebasan ini bisa terjadi karena perantaraan manusia (Hak. 2:18; 1 Sam. 23:2) atau langsung karena tindakan Yahweh (Maz. 20:7); bisa berlaku untuk seseorang secara pribadi (Maz. 86:1-2) atau bagi suatu kelompok (Yes. 12:2), bahkan bagi seluruh dunia (Yes. 45:22). Kata ini juga bisa berarti karya membebaskan dari Tuhan untuk melaksanakan rencana-Nya yang khusus (Yes. 43:11-12; 49:6).

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>shallom – damai sejahtera. Kata ini mencakup banyak hal, termasuk di dalamnya kemakmuran dan kelimpahan berkat jasmani, kesehatan, keamanan dan ketentraman, keselamatan, hidup dalam kebenaran dan keadilan, serta menjadi berkat bagi orang lain (Zakh. 8:11-17).

 

Gagasan keselamatan dalam PL dapat dijelaskan sebagai berikut. Kekristenan dan Yudaisme adalah agama-agama sejarah (historial religion). Kabar Baik yang terdengar merupakan proklamasi tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di wilayah geografis tertentu, selama jangka waktu tertentu pula. Pengakuan iman bangsa Israel terutama memuat pengulangan tindakan Allah yang nampak dalam sejarah.

Jika hakekat pesan Kristen-Yahudi terdiri atas gagasan filosofis tentang Allah, kebenaran kekal, gagasan etis, atau prinsip agamawi, maka kerangka sejarahnya dapat diabaikan tanpa mempengaruhi iman kristiani. Namun, sebaliknya Alkitab memaparkan keterlibatan Allah dalam kehidupan umat-Nya selama waktu tertentu dalam sejarah planet bumi ini. Apa yang Yakobus katakan tentang iman diterapkan pada cara Allah yang telah bekerja dengan umat manusia (Yak. 2:14-18).

Dalam agama lain cukup banyak terjadi kerancuan. Sedangkan dalam kekristenan, semuanya bergantung pada tindakan Allah. Orang‑orang Kristen tidak memiliki Allah yang hanya transenden (berada jauh dari jangkauan manusia); Ia juga immanen (berada di tengah‑tengah manusia). Perjanjian Lama menyatakan adanya Allah yang aktif, yang mendemonstrasikan karya-Nya bahwa sesungguhnya Ia adalah Allah yang penuh kasih, dan mengharapkan manusia ciptaan‑Nya menanggapi‑Nya. Allah tidak munafik. Apa yang Ia katakan didukung oleh karya‑Nya (Yak. 1:27).

Karena Allah itu aktif, dan menyatakan diri‑Nya dalam karya‑Nya, sangatlah penting ­mempelajari keselamatan mulai dari PL. Kita dapat melihat keselamatan Allah yang bekerja oleh perbuatan.

<!–[if !supportLists]–>1.2. <!–[endif]–>Perjalanan Sejarah Keselamatan Umat Israel

<!–[if !supportLists]–>1.2.1. Peristiwa Keluaran

(a) Pendahuluan

Pengamatan terhadap ibadah umat Israel menunjukkan bahwa Sabat, upacara, perayaan; dan kelembagaannya dilakukan untuk mengingat dan memberitakan ulang penebusan bangsa itu dalam peristiwa Keluaran, karena keberadaan nasional mereka bergantung pada peristiwa itu. Ini merupakan indikasi paling jelas bahwa mereka memiliki Allah yang mengasihi mereka. Sebagai suatu realita konkret dalam sejarah, itu menunjukkan suatu bukti kekal tentang kemampuan Allah untuk menyelamatkan. Banyak bagian Mazmur yang menyatakan penyembahan kepada Allah dalam hubungannya dengan tindakan‑Nya selama peristiwa Keluaran, misalnya Maz. 77:14‑21.

Teologia Sistematika biasanya menggambarkan Allah berdasarkan sifat‑sifat‑Nya. Allah dikatakan Mahatahu, Mahakuasa, dan Mahahadir; Ia adalah Kasih, Mahamurah, Mahabaik, Mahabenar, dsb.

Meskipun secara filosofis ini amat membantu, tetapi dengan mudah kemudian menjadi sesuatu yang abstrak, dengan hasil kecenderungan menggambarkan Allah sebagai sederetan file atau kotak, masing‑masing berlabel secara terpisah. Sementara itu Alkitab meng­identifikasi semuanya itu, dengan menyatakan Allah seutuhnya ‑ bukan bagian per bagian ‑ yang nampak dalam aktifitas Allah secara khusus.

Tidaklah alamiah, dan bisa tidak Alkitabiah, jika menggambarkan sifat‑sifat Allah dengan cara mendaftar semacam itu. Ketika para penulis Alkitab berbicara tentang Allah, mereka menggambarkan karya‑Nya ‑ karya‑Nya yang penuh kasih, kemurahan, dsb.

Untuk melihat bagaimana Alkitab menggambarkan Allah sebagai Oknum utuh, pelajari kembali misalnya, Kidung Musa dalam Keluaran 15:1-18. Seluruh Kidung Musa menggambarkan sifat-sifat Allah yang bukan abstrak atau tak tercampurkan. Sifat‑sifat itu menyatakan bagaimana Allah bertindak, dan semua sifat dapat saling bercampur. Jika ditanyakan kepada seorang Ibrani, “Siapakah Yahweh itu?”, bagian dari jawabannya adalah “Dia yang menyelamatkan.”

Konsep keselamatan yang dikembangkan dalam teks Keluaran dan di seluruh Alkitab memuat dua jenis tindakan ilahi: pembebasan dan berkat. Keduanya merupakan hasil dari sebuah janji, yang pernah kita pelajari, bertumbuh dari kasih. Perhatikan kembali: Kel. 15:1‑12 menyatakan pembebasan, sedangkan Kel. 15:13‑18 menyatakan berkat. Keselamatan adalah cara dimana Allah menunjukkan kasih‑Nya. Umat Israel mengerti apa arti kelepasan dari situasi yang buruk sebab mereka mengalaminya. Tetapi mereka juga menikmati berkat‑berkat‑Nya. Keadaan yang baik merupakan hasil pendamaian dengan Allah.

 

(b) Keselamatan sebagai Pembebasan dalam Sejarah

Pembebasan dari perhambaan di Mesir adalah suatu pengalaman yang dahsyat, walaupun sempat panik. Umat Israel menderita karena orang Mesir memperbudak mereka (Kel. 14:10‑14). Pembebasan yang pertama merupakan kemenangan militer yang menentukan dari Yahweh melawan orang‑orang Mesir. Umat Israel berpindah dari menjadi alat orang‑orang Mesir kepada menjadi alat Yahweh.

 

Keselamatan sebagai Berkat melalui Korban

Pembebasan dari perbudakan Mesir merupakan pembebasan eksternal, penyelamatan dari musuh yang kelihatan. Suasana lain dimana umat Israel mempelajari unsur dasar keselamatan adalah korban. Di dalam korbanlah terjadi pembebasan internal. Lebih jelasnya, dalam korban umat Israel mengalami keselamatan sebagai berkat pengampunan. Berkat ini jauh melampaui korban itu sendiri; ia mencakup semua kegiatan ritual yang dilakukan dalam sebuah ibadah. Termasuk di dalamnya doa di depan umum, korban, pujian, dan juga struktur ritual seperti Kemah Tabernakel dan bahkan para petugas-petugasnya.

Di Mesir, sebagai tulah terakhir, malaikat maut bekerja, mengambil anak sulung dari setiap rumah. Perlindungan menghindari maut diberikan dalam korban Paskah. Paskah merupakan sukacita bagi mereka yang mengamati persyaratan ilahi ini, tetapi merupakan bencana bagi mereka yang mengabaikannya. Pembebasan dari tulah ini dimana anak sulung diambil melalui persembahan anak domba, khususnya korban darah, dikenal sebagai Paskah. Allah melepaskan umat-Nya. Akar kata yang sama yang digunakan untuk Paskah dalam Kel. 12:27 juga digunakan dalam pembebasan dari Laut Teberau yang dicatat dalam Kel. 6:6.

 

<!–[if !supportLists]–>1.2.2. Korban <!–[endif]–>

 

<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>Niat Hati

 

Korban merupakan konsep penting dalam PL, demikian pula dalam PB. Berbeda sekali dengan korban di daerah Timur Jauh Kuno, korban yang dilakukan umat Israel tidak berakhir pada diri mereka sendiri. Korban bagi umat Israel tidak dirancang untuk sekedar mere­dam kemarahan ilah‑ilah. Niat hati yang benar, dan kebenaran yang aktif merupakan prasyarat bagi korban yang berkenan di tengah kehidupan Israel kuno.

Dalam Kej. 4:3‑7, persembahan Kain ditolak sebab ia tidak melakukan apa yang benar. Ide korban sebagai suatu ekspresi kasih kepada Allah dan sesama ‑ suatu niat batin dari kebenaran sejati sebagai kebiasaan hidup ‑ merupakan suatu tema umum di seluruh PL. Perhatikan Yes.1:10‑20, dimana penyembahan yang benar bukan sekedar ritual di luar; bagi orang Israel, korban menjadi sesuatu yang lebih jauh dan lebih berbeda dari korban yang dilakukan bangsa-bangsa kafir di sekitar mereka.

 

<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>Jenis-jenis Korban

 

Ada lima jenis korban dalam ibadah Israel kuno, yaitu:

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>korban sajian (Ibr. minhah ‑ Im. 2:1‑16; 6:14‑23);

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>korban bakaran (Ibr. olah ‑ Im. 1:3, 10; 22:18‑19; 1:14; 5:7; 12:8; 14:22; 15:14‑15, 29‑30; dan Bil. 6:10‑11);

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>korban penghapus dosa (Ibr. hattat ‑ Im. 4:27‑35; 6:24‑30);

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>korban penebus salah (Ibr. asham ‑ Im. 5:15‑6:7);

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>korban (Ibr. zebah). Ada empat jenis persembahan yang disebut korban dalam PL, yaitu:

 

<!–[if !supportLists]–>(i) <!–[endif]–>korban perjanjian (Kej. 31:54 dan Maz. 50:5)

<!–[if !supportLists]–>(ii) <!–[endif]–>korban paskah (Kel. 12:1‑30; 34:25)

<!–[if !supportLists]–>(iii) <!–[endif]–>korban tahunan (1 Sam. 1:21; 2:19)

<!–[if !supportLists]–>(iv) <!–[endif]–>korban keselamatan (atau perdamaian ‑ Im. 7:11‑27)

 

<!–[if !supportLists]–>(c) <!–[endif]–>Pencurahan Darah dalam Korban

 

Korban‑korban itu, apakah dimaksudkan untuk dosa kolektif umat dan dipersembahkan sekali setahun, atau untuk pribadi dan dipersembahkan saat dibutuhkan, biasanya merupakan korban pencurahan darah: yaitu, membutuhkan penyembelihan ritual seekor binatang. Korban binatang lain seperti korban bakaran dan korban pendamaian, sebab termasuk penyembelihan, juga mencakup darah. Namun, khususnya dalam korban penghapus dosa dan korban penebus salah, darah memegang peranan penting (Im. 5:11).

Hal ini mengingatkan kita kembali bahwa niat batin yang mempersembahkan korban itulah yang penting, bukan korban itu sendiri. Dengan demikian, pentingnya darah tidak bisa diabaikan (Im. 17:11‑14).

Bukan sembarang pencurahan darah tetapi pencurahan darah di atas mezbah yang layak menghapuskan dosa, karena mezbah, seperti takhta kasih karunia, merupakan simbol keilahian.

 

<!–[if !supportLists]–>(d) <!–[endif]–>Penindasan tentang Korban

 

Korban umat Israel bukan untuk melayani Allah atau memperoleh keuntungan. Pemahaman tentang korban yang lebih Alkitabiah adalah bahwa dengan korban tersebut persekutuan dengan yang ilahi tercipta. Korban bakaran menyatakan syukur dan diterima oleh Allah sebagai bau yang harum. Karena imam (sebagai wakil Allah) dan orang yang mempersembahkan korban, makan korban itu bersama-sama, kadang dengan rekan yang lainnya, korban persekutuan khususnya menyatakan persekutuan dengan ilahi. Si penyembah berpesta dengan Yahweh. Tetapi sementara korban‑korban di atas berada dalam konteks hubungan harmonis dengan Yahweh, bisa juga dibuat untuk kontak dengan yang ilahi jika, melalui kelemahan manusia, persekutuan itu rusak. Korban yang dimaksud adalah korban penghapus dosa dan penebus salah seperti yang dijelaskan di atas.

 

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Korban‑korban itu dimaksudkan untuk memulihkan hubungan yang harmonis antara si pembuat kesalahan dengan Allah.

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Korban‑korban itu, sebagaimana ditunjukkan dengan penekanan pada darah, menyatakan gagasan kehidupan. Itulah sebabnya mengapa biji‑bijian dapat digunakan sebagai pengganti darah, karena biji‑bijian juga menyatakan kehidupan dan berkat.

<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Pengampunan Allah tidak diperoleh karena korban itu sendiri melainkan karena apa yang ada di balik korban itu: kehidupan yang berubah dan pertobatan sejati.

 

<!–[if !supportLists]–>1.3. <!–[endif]–>Keselamatan dalam PB

Istilah Yunani untuk keselamatan adalah, σωτηρια, soteria. Kata ini bisa berarti:

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>lepas dari bahaya - Ibr. 11:7

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>lepas dari perbudakan - Kisah 7:25

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>lepas dari musuh ‑ Luk. 1:71

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>lepas dari hukuman yang akan datang

 

Untuk arti yang lebih luas, soteria berarti kelepasan dari dosa dan segala konsekuensi rohaninya, penghisapan ke dalam Tubuh Kristus dan kelayakan memiliki kehidupan kekal bersama segala berkat dalam Kerajaan Kristus (Luk. 1:77; 19:9; Yoh. 4:22; Kisah 16:17, Roma 1:16, dsb.).

Dalam PB kata ‘keselamatan’ juga berkaitan dengan perawatan, kesembuhan, pertolongan, penyelamatan, penebusan, atau kesejahteraan. Dalam pengertian iman kristiani kata ‘keselamatan’ berarti luput dari kematian kekal dan memperoleh kehidupan kekal (Roma 5:9; Ibr. 7:25). Inisiatif keselamatan sepenuhnya berasal dari Allah (Yoh. 3:16) dengan kematian Tuhan Yesus Kristus di kayu salib sebagai satu­-satunya dasar (Kisah 4:12; Ibr. 5:9). Tuhan Yesus menggunakan kata soteria ini sebanyak dua kali, yaitu dalam percakapan dengan Zakheus (Luk. 17:20,21) dan percakapan dengan perempuan Samaria (Yoh. 4:22).

 

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Teori‑teori Yang Salah tentang Penebusan

 

Soteriologi erat kaitannya dengan Kristologi, karena Soteriologi berkaitan dengan pemulihan, pembaharuan, dan penebusan, yang seluruhnya merupakan karya Allah melalui hidup dan karya Yesus Kristus. Karya Yesus Kristus sebagai Pengantara dalam penebusan sudah sempurna. Oleh sebab itu ada beberapa pakar yang memasukkan dua pengajaran penting ini: Soteriologi dan Kristologi ke dalam satu pengajaran saja: Soteriologi, misalnya: Charles Hodge, Henry C. Thiessen. Dalam kesatuan pengajaran itu Soteriologi menjadi subyeknya, sedangkan Kristologi menjadi obyeknya. Penulis tidak menjadikan keduanya di bawah satu topik pengajaran, melainkan tetap ditinjau sendiri‑sendiri, hanya dalam rangka kemudahan mempelajarinya.

Kematian Yesus Kritus di kayu salib bertujuan untuk menebus manusia berdosa. Tetapi pemahaman tentang makna penebusan ini telah mengalami pembiasan.

 

<!–[if !supportLists]–>2.1. <!–[endif]–>Teori “Pembayaran Harga Penebusan kepada Setan

 

Teori ini dikembangkan oleh Origenes (185‑254), yang menyatakan bahwa Setan menawan manusia karena ia menang dalam pertempuran. Teori ini yang juga dianut oleh Agustinus, menyatakan bahwa karena Setan me­nawan manusia, suatu harga penebusan harus dibayar, bukan kepada Allah, tetapi kepada Setan.

Sebagai tanggapan terhadap pandangan ini perlu dicatat bahwa kekudusan Allah, bukan pihak Setan, yang dilanggar, dan pembayaran harus dilakukan kepada Allah untuk mencegah hukuman Allah. Lagipula Setan tidak mempunyai kuasa untuk memerdekakan manusia, hanya Allah yang memiliki kuasa itu.

Teori ini keliru sebab membuat Setan mengambil rnanfaat dari kematian Kristus. Pandangan ini terlalu meninggikan Setan; salib Kristus merupakan penghukuman bagi Setan, bukan pembayaran tebusan kepadanya.

 

<!–[if !supportLists]–>2.2. <!–[endif]–>Teori “Rekapitulasi”

 

Teori ini dikembangkan oleh Ireneus (130‑200?), yang mengajarkan bahwa pergi melintasi seluruh fase kehidupan dan pengalaman Adam, termasuk pengalaman berdosa. Dalam hal ini, Kristus mampu berhasil sedan­gkan Adam gagal.

Unsur kebenaran di dalamnya adalah bahwa Kristus dikenal sebagai Adam yang Terakhir (I Kor. 15:45), namun Kristus tidak mempunyai per­jumpaan pribadi dengan dosa apapun (I Yoh. 3:5; Yoh. 8:46). Teori ini tidak lengkap dalam hal mengabaikan penebusan; kematian‑Nyalah yang me­nyelamatkan kita, bukan kehidupan-Nya.

 

<!–[if !supportLists]–>2.3. <!–[endif]–>Teori “Komersial”

 

Teori ini dicetuskan oleh Anselmus (1033‑1109), yang mengajarkan bahwa melalui dosa, Allah terampas kemuliaan yang menjadi milik‑Nya. Ini membutuhkan penyelesaian yang dapat dilakukan baik dengan menghukum orang‑orang berdosa atau melalui pemuasan. Allah memilih menyelesaikannya melalui pemuasan dengan menganugerahkan Anak‑Nya. Melalui kematian‑Nya Kristus membawa kemuliaan kepada Allah, dan menerima upah, yang diteruskan‑Nya kepada orang‑orang berdosa. Anugerah itu adalah pengampunan bagi orang berdosa dan hidup yang kekal bagi mereka yang hidup oleh Injil.

Meskipun pandangan ini mengubah fokus pembayaran kepada Setan kepada penekanan pembayaran kepada Allah, tetapi ada masalah yang lain. Teori ini lebih menekankan kemurahan Allah dibandingkan sifat‑sifat Allah lainnya, seperti keadilan dan kekudusan‑Nya. Teori ini juga mengabaikan ketaatan hidup Kristus, dan berarti melecehkan penderitaan Kristus yang dialami‑Nya demi manusia. Ketimbang menekankan kematian Kristus bagi penghukuman atas dosa, teori ini mengagungkan konsep penebusan dosa Katolik Roma, “sebanyak pemuasan untuk sebanyak pelanggaran.”

 

<!–[if !supportLists]–>2.4. <!–[endif]–>Teori “Pengaruh Moral”

 

Teori ini dicetuskan oleh Abelardus (1079‑1142) dan juga telah diajarkan oleh kaum liberal modern seperti Horace Bushnell dan yang lain dari sudut yang lebih “moderat” liberal. Teori semula merupakan reaksi bagi Teori Komersial Anselmus. Teori ini mengajarkan bahwa kematian Kristus bukan dibutuhkan bagi pembayaran hukuman dosa, melainkan melalui kematian Kristus, Allah menyatakan kasih‑Nya bagi umat manusia sehingga hati orang‑orang berdosa menjadi lembut dan bisa dibawa kepada pertobatan.

Kelemahan teori ini jelas sekali. Dasar kematian Kristus adalah kasih-Nya lebih dari karena kekudusan‑Nya; teori ini juga mengajarkan bahwa apapun yang menggerakkan emosi manusia akan membawa mereka kepada pertobatan. Alkitab menyatakan bahwa kematian Kristus menggantikan orang berdosa (Mat. 20:28), dan o1eh karena itu orang berdosa di hadapan Allah yang kudus, bukan sekedar dipengaruhi oleh pernyataan kasih.

 

<!–[if !supportLists]–>2.5. <!–[endif]–>Teori “Kecelakaan”

 

Teori ini dikembangkan oleh Albert Schweitzer (1875‑1965), yang mengajarkan bahwa Kristus menjadi terpikat oleh kemesiasan‑Nya. Teori ini melihat Kristus mengkhotbahkan Kerajaan Allah dan disalahpahami dalam prosesnya. Schweitzer melihat tidak adanya nilai bagi orang lain dalam kematian Kristus.

Kesalahan fatal teori ini terletak pada pendapat bahwa kematian Kristus merupakan suatu kesalahan. Alkitab tidak berkata demikian. Dalam berbagai kesempatan Yesus menubuatkan kematian‑Nya (Mat. 16:21; 17:22; 20:17‑19; 26:1‑5); kematian Kristus berada dalam rencana Allah (Kisah 2:23), lebih lagi kematian‑Nya memiliki nilai tak berhingga sebagai penebusan pengganti (substitutionary atonement ‑ Yes. 53:4‑6).

 

<!–[if !supportLists]–>2.6. <!–[endif]–>Teori “Syuhada/Keteladanan”

 

Dalam bereaksi terhadap kaum Reformator, teori ini pertama kali dikemukakan oleh kaum Socinian pada abad XVI dan masa kini oleh kaum Unitarian. Teori ini lebih liberal dibandingkan Teori “Pengaruh Moral”, dengan mengatakan bahwa kematian Kristus tidak diperlukan dalam penebusan dosa; dosa tidak harus dihukum. Tidak ada hubungan antara keselamatan orang‑orang berdosa dengan kematian Kristus. Jadi, Kristus hanyalah suatu teladan ketaatan dan teladan ketaatan sampai mati yang harus memberikan inspirasi kepada manusia untuk berubah dan hidup seperti Kristus hidup.

Teori ini mengandung banyak kelemahan. Kristus dipandang hanya sebagai seorang biasa; penebusan tidak dibutuhkan walaupun Alkitab menekankan pentingnya penebusan (Roma 3:24). Teori ini menekankan Kristus sebagai teladan bagi orang tidak percaya, tetapi 1 Pet. 1:21 mengajarkan bahwa keteladanan Kristus adalah bagi orang‑orang percaya, bukan orang­-orang yang tidak percaya.

 

<!–[if !supportLists]–>2.7. <!–[endif]–>Teori “Kepemerintahan”

 

Teori ini dikemukakan oleh Grotius (1583-1645) sebagai reaksi terhadap Teori “Keteladanan” yang diajarkan oleh Socinius. Teori ini mengkompromikan antara Teori “Keteladanan” dengan pandangan para Reformator. Grotius mengajarkan bahwa Allah mengampuni orang-orang berdosa tanpa membutuhkan suatu pembayaran yang setara.

Grotius mengemukakan alasan bahwa Kristus menjunjung tinggi prinsip pemerintahan dalam hukum Allah dengan membuat suatu pemba­yaran sebagian bagi dosa melalui kematian‑Nya. Allah menerima pembayar­an sebagian oleh Kristus, mengesampingkan tuntutan hukum, dan mampu mengampuni orang-orang berdosa karena prinsip pemerintahan-Nya telah dijunjung tinggi.

Masalah yang timbul dari teori ini adalah sebagai berikut. Allah bisa berubah ‑ Ia menuntut tetapi tidak menjalankan (dan kenyataannya mengubah) hukuman. Menurut teori ini Allah mengampuni dosa tanpa pemba­yaran bagi dosa. Namun, Alkitab, mengajarkan perlunya Allah yang mendamaikan (Roma 3:24; 1 Yoh. 2:2) ‑ murka Allah harus dibatalkan. Juga, penebusan pengganti harus dibuat untuk dosa (2 Kor. 5:21; 1 Pet. 2:24).

 

Meskipun cukup banyak teori yang bermunculan berkenaan dengan kematian Kristus, teori‑teori itu tidak lengkap dalam mengevaluasi kematian Kristus. Makna yang paling mendasar dari kematian Kristus adalah sifat penggantiannya. Ia mati menggantikan orang‑orang berdosa sehingga Ia bisa membebaskan mereka, mendamaikan mereka dengan Allah, dan karena itu memuaskan tuntutan kebenaran Allah yang kudus.

 

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Makna Penebusan

 

<!–[if !supportLists]–>3.1. <!–[endif]–>Penggantian – Substitution

 

Kematian Kristus bersifat menggantikan ‑ Ia mati menggantikan orang‑orang berdosa (Latin: “vicarius” = seseorang yang menggantikan orang lain). Kristus merupakan Pengganti yang menanggung hukuman yang seharusnya dipikul oleh manusia berdosa, kesalahan mereka telah ditanggung‑Nya. Cukup banyak ayat‑ayat yang menekankan penebusan pengganti ini. Kristus adalah pengganti dalam hal dijadikan dosa bagi orang lain (2 Kor. 5:21); ia menanggung dosa orang lain pada tubuh‑Nya di kayu salib (1 Pet. 2:24); Ia menderita satu kali guna menanggung dosa orang lain (Ibr. 9:28); Ia mengalami penderitaan tiada tara, sengsara, dan mati bagi orang berdosa (Yes. 53:4‑6).

Untuk lebih jelasnya, Ryrie menjelaskan arti etimologis dari istilah “penggan­tian” ini dari Alkitab sebagai berikut.

 

<!–[if !supportLists]–>a) <!–[endif]–>Dalam Perjanjian Lama ‑ kematian hewan korban menggantikan kematian yang seharusnya dialami orang yang mengorbankan hewan itu. Cara ini dengan jelas mengajarkan penggantian.

<!–[if !supportLists]–>b) <!–[endif]–>Dalam pemakaian kata depan αντι (anti) ‑ kata ini digunakan 22 kali dalam PB untuk menyatakan dua benda yang saling berhadapan dengan yang lain dan kemudian yang satu diambil untuk menjadi penukar bagi benda yang lainnya.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>dalam bahasa Yunani klasik, αντι pada pokoknya berarti “sebagai pengganti dari”.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>dalam bahasa Yunani PB juga berarti “sebagai pengganti dari”.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>dalam Septuaginta, digunakan 318 kali kata αντι untuk menerjemahkan kata Ibrani tachath (Kej. 44:33) yang berarti “sebagai pengganti dari”.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Dalam PB, arti kata ini banyak ditemukan di berbagai ayat, misalnya dalam Mark. 10:45, dimanaYesus datang untuk mati sebagai pengganti kita dan menggantikan tempat kita. Demikian pula dalam 1 Tim. 2:6, Kristus adalah tebusan untuk menggantikan kita.

<!–[if !supportLists]–>c) <!–[endif]–>Dalam pemakaian kata depan υπερ (huper), yang berarti melebihi, di atas, dan untuk kepentingan seseorang.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>dalam bahasa Yunani Klasik berarti “untuk kepentingan” atau juga “penggantian”.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>dalam bahasa Yunani PB, kata ini dikenakan pada seseorang yang menuliskan surat bagi orang lain yang buta huruf.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>dalam Septuaginta, nampak dalam Ul. 24:16 dan Yes. 43:3‑4.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>dalam PB nampak dalam Roma 9:3, 1 Kor. 15‑29, Flm. 1:13, yang juga berarti “pengganti”

 

<!–[if !supportLists]–>3.2. <!–[endif]–>Penebusan – Redemption

 

<!–[if !supportLists]–>3.2.1. <!–[endif]–>αγοραζω

 

Kata penebusan berasal dari kata Yunani αγοραζω (agorazo) yang berarti “membeli dari pasar”. Seringkali itu berkenaan dengan penjualan budak di pasar. Kata ini digunakan untuk menggambarkan orang‑orang percaya yang dibeli (ditebus) dari perbudakan dosa dan dibebaskan dari perhambaan dosa. Harga tebusan untuk kebebasan orang percaya dari dosa adalah kematian Yesus Kristus (1 Kor. 6;20; 7:23; Why. 5:9; 14:3,4). Karena orang percaya telah ditebus oleh Kristus, ia menjadi milik Kristus dan menjadi hamba Kristus. Jadi pemakaian kata agorazo ini mencakup tiga makna dasar:

 

<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>dalam karya penebusan‑Nya, Kristus telah membayar harga tebusan untuk seluruh umat manusia ‑ 2 Pet. 2: 1;

<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>harganya sendiri disebutkan dengan jelas, yaitu darah Kristus – Why. 5:9‑10;

<!–[if !supportLists]–>(c) <!–[endif]–>karena kita telah dibeli dengan harga tebusan itu, maka kita harus melayani Dia ‑ 1 Kor. 6:19‑20; 7:22‑23.

 

<!–[if !supportLists]–>3.2.2. <!–[endif]–>εξαγοραζω

 

Kata yang kedua berkenaan dengan penebusan orang percaya adalah εξαγοραζω (exagorazo), yang menyatakan bahwa Kristus menebus orang percaya dari kutuk dan perhambaan Taurat yang hanya menghukum dan tidak dapat menyelamatkan. Orang‑orang percaya telah ditebus di pasar budak (‑agorazoo) dan dipindahkan dari (ex‑) pasar budak saat itu juga. Kristus membebaskan orang percaya dari perhambaan Taurat dan dari penghakimannya (Gal. 3:13; 4:5).

 

<!–[if !supportLists]–>3.2.3. <!–[endif]–>λυτρω

 

Kata ketiga yang digunakan untuk menjelaskan penebusan adalah λυτρω (lutro) yang berarti “untuk memperoleh kebebasan dengan membayar harga”. Gagasan dibebaskan dengan suatu harga yang lazim dalam kata ini (Luk. 24:21), Orang‑orang percaya telah ditebus oleh darah Kristus yang mulia (1 Pet. 1:18) untuk menjadi milik Allah yang khusus (Titus 2:14).

Jadi penebusan dapat diringkas menjadi tiga gagasan mendasar:

 

<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>manusia dibebaskan dari sesuatu, yaitu dari pasar atau perbudakan dosa:

<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>manusia dibebaskan o1eh sesuatu, yaitu o1eh pembayaran harga dengan darah Kristus;

<!–[if !supportLists]–>(c) <!–[endif]–>manusia dibebaskan untuk sesuatu, yaitu untuk mengalami kebebasan dan kemudian dipanggil supaya meninggalkan kebebasan dalam alam perbudakan untuk melayani Tuhan yang telah menebus mereka.

 

Penebusan dipandang dari sisi manusia; manusia berada dalam perhambaan dosa dan perlu dilepaskan dari perhambaan dan perbudakan dosa.

 

<!–[if !supportLists]–>3.3. <!–[endif]–>Pendamaian – Reconciliation

 

Penekanan kata pendamaian adalah mendamaikan dengan Allah. Manusia yang telah jauh dari Allah dibawa ke dalam persekutuan dengan Allah. Dosa telah menciptakan suatu penghalang antara manusia dan Allah dan membuat manusia menjadi seteru Allah (Yes. 59:1‑2; Kol. 1:21,22; Yak. 4:4). Melalui Yesus Kristus perseteruan dan murka Allah dihapuskan (Roma 5:10). Pendamaian dapat didefinisikan “Allah melenyapkan penghalang dosa, menghasilkan damai dan memampukan manusia untuk diselamatkan.” Ada dua bagian pendamaian:

 

<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>aspek obyektif, bahwa manusia diperdamaikan dengan Allah sebelum beriman dan manusia menjadi dapat diselamatkan (2 Kor. 5:18a,19a); aspek ini disebut pendamaian profisional.

<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>aspek subyektif, bahwa manusia diperdamaikan dengan Allah ketika ia percaya (2 Kor. 5:18b,19b); aspek disebut pendamaian eksperimental

 

Kata pendamaian ini berasal dari kata Yunani καταλασσω, katalasso yang berarti “menghasilkan perubahan, mendamaikan.” Allahlah yang mem­prakarsai perubahan atau pendamaian ini; Ia bertindak mendamaikan manu­sia berdosa dengan diri‑Nya sendiri (2 Kor. 5:18,19). Di sisi lain, manusia adalah obyek pendamaian. Manusialah yang keluar dari persekutuan dengan Allah; oleh sebab itu, manusia membutuhkan pemulihan. Pendamaian ini telah diberikan bagi seluruh dunia, tetapi hanya menjadi efektif ketika diteri­ma dengan iman secara pribadi.

Pendamaian dipandang dari sudut manusia: manusialah yang telah keluar dari persekutuan karena dosa, dan manusia perlu diperdamaikan untuk memperbaharui persekutuan itu.

 

<!–[if !supportLists]–>3.4. <!–[endif]–>Propisiasi – Propitiation

 

Istilah bahasa Inggris propitiation berarti “mengambil hati.” Dalam hal ini Propisiasi berarti bahwa kematian Kristus memenuhi semua tuntutan kebenaran Allah terhadap orang berdosa. Karena Allah kudus dan benar Ia tidak dapat memandang dosa; melalui karya Yesus Kristus Allah dipuaskan sepenuhnya bahwa standar kebenaran‑Nya terpenuhi. Melalui kesatuan dengan Kristus orang percaya sekarang dapat diterima oleh Allah dan terselamatkan dari murka Allah.

Kata dalam PL kaphar berarti “menutupi”; kata ini mencakup suatu penutupan ritual terhadap dosa (Im. 4:35; 10:17). Kata kerja Yunani ιλασκομαι, hilaskomai, berarti “untuk mendamaikan”, muncul dua kali dalam PB. Dalam Lukas 18:13 pemungut cukai yang bertobat berdoa kepada Allah agar didamaikan atau bahwa Allah akan memberikan penutup bagi dosa. Kata ini juga muncul tiga kali dalam bentuk kata benda (hilasmos – 1 Yoh. 2:2; 4:10; dan hilasterion ‑ Roma 3:25). Propisiasi berkaitan dengan beberapa konsep:

 

<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>Murka Allah. Karena Allah kudus, murka‑Nya ditujukan kepada dosa dan harus diredakan untuk menyelamatkan manusia dari pembinasaan kekal.

<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>Allah memberikan jalan keluar, dengan mengutus Yesus Kristus sebagai pemuasan bagi dosa.

<!–[if !supportLists]–>(c) <!–[endif]–>Kematian Kristus meredakan murka Allah. Anugerah Kristus memenuhi kekudusan Allah dan meredakan murka‑Nya.

 

Propisiasi adalah dari sisi Allah; Allah diperdamaikan – kekudusan-Nya dipertahankan dan dipuaskan oleh kematian Kristus.

 

<!–[if !supportLists]–>3.5. <!–[endif]–>Pengampunan – Forgiveness

 

Pengampunan adalah karya legal Allah di mana Ia menghapuskan upah dosa, yaitu maut, yang sedianya diberikan kepada manusia berdosa karena penebusan atas dosa itu sudah dilakukan. Ada beberapa kata Yunani yang digunakan untuk mengartikan pengampunan.

 

<!–[if !supportLists]–>a) <!–[endif]–>χαριζομαι (kharizomai) ‑ yang berkaitan dengan kata anugerah dan berarti “mengampuni karena anugerah”. Kata ini digunakan untuk meniadakan hutang (Kol. 2:13). Konteksnya menekankan bahwa hutang kita telah dipakukan pada kayu salib, dengan penebusan Kristus secara cuma‑cuma mengampuni dosa-dosa yang telah menyengsarakan kita.

<!–[if !supportLists]–>b) <!–[endif]–>αφιεμι (aphiemi) ‑ yang berarti “melepaskan pergi”. Bentuk kata bendanya ditulis dalam Efs. 1:7 yang menekankan bahwa dosa‑dosa manusia berdosa telah diampuni atau dibuang keluar sebab kekayaan anugerah Allah sebagaimana dinyatakan dalam kematian Yesus Kristus. Pengampunan selalu menyelesaikan masalah dosa dalam kehidupan manusia berdosa ‑ semua dosa masa lalu, kini, dan masa depan (Kol. 2:13)). Ini berbeda dari pembersihan setiap hari dari dosa yang penting untuk menjaga persekutuan dengan Allah (1 Yoh. 1:9).

 

Pengampunan dipandang dari sudut manusia : manusia telah berdosa dan perlu agar dosanya ditangani dan dihapuskan.

 

<!–[if !supportLists]–>3.6. <!–[endif]–>Pembenaran – Justification

 

Jika pengampunan adalah sisi negatif dari keselamatan, pembenaran adalah sisi positifnya. Membenarkan berarti menyatakan benar mereka yang memiliki iman di dalam Yesus Kristus. Ini adalah suatu karya legal Allah dimana Ia menyatakan orang berdosa yang percaya benar berdasar pada darah Kristus. Penekanan utama pembenaran adalah positif dan memuat dua aspek penting:

 

<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>pengampunan dan penghapusan seluruh dosa dan merupakan akhir perseteruan dengan Allah (Kisah 13:39; Roma 4:6‑7; 5:9‑11; 2 Kor. 5:19);

<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>pelimpahan kebenaran ke atas mereka yang percaya dan merupakan “judul bagi semua berkat-berkat yang dijanjikan kepada orang‑orang benar.”

 

Pembenaran merupakan suatu anugerah yang diberikan oleh rahmat Allah (Roma 3:24) dan terjadi saat seseorang mempunyai iman dalam Kristus secara pribadi (Roma 4:2; 5:1). Dasar pembenaran adalah kematian Kristus (Roma 5:9), terlepas dari perbuatan (Roma 4:5). Sarana pengampunan adalah iman (Roma 5:1). Melalui pembenaran ini Allah menjaga integritas dan standard‑Nya, dan tetap mampu bersekutu dengan manusia berdosa karena mereka telah mempunyai kebenaran sempurna Kristus yang diberikan kepada mereka.

Pembenaran adalah dari sisi manusia: manusia telah berdosa dan mematahkan standard Allah. Manusia perlu menerima kebenaran Allah untuk masuk ke dalam persekutuan dengan Dia.

 

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Lingkup Penebusan

Suatu diskusi panjang terus berlangsung tentang lingkup penebusan: bagi siapa Kristus mati? Ada yang mengatakan Kristus mati hanya bagi orang-orang pilihan, sedangkan yang lain berpendapat bahwa kematian Kristus bersifat universal, yaitu Ia mati bagi semua orang meskipun tidak semua orang akan diselamatkan. Pandangan‑pandangan ini berhubungan dengan pemahaman tentang urutan ketetapan‑ketetapan Allah:

 

<!–[if !supportLists]–>a) <!–[endif]–>supralapsarianisme menetapkan urutan: pemilihan – penciptaan – membiarkan Kejatuhan ‑ penganugerahan keselamatan.

<!–[if !supportLists]–>b) <!–[endif]–>infralapsarianisme menetapkan urutan: penciptaan – membiarkan Kejatuhan ‑ pemilihan ‑ penganugerahan keselamatan.

<!–[if !supportLists]–>c) <!–[endif]–>sublapsarianisme menetapkan urutan: penciptaan ‑ membiarkan Kejatuhan ‑ penganugerahan keselamatan ‑ pemilihan.

 

(Catatan : di antara para teolog ada yang menggabungkan infra dan sub menjadi; sublapsarianisme).

 

<!–[if !supportLists]–>4.1. <!–[endif]–>Penebusan Terbatas

 

Suatu istilah “penebusan terbatas” adalah penebusan tertentu atau khusus, yang mengatakan bahwa penebusan Kristus dibatasi kepada sejumlah tertentu orang‑orang khusus. Alasan yang dikemukakan bagi pendapat ini adalah sebagai berikut.

Ada sejumlah ayat yang menekankan bahwa Kristus mati bagi sekelompok orang tertentu dan tidak bagi setiap orang. Sebagai seorang Gembala Yang Baik, Kristus telah memberikan hidupnya bagi domba‑domba‑Nya(Yoh. 10:15); tidak semua orang termasuk dalam kawanan domba ini. Kristus telah memberikan hidup‑Nya bagi gereja (Kisah 20:28; Efs. 5:25); Ia mati bagi orang‑orang pilihan (Roma 8:32‑33). Oleh sebab itu, sasaran kasih Allah bersifat khusus; Ia tidak mengasihi semua orang dengan kasih yang sama (band. Roma 1:7; 8:29; 9:13; Kol. 3:12; 1 Tes. 1:4; 2 Tes. 2:13). Edwin H. Palmer mengatakan: “Karena sasaran kasih Allah bersifat khusus, tertentu, dan terbatas, demikian pula dengan sasaran kematian Kristus.” Kebenaran ini juga terpantul dari ayat-ayat seperti 1 Yoh. 4:10, dan Roma 5:8 dan 8:32.

Jika Kristus mengadakan penebusan bagi dosa, maka sasaran penebusan itu haruslah suatu kelompok tertentu. Jika tidak efek penebusan menjadi lemah sebab tidak semua orang diselamatkan bagi siapa Kristus telah mengadakan penebusan.

Argumentasi lainnya adalah: Jika Allah berdaulat (Efs. 1:11) maka rencana‑Nya tidak akan gagal, tetapi jika Kristus mati bagi semua orang dan semua orang tidak diselamatkan maka rencana Allah gagal. Jika Kristus mati bagi semua orang maka penebusan telah dibuat bagi semua dan semua akan dibenarkan. Pemikiran logis itu bisa mengarah kepada universalisme (setiap orang akan diselamatkan). Dalam ayat‑ayat yang menyatakan bahwa Kristus mati bagi dunia berarti Ia mati bagi “orang‑orang dari berbagai suku dan bangsa‑bukan hanya orang‑orang Yahudi.” Demikian pula kalau kata “semua” digunakan (2 Kor. 5:15) berarti semua lapisan orang tetapi bukan setiap orang.

 

Pandangan ini merupakan salah satu inti Calvinisme yang dirangkum dalam akronim TULIP sebagai berikut.

 

Kelima butir Calvinisme (T ‑ U ‑ L ‑ I ‑ P ) ini diteguhkan dalam Sidang Sinode di Dort tahun 1619 sebagai doktrin keselamatan dalam Alkitab. Sistem tersebut dirumuskan dalam rangka menjawab kelima butir Armenianisme yang diajukan kepada gereja‑gereja di Belanda. Menurut Calvinisme: keselamatan dikerjakan oleh kuasa Allah Tritunggal yang mahatinggi. Bapa memilih umat, Anak mati bagi umat, dan Roh Kudus membuat kematian Kristus efektif dengan membawa orang‑orang pilihan kepada iman dan pertobatan, sehingga menyebabkan mereka bersedia menaati Injil. Seluruh proses (pemilihan, penebusan, kelahiran kembali) adalah karya Allah dan oleh anugerah semata‑mata. Jadi Allahlah, bukan manusia, yang menetapkan seseorang akan menerima anugerah keselamatan.

 

<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>Total Depravity (Total Inability) ‑ Kerusakan Total

 

Kerusakan Total manusia ini mungkin merupakan pengajaran Calvinisme yang paling disalah‑pahami. Ketika penganut Calvin menyatakan bahwa umat manusia “rusak total”, maka itu merupakan pernyataan ekstensif, bukan pernyataan intensif. Efek kejatuhan dalam dosa pada manusia adalah bahwa dosa telah meliputi semua bagian kepribadiannya ‑ pemikirannya, perasaannya, dan kehendaknya. Tidak perlu manusia berdosa demikian hebat, tetapi dosa telah mencakup seluruh kehidupannya.

Manusia yang tidak dilahirkan kembali (tidak diselamatkan), mati dalam dosa‑dosanya (Roma 5:12). Tanpa kuasa Roh Kudus, manusia alamiah buta dan tuli terhadap Berita Injil (Mrk. 4:11, dst.). Itulah sebabnya Kerusakan Total manusia juga disebut “Ketidakmampuan Total”. Manusia tanpa pengetahuan akan Allah, tidak akan pernah tiba pada pengetahuan ini tanpa pertolongan Allah yang membuatnya hidup melalui Kristus (Efs. 2:1‑5).

 

<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>Unconditional Election ‑ Pilihan Tanpa Syarat

 

Pilihan Tanpa Syarat merupakan pengajaran yang mengatakan bahwa Allah memilih mereka yang Ia layakkan untuk mengenal Diri-Nya sendiri, bukan berdasarkan pada sesuatu yang ditunjukkan oleh sasaran anugerah‑Nya, dan tidak didasarkan pada pandangan-Nya ke depan untuk menemukan mereka yang “menerima” tawaran Injil.

Allah telah memilih, semata-mata berdasarkan kehendak-Nya sendiri, sebagian bagi kemuliaan dan sebagian bagi penghukuman (Roma 9:15,21). Ia telah melakukan tindakan ini sebelum dunia dibentuk (Efs. 1:4‑8).

Namun, doktrin ini tidak mengenyampingkan tanggung jawab manusia untuk percaya pada karya penebusan Anak Allah (Yoh. 3:16-18). Alkitab memberikan suatu ketegangan antara kedaulatan Allah dalam keselamatan, dan tanggung jawab manusia untuk percaya, yang tidak berusaha untuk dituntaskan. Keduanya benar ‑ menyangkal tanggung jawab manusia akan menjadi hyper-calvinisme yang tidak Alkitabiah; menyangkal kedaulatan Allah akan menjadi Armeniasme yang juga tidak Alkitabiah. Orang‑orang pilihan diselamatkan kepada perbuatan‑perbuatan baik (Efs. 2:10). Jadi, meskipun perbuatan baik tidak akan menjembatani manusia dengan Allah akibat Kejatuhan, perbuatan baik merupakan hasil anugerah Allah yang menyelamatkan. Itulah yang Petrus maksudkan ketika ia menghibur orang‑orang Kristen untuk membuat “panggilan” dan “pilihan”‑Nya pasti (1 Pet. 2:10). Menghasilkan buah perbuatan baik merupakan suatu tanda bahwa Allah telah menaburkan benih anugerah dalam tanah yang subur.

 

<!–[if !supportLists]–>(c) <!–[endif]–>Limited Atonement (ParticularRedemption) ‑ Penebusan Terbatas

 

Penebusan Terbatas adalah suatu doktrin yang diberikan dalam menjawab pertanyaan, “Bagi dosa siapa Yesus mengerjakan karya penebusan?” Alkitab mengajarkan bahwa Kristus mati bagi mereka yang Allah berikan kepada‑Nya untuk diselamatkan (Yoh. 17:9). Tentu, Kristus mati bagi banyak orang, tetapi tidak bagi semua (Mat. 26:28). Secara khusus, Kristus mati bagi Gereja yang tidak nampak ‑ jumlah total mereka yang akan menyandang predikat “Kristen” (Efs. 5:25).

Kadang‑kadang doktrin ini mengalami banyak penolakan, sebagian besar dari mereka yang berpikir bahwa Penebusan Terbatas merusak penginjilan. Kita telah melihat bahwa Kristus tidak akan kehilangan mereka yang telah diberikan oleh Bapa (Yoh. 6:37).

Kematian Kristus bukanlah kematian potensial bagi semua orang. Percaya bahwa kematian Kristus bersifat potensial, penebusan simbolis bagi mereka yang mungkin ‑ di masa depan, menerima‑Nya, meniadakan arti penebusan Kristus. Kristus mati untuk menebus dosa-dosa tertentu orang‑orang berdosa tertentu. Kristus mati untuk menguduskan Gereja. Ia tidak mati bagi semua orang, karena jelas semua orang tidak diselamatkan. Penginjilan justru terangkat oleh doktrin ini sebab para penginjil dapat menceritakan kepada para pendengarnya bahwa Kristus mati bagi orang‑orang berdosa, dan Ia tidak akan kehilangan mereka yang untuknya Ia telah mati!

 

<!–[if !supportLists]–>(d) <!–[endif]–>Irresistible Grace ‑ Anugerah yang Tidak Dapat Ditolak

 

Hasil dari anugerah Allah yang Tidak Dapat Ditolak merupakan suatu tanggapan pasti orang‑orang pilihan terhadap panggilan di dalam oleh Roh Kudus, ketika panggilan di luar diberikan oleh penginjil atau pelayan firman Allah. Kristus sendiri, mengajarkan bahwa semua yang telah dipilih Allah akan datang mengenal Dia (Yoh. 6:37).

Orang-orang datang kepada Kristus dalam keselamatan ketika Bapa memanggil mereka (Yoh. 6:44), dan Roh Allah memimpin orang-orang yang dikasihi-Nya untuk bertobat (Roma 8:14). Betapa menyenangkan mengetahui bahwa Injil Kristus akan menembus hati kita yang keras dan penuh dosa dan secara ajaib menyelamatkan kita melalui panggilan dalam anugerah oleh Roh Kudus (1 Pet. 5:10).

 

<!–[if !supportLists]–>(e) <!–[endif]–>Perseverance of the Saints – Ketekunan Orang-orang Kudus

 

Ketekunan Orang‑orang Kudus merupakan doktrin yang menyatakan bahwa orang‑orang kudus (orang‑orang yang diselamatkan Allah) akan tetap tinggal dalam tangan Allah hingga mereka dipermuliakan dan dibawa untuk tinggal bersama‑Nya di sorga. Roma 8:28-39 menjelaskan hal ini bahwa ketika seseorang sungguh‑sungguh dilahirkan kembali oleh Allah, ia akan tinggal dalam pemeliharaan Allah. Karya pengudusan yang Allah kerjakan dalam orang‑orang pilihan‑Nya akan terus berlangsung hingga mencapai pemenuhannya dalam hidup yang kekal itu (Fil. 1:6). Kristus menjamin orang percaya bahwa Ia tidak akan kehilangan mereka dan bahwa mereka akan dipermuliakan pada “hari yang terakhir” (Yoh. 6:39). Kaum Calvinis mengaku berdiri di atas firman Allah dan bersandar pada janji Kristus, yaitu bahwa Ia akan memenuhi kehendak Bapa‑Nya secara sempurna dalam menyelamatkan semua orang pilihan.

 

<!–[if !supportLists]–>4.2. <!–[endif]–>Penebusan Tidak Terbatas

 

Doktrin Penebusan Tidak Terbatas ‑ sebagaimana yang dipahami para kaum Injili ‑ berarti bahwa Kristus mati bagi semua orang tetapi kematian-Nya hanya efektif di dalam mereka yang percaya akan Injil. Argumentasi bagi Penebusan Tidak Terbatas adalah sebagai berikut:

 

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Jika pernyataan PB dilihat sepintas saja, jelas bahwa ayat‑ayat itu menyatakan Kristus mati bagi semua orang.

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Penebusan Terbatas bukan berdasarkan pada eksegese teks Alkitab, tetapi lebih pada premis lokal bahwa jika Kristus mati bagi semua orang, dan semua orang tidak diselamatkan, maka rencana Allah gagal.

<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Dunia, seperti yang digambarkan oleh Yohanes, adalah “membenci Allah, menolak Kristus, dan didominasi setan”. Untuk dunia semacam itulah Kristus mati (bdk. Yoh. 1:29; 3:16,17; 4;42; 1 Yoh. 4:14). Ayat‑ayat itu menekankan penebusan universal.

<!–[if !supportLists]–>4) <!–[endif]–>Kata barang siapa digunakan lebih dari 110 kali dalam PB dan selalu dengan arti luas (bdk. Yoh. 3:16; Kisah 2:21; 10:43; Roma 10:13; Why. 22:17).

<!–[if !supportLists]–>5) <!–[endif]–>Kata semua, atau istilah yang ekivalen dengannya, digunakan untuk menyatakan setiap orang. Kristus mati bagi orang fasik – setiap orang adalah fasik (Roma 5:6); Kritus mati bagi semua, yaitu setiap orang (2 Kor. 5:14‑15; 1 Tim. 2:6; 4:10; Titus 2:11; Ibr. 2:9; 2 Pet. 3:9).

<!–[if !supportLists]–>6) <!–[endif]–>Surat 2 Pet. 2:1 menyatakan Kristus mati bagi guru-guru palsu yang “menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka”. Konteksnya menyatakan bahwa mereka adalah bidat yang siap dihancurkan. Sekalipun demikian, tentang mereka dikatakan “Penguasa telah menebus mereka.” Ini sama sekali berbeda dengan pandangan Penebusan Terbatas.

<!–[if !supportLists]–>7) <!–[endif]–>Dalam Evangelical Dictionary of Theology, sebagai editor, Walter A. Elwell menyatakan, Alkitab mengajarkan bahwa Kristus mati bagi “orang‑orang berdosa” (1 Tim. 1:15; Roma 5:6‑8). Istilah “orang‑orang berdosa” tidak berarti “jemaat” atau “orang‑orang pilihan”, melainkan “semua manusia yang terhilang”.

 

<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Proses Keselamatan

 

<!–[if !supportLists]–>5.1. <!–[endif]–>Sisi Allah

 

<!–[if !supportLists]–>5.1.1. <!–[endif]–>Karya Allah Bapa

 

Meskipun terdapat tanggung jawab manusia dalam keselamatan, pertama‑tama adalah sisi ilahi keselamatan di mana Allah bertindak dengan penuh kedaulatan untuk menjaga keselamatan manusia:

 

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Pemilihan

 

Pertanyaan tentang “pemilihan” bukanlah pada apakah dapat dipahami atau tidak, tetapi apakah Alkitab mengajarkannya atau tidak. Tentu, jika Alkitab mengajarkan “pemilihan” (atau doktrin lainnya), maka kita harus mempercayainya. Doktrin Pemilihan ini memuat sejumlah bagian:

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Israel sebagai bangsa pilihan - Ul. 7:6

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Malaikat‑malaikat adalah pilihan - 1 Tim. 5:21

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Imam‑imam dari suku Lewi adalah orang‑orang pilihan

- Ul. 18:5

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Nabi Yeremia adalah nabi pilihan - Yer. 1:5

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Orang‑orang percaya adalah orang‑orang pilihan ‑ Efs. 1:4

 

Apakah “pemilihan” itu? Pemilihan dapat didefinisikan sebagai “karya kekal Allah di mana Ia di dalam kedaulatan‑Nya, dan bukan berdasarkan pada perbuatan baik mereka, memilih sejumlah orang tertentu sebagai penerima anugerah khusus dan keselamatan kekal.”

Satu ayat penting tentang “pemilihan” adalah Efs. 1:4 dalam pernyataan “Ia memilih kita.” Kata Yunani untuk “memilih” ialah εκλεγω, eklego, yang berarti “memanggil keluar” dari antara bangsa‑bangsa. Kata itu berarti bahwa Allah memilih beberapa pribadi dari kalangan masyarakat luas. Selanjutnya, kata ini selalu dalam modus middle voice yang berarti Allah memilih bagi diri-Nya sendiri. Ini menggambarkan makna pemilihan ‑ Allah memilih orang‑orang percaya untuk bersekutu dengan‑Nya dan untuk memancarkan kasih‑Nya melalui kehidupan mereka yang telah ditebus.

Beberapa sifat yang perlu dicatat dalam “pemilihan” ini adalah:

 

<!–[if !supportLists]–>a) <!–[endif]–>Terjadi di masa kekekalan yang lampau (Efs. 1:4)

<!–[if !supportLists]–>b) <!–[endif]–>Merupakan karya Allah yang berdaulat, dan menurut kehendak kedaulatan‑Nya (Roma 9:11; 2 Tim. 1:9)

<!–[if !supportLists]–>c) <!–[endif]–>Merupakan ungkapan kasih Allah (Efs. 1:4)

<!–[if !supportLists]–>d) <!–[endif]–>Sama sekali tidak didasarkan pada manusia (2 Tim. 1:9; Roma 9:11)

<!–[if !supportLists]–>e) <!–[endif]–>Merefleksikan keadilan Allah; tidak ada keadilan melawan Allah dalam “pemilihan” (Roma 9:14,20)

 

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>Predestinasi

 

Kata “predestinasi” berasal dari kata Yunani προοριζω, proorizo, yang berarti “telah ditetapkan sebelumnya,” dan muncul 6 (enam) kali dalam PB (Kisah 4:28; Roma 8:29‑30; 1 Kor. 2:7; Efs. 1:5,11). Kata dalam bahasa Inggris horizon berasal dari kata ini. Allah oleh kedaulatan‑Nya memilih orang-orang percaya dalam kekekalan masa lampau. Beberapa sifat predestinasi adalah sebagai berikut:

 

<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>Menyangkut seluruh peristiwa, bukan hanya keselamatan pribadi (Kisah 4:28)

<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>Menentukan status kita sebagai anak‑anak yang diangkat oleh Allah (Efs. 1:5)

<!–[if !supportLists]–>(c) <!–[endif]–>Memberikan jaminan bagi puncak pemuliaan kita (Roma 8:29‑30)

<!–[if !supportLists]–>(d) <!–[endif]–>Bagi tujuan peninggian anugerah Allah (Efs. 1:6)

<!–[if !supportLists]–>(e) <!–[endif]–>Memberikan kepastian warisan kekal kita (Efs. 1:11); dan sesuai dengan pilihan bebas Allah dan menurut kehendak-Nya (Efs. 1:5,11)

 

Namun demikian, pemilihan dan predestinasi tidak menghilangkan tanggung jawab manusia. Bahkan meskipun pemilihan dan predestinasi diajarkan dengan jelas dalam Alkitab, manusia masih harus memperhitungkan pilihannya. Firman Allah tidak pernah menyatakan bahwa manusia terhilang karena ia tidak dipilih atau tidak ditetapkan sebelumnya; penekanan firman Allah adalah bahwa manusia terhilang karena ia menolak percaya kepada Injil.

 

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Pengangkatan Anak

 

Kata “adopsi” atau “pengangkatan anak” (Yun. υιοθεσια, huiothesia) berarti “menempatkan sebagai seorang anak” dan menyatakan hak dan hak istimewa dalam posisi yang baru sebagai orang percaya dalam Kristus. Kata ini diambil dari adat kebiasaan Romawi, dimana dalam upacara resmi, kepada anak yang diadopsi diberikan semua hak seperti anak kandung. Dalam upacara ini terjadi 4 (empat) hal:

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Anak yang diadopsi kehilangan semua haknya dalam keluarganya yang lama, dan memperoleh semua hak sebagai anak resmi sepenuhnya dalam keluarga yang baru.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Ia menjadi ahli waris kekayaan ayahnya yang baru.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Kehidupan lama anak yang diadopsi seluruhnya dihapuskan. Misalnya, semua hutangnya dihapuskan; hutang-hutang itu ditiadakan seakan‑akan tidak pernah terjadi.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ <!–[endif]–>Di mata hukum, orang yang diadopsi secara harfiah dan mutlak adalah anak ayahnya yang baru.

 

Paulus menggunakan latar belakang adat kebiasaan Romawi ini untuk menggambarkan status baru orang Kristen di dalam Kristus. Dalam pengadopsian ini, orang percaya dilepaskan dari perhambaan kepada kebebasan dan kedewasaan dalam Kristus (Roma 8:15). Dalam pengadopsian, orang percaya dilepaskan dari ikatan di bawah hukum ke dalam status baru sebagai seorang anak (Gal. 4:5). Dalam pengadopsian, orang percaya menikmati suatu hubungan yang baru dimana ia dapat berseru, “Abba! Bapa!” (Roma 8:15; Gal. 4:6), suatu hubungan intim yang digunakan seorang anak kepada bapanya. Efesus 1:5 menunjukkan karya pengadopsian ini dihubungkan dengan predestinasi, yang telah terjadi dalam kekekalan masa lalu, tetapi terealisasi saat orang itu percaya di dalam Yesus Kristus.

 

<!–[if !supportLists]–>5.1.2. <!–[endif]–>Karya Kristus

 

Dalam membicarakan proses keselamatan, karya Kristus adalah yang tertinggi dalam menghasilkan keselamatan manusia. Terutama, kematian Kristus sebagai penebusan pengganti bagi dosa dalam menyelamatkan pembebasan manusia dari hukuman dan perhambaan dosa dan menghasilkan kebutuhan yang benar akan Allah yang kudus.

Aspek penting lain dari keselamatan yang belum disebutkan sebelumnya adalah pengudusan (sanctifivation). Kata “pengudusan” (Yun. αγιασμος, hagiasmos) yang berarti “memisahkan”. Akar kata yang sama ditemukan dalam kata‑kata bahasa Inggris “orang kudus”, “kudus”, dan “kekudusan”. Pengudusan dan istilah lainnya yang berkaitan digunakan dalam berbagai cara, baik dalam PL maupun PB. Namun dengan mengacu pada orang‑orang percaya PB, ada 3 (tiga) aspek utama pengudusan.

 

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>Pengudusan Posisional

 

Ini adalah posisi orang percaya di hadapan Allah, berdasarkan kepada kematian Kristus. Dalam pengudusan posisional ini orang percaya diperhitungkan kudus di hadapan Allah; ia dinyatakan sebagai orang kudus. Paulus sering mengawali suratnya dengan menyebutkan orang percaya sebagai orang‑orang kudus (Roma 1:7). Patut dicatat bahwa sekelompok orang percaya yang duniawi seperti jemaat Korintus juga disebut sebagai “mereka yang dikuduskan dalam Ktistus Yesus” (1 Kor. 1:2). Pengudusan posisional ini dicapai melalui kematian Kristus sekali-bagi-semua (Ibr. 10:10,14,29).

 

<!–[if !supportLists]–>(2) <!–[endif]–>Pengudusan Eksperiential

 

Meskipun pengudusan posisional orang percaya begitu aman, pengudusan pengalamannya bisa berfluktuasi karena berkenaan dengan kehidupan dan pengalamannya sehari‑hari. Doa Paulus adalah bahwa orang‑orang percaya harus dikuduskan seluruhnya dalam pengalaman mereka (1 Tes. 5:23); Petrus memerintahkan orang‑orang percaya untuk hidup dalam kekudusan (1 Pet. 1:16). Pengudusan pengalaman ini bertumbuh saat orang percaya menyerahkan hidupnya kepada Allah (Roma 6:13; 12:1‑2) dan saat makan firman Allah (Maz. 119:9-16). Jelasnya, ada faktor‑faktor tambahan memasuki pengudusan pengalaman.

 

<!–[if !supportLists]–>(3) <!–[endif]–>Pengudusan Puncak

 

Aspek pengudusan ini ada di masa depan dan mengantisipasi perubahan akhir orang percaya ke dalam keadaan menjadi serupa dengan Kristus. Pada saat itu semua orang percaya akan diperhadapkan kepada Tuhan tanpa cela (Efs. 5:26‑27).

 

<!–[if !supportLists]–>5.1.3. <!–[endif]–>Karya Roh Kudus

 

Karya Roh Kudus dalam keselamatan memuat pelayanan pemertobatan kepada orang yang belum percaya, melahirkan kembali orang untuk memberinya kehidupan rohani, mendiami orang percaya, membaptis orang percaya ke dalam kesatuan dengan Kristus dan orang Kristen lainnya, dan memeteraikan orang percaya.

 

<!–[if !supportLists]–>5.2. <!–[endif]–>Sisi Manusia

 

Pembahasan istilah‑istilah keselamatan sangatlah penting sebab kemurnian Injil dipertaruhkan. Apakah istilah‑istilah keselamatan itu? Apakah keselamatan sesuatu yang ditambahkan kepada iman? Masalah ini kritis sebab Paulus menyatakan kutukan kepada, mereka yang memberitakan suatu Injil yang bertentangan dengan yang telah ia beritakan (Gal. 1:8‑9).

 

<!–[if !supportLists]–>5.2.1. <!–[endif]–>Pandangan Yang Salah

 

Ada sejumlah pandangan yang salah tentang kondisi‑kondisi manusia untuk keselamatan. Pandangan‑pandangan ini menambahkan kondisi‑kondisi kepada tanggapan manusia terhadap iman sehingga meniadakan anugerah Allah dan mengotori kemurnian Injil. Beberapa pandangan yang salah itu adalah sebagai berikut:

 

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>Bertobat dan Percaya ‑ Pertobatan tidak harus dipahami sebagai suatu kondisi yang terpisah dari percaya dalam Kristus. Jika pertobatan dipandang sebagai suatu kondisi keselamatan dalam istilah sebagai perasaan minta maaf bagi dosa seseorang, maka itu adalah penggunaan istilah yang salah. Istilah itu seharusnya tidak dipahami sebagai suatu langkah terpisah dalam keselamatan.

Kisah 20:21 menyatakan bahwa pertobatan dan iman tidak seharusnya sebagai istilah yang terpisah dalam tanggapan terhadap Injil, melainkan bersama‑sama menyatakan kepercayaan dalam Kristus. Percaya dalam Kristus adalah mengubah pikiran orang tentang Kristus dan hanya mempercayai‑Nya bagi keselamatan.

 

<!–[if !supportLists]–>(2) <!–[endif]–>Percaya dan Dibaptiskan ‑ Pandangan ini diambil dari kesalahpahaman terhadap Kisah 2:38. Petrus tidak menyatakan bahwa baptisan pengampunan dosa‑dosa, melainkan ia memanggil mereka dari generasi yang telah secara salah menyalibkan Kristus guna memisahkan mereka dari generasi di bawah murka Allah. Pemisahan ini dinyatakan di depan publik dalam baptisan. Selanjutnya, baptisan menyatakan bahwa orang‑orang itu telah menerima pengampunan dosa.

Ayat kedua yang sering dikutip untuk menyatakan bahwa baptisan perlu bagi keselamatan adalah Mrk. 16:16. Frasa “siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” tidak sama dengan mengatakan baptisan perlu bagi keselamatan; ini merupakan separuh bagian dari ayat itu, yang mengabaikan acuan terhadap baptisan. Penghukuman datang dari penolakan untuk percaya, bukan dari kegagalan dibaptiskan. Dapat ditambahkan, sekalipun lemah untuk berargumentasi dari bagian Mrk. 16:16 karena bagian tersebut tidak termuat dalam naskah‑naskah PB yang tertua.

 

<!–[if !supportLists]–>(3) <!–[endif]–>Percaya dan Mengakui Kristus ‑ Kondisi pengakuan di depan publik akan Kristus bagi keselamatan kadang‑kadang ditambahkan kepada iman berdasarkan Roma 10:9. Namun, ayat ini bukan menetapkan suatu kondisi tambahan bagi keselamatan, melainkan untuk mengakui Kristus sebagai Tuhan yang berarti mengakui keallahan‑Nya. Istilah ini merupakan dan akan selalu merupakan hal kritis dalam istilah keselamatan. Mereka yang percaya di dalam Kristus sebagai Juruselamat harus mengakui keallahan-Nya. Itulah arti Roma 10:9.

 

<!–[if !supportLists]–>(4) <!–[endif]–>Percaya dan Menyerah ‑ Masalah dalam hal ini adalah apakah seseorang menjadi Kristen hanya dengan percaya kepada Injil atau tidak, atau apakah seseorang harus menyerah kepada Kristus sebagai Tuhan dalam hidupnya atau tidak. Jawaban yang diberikan bisa terletak dalam kesalahpahaman tentang Roma 10:9. Pengakuan akan Kristus sebagai Tuhan menyatakan keallahan Kristus, bukan berkenaan dengan ketuhanan‑Nya. Selanjutnya, jika penyerahan hidup seseorang kepada Yesus sebagai Tuhan merupakan syarat bagi keselamatan, maka tidak akan ada orang‑orang Kristen duniawi, sedangkan Paulus menyatakan bahwa orang‑orang Korintus yang ia katakan sebagai “di dalam Kristus” sangat bersifat duniawi (1 Kor. 3:1). Ketuhanan didasarkan pada penerapan pengetahuan akan firman Allah, dan pengetahuan itu datang bersama dengan kedewasaan rohani, yang pada gilirannya mengikuti keselamatan. Ketuhanan itu penting, tetapi tidak dapat menjadi syarat bagi keselamatan; itu penambahan kepada Injil.

Masalah selanjutnya dalam pandangan ini berhubungan dengan kesalahpahaman akan istilah murid. Ketika Yesus memanggil beberapa orang untuk mengikuti‑Nya sebagai murid (bdk. Luk. 14:25‑35), Ia tidak memanggil mereka kepada keselamatan. Itu adalah panggilan mengikuti Dia sebagai pembelajar, yang sama dengan murid. Pemuridan selalu mengikuti keselamatan; pemuridan tidak boleh lepas dari keselamatan. Jika tidak, anugerah bukan anugerah lagi namanya. Selanjutnya, jika pemuridan merupakan syarat keselamatan, maka baptisan seharusnya juga demikian, karena dibaptiskan berarti bagian dari menjadi murid (Mat. 28:19‑20).

 

<!–[if !supportLists]–>5.2.2. <!–[endif]–>Pandangan Alkitab

 

Banyak ayat Kitab Suci menyatakan bahwa satu‑satunya tanggung jawab manusia dalam keselamatan adalah percaya kepada Injil (Yoh. 1:12; 2:16,18,36; 5:24; 11:25‑26; 12:44; Kisah 16:31; 1 Yoh. 5:13, d1l.) Akan tetapi, apakah iman itu? Apa artinya percaya kepada Injil? Iman bisa didefinisikan dengan ringkas sebagai “kepercayaan yang penuh percaya (confiding trust)“. Yohanes menggunakan kata iman sama dengan yang digunakan Paulus, yakni dalam menggambarkan iman sebagai percaya “ke dalam Kristus”. Leon Morris menyatakan bahwa bagi Yohanes, iman “adalah suatu aktifitas yang membawa manusia keluar dari dirinya sendiri dan menjadikan mereka satu dengan Kristus.”

Namun, iman yang menyelamatkan bukan semata‑mata persesuaian intelektual terhadap doktrin; iman mencakup lebih dari itu. Iman yang menyelamatkan setidaknya mencakup 3 (tiga) unsur.

 

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>Pengetahuan ‑ Ini mencakup intelek dan menekankan bahwa ada kebenaran dasar yang pasti yang harus dipercayai bagi keselamatan. Yesus menyatakan diri‑Nya adalah Allah; percakapan kepada keallahan‑Nya menjadi hal penting dalam keselamatan (Roma 10:9‑10). Kecuali seseorang percaya bahwa Yesus adalah semuanya yang telah Ia katakan, maka ia akan binasa dalam dosa‑dosanya (Yoh. 8:24). Jadi, iman yang menyelamatkan, mencakup percaya akan kebenaran yang paling mendasar bagi keselamatannya: keberdosaan manusia, karya penebusan Kristus, dan kebangkitan tubuh‑Nya. Yohanes menuliskan pernyataan‑pernyataan Kristus agar orang‑orang yang mempercayai kebenaran‑kebenaran tentang Kristus ini diselamatkan (Yoh. 20:30,31).

 

<!–[if !supportLists]–>(2) <!–[endif]–>Keinsyafan ‑ Keinsyafan mencakup perasaan. Unsur ini menekankan bahwa orang tidak hanya memiliki kesadaran intelektual tentang kebenaran, tetapi bahwa ada suatu keinsyafan yang mendalam (bdk. Yoh. 16:8‑11) terhadap kebenaran itu sendiri.

 

<!–[if !supportLists]–>(3) <!–[endif]–>Mempercayakan Diri – Sebagai hasil pengetahuan tentang Kristus dan keinsyafan bahwa hal‑hal itu benar harus ada juga suatu pemercayaan diri, suatu gerakan kehendak – suatu keputusan harus dibuat sebagai suatu tindakan kehendak. “Hati” kadang‑kadang berarti kehendak, dan itulah yang ditekankan Paulus dalam pernyataan, “Percayalah di dalam hatimu ” (Roma 10:9).

 

<!–[if !supportLists]–>6. <!–[endif]–>Anugerah Allah

 

Meskipun telah berulang kali dikatakan tentang anugerah Allah dalam pembahasan di atas, pembahasan yang lebih rinci tetap perlu diberikan di sini.

 

<!–[if !supportLists]–>6.1. <!–[endif]–>Anugerah Umum

 

<!–[if !supportLists]–>6.1.1. <!–[endif]–>Definisi Anugerah Umum

 

Jika Allah berdaulat dan manusia rusak dalam keadaannya yang penuh dosa, maka Allah harus bertindak dalam membawa pendamaian antara manusia dengan Allah. Berbagai kategori yang berbeda diberikan kepada anugerah Allah ini, tetapi dalam diktat ini akan digunakan kategori Anugerah Umum (common grace) dan Anugerah Khusus (efficacious grace). Anugerah Umum lingkupnya lebih luas, ditujukan kepada semua umat manusia. Anugerah Umum didefinisikan sebagai “kesediaan Allah yang tanpa pamrih kepada semua manusia yang dinyatakan dalam pemeliharaan‑Nya secara umum terhadap mereka.” Definisi Anugerah Umum yang lebih luas lagi adalah:

 

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>“Karya Roh Kudus secara umum, dimana Ia, tanpa memperbaharui hati, menjalankan suatu pengaruh moral atas manusia melalui penyataan umum dan penyataan khusus‑Nya, bahwa dosa dikendalikan, urutan ditetapkan dalam kehidupan sosial, dan hak sipil diperhatikan”; atau,

<!–[if !supportLists]–>(2) <!–[endif]–>“Berkat‑berkat umum itu, seperti hujan dan sinar matahari, makanan dan minuman, busana dan tempat tinggal, yang Allah sediakan bagi semua orang tanpa kecuali dimana dan dalam ukuran apa hal itu baik bagi‑Nya.”

 

<!–[if !supportLists]–>6.1.2. <!–[endif]–>Penjelasan Anugerah Umum

 

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>Berkat umum bagi seluruh umat manusia

 

Sebutan “umum” menekankan bahwa semua umat manusia merupakan penerima Anugerah Umum Allah. Penyediaan Materi merupakan satu aspek Anugerah Umum. Yesus memerintahkan pengikut‑Nya untuk mengasihi musuh mereka karena Allah menyatakan kasih‑Nya atas semua orang (Mat. 5:45). Allah memberikan sinar matahari dan hujan kepada petani ateis sekalipun, yang memampukannya memanen benihnya sama seperti yang Ia berikan kepada petani Kristen. Paulus mengingatkan orang‑orang yang tidak percaya di Listra bahwa Allah memberikan kepada mereka “hujan dari langit dan musim‑musim subur” (Kisah 14:17), suatu pernyataan Anugerah Umum Allah.

Dalam Maz. 145:8-9 pemazmur berkata, “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan‑Nya. Kasih dan sayang Allah secara khusus dinyatakan dalam penundaan dan pengurangan hukuman‑Nya. Bahwa Allah tidak secara tiba‑tiba menghukum manusia merupakan bukti anugerah‑Nya. Alasan‑Nya adalah memampukan manusia untuk datang kepada pertobatan (Roma 2:4).

Allah telah memberikan penyediaan rohani bagi semua umat manusia. Dalam 1 Tim. 4:10 dinyatakan bahwa Kristus adalah “Juruselamat semua orang khususnya orang yang percaya.” Ayat ini tidak mengajarkan universalisme, tetapi menyatakan penyediaan rohani yang telah dibuat bagi semua orang. Jika Kristus adalah Allah, maka kematian‑Nya memiliki nilai yang tidak terhingga dimana Ia secara potensial adalah Juruselamat semua manusia dan secara aktual adalah Juruselamat mereka yang percaya. Anugerah Umum Allah mencakup semua manusia seperti halnya penyediaan yang telah dibuat bagi semua orang melalui kematian Kristus.

 

<!–[if !supportLists]–>(2) <!–[endif]–>Pengendalian Dosa

 

Pengendalian Allah terhadap dosa adalah suatu pengembangan Anugerah Umum, dan berfungsi melalui sedikitnya 4 (empat) saluran:

 

<!–[if !supportLists]–>(a) <!–[endif]–>Melalui Tindakan Langsung ‑ Meskipun Laban telah memperdaya Yakub berulang kali, Allah membatasi penipuan Laban (Kej. 31:7). Ketika Setan menantang Allah mengenai kesetiaan Ayub, Allah menaruh suatu pembatasan pada apa yang Setan dapat lakukan terhadap Ayub (Ayub 1:12; 2:6).

<!–[if !supportLists]–>(b) <!–[endif]–>Melalui Roh Kudus ‑ Dalam Kej.6:3 Allah berkata, “Roh‑Ku tidak akan selama‑lamanya tinggal di dalam manusia.” Teks ini menyatakan bahwa Roh Kudus mengendalikan sifat dosa manusia.

<!–[if !supportLists]–>(c) <!–[endif]–>Melalui Para Nabi ‑ Pelayanan para nabi adalah memanggil umat kembali kepada ketaatan dan keterpautan kepada Hukum Musa. Dalam pelayanan itu para nabi melayani sebagai pengendali dosa (bdk. Yes. 1: 16‑20).

<!–[if !supportLists]–>(d) <!–[endif]–>Melalui Pemerintahan Manusia ‑ Dalam Roma 13:1‑4 Paulus menyatakan bahwa pemerintah‑pemerintah ditetapkan oleh Allah (ayat 1), dan mereka ditetapkan sebagai pengendali kejahatan.

 

Pada zaman ini ada kuasa pengendali terhadap kejahatan yang disebutkan dalam 2 Tes. 2:6‑7. Dalam hal ini kuasa pengendali itu menahan perwujudan “si pendurhaka”. Ketika Pengendali disingkirkan, si Pendurhaka akan dinyatakan. Hal ini jelas bahwa frasa “apa yang menahan” (netral) dalam ayat 6 berpindah ke maskulin, “ia yang sekarang menahan. Dalam ayat 7. Selanjutnya, Sang Penahan harus cukup kuat untuk mencegah kekuatan Setan, sehingga kita beranggapan bahwa Sang Penahan itu adalah Roh Kudus.

 

<!–[if !supportLists]–>(3) <!–[endif]–>Keinsyafan akan Dosa

 

Karya penginsyafan mempunyai fokus yang lebih sempit dari pada penyediaan materi Anugerah Umum. Karya ini masih diklasifikasikan sebagai aspek yang lebih sempit karena tidak efektif bagi setiap orang yang berkaitan dengannya. Karya penginsyafan Roh Kudus ditetapkan dalam Yoh. 16:8‑11. Ia “akan menginsyafkan dunia akan dosa, dan kebenaran, dan penghakiman.” (ayat 8). Kata “menginsyafkan” (Yun. ελεγχειν, elegkhein) merupakan istilah resmi yang berarti “mengadakan pengamatan baik dengan maksud menginsyafkan atau penyangkalan suatu perlawanan.”

Karya penginsyafan Roh Kudus ini rangkap 3 (tiga). Karya itu menyangkut dosa (16:9) dalam penolakan orang untuk percaya dalam Kristus. Dosa adalah secara khusus ketidak-percayaan orang terhadap penyataan Kristus tentang Diri‑Nya sendiri melalui firman dan karya‑Nya. Juga menyangkut kebenaran dalam penginsyafan dunia dimana Kristus dipertahankan melalui kematian, kebangkitan, dan kenaikan‑Nya (16:10). Fakta bahwa Kristus bangkit dan naik kepada Bapa menyatakan bahwa Ia adalah Yang Benar. Juga menyangkut penghakiman dalam penginsyafan dunia karena Setan telah dihukum pada kayu salib (16:11). Setan memerintah dengan dosa dan maut, sedangkan Kristus menang atas keduanya dan mengalahkan Setan. Jika Penguasa sudah dihukum sedemikian pula pengikutnya. Roh Kudus akan menginsyafkan dunia atas kebenaran‑kebenaran ini.

 

<!–[if !supportLists]–>6.1.3. <!–[endif]–>Perlunya Anugerah Umum

 

Anugerah Umum merupakan pengantar kepada Anugerah Khusus. Sebelum seseorang dapat diselamatkan harus ada suatu saksi dari Allah; saksi itu datang pertama‑tama melalui pengetahuan akan Allah. Allah menyatakan diri‑Nya kepada manusia melalui jalan Anugerah Umum. Ketika manusia mengambil bagian dalam berkat materi dari Allah (Mat. 5:45) itu akan membuat mereka memancar pada kebaikan Allah. Selanjutnya, Allah menyatakan sesuatu dari diri‑Nya dalam alam; “kekuatan‑Nya yang kekal dan keallahan‑Nya nampak nyata bagi semua (Roma 1:20). Semua manusia mempunyai kesadaran akan tanggapan mereka kepada Allah yang benar, semua mengambil bagian atas berkat‑berkat‑Nya atas mereka. Dengan kesadaran ini, Roh Kudus menginsyafkan manusia akan kebenaran Yesus Kristus yang telah memberikan penyelesaian atas dilema manusia (Yoh. 16:8‑11). Seseorang tidak dapat menerima Anugerah Khusus Allah bagi keselamatan tanpa menerima dan menyadari karya Anugerah Umum Allah. Anugerah Umum dipersiapkan terlebih dahulu untuk Anugerah Khusus; Anugerah Umum membawa manusia kepada realisasi dosanya dan kepada kebenaran Yesus Kristus.

 

<!–[if !supportLists]–>6.2. <!–[endif]–>Anugerah Khusus

 

<!–[if !supportLists]–>6.2.1. <!–[endif]–>Definisi Anugerah Khusus

 

Anugerah Khusus lingkupnya lebih sempit dari pada Anugerah Umum dan sebagaimana namanya, Anugerah Khusus ini bersifat manjur (efficacious), yaitu efektif, dalam siapa anugerah itu diberikan. Semua orang yang menerima Anugerah Khusus ini menanggapinya dan menjadi orang‑orang percaya. Istilah “khusus” diberikan untuk mengkontraskannya dengan yang “umum”.

Definisi singkat Anugerah Khusus adalah “karya Roh Kudus yang secara efektif menggerakkan manusia untuk percaya dalam Yesus Kristus sebagai Juruselamat”. Definisi yang lebih jauh adalah “anugerah khusus tidak bisa ditolak … dengan mengubah hati ia membuat manusia secara sempurna berkehendak menerima Yesus Kristus kepada keselamatan dan memilih ketaatan kepada kehendak Allah.” Suatu penekanan penting dalam definisi ini adalah bahwa Anugerah Khusus membuat orang berkehendak percaya dan percaya dalam Yesus Kristus; dengan kata lain, secara individu berkehendak untuk percaya. Ia tidak datang melawan kehendaknya. Definisi Walvoord memiliki penekanan serupa: “[karunia khusus adalah] karya instan Allah yang memampukan kehendak manusia dan mengarahkan hati manusia kepada iman di dalam Kristus.” Anugerah Khusus berdasar kepada ayat‑ayat “panggilan” dalam Kitab Suci (bdk. Roma 1:1; 6‑7; 8:28; 1 Kor. 1:1‑2,24,26; Efs. 1:18; 4:1,4; 2 Tim. 1:9). Panggilan ini menyatakan undangan efektif Allah dimana Ia membujuk manusia melalui kuasa Roh Kudus dan membuat kehendak pribadi dalam menanggapi Injil.

 

<!–[if !supportLists]–>6.2.2. <!–[endif]–>Penjelasan Anugerah Khusus

 

Ada 8 (delapan) pengamatan tentang Anugerah Khusus agar dapat diperoleh makna yang lebih tepat.

 

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>Tidak semua orang dipanggil; Anugerah Khusus tidak diberikan kepada semua orang. Anugerah itu terbatas pada orang‑orang pilihan. Jadi, semua orang pilihan merupakan penerima Anugerah Khusus. Dalam Roma 1:5‑6 Paulus menekankan bahwa dari antara spektrum luas orang kafir, kelompok pilihan yang menjadi jemaat di Roma dipanggil. Tidak semua orang kafir dipanggil; hanya mereka yang berjemaat di Roma yang telah dipanggil oleh Anugerah Khusus Allah. Fokus yang sempit ini juga nampak dalam 1 Kor. 1:24‑28. Dari sebagian besar orang Yahudi dan orang kafir baik yang menemukan Kristus sebagai batu sandungan atau kebodohan, Allah memanggil sebagian orang Yahudi dan sebagian orang kafir kepada siapa Kristus menyatakan kuasa Allah. Perhatikan penekanan pada yang dipanggil atau yang dipilih (akar kata yang sama seperti “dipanggil”) dalam ayat ini (ayat 24, 26‑28).

<!–[if !supportLists]–>(2) <!–[endif]–>Anugerah Khusus bersifat efektif karena tidak pernah sepenuhnya ditolak. Anugerah ini tidak bisa ditolak. Itu bukan berarti bahwa sebagian akan menolak untuk datang, tetapi didorong dan karenanya datang ke dalam pergumulan Kerajaan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, itu berarti Allah menggerakkan kehendak orang berdosa untuk membuatnya mau datang. Sebagai hasilnya, ia melakukan keinginannya sendiri dan tidak menolak Anugerah Khusus Allah. Surat 1 Kor. 1:23‑24 menekankan bahwa Injil merupakan kebodohan bagi mereka yang tidak percaya, tetapi merupakan kuasa Allah dan efektif bagi mereka yang percaya.

<!–[if !supportLists]–>(3) <!–[endif]–>Anugerah Khusus tidak bekerja bertentangan dengan kehendak manusia. Manusia masih bertanggung jawab untuk mempercayai Injil untuk bisa diselamatkan, dan ia tidak dapat diselamatkan tanpa percaya (Kisah 16:31). Yesus menegur orang‑orang Yahudi yang tidak percaya. “Namun kamu tidak mau datang kepada‑Ku untuk memperoleh hidup itu.” (Yoh. 5:40; bdk. Mat. 23:37). Ini adalah penolakan yang disengaja dan ketidak‑mauan percaya kepada Kristus.

<!–[if !supportLists]–>(4) <!–[endif]–>Anugerah Khusus mencakup kuasa tarikan Allah. Yoh. 6:44 menuliskan, “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada‑Ku, jikalau ia tidak ditarik o1eh Bapa.” F.F. Bruce mengatakan, “Mereka yang datang kepada Kristus digambarkan di sini ditarik kepada‑Nya oleh Bapa … prakarsa allahi dalam keselamatan orang-orang percaya ditekankan. Tanggung jawab manusia dalam hal datang kepada Kristus tidak diabaikan (bdk. Yoh. 5:40); tetapi tidak satu pun dapat datang tanpa ditarik dan dimampukan secara allahi untuk melakukan hal itu.”

<!–[if !supportLists]–>(5) <!–[endif]–>Karya Roh Kudus nampak jelas dalam Anugerah Khusus ini. Sebelum seseorang memberikan tanggapan kepada Anugerah Khusus, Roh Kudus harus menyadarkan orang tersebut akan dosa ke-tidak‑percayaannya akan kebenaran Kristus (Yoh. 16:8‑11; lihat pembahasan sebelumnya). Roh Kudus adalah juga Oknum yang mengefektifkan Anugerah Khusus dalam diri orang sebagaimana Ia melahirkan kembali orang itu (Titus 3:5).

<!–[if !supportLists]–>(6) <!–[endif]–>Anugerah Khusus harus mencakup firman Allah. Dalam tanggapan terhadap karunia Anugerah Khusus orang menanggapinya dalam iman, tetapi iman itu harus memiliki isi dan suatu pengetahuan akan kebenaran yang dipercayai. Karena itu, Anugerah Khusus tidak terlepas dari kebenaran Alkitabiah, “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17). Firman Allah itu hidup dan diterapkan dalam hati orang percaya oleh Roh Kudus (Ibr. 4:12). Petrus mengingatkan orang-orang percaya bahwa mereka telah dilahirkan kembali “oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal” (1 Pet. 1:23). Kedua teks yang berasal dari Surat Ibrani dan 1 Petrus ini menekankan bahwa firman Allah hidup dan merupakan sarana yang menghasilkan kelahiran baru. Anugerah Khusus dan penerapan firman Allah yang hidup sangatlah penting dalam membawakan keselamatan kepada manusia.

<!–[if !supportLists]–>(7) <!–[endif]–>Penerapan Anugerah Khusus mengarah kepada pribadi, bukan kelompok, atau kepada gereja secara keseluruhan. Yakub adalah

<!–[if !supportLists]–>(8) <!–[endif]–>contoh pemilihan pribadi dan penerima Anugerah Khusus (Roma 9:11‑13). Allah melewati Esau dan memilih Yakub untuk menyatakan anugerah‑Nya. Seperti halnya pembenaran harus terjadi secara pribadi dan bukan kelompok (seperti seluruh jemaat dipilih sebagai satuan yang berbeda, demikian pula pilihan melalui penerapan Anugerah Khusus harus bersifat pribadi). Dalam Roma 8:30 dinyatakan bahwa mereka yang dipanggil Allah (Anugerah Khusus), mereka pula yang dibenarkan Allah. Ini penting guna penafsiran yang konsisten untuk mengenali panggilan (Anugerah Khusus) dan pembenaran yang diterapkan serupa (yaitu bersifat pribadi, bukan kelompok).

<!–[if !supportLists]–>(9) <!–[endif]–>Anugerah khusus berasal dari kekekalan. Meskipun penerapan Anugerah Khusus terjadi dalam kerangka waktu, rancangannya ditentukan dalam kekekalan. Roma 9:11 menekankan bahwa rancangan dan keputusan Allah (Yun. προθεσις, prothesis) sajalah yang menetapkan sasaran anugerah‑Nya dalam kekekalan masa lalu. Sebelum Yakub dan Esau melakukan sesuatu yang baik atau jahat, Allah telah memilih Yakub dan membuang Esau untuk menyatakan anugerah‑Nya; hal itu tidak sama dengan tindakan manusia, melainkan sebagai hasil keputusan kekal, Allah yang berdaulat. Demikian pula, Roma 8:30 mengajarkan bahwa penerapan Anugerah Khusus adalah hasil yang telah ditetapkan terlebih dahulu mereka yang menjadi sasaran anugerah itu. Allah memanggil dengan Anugerah Khusus mereka yang sebelumnya telah Ia tetapkan.

 

<!–[if !supportLists]–>6.2.3. <!–[endif]–>Ketahanan Anugerah Khusus

 

Perlunya Anugerah Khusus ini menjadi nyata karena pertimbangan 4 (empat) faktor berikut:

 

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>Anugerah Khusus penting karena adanya dosa. Efs. 2:1 menyatakan kondisi orang yang belum diselamatkan, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran‑pelanggaran dan dosa‑dosamu.” Jika orang tidak percaya mati ia tidak dapat membuat prakarsa awal kepada Allah. Allahlah yang harus memulainya. Karena itu, Allah melalui anugerah‑Nya memanggil mereka yang mati dalam pelanggaran dan dosa.

<!–[if !supportLists]–>(2) <!–[endif]–>Anugerah Khusus ini efektif sebab Allah tidak pernah gagal. Dalam urutan yang mencakup mereka yang dipanggil Allah dalam Roma 8:29‑30, tidak satu pun yang hilang. Mereka yang dikenal Allah sebelumnya ditetapkan Allah, dipanggil, dibenarkan, dan dimuliakan. Allah tidak pernah kehilangan seorang pun dalam proses ini. Teksnya demikian jelas dalam menekankan, “Yang dipanggil‑Nya mereka juga yang dibenarkan‑Nya. Mereka yang dipanggil Allah oleh anugerah‑Nya juga dibenarkan‑Nya, yang menunjukkan bahwa Anugerah Khusus bersifat efektif dalam pribadi orang yang dipanggil Allah.

<!–[if !supportLists]–>(3) <!–[endif]–>Anugerah Khusus bersifat adil sebab Allah selalu adil. Dalam pembahasan panggilan Allah yang mutlak sesudah pembahasan Allah memanggil Yakub dan membuang Esau, Paulus menanyakan apa yang muncul di benak banyak orang. “Apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil?” (Roma 9:14). Paulus menjawab dengan pernyataan negatif sekuat mungkin, “Mustahil” Meskipun pikiran manusia yang terbatas tidak dapat memahami tindakan kedaulatan Allah, namun Allah adil dalam semua tindakan‑Nya.

<!–[if !supportLists]–>(4) <!–[endif]–>Anugerah ini adil karena manusia harus percaya. Fakta bahwa Allah memberikan Anugerah Khusus tidak meniadakan tanggung jawab manusia untuk percaya. Banyak ayat Kitab Suci menekankan pentingnya percaya (bdk. Yoh. 3:16,18,36; 5:24). Secara khusus Yoh. 3:16,18 menekankan bahwa manusia binasa karena ia berkehendak untuk menolak percaya akan Injil, bukan karena ia tidak menerima Anugerah Khusus.

 

<!–[if !supportLists]–>6.3. <!–[endif]–>Penolakan atas Anugerah Khusus

 

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>Tanggung jawab tidak dipentingkan. Jelas bahwa jika manusia mati dalam dosa dan Allah harus menyatakan Anugerah Khusus untuk menyelamatkan seseorang, maka tanggung jawab manusia tidak penting. Namun, masalahnya berhubungan dengan ketidakmampuan manusia untuk memahami sepenuhnya karya Allah dan tanggapan manusia dalam keselamatan. Meskipun benar bahwa Allah harus memprakarsai tindakan dan bahwa manusia tidak dapat diselamatkan terlepas dari Anugerah Khusus Allah, kebenaran ini tidak meniadakan manusia dari tanggung jawabnya. Jawaban ini diperoleh dalam memahami bahwa ini adalah salah satu dari sekian antinomi (paradoks ‑ hal‑hal yang bertentangan) dalam Kitab Suci. Banyaknya ayat Kitab Suci memerintahkan orang untuk percaya merupakan bukti yang cukup untuk menunjukkan bahwa manusia tetap harus bertanggung jawab (bdk. Yoh. 3:18,36; 6:37; Kisah 16:31, dsb.).

<!–[if !supportLists]–>(2) <!–[endif]–>Itu tidak adil. Roma 9:14 menyatakan bahwa manusia tidak dapat ada ketidak‑adilan pada Allah. Manusia tidak boleh memandang keliru pekerjaan Allah, karena bagaimana pun juga Allah itu adil. Satu hal lagi yang perlu dicatat. Allah tidak berhutang apa pun kepada siapa pun. Jika Ia memilih untuk menyatakan anugerah-Nya kepada beberapa orang dan tidak kepada yang lain, itu bukan tidak adil, sebab Ia tidak berhutang apa pun kepada siapa pun; selanjutnya, semua orang atas kemauannya sendiri kembali pada Allah. Jika Ia memutuskan untuk tidak menyatakan anugerah‑Nya kepada semua orang itu bukan tidak adil karena semuanya sudah menolak Dia sebagai tindakan kehendak (Roma 3:11‑12).

 

<!–[if !supportLists]–>7. <!–[endif]–>Regenerasi (Kelahiran Kembali)

 

<!–[if !supportLists]–>7.1. <!–[endif]–>Definisi Regenerasi

 

Kata “regenerasi” (Yun. παλιγγενεσια, paliggenesia) muncul hanya dua kali dalam PB. Pertama, digunakan secara eskatologis, “Tentang pembaharuan dunia pada waktu Mesias” (Mat. 19:28), dan penggunaan kedua adalah “kelahiran kembali orang tebusan “(Titus 3:5). Regenerasi bisa dibedakan dari pertobatan. Pertobatan berkenaan dengan tanggapan umat manusia terhadap tawaran keselamatan dan pendekatan Allah kepada manusia. Regenerasi adalah sisi lain pertobatan. Itu merupakan karya Allah. Dalam regenerasi jiwa bersikap pasif; dalam pertobatan, bersikap aktif. Regenerasi dapat didefinisikan sebagai “komunikasi kehidupan allahi kepada jiwa … sebagai bagian ciptaan baru … atau hati … dan hasil dari ciptaan baru.”

Secara ringkas dikatakan, meregenerasi artinya “memasukkan kehidupan”. Regenerasi adalah tindakan dimana Allah memasukkan kehidupan kepada siapa yang percaya.

 

<!–[if !supportLists]–>7.2. <!–[endif]–>Pandangan Alkitab

 

Dua ayat dasar Kitab Suci membahas regenerasi sebagai sesuatu yang memasukkan kehidupan baru kepada orang percaya. Yoh. 3:3 (meskipun tidak menggunakan kata “regenerasi”) menyatakan regenerasi sebagai suatu “kelahiran baru”. Kata Yunani yang diterjemahkan dengan “baru” adalah ανοθεν, anothen dan dapat diterjemahkan “dari atas”.

Dengan kata lain, kelahiran kedua adalah kelahiran dari atas, dari Allah. Kelahiran baru adalah kelahiran rohani yang kontras dengan kelahiran pertama sebagai kelahiran jasmani. Dalam kelahiran rohani Roh Kudus meregenerasi manusia; Ia adalah Pelaku regenerasi. Dalam Yoh. 3:5 istilah “dilahirkan” bersifat pasif, yang menunjukkan bahwa hal itu dikerjakan atas manusia, bukan oleh manusia. Manusia tidak menghasilkan regenerasi; Roh Kuduslah yang menghasilkannya.

Titus 3:5 adalah ayat lain,dirnana regenerasi dijelaskan. Dalam ayat ini regenerasi dikaitkan dengan dua hal: permandian dan pembaharuan oleh Roh Kudus. Perlu dicatat bahwa baik dalam Yoh. 3:5 dan Titus 3:5 dua unsur disebutkan: air dan Roh Kudus. Hal itu bisa dipahami dimana air merupakan simbol firman Allah (bdk. Efs. 5:26). Yang lain menghubungkan air dengan Roh Kudus untuk membersihkan seperti dalam Yeh. 36:25‑27. Dalam kasus ini air dapat dikaitkan dengan permandian yang datang melalui pertobatan. Berikut diberikan kontras antara kelahiran pertama dan kedua.

 

KONTRAS KEDUA KELAHIRAN

 

Kelahiran Pertama

Kelahiran Kedua

Asal

Dari orang tua yang berdosa

Dari Allah

Sarana

Dari benih yang akan binasa

Dari benih yang tidak dapat binasa

Hakikat

Dari daging – duniawi

Dari Roh – rohani

Realitas

Hamba setan

Manusia Kristus yang bebas

Posisi

Sasaran murka Allah

Sasaran kasih Allah

 

<!–[if !supportLists]–>7.3. <!–[endif]–>Penjelasan Regenerasi

 

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>Secara Instan ‑ Seperti halnya seorang bayi lahir seketika dalam kelahiran jasmani, demikian pula kelahiran rohani terjadi secara instan ketika Roh Kudus memberikan kehidupan baru.

<!–[if !supportLists]–>(2) <!–[endif]–>Bukan Hasil Pengalaman Manusia ‑ Dengan kata lain, regenerasi bukan sesuatu yang dilakukan seseorang, melainkan sesuatu yang dilakukan kepada seseorang. Pengalaman bisa muncul dari regenerasi, tetapi pengalaman itu sendiri bukan penyebab regenerasi.

<!–[if !supportLists]–>(3) <!–[endif]–>Bukan Didasarkan pada Kehendak Manusia ‑ Yoh.. 1:13 menyatakan kelahiran baru bukan diakibatkan oleh kehendak manusia. Regenerasi merupakan karya Allah, bukan kerja sama kehendak Allah dan manusia. Namun, tidak berarti bahwa iman tidak penting dalam keselamatan. Dapat dikatakan bahwa meskipun regenerasi dan iman berbeda, keduanya terjadi serentak. Keduanya berdampingan dalam Yoh. 1:12‑13. Dalam Yoh. 1:12, pada saat menerima Kristus (percaya), seseorang menjadi anak Allah; dalam Yoh. 1: 13 dinyatakan bahwa pada saat itu orang tersebut lahir dari Allah. Tentu di sini ada rahasia yang melampaui akal budi manusia.

 

<!–[if !supportLists]–>7.4. <!–[endif]–>Hasil Regenerasi

 

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>Suatu Ciptaan Baru ‑ Hasil regenerasi adalah masuknya “hakikat allahi” (2 Pet. 1:4). Orang percaya telah menerima suatu “diri yang baru” (Efs. 4:24), suatu kemampuan untuk hidup benar. Ia adalah suatu “ciptaan baru” (2 Kor. 5:17).

<!–[if !supportLists]–>(2) <!–[endif]–>Suatu Kehidupan Baru ‑ Orang percaya telah menerima akal budi baru (1 Kor. 2:16) hingga ia bisa mengenal Allah; suatu hati baru (Roma 5:5) hingga ia bisa mengasihi Allah (1 Yoh. 4:9); dan suatu kehendak baru (Roma 6:13) hingga ia bisa menaati Allah.

 

<!–[if !supportLists]–>8. <!–[endif]–>Jaminan Kekal

 

Ada dua pandangan yang berbeda tentang Jaminan Kekal orang percaya. Kaum Arminian berkata bahwa manusia telah menerima keselamatannya sebagai tindakan dari kehendaknya dan ia bisa memandang keselamatannya sebagai karya kehendak atau melalui dosa‑dosa khusus. Kaum Calvinis berkata bahwa orang percaya yang sejati akan tekun pada imannya. Doktrin ini juga disebut “Ketekunan Orang‑orang Kudus”, yang bukan merupakan tema yang seharusnya, karena menekankan ketekunan dari pada kemampuan Allah melindungi orang percaya. Tema yang lebih baik adalah “Ketekunan Tuhan”.

Doktrin ini tidak mengatakan bahwa orang percaya tidak akan pernah murtad atau berdosa. Namun maksudnya, adalah bahwa ketika seseorang percaya kepada Kristus secara asali sebagai Juruselamatnya dari dosa, ia sepenuhnya dijamin oleh Allah oleh kekuatan pemeliharaan‑Nya.

Dasar Jaminan Kekal keselamatan ini tidak terletak pada manusia, melainkan pada Allah. Jaminan orang percaya didasarkan pada karya Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

 

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>Karya Jaminan Bapa ‑ Orang‑orang percaya terjamin karena Bapa telah memilih mereka kepada keselamatan dari kekekalan masa lalu (Efs. 1:4). Bapa menetapkan sejak semula orang‑orang percaya untuk memiliki status ke‑anak‑an dalam Kristus (Efs. 1:5). Bapa memiliki kuasa untuk menjaga orang percaya terjamin dalam keselamatannya (Roma 8:28‑30). Mereka yang dikenal Bapa, ditetapkan, dipanggil, dan dibenarkan, adalah mereka yang sama yang Ia muliakan di masa depan. Tidak satu pun hilang dalam proses ini. Kasih Bapa bagi orang percaya juga menjamin keamanan mereka (Roma 5:7‑10).

<!–[if !supportLists]–>(2) <!–[endif]–>Karya Jaminan Anak ‑ Anak telah menebus orang percaya (Efs. 1:7), memindahkan murka Allah dari orang percaya (Roma 3:25), membenarkan orang percaya (Roma 5:1), memberikan pengampunan (Kol. 2:13), dan menguduskan orang percaya (1 Kor. 1:2). Selanjutnya, Kristus berdoa bagi orang percaya untuk tinggal bersama‑Nya (Yoh. 17:24); Ia. terus menjadi Pengantara mereka di sebelah kanan Bapa (1 Yoh. 2:1); dan Ia terus menaikkan doa syafaat sebagai Imam Besar orang percaya (Ibr. 7:25). Jika seorang percaya dapat hilang itu berarti Kristus tidak efektif dalam. karya-Nya sebagai Pengantara orang percaya.

<!–[if !supportLists]–>(3) <!–[endif]–>Karya Jaminan Roh Kudus ‑ Roh Kudus meregenerasi orang percaya, memberinya kehidupan (Titus 3:5); Roh Kudus tinggal di dalam hati orang percaya selamanya (Yoh. 14:17); Ia telah memeteraikan orang percaya pada hari penebusan (Efs. 4:30), meterai sebagai pembayaran awal, memberikan jaminan warisan masa depan kita; orang percaya dibaptis ke dalam. kesatuan dengan Kristus dan ke dalam Tubuh Kristus (1 Kor. 12:13).

 

Bagi orang percaya kehilangan keselamatan menuntut suatu pembalikan dan pembatalan semua karya Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Hal kunci dalam pembahasan jaminan orang percaya berkaitan dengan hal siapa yang menyelamatkan. Jika seseorang bertanggung jawab untuk menjamin keselamatannya, maka ia bisa terhilang; jika Allah menjamin keselamatan orang percaya, maka orang itu akan selamanya terjamin.

Jaminan kekal orang percaya oleh anugerah Allah adalah rencana keselamatan Allah yang lengkap dan penuh kemuliaan.

 

 

 

 

 

 

——— 000000000 ———

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: