BIBLEMORE

PNEUMATOLOGY

  merpati roh kudus

1.     Kepribadian Roh Kudus

 

Sebelum kita benar‑benar memahami karya Roh Kudus, pertama‑tama harus mengenal pribadi Roh Kudus itu sendiri. Sering terjadinya kesalahan dan fanatisme tentang karya Roh Kudus disebabkan oleh keinginan mempelajari karya Roh Kudus tanpa terlebih dahulu mengenal pribadi‑Nya. Beberapa alasan mengapa kita harus terlebih dahulu mengenal pribadi Roh Kudus:

 

<!–[if !supportLists]–>(1)   <!–[endif]–>Dari sisi penyembahan ‑ pengenalan akan pribadi Roh Kudus merupakan pijakan utama penyembahan, yaitu apakah Ia adalah pribadi ilahi yang layak menerima pengagungan, iman, kasih, dan penyerahan diri kita secara total kepada‑Nya, atau apakah Ia sekedar suatu pengaruh atau kuasa yang keluar dari Allah bagi kita. Jika Roh Kudus adalah suatu pribadi, dan adalah pribadi ilahi, dan kita tidak mengenal‑Nya sebagaimana adanya, maka penyembahan, iman, kasih, dan penyerahan diri kita sama sekali tidak mengena.

<!–[if !supportLists]–>(2)   <!–[endif]–>Dari sisi kehidupan praktis ‑ pengenalan akan pribadi Roh Kudus akan menentukan apakah kita “memakai” Roh Kudus terus sebagai kuasa yang ajaib dan misterius, guna menolong segala kelemahan kita; ataukah sebaliknya, Ia adalah pribadi nyata dengan kekudusan, hikmat, kuasa, dan kelemahlembutan‑Nya tak terbatas memegang dan memakai kita. Jika kita memandang Roh Kudus hanya sebagai suatu kuasa atau pengaruh, maka kita bisa berkata, “Bagaimana saya memperoleh Roh Kudus lebih banyak lagi”, dan ini mengakibatkan munculnya kebanggaan dan kepuasan diri sendiri. Tetapi jika kita memandang‑Nya sebagai yang Alkitab katakan, yaitu sebagai pribadi ilahi, maka kita akan berkata, “Bagaimana Roh Kudus memperoleh lebih banyak lagi dari hidup saya.” Dengan demikian kita akan makin rendah hati dan bersyukur karena Ia yang mahadahsyat mau memakai kehidupan kita.

<!–[if !supportLists]–>(3)   <!–[endif]–>Dari sisi pengalaman ‑ begitu banyak kesaksian dari orang‑orang percaya yang bersyukur karena mengenal pribadi Roh Kudus dalam pengalaman hidup mereka, yaitu sebagai Sahabat yang setia, Penolong yang dahsyat, yang bukan hanya berada di sisi mereka, melainkan dalam hati mereka setiap waktu, yang siap menolong dalam situasi kritis apa pun.

 

Dalam Sejarah Gereja, seorang bernama Arius menolak kepribadian Roh Kudus. Ia menyatakan bahwa Roh Kudus hanyalah suatu pengaruh yang memancar dari Bapa. Ia memperoleh sanksi dalam Konsili Nicea tahun 325 AD. Pengajarannya sekarang dilanjutkan oleh aliran Unitarianisme dan bidat‑bidat, termasuk Saksi yehovah.

Paling tidak ada 4 (empat) deretan bukti bahwa Roh Kudus adalah suatu Pribadi, yaitu:

 

<!–[if !supportLists]–>1.1.            <!–[endif]–>Semua sifat‑sifat kepribadian dikenakan kepada Roh Kudus

 

<!–[if !supportLists]–>(a)    <!–[endif]–>Pikiran ‑ Roh Kudus bukan hanya sekedar suatu pengaruh yang menerangi pikiran kita agar memahami kebenaran, tetapi suatu pribadi yang mengenal kebenaran itu sendiri (1 Kor. 2: 10‑11).

<!–[if !supportLists]–>(b)   <!–[endif]–>Perasaan ‑ Roh Kudus memiliki kasih. Kasih Bapa yang memelihara kita, kasih Yesus Kristus yang menebus kita dengan darah-Nya, dan kasih Roh Kudus yang menegur kita jika kita berdosa, dan yang memimpin kita setiap hari untuk hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan dan firman‑Nya (Roma 15:30). Roh Kudus juga bisa didukakan jika pikiran, perkataan, dan perbuatan kita tidak berkenan kepada Allah (Efs. 4:30).

<!–[if !supportLists]–>(c)    <!–[endif]–>Kehendak ‑ Roh Kudus memiliki kehendak yang berdaulat penuh, misalnya dalam mengatur karunia‑karunia (1 Kor. 12:11). Dialah yang memakai kehidupan orang percaya sesuai kehendak‑Nya.

 

<!–[if !supportLists]–>1.2.            <!–[endif]–>Semua tindakan‑tindakan yang dilakukan seorang pribadi dikenakan kepada Roh Kudus

 

<!–[if !supportLists]–>(a)    <!–[endif]–>menyelidiki hal‑hal yang tersembunyi dalam diri Allah (1 Kor. 2:10)

<!–[if !supportLists]–>(b)   <!–[endif]–>berbicara atau menyampaikan perkataan dan teguran (Why. 2:7)

<!–[if !supportLists]–>(c)    <!–[endif]–>berseru dari dalam hati orang percaya, “Abba, ya Bapa” (Roma 8:16)

<!–[if !supportLists]–>(d)   <!–[endif]–>membantu orang percaya dalam memanjatkan doa yang penuh kuasa (Roma 8:26)

<!–[if !supportLists]–>(e)    <!–[endif]–>memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus (Yoh. 15:26)

<!–[if !supportLists]–>(f)     <!–[endif]–>menginsyafkan manusia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman (Yoh. 16:8)

<!–[if !supportLists]–>(g)    <!–[endif]–>mengajar segala perintah Kristus bagi orang percaya dan memimpin kepada seluruh kebenaran (Yoh. 14:26; 16:12‑14)

<!–[if !supportLists]–>(h)    <!–[endif]–>memimpin orang percaya untuk menjadi pelaku firman Allah (Roma 8:14)

<!–[if !supportLists]–>(i)      <!–[endif]–>menyuruh dan melarang para rasul (Kisah 16:6,7)

<!–[if !supportLists]–>(j)     <!–[endif]–>memanggil dan mengangkat (Kisah 13:2; 20:28)

 

<!–[if !supportLists]–>1.3.            <!–[endif]–>Suatu jabatan kepribadian dikenakan kepada Roh Kudus

 

Roh Kudus disebut sebagai Penolong atau Penghibur, yaitu berada di dalam dan sisi setiap orang percaya untuk membimbing dan mengarahkan (Yun. paraklhtoV, parakletos) ‑ Yoh. 14:16,17

 

<!–[if !supportLists]–>1.4.            <!–[endif]–>Suatu perlakuan terhadap seorang pribadi dikenakan kepada Roh Kudus

 

<!–[if !supportLists]–>(a)    <!–[endif]–>ada orang‑orang yang memberontak dan mendukakan Roh Kudus (Yes. 63:10, bdk. Efs. 4:30); ada pula yang menghina Roh kasih karunia ini (Ibr. 10:29); ada pula yang menentang atau menghambat Roh Kudus (Kisah 7:51)

<!–[if !supportLists]–>(b)   <!–[endif]–>ada orang‑orang yang menipu Roh Kudus, seperti halnya Ananias dan Safira (Kisah 5:3)

<!–[if !supportLists]–>(c)    <!–[endif]–>ada pula yang menghujat Roh Kudus; ini merupakan dosa yang tak terampunkan (Mat. 12:31,32)

<!–[if !supportLists]–>(d)   <!–[endif]–>sebaliknya, banyak orang percaya yang menaati Roh Kudus, misalnya ketika Rasul Petrus melayani Kornelius (Kisah 10)

 

<!–[if !supportLists]–>2.      <!–[endif]–>Keilahian Roh Kudus

 

<!–[if !supportLists]–>2.1.            <!–[endif]–>Gelar keilahian dikenakan kepada Roh Kudus

 

Sebutan Roh Allah membuktikan hubungan‑Nya dengan Bapa dan Anak dan juga keilahian‑Nya (1 Kor. 2: 11). Penggunaan padanan kata “Roh” dan “Roh Allah” dalam Roma 8:9, 13‑14 dan padanan kata “Roh Kudus” dan “Roh Yesus” dalam Kisah 16:6‑7 menyatakan keilahian Roh Kudus.

 

<!–[if !supportLists]–>2.2.            <!–[endif]–>Sifat‑sifat keilahian dikenakan kepada Roh Kudus

 

<!–[if !supportLists]–>(a)    <!–[endif]–>Kehidupan (Roma 8:2), yaitu memiliki kehidupan di dalam diri­-Nya (bdk. Yosua 3: 10; Yoh. 1:4; 14:6; 1 Tim. 3:15)

<!–[if !supportLists]–>(b)   <!–[endif]–>Mahatahu (1 Kor. 2:10‑12)

<!–[if !supportLists]–>(c)    <!–[endif]–>Mahakuasa, yang nampak dalam karya Penciptaan (Ayub 33:4; Luk. 1:35)

<!–[if !supportLists]–>(d)   <!–[endif]–>Mahahadir (Maz. 139:7‑10; Yoh. 14:17)

<!–[if !supportLists]–>(e)    <!–[endif]–>Kekekalan (Ibr. 9:14)

<!–[if !supportLists]–>(f)     <!–[endif]–>Kekudusan (bdk. Mat. 12:32)

<!–[if !supportLists]–>(g)    <!–[endif]–>Kasih (Gal. 5:22)

<!–[if !supportLists]–>(h)    <!–[endif]–>Kebenaran (Yoh. 14:17)

 

Sifat-sifat Allah Tritunggal

Sifat

Bapa

Anak

Roh Kudus

Kehidupan

Yosua 3: 10

Yoh. 1:4

Roma 8:2

Mahatahu

Maz. 139:1-6

Yoh. 4:17-18

1 Kor. 2:10-12

Mahakuasa

Kej. 1: 1

Yoh. 1:3

Ayub 33:4

Mahahadir

Yer. 23:23-24

Mat. 28:20

Maz. 139:7-10

Kekal

Maz. 90:2

Yoh. 1:1

Ibr. 9:14

Kekudusan

Im. 11:44

Kisah 3:14

Mat. 12:32

Kasih

I Yoh. 4:8

Roma 8:37-39

Gal. 5:22

Kebenaran

Yoh. 3:33

Yoh. 14:6

Yoh. 14:17

 

<!–[if !supportLists]–>2.3.            <!–[endif]–>Karya‑karya Allah dikenakan kepada Roh Kudus

 

<!–[if !supportLists]–>(a)    <!–[endif]–>Penciptaan (Kej. 1:2; Maz. 104:24‑26,30; Ayub 26:13)

<!–[if !supportLists]–>(b)   <!–[endif]–>Kehamilan Maria oleh Roh Kudus hingga melahirkan Yesus Kris­tus (Mat. 1:20)

<!–[if !supportLists]–>(c)    <!–[endif]–>Pengilhaman Kitab Suci (2 Pet. 1:21)

<!–[if !supportLists]–>(d)   <!–[endif]–>Regenerasi/Kelahiran Kembali (Titus 3:5)

<!–[if !supportLists]–>(e)    <!–[endif]–>Jurusyafaat (Roma 8:26)

<!–[if !supportLists]–>(f)     <!–[endif]–>Pengudusan (2 Tes. 2:13)

<!–[if !supportLists]–>(g)    <!–[endif]–>Menolong orang‑orang kudus (Yoh. 14:16)

 

<!–[if !supportLists]–>3.      <!–[endif]–>Nama‑nama Roh Kudus

 

Inilah nama‑nama yang dikenakan kepada Roh Kudus dalam Alkitab:

 

<!–[if !supportLists]–>(1)   <!–[endif]–>Roh, yang dapat diartikan “nafas” atau “angin” (Kej. 2:7; Ayub 33:4; Maz. 104:30; Yoh. 20:22)

<!–[if !supportLists]–>(2)   <!–[endif]–>Roh Allah ‑ 1 Kor. 3:16

<!–[if !supportLists]–>(3)   <!–[endif]–>Roh Yehovah ‑ Yes. 11:2 (ASV)

<!–[if !supportLists]–>(4)   <!–[endif]–>Roh Tuhan Yehovah ‑ Yes. 61:1‑3 (ASV)

<!–[if !supportLists]–>(5)   <!–[endif]–>Roh Allah yang hidup ‑ 2 Kor. 3:3

<!–[if !supportLists]–>(6)   <!–[endif]–>Roh Kristus ‑ Roma 8:9

<!–[if !supportLists]–>(7)   <!–[endif]–>Roh Yesus Kristus ‑ Fil. 1: 19

<!–[if !supportLists]–>(8)   <!–[endif]–>Roh Yesus ‑ Kisah 16:6,7 (RV)

<!–[if !supportLists]–>(9)   <!–[endif]–>Roh Anak‑Nya ‑ Gal. 4:6

<!–[if !supportLists]–>(10)           <!–[endif]–>Roh Kudus ‑ Luk. 11:13

<!–[if !supportLists]–>(11)           <!–[endif]–>Roh Kudus Perjanjian ‑ Efs. 1: 13 (RV)

<!–[if !supportLists]–>(12)           <!–[endif]–>Roh Kekudusan ‑ Roma 1:4

<!–[if !supportLists]–>(13)           <!–[endif]–>Roh Yang Mengadili ‑Yes. 4:4

<!–[if !supportLists]–>(14)           <!–[endif]–>Roh Yang Membakar ‑ Yes. 4:3,4

<!–[if !supportLists]–>(15)           <!–[endif]–>Roh Kebenaran ‑ Yoh. 14:17

<!–[if !supportLists]–>(16)           <!–[endif]–>Roh Hikmat dan Pengertian ‑ Yes ‑ 11: 2

<!–[if !supportLists]–>(17)           <!–[endif]–>Roh Nasihat dan Keperkasaan ‑ Yes. 11:2

<!–[if !supportLists]–>(18)           <!–[endif]–>Roh Pengetahuan dan Takut akan Tuhan ‑ Yes. 11:2

<!–[if !supportLists]–>(19)           <!–[endif]–>Roh Kehidupan ‑ Roma 8:2

<!–[if !supportLists]–>(20)           <!–[endif]–>Minyak Kesukaan ‑ Ibr. 1:9

<!–[if !supportLists]–>(21)           <!–[endif]–>Roh Kasih Karunia ‑ Ibr. 10:29

<!–[if !supportLists]–>(22)           <!–[endif]–>Roh Pengasihan dan Roh Permohonan – Zakh. 12:10 (RV)

<!–[if !supportLists]–>(23)           <!–[endif]–>Roh Kemuliaan ‑ 1 Pet. 4:14

<!–[if !supportLists]–>(24)           <!–[endif]–>Roh Yang Kekal ‑ Ibr. 9:14

<!–[if !supportLists]–>(25)           <!–[endif]–>Penghibur ‑ Yoh. 14:26

 

<!–[if !supportLists]–>4.      <!–[endif]–>Simbol‑simbol Roh Kudus

 

Pelbagai karya Roh Kudus yang begitu dahsyat bisa dipahami pula dari pelbagai simbol yang dikenakan kepada-Nya oleh Alkitab.                                                                                                                       

 

<!–[if !supportLists]–>4.1.            <!–[endif]–>Pakaian ‑ Luk. 24:49

 

<!–[if !supportLists]–>4.2.            <!–[endif]–>Minyak

 

Kesembuhan ‑ Urapan ‑ Penerangan ‑ Makanan ‑ Kuasa Pelumasan. Yes. 61:1, Yak. 5:14, 1 Sam. 16:13, Ibr. 1:9 ‑ minyak kesukaan. Minyak dipakai untuk menyembuhkan dan menyatakan kesembuhan seseorang, menghibur, menyucikan, dan pengabdian diri.

Di dalam Im. 2:1‑16 disebutkan bahwa korban sajian merupakan korban kedua, tidak ada darah, hanya tepung yang paling halus ditambah minyak. Hal ini adalah lambang dari kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus yang sempurna. Minyak menggambarkan semua kesempurnaan karena pekerjaan Roh Kudus yang diwujudkan dalam relasi Tuhan Yesus dengan Roh Kudus.

Im. 14:1‑57 menyatakan bahwa orang‑orang berpenyakit kusta dikucilkan dan tinggal di luar kota, serta diperlakukan seperti orang mati, karena penyakit kusta seperti dosa yang membawa kematian. Apabila orang yang berpenyakit kusta sembuh harus mengalami pemutihan melalui penahiran para imam.

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Telinga diminyaki supaya suci untuk dapat terbuka mendengarkan suara Tuhan.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Ibu jari tangan dan kaki diminyaki supaya suci, sehingga dapat mengerjakan pekerjaan Tuhan.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Kepala diminyaki agar suci untuk dapat mengarahkan manusia berdosa tersebut menjadi manusia baru.

 

Minyak adalah lambang bahwa tanpa Roh Kudus semua tidak dapat terjadi, Roh Kudus yang mengerjakan pembaruan tersebut.

Samuel mengurapi Saul dengan minyak sebelum menjadi raja (1 Sam. 9:1‑17). Setiap orang yang akan menjadi raja untuk memerintah diurapi dengan minyak, yang merupakan lambang pemberian kuasa. Pengurapan Roh Kudus berarti kita diberi kuasa dan kemampuan untuk melakukan tugas sebagai pemimpin. Hal ini dapat diperoleh bila ada ketergantungan kepada Allah.

Domba‑domba banyak dihinggapi lalat dan tidak dapat melepaskan diri dari serangan lalat‑lalat tersebut, sehingga kepalanya harus diminyaki supaya bebas dari lalat itu (Maz. 23:5). Sama seperti manusia yang selalu mendapat serangan‑serangan dari lawan, sehingga manusia memerlukan Roh Kudus supaya mampu bertahan dan bebas dari serangan‑serangan tersebut. Kemampuan yang diberikan untuk bertahan dan bebas terhadap serangan-serangan tersebut adalah besar sekali.

 

<!–[if !supportLists]–>4.3.            <!–[endif]–>Air

 

Air mempunyai banyak fungsi, antara lain:

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Memberi hidup

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Menyegarkan

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Memuaskan kehausan

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Membersihkan

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Memungkinkan bumi mengeluarkan buah

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Memandikan (Efs. 5:25‑27)

 

<!–[if !supportLists]–>1.      <!–[endif]–>Kel. 17:6 menyatakan bahwa “air” keluar dari “Batu” itu.

<!–[if !supportLists]–>2.      <!–[endif]–>Why. 22:17 ‑‑ air kehidupan,

<!–[if !supportLists]–>3.      <!–[endif]–>Why. 7:17, 22:1, Yes. 55:1, Yoh. 4:14, sebagai sungai, sebagai mata air, sebagai hujan, selalu bergerak hidup, yaitu air hidup.

<!–[if !supportLists]–>4.      <!–[endif]–>Yak. 5:17 ‑‑ air sebagai hujan (awal dan akhir), Maz. 72:6, Yes. 44:3

<!–[if !supportLists]–>5.      <!–[endif]–>Para imam harus selalu. mempunyai air karena tangan mereka tidak boleh kotor, sehingga mereka harus selalu mencuci tangan sebelum memberikan pelayanan (Kel. 29:4, Im. 8:6). Inilah karya Roh Kudus yang menyucikan hati nurani dari perbuatan‑perbuatan yang sia‑sia (Ibr. 9:14)

 

<!–[if !supportLists]–>4.4.            <!–[endif]–>Api

 

Menerangi – menghangatkan – menghanguskan – menyucikan – kuasa dan semangat.

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Dalam PL beberapa kali lambang api disebutkan, misalnya:

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Api untuk membakar korban persembahan bangsa Israel.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Tiang api yang memimpin bangsa Israel di padang gurun, melambangkan kehadiran Allah (Kel. 13:21).

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Nabi Elia membakar korban persembahan di hadapan nabi‑nabi palsu dan api turun membakar korban persembahannya (1 Raja 18:20‑40), melambangkan kehadiran Roh Kudus.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Di dalam bait Allah selalu ada api yang menyala, melambangkan kehadiran Allah.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Semak belukar menyala tetapi tidak terbakar (Kel. 3:2), api dari Allah memurnikan, tetapi tidak menghancurkan.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Allah seperti api tukang pemurni logam yang akan memurnikan dan menyucikan seperti memurnikan logam (Mal. 3:1‑3), yang melambangkan salah satu fungsi Roh Kudus dalam penyucian.

 

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Dalam PB lambang api disebutkan, antara lain:

 

Kisah 2:1‑4 menyatakan tentang turunnya lidah‑lidah seperti nyala api ke atas masing‑masing orang (120 orang ), yang berarti kehadiran Allah ada pada setiap orang. Hal ini juga membuat mereka bisa berkomunikasi dengan semua orang.

 

<!–[if !supportLists]–>c.       <!–[endif]–>Api menggambarkan:

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Gairah pelayanan

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Kesungguhan/kehangatan kasih

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Kerinduan dan kemampuan berdoa

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Kesungguhan kesaksian

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Pengadilan dan kuasa

 

<!–[if !supportLists]–>4.5.            <!–[endif]–>Angin

 

Arti kata Roh adalah “angin” atau “nafas”. Hal ini menunjukkan kuasa Roh Kudus yang tak kelihatan. Angin yang ajaib memberi hidup kepada bumi ini. Pneuma (Yun), atau ruah (Ibr) berarti angin, nafas, dan roh. Tulang-tulang yang berserakan dapat hidup kembali karena pekerjaan Roh Kudus (Yeh. 37:1‑10). Seperti sebuah gereja yang mati dapat dihidupkan kembali oleh karena pekerjaan Roh Kudus.

Simbol “angin” ini dalam Yoh. 3:8 menjelaskan beberapa hal penting:

 

<!–[if !supportLists]–>a)      <!–[endif]–>kedaulatan‑Nya ‑ Angin bertiup kemana ia mau …          

<!–[if !supportLists]–>b)      <!–[endif]–>kedahsyatan karya‑Nya, sekalipun tidak nampak mata ‑ … engkau mendengar bunyinya …

<!–[if !supportLists]–>c)      <!–[endif]–>kerahasiaan‑Nya ‑ … engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi…

<!–[if !supportLists]–>d)      <!–[endif]–>kepentingan‑Nya; Ia tidak bisa diabaikan begitu saja.

<!–[if !supportLists]–>e)      <!–[endif]–>karya‑Nya yang memberi kehidupan.

 

<!–[if !supportLists]–>4.6.            <!–[endif]–>Burung merpati

 

Damai ‑ kasih ‑ kesucian ‑ lemah lembut ‑ halus ‑ tulus ‑ setia ‑ merindukan rumah sendiri (Mat. 3:16, Mrk. 1:10, Luk. 3:22, Yoh. 1:32).

Nuh mengeluarkan burung merpati dari bahtera untuk melihat situasi di luar, dan burung tersebut kembali dengan membawa ranting berdaun hijau (Kej. 8:10‑11). Hal ini melambangkan berita damai dan pengharapan dari Roh Kudus.

Roh Allah turun seperti burung merpati melambangkan ketulusan, kesucian, dan kedamaian (Mat. 3:15‑17).

 

<!–[if !supportLists]–>4.7.            <!–[endif]–>Anggur

 

Menyegarkan, membangkitkan kekuatan, kesukaan, nyanyian, perbuatan yang luar biasa, melupakan kesusahan‑kesusahan (Kisah 2:13,15; Efs. 5:18).

 

<!–[if !supportLists]–>4.8.            <!–[endif]–>Jaminan ‑ 2 Kor. 1:22

 

<!–[if !supportLists]–>4.9.            <!–[endif]–>Meterai ‑ Efs. 1: 13; 4:30

 

<!–[if !supportLists]–>5.      <!–[endif]–>Karya‑karya Roh Kudus

 

<!–[if !supportLists]–>5.1.            <!–[endif]–>Di Zaman Perjanjian Lama

 

Beberapa karya Roh Kudus dalam Perjanjian Lama antara lain:

 

<!–[if !supportLists]–>1)      <!–[endif]–>Penciptaan ‑ Kej. 1:2, Ayub 33:4, Maz. 33:6, Ayub 26:13, Maz. 104:26‑30.

<!–[if !supportLists]–>2)      <!–[endif]–>Regenerasi ‑ Maz. 51:10; Yeh. 11: 19; 36:25‑27 (bdk. Yoh. 3:5)

<!–[if !supportLists]–>3)      <!–[endif]–>Mendiami kehidupan orang‑orang tertentu secara selektif dan sementara ‑ Yosua (Bil. 27:18), Saul (1 Sam. 10:10; 16:14) dan Daud (1 Sam. 16:12‑13). Roh Kudus turun ke atas Otniel (Hak. 3:10), Gideon (Hak. 6:34), Yefta (Hak. 11:29), Samson (Hak. 14:6), Bileam (Bil. 24:2). Roh Kudus juga turun atas Bezaleel (Kel. 31:2-5).

<!–[if !supportLists]–>4)      <!–[endif]–>Menahan dosa (Kej. 6:3)

<!–[if !supportLists]–>5)      <!–[endif]–>Memberi kemampuan dalam pelbagai bentuk pelayanan, misalnya: Bezaleel (Kel. 31:2‑5; 35:30‑35), Hiram (1 Taw. 7:14), Raja Saul (1 Sam 10:10), Raja Daud (1 Sam 16:13).

 

<!–[if !supportLists]–>5.2.            <!–[endif]–>Di Dalam Kehidupan Yesus Kristus

 

Nabi Yesaya telah menubuatkan bahwa Roh Kudus akan datang kepada Mesias (Yes. 42:1), memberi‑Nya hikmat, kekuatan, dan pengetahuan dalam pelayanan‑Nya (Yes. 11:2‑3). Inilah karya Roh Kudus dalam kehidupan Yesus Kristus.

 

<!–[if !supportLists]–>1)      <!–[endif]–>Dalam proses kelahiran Yesus Kristus dari anak dara Maria – Mat. 1:20

<!–[if !supportLists]–>2)      <!–[endif]–>Dalam kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus: Ia mengurapi Kristus (Luk. 4:18). Makna pengurapan tersebut adalah:

 

<!–[if !supportLists]–>a)      <!–[endif]–>Menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias dan Raja atas Israel (bdk. 1 Sam. 16:6‑13)

<!–[if !supportLists]–>b)      <!–[endif]–>Memperkenalkan Kristus dalam pelayanan‑Nya kepada orang banyak (Kisah 10:38)

<!–[if !supportLists]–>c)      <!–[endif]–>Memberi kuasa bagi pelayanan‑Nya (Luk. 4:18)

<!–[if !supportLists]–>d)      <!–[endif]–>Pengesahan ilahi atas pelayanan Kristus (Mat. 3:17)

 

<!–[if !supportLists]–>3)      <!–[endif]–>Roh Kudus memenuhi Yesus Kristus secara terus menerus (Luk. 4:1)

<!–[if !supportLists]–>4)      <!–[endif]–>Roh Kudus memimpin Yesus Kristus ‑ Sang Hamba ‑ ke Golgota untuk menanggung dosa seisi dunia. (Ibr. 9:14, bdk. Yes. 52:13­-53:12)

<!–[if !supportLists]–>5)      <!–[endif]–>Roh Kudus membangkitkan Kristus (Roma 8:11), sekalipun Bapa juga membangkitkan‑Nya (Efs. 1:19‑20; Maz. 16:10), dan Yesus sendiri memiliki kuasa untuk membangkitkan diri‑Nya (Yoh. 10:18).

<!–[if !supportLists]–>6)      <!–[endif]–>Roh Kudus memimpin Kristus untuk memberikan perintah kepada murid‑murid‑Nya (Kisah 1:2)

 

<!–[if !supportLists]–>5.3.            <!–[endif]–>Di Zaman Perjanjian Baru

 

<!–[if !supportLists]–>1)      <!–[endif]–>Membaptis dan memenuhi 120 murid di Hari Pentakosta (Kisah 2:1)

<!–[if !supportLists]–>2)      <!–[endif]–>Memimpin dan mengutus para rasul (Kisah 13:4)

<!–[if !supportLists]–>3)      <!–[endif]–>Menegur gereja‑Nya (Why 2‑3)

 

<!–[if !supportLists]–>5.4.            <!–[endif]–>Di Masa Kini

 

Di masa kini Roh Kudus terus bekerja, dan karya‑karya‑Nya dapat digolongkan ke dalam 4 (empat) kelompok besar:

 

<!–[if !supportLists]–>1)      <!–[endif]–>Karya Evangelistis ‑ yaitu karya Roh Kudus dalam proses pemberitaan Injil, antara lain:

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>memberi kuasa kepada para saksi Kristus (Kisah 1:8);

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>bersama dengan para saksi memberi kesaksian tentang Yesus Kristus (Yoh. 15:26);

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>menginsyafkan orang yang diinjili akan dosa, kebenaran, dan penghakiman (Yoh. 16:8‑9);

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>melahirkan kembali sehingga menjadi ciptaan baru (2 Kor. 5:17).

 

<!–[if !supportLists]–>2)      <!–[endif]–>Karya Paedagogis ‑ yaitu karya Roh Kudus dalam mengajar, di mana Ia:

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>mengajarkan segala sesuatu, seperti: hal‑hal yang akan datang, Yesus Kristus (Yoh. 16:12; 1 Yoh. 2:20,27);

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>mengingatkan orang percaya akan firman Tuhan (Yoh. 14:26);

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>menyatakan hal‑hal yang tersembunyi dari manusia alamiah (1 Kor. 2:9‑13);

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>memampukan orang percaya untuk bisa menafsirkan firman Tuhan dengan benar atau memberikan penerangan (iluminasi) (1 Kor. 2:14);

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>memampukan orang percaya untuk mengkomunikasikan apa yang telah diajarkan (1 Kor. 2:1‑5).

 

<!–[if !supportLists]–>3)      <!–[endif]–>Karya Organis ‑ yaitu karya Roh Kudus dalam membentuk karakter hidup orang percaya, yaitu dengan memunculkan buah Roh dalam diri orang percaya (Gal. 5:22‑23).

<!–[if !supportLists]–>4)      <!–[endif]–>Karya Kharismatis ‑ yaitu karya Roh Kudus dalam melengkapi orang percaya bagi tugas pelayanan, yaitu dengan memberikan karunia‑karunia Roh (1 Kor. 12:11).

 

<!–[if !supportLists]–>6.      <!–[endif]–>Buah Roh

 

Buah adalah hasil dari suatu proses yang panjang. Bila suatu pohon berbuah, maka ada benih yang jatuh ke tanah dan mati di dalam tanah. Benih ini mengalami dekomposisi di sekelilingnya. Benih yang sudah mengalami dekomposisi akan menjadi suatu sel bibit yang bertumbuh terus, mengeluarkan batang, akar, daun, dan akhirnya menjadi suatu pohon yang akan menghasilkan buah lagi.

Buah adalah hasil dari kematian. Buah tidak akan ada tanpa kematian. Kita dapat berbuah bila terlebihd ahulu mengalami kematian (kematian dari manusia lama) serta mengalami proses pertumbuhan. Kita tidak pernah selesai untuk bertumbuh dan kita mengalami pertumbuhan seumur hidup. Akan tetapi tidak semua pohon menghasilkan buah yang baik. Seringkali buahnya sangat kurang, tidak memuaskan karena pertumbuhannya dihimpit (Luk. 8, Mat. 13).

Kita diharapkan untuk berbuah, tentang hal ini sangat banyak dibicarakan di dalam Alkitab. Bahkan, Tuhan Yesus mengutuki pohon ara yang tidak berbuah, padahal berdaun lebat dan bagus (Mrk. 11: 12‑14). Ini adalah lambang bangsa Israel yang memiliki begitu banyak peraturan agama, tetapi tidak berbuah. Tuhan Yesus mengutuki pohon itu dalam arti ketidaksetujuan Allah akan kehidupan yang tidak mencapai tujuan yang sebenarnya. Pohon itu hidup untuk berbuah, tetapi dia tidak berbuah.

 

<!–[if !supportLists]–>6.1.            <!–[endif]–>Kasih

 

Kasih (Yun. αγαπη, agape) adalah sikap hidup praktis yang positif di dalam dunia. Kasih adalah tidak sombong, tidak dengki, tidak iri hati, tidak dendam. Paulus menjelaskan tentang kasih di dalam 1 Kor. 13:1‑13 dan Roma 13:8‑10, kasih berarti jangan mencuri, jangan mengingini milik orang lain, dan lain‑lain. Hukum Allah mengajar kita tentang kasih dari sudut negatif. Misalnya, hukum Allah mengajar kita jangan membunuh, maka kasih adalah sikap kita yang tidak membunuh (ayat 3).

Kasih itu harus menjadi ciri khas hidup kita, sebab kalau tidak kuranglah kehidupan itu (1 Pet. 4:8). Agape adalah kasih yang tertinggi dan termulia yang terpancar dari salib. Kasih agape bukan emosi/perasaan tanpa perbuatan (Yoh. 3:16,18 ). Perbuatan itu dari kemauan, kemauan Yesus adalah melakukan kehendak Bapa, seluruh hidup yang diserahkan kepada Bapa untuk melakukan kehendak‑Nya. Buah kasih berarti seluruh keadaan hidup kita harus disesuaikan pada peran kasih.

 

<!–[if !supportLists]–>6.2.            <!–[endif]–>Sukacita

 

Sukacita (Yun. χαρα, chara) yang berasal dari Roh Kudus tidak dipengaruhi oleh situasi di sekitar kita dan tetap tinggal walaupun dalam keadaan hidup yang paling buruk sekalipun, serta tidak dapat dibendung oleh segala kesulitan dan tragedi yang teadi di dalam dunia. Dasar dari sukacita adalah kebenaran dan keadilan, yang merupakan jiwa yang bersih (Ibr. 1:9), sehingga kita tidak akan bersukacita bila ada iri hati, dengki, sombong, dan lain‑lain. Sukacita dari Roh Kudus memiliki beberapa ciri, antara lain:

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Sukacita adalah sumber rohani yang dikerjakan oleh Roh Kudus (1 Tes. 1:6) dan Tuhan (Neh. 8‑11, Yoh. 15:11).

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Orang Kristen yang penuh sukacita adalah orang Kristen yang dapat menaklukkan dunia ini.

 

<!–[if !supportLists]–>6.3.            <!–[endif]–>Damai Sejahtera

 

Damai sejahtera (Yun. ειρηνη, eirene) adalah berkat dari Allah, melalui karya Roh Kudus yang akan diberikan kepada kita yang telah dibenarkan dengan iman dalam Yesus Kristus (Roma 5:1). Titik permulaan damai sejahtera ini adalah damai dengan Allah, yang dapat kita peroleh melalui kematian Tuhan Yesus. Kita juga harus mempunyai damai sejahtera di dalam hati dan harus mempunyai sejahtera dengan sesama kita. Selama tidak ada damai sejahtera maka tidak ada sukacita.

 

<!–[if !supportLists]–>1)      <!–[endif]–>Damai dari Yesus Kristus adalah damai yang tak berkesudahan, damai yang tidak dibatasi oleh ruang, waktu, dan gerak.

<!–[if !supportLists]–>2)      <!–[endif]–>Orang yang hatinya teguh dijagai dengan damai sejahtera, sebab kepada‑Nya ia percaya (Yes. 26:3). Oleh Roh Allah, setiap orang percaya diberikan perhentian yang teguh karena Kristus Batu Karang yang teguh memberikan Roh‑Nya yang mampu mengatasi dan memiliki perhentian yang teguh atas segala gelombang yang menerpa dan kegoncangan jiwa (Yoh. 14:27).

<!–[if !supportLists]–>3)      <!–[endif]–>Damai sejahtera‑Nya memberikan pengharapan yang teguh (Roma 15:13).

 

<!–[if !supportLists]–>6.4.            <!–[endif]–>Kesabaran

 

Kesabaran (Yun. μακροθυμια, makrothumia) yang merupakan buah Roh kudus berarti harus dapat bertahan dalam pencobaan dan ujian (Yak. 1:2‑6, 12), maupun menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dalam pelayanan. Kesabaran menghasilkan penguasaan diri, sehingga kita dapat menghadapi segala permasalahan dengan sikap terbuka dan positif, serta menghindari segala pencobaan yang akan menjatuhkan kita. Kesabaran yang diwahyukan oleh Roh Allah meningkatkan iman kita untuk lebih tekun, dan pada akhirnya kita akan berhasil dalam pengenalan akan Yesus Kristus, Tuhan kita (2 Pet. 1:5‑8).

 

<!–[if !supportLists]–>1)      <!–[endif]–>Kesabaran berarti ketabahan dan ketenangan dalam menghadapi segala pencobaan, dan merupakan pancaran hal yang lembut dan kasih terhadap orang di sekitarnya (Yak. 1:2‑3).

<!–[if !supportLists]–>2)      <!–[endif]–>Kesabaran adalah kemampuan untuk menanggung segala penderitaan dan masalah‑masalah hidup (Kol. 1:11) dan meniadakan segala bentuk frustasi dan pengaruh hidup.

<!–[if !supportLists]–>3)      <!–[endif]–>Kesabaran membuat kita dapat bertahan dalam kehidupan (Luk. 21:19).

 

<!–[if !supportLists]–>6.5.            <!–[endif]–>Kemurahan

 

<!–[if !supportLists]–>1)      <!–[endif]–>Kemurahan (Yun. χρηστοτης, chroestotes) dan kelemah‑lembutan merupakan hasil kasih yang ada di dalam kehidupan seseorang yang dikuasai Roh Kudus.

<!–[if !supportLists]–>2)      <!–[endif]–>Buah Roh Kudus yang menghasilkan kemurahan dan kelemah-lembutan, menjauhkan seseorang dari perselisihan dan pertengkaran (2 Tim. 2:24), selalu membuat damai serta tidak munafik (Yak. 3:17).

<!–[if !supportLists]–>3)      <!–[endif]–>Kemurahan dan kelemah‑lembutan dapat membawa seseorang kepada Yesus Kristus.

 

<!–[if !supportLists]–>6.6.            <!–[endif]–>Kebaikan

 

<!–[if !supportLists]–>1)      <!–[endif]–>Kebaikan (Yun. αγαθωσυνη, agathosune) adalah kehidupan moral yang tinggi yang dapat menghasilkan keadilan dan kebenaran (Efs. 5:9), dan mempermuliakan Yesus Kristus Tuhan kita (2 Tes. 1: 11‑12).

<!–[if !supportLists]–>2)      <!–[endif]–>Kebaikan merupakan buah kasih sebagai landasan kehidupan seseorang untuk menempatkan kasih Kristus di dalamnya.

 

<!–[if !supportLists]–>6.7.            <!–[endif]–>Kesetiaan

 

Roh Kudus memberikan kepada kita roh kesetiaan (Yun. πιστις, pistis) dalam mengikut Tuhan Yesus, maupun dalam mewujudkan kebenaran dan keadilan. Kesetiaan harus merupakan prinsip dalam mengikut Yesus Kristus lebih dari segala kemewahan dan kehormatan dunia.

 

<!–[if !supportLists]–>1)      <!–[endif]–>Kesetiaan merupakan ketaatan dalam kehidupan, baik dalam perkara yang kecil maupun yang besar (Mat. 25:21).

<!–[if !supportLists]–>2)      <!–[endif]–>Kesetiaan kepada Kristus akan menghasilkan kesaksian yang benar dalam kehidupan (3 Yoh. 12), ketahanan dalam menghadapi segala pencobaan‑pencobaan (Yak. 1:12) dan segala perbuatan yang menjadikan sejahtera dan bahagia (Yak. 1:25).

<!–[if !supportLists]–>3)      <!–[endif]–>Kesetiaan merupakan hasil buah roh bagi kehidupan orang percaya, yang menghasilkan mahkota kehidupan sebagai karunia Allah kepadanya (Why. 2: 10).

 

<!–[if !supportLists]–>6.8.            <!–[endif]–>Kelemah‑lembutan

 

<!–[if !supportLists]–>1)      <!–[endif]–>Kelemah‑lembutan (Yun. πραοτης, praotes) adalah suatu sifat dan sikap hati seseorang yang dikuasai oleh Roh Allah, yang dapat mengendalikan segala emosi dan temperamen yang tinggi, seperti Kristus Yesus tidak pernah membuka mulut‑Nya, meskipun Dia dianiaya dan ditindas (Yes. 53:7).

<!–[if !supportLists]–>2)      <!–[endif]–>Kelemah‑lembutan juga merupakan suatu aliran kasih yang diwahyukan dalam kehidupan seseorang.

<!–[if !supportLists]–>3)      <!–[endif]–>Kelemah‑lembutan mematikan kesombongan, keinginan untuk menjadi orang yang terpandang dan berkuasa serta tidak menimbulkan perselisihan, permusuhan atau ketegangan bagi sesama.

<!–[if !supportLists]–>4)      <!–[endif]–>Arti kelemah‑lembutan yang ditulis dalam Mat. 5:5 adalah bahwa tidak ada orang yang dapat mengambil hak yang kita diperoleh dari Allah.

 

<!–[if !supportLists]–>6.9.            <!–[endif]–>Penguasaan diri

 

Penguasaan diri (Yun. εγκρατεια, egkrateia) berarti dapat mengendalikan pikiran dan sikap pribadi yang keras dan suka marah, yang diakibatkan oleh hawa nafsu dan kebiasaan mental yang buruk.

 

<!–[if !supportLists]–>1)      <!–[endif]–>Sifat buah ini bertujuan agar seseorang dapat menguasai dirinya (Ams. 16:32, 25:28).

<!–[if !supportLists]–>2)      <!–[endif]–>Penguasaan diri menghasilkan mahkota kekal (1 Kor. 9:25, 27).

<!–[if !supportLists]–>3)      <!–[endif]–>Penguasaan diri menghasilkan pengetahuan dan ketekunan (2 Pet. 1:5‑6), dan bila berjalan bersama‑sama menjadikan hidup kita sukses dan bahagia.

 

<!–[if !supportLists]–>7.      <!–[endif]–>Karunia-karunia Roh Kudus

 

Perlengkapan Roh Kudus yang dikirim pada saat kita dipenuhi Roh Kudus menunjukkan hakikat “karunia”, yaitu “suatu pemberian Tuhan, agar seseorang itu dapat melayani dengan kuasa”.

John Stott mendefinisikan Karunia Rohani sebagai berikut: “Kecakapan-kecakapan tertentu yang diberikan oleh kasih karunia dan kuasa Allah yang memampukan orang bagi pelayanan yang khusus dan sesuai.” Karunia itu diberikan untuk membangun jemaat dan meningkatkan rohani seseorang (1 Kor. 12:7; 14:3‑5; 12, 17; Efs. 4:12).

Menurut Peter Wagner, terdapat 28 jenis Karunia Roh yang dapat dijabarkan sebagai berikut:

 

<!–[if !supportLists]–>7.1.            <!–[endif]–>1 Korintus 12

 

Dalam 1 Kor. 12 ini terdapat 9 (sembilan) karunia Roh yang dibagi kedalam 3 (tiga) kelompok.

 

<!–[if !supportLists]–>7.1.1.      <!–[endif]–>Karunia Pernyataan atau Karunia Penyingkapan

 

Karunia pernyataan atau karunia penyingkapan berhubungan dengan komunikasi adikodrati yang disingkapkan melalui Roh Kudus kepada hati seseorang yang telah menerima karunia tersebut.

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Karunia perkataan hikmat ‑ Karunia untuk berkata‑kata dengan hikmat sebagai pernyataan adikodrati Roh Kudus tentang maksud Illahi.

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Karunia perkataan pengetahuan ‑ Karunia untuk berkata-kata dengan pengetahuan sebagai pernyataan adikodrati Roh Kudus tentang fakta‑fakta tertentu dalam pikiran Allah.

<!–[if !supportLists]–>c.       <!–[endif]–>Karunia membedakan roh ‑ Karunia untuk membeda-bedakan bermacam‑macam roh sebagai pengertian adikodrati Roh Kudus mengenai alam roh.

 

<!–[if !supportLists]–>7.1.2.      <!–[endif]–>Karunia ilham = karunia pengungkapan

 

Karunia ilham atau pengungkapan berhubungan dengan komunikasi adikodrati yang diungkapkan oleh Roh Kudus dengan menggunakan suara manusia.

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Karunia bernubuat ‑ Karunia untuk berbicara secara adikodrati dalam bahasa yang dikenal.

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Karunia berbahasa Roh ‑ Karunia untuk berkata‑kata dengan bahasa Roh, berbicara secara adikodrati dalam bahasa yang tidak dikenal.

<!–[if !supportLists]–>c.       <!–[endif]–>Karunia menafsirkan bahasa Roh ‑ Karunia untuk menafsirkan bahasa Roh sebagai pernyataan adikodrati Roh Kudus tentang arti bahasa roh itu.

 

<!–[if !supportLists]–>7.1.3.      <!–[endif]–>Karunia kuasa

 

Karunia kuasa adalah pernyataan kekuatan kuasa Allah dalam mukjizat melalui campur tangan adikodrati yang berdaya cipta, di mana seseorang atau lingkungan mereka diubahkan. Kesemuanya adalah untuk pertumbuhan Gereja, Tubuh Kristus Yesus.

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Karunia iman ‑ Kepercayaan adikodrati kepada Allah akan mukjizat‑mukjizat yang terjadi.

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Karunia mukjizat ‑ Karunia untuk mengadakan mukjizat sebagai campur tangan adikodrati dalam jalannya alam yang biasa.

<!–[if !supportLists]–>c.       <!–[endif]–>Karunia kesembuhan ‑ Karunia kuasa adikodrati untuk menyembuhkan penyakit.

 

Kata “adikodrati” berarti bahwa di dalamnya tidak terdapat unsur alami. Jadi, karunia‑karunia itu melampaui dan tidak tergantung pada suatu pengetahuan atau kecakapan seseorang. Sembilan karunia ini adalah “kuasa” yang sangat ajaib. Jadi, berbeda dengan sembilan macam buah Roh (Gal. 5:22,23) yang menyatakan perihal watak, dan tidak ada satu pun yang ajaib.

 

<!–[if !supportLists]–>7.2.            <!–[endif]–>Penjelasan Karunia dalam 1 Korintus 12

 

<!–[if !supportLists]–>7.2.1.      <!–[endif]–>Perkataan hikmat

 

Pengetahuan dan hikmat Allah sama sekali bukan pengetahuan dan hikmat manusia. Jadi, berkata dengan hikmat ialah pernyataan dan pemberitahuan adikodrati Roh Kudus tentang maksud ilahi, pikiran dan kehendak Allah yang disampaikan dengan tujuan:

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Untuk menyatakan rencana Allah kepada mereka yang akan dipakai oleh‑Nya (Kej. 41:16; 28‑41).

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Untuk memberi bimbingan dalam hukuman atau bahaya yang akan datang (Kej. 6:13‑22, 19:12‑13, Mat. 2:20).

<!–[if !supportLists]–>c.       <!–[endif]–>Untuk meyakinkan hamba Tuhan tentang tugasnya (Kisah 26:16).

<!–[if !supportLists]–>d.      <!–[endif]–>Untuk melepaskan dari bencana yang akan datang (Kisah 27).

<!–[if !supportLists]–>e.       <!–[endif]–>Untuk menyingkapkan susunan dan cara ibadah Ilahi yang dapat diterima (Kel. 25).

 

<!–[if !supportLists]–>7.2.2.      <!–[endif]–>Berkata dengan pengetahuan

 

Berkata‑kata dengan pengetahuan ialah pernyataan adikodrati Roh Kudus tentang fakta‑fakta tertentu dalam pikiran Allah dan bukan pengetahuan manusia, tetapi merupakan pekerjaan Roh. Contoh: waktu Yohanes menerima pernyataan tentang keadaan tujuh jemaat di Pulau Patmos, Why. 1‑3.

Berkata‑kata dengan pengetahuan adalah pernyataan yang sangat ajaib (2 Raja 6:9), dan merupakan suatu pernyataan tanpa usaha alami, seperti pada waktu Ananias menerima pertobatan Saulus (Kisah 9:11‑12).

 

Karunia ini diberikan dengan tujuan:

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Untuk memberi penerangan dan membesarkan hati seorang hamba Tuhan yang patah semangat (1 Raja 19:14‑18).

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Untuk memperingatkan seorang raja tentang rencana pembinasaan musuh (2 Raja 6:8‑12).

<!–[if !supportLists]–>c.       <!–[endif]–>Untuk membuka kedok seorang yang munafik (2 Raja 5:20‑27).

<!–[if !supportLists]–>d.      <!–[endif]–>Untuk meyakinkan seorang berdosa tentang keperluannya akan Juruselamat (Yoh. 4:18‑19, 29).

<!–[if !supportLists]–>e.       <!–[endif]–>Untuk mengetahui pikiran manusia (Yoh. 2:24, 1 Sam. 9:19), dsb.

 

<!–[if !supportLists]–>7.2.3.      <!–[endif]–>Membedakan bermacam‑macam roh

 

Karunia ini menyatakan jenis roh yang sedang bekerja di dalam orang yang sedang menyatakan pengetahuan atau kuasa adikodrati pada waktu mukjizat‑mukjizat terjadi. Roh manusia tidak bersifat adikodrati dan dengan karunia ini kita akan mengetahui pernyataan itu entah ilahi, entah Iblis, atau dari manusia. Akan tetapi, perlu diingat bahwa karunia ini bukanlah wawasan psikologis. Karunia‑karunia Roh hanya bekerja menurut kehendak Roh (1 Kor. 12:6, 11).

 

Pemberian karunia ini dimaksudkan:

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Menolong melepaskan orang yang menderita, tertindih, tersiksa, kerasukan setan.

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Untuk menemukan seorang hamba Iblis (Kisah 13:9‑10).

<!–[if !supportLists]–>c.       <!–[endif]–>Untuk membantu merintangi rencana‑rencana seteru (Kisah 16:18).

<!–[if !supportLists]–>d.      <!–[endif]–>Untuk menyatakan kekhilafan yang kelihatannya masuk akal, roh-roh penyesat, roh pendusta, bertanggung jawab atas ajaran setan dan pelajaran‑pelajaran sesat (1 Tim. 4:1‑2).

<!–[if !supportLists]–>e.       <!–[endif]–>Untuk membuka kedok orang‑orang yang mengerjakan mukjizat setan (2 Tes. 2:9).

 

<!–[if !supportLists]–>7.2.4.      <!–[endif]–>Karunia bernubuat

 

Kata bernubuat dalam bahasa Ibrani berarti “mengalir, menjatuhkan, mengangkat”. Sedangkan di dalam bahasa Yunani kata bernubuat berarti berbicara dengan orang lain, berbicara untuk Allah, menjadi juru bicara‑Nya. Nubuat merupakan suatu ucapan yang diilhami dan diurapi oleh Allah yang bersifat adikodrati, suatu ucapan adikodrati dalam bahasa yang dikenal, yang merupakan pernyataan Roh Allah dan bukan dari akal manusia. Ucapan itu tidak berhubungan dengan daya pikir dan penalaran manusia, karena merupakan suatu mukjizat atau suatu tindakan langsung dari Allah/Sorga yang dapat dimiliki oleh semua orang yang sudah dibaptis oleh Roh Kudus (1 Kor. 14:31). Kehendak dan iman manusia yang bekerja aktif dalam bernubuat, tetapi akalnya tidak, sehingga seorang sederhana atau seorang ahli/filsuf dapat menerima karunia ini.

 

Maksud pemberian karunia ini adalah:

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Untuk berbicara secara adikodrati kepada manusia (1 Kor. 14:3).

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Untuk membangun jemaat, tubuh orang beriman (14:14).

<!–[if !supportLists]–>c.       <!–[endif]–>Untuk menasihati jemaat (14:3).

<!–[if !supportLists]–>d.      <!–[endif]–>Untuk menghibur jemaat (14:3, 31).

<!–[if !supportLists]–>e.       <!–[endif]–>Supaya orang percaya dapat belajar dan memperoleh kekuatan (14:31).

<!–[if !supportLists]–>f.        <!–[endif]–>Supaya meyakinkan orang yang tidak beriman serta menyatakan rasa hatinya (14:24, 25).

 

Beberapa pengertian tambahan:

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Nubuat itu terang bagi akal, namun itu bukanlah berkata‑kata dengan akal seperti dalam 1 Kor. 14:19. Roh Allahlah yang berbicara melalui alat‑alat suara manusia dan itu adalah pernyataan Roh Allah (12:7, 11).

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Nubuat itu bersifat ilahi, tetapi tidak mengesampingkan unsur-unsur manusia melainkan bekerja dengan leluasa melalui alat‑alat suara yang berbeda dari bangsa yang berlainan. Itu sebabnya kelancaran dan kekuatan nubuat berbeda‑beda tergantung pada manusia yang dipakai Tuhan, seperti: Yesaya, Amos, Yunus, Hana, dan anak perempuan Filipus,

<!–[if !supportLists]–>c.       <!–[endif]–>Nubuat tidak boleh menggantikan Firman Allah yang tertulis, sebab Firman Allah senantiasa tidak dapat bersalah, sedangkan nubuat bisa lenyap (1 Kor. 13:8, 1 Pet. 1:25).

<!–[if !supportLists]–>d.      <!–[endif]–>Pemilik karunia itu bertanggung jawab atas pemakaiannya, penyalah-gunaannya, karena roh nabi‑nabi itu takluk kepada nabi‑nabi (I Kor. 14:32).

 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Karunia bernubuat dirancukan dengan jabatan nabi. Jabatan nabi dan karunia bernubuat berbeda, karena:

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Jabatan nabi tidak dapat dipisahkan dari seseorang (Efs. 4:11). Karunia bernubuat ini hanya suatu sarana (1 Kor. 12:10), sedangkan jabatan nabi memerlukan karunia-karunia lain di samping karunia nubuat 1 Kor. 14:1 menasihatkan untuk mencari karunia Roh, bukan jabatan (mengejar jabatan itu tidak baik, tetapi mengejar karunia Roh itu sangat baik).

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Pernyataan mengenai perkara‑perkara di luar Firman Allah, yaitu perkara‑perkara masa lampau, masa sekarang, dan masa kemudian yang tersembunyi perlu untuk jabatan nubuat. Akan tetapi, pernyataan ini tidak termasuk dalam ruang lingkup karunia untuk bernubuat rohani yang diberikan dalam 1 Kor. 14:3. Batu ujian untuk seorang nabi ialah pernyataan pribadi yang khusus bagi dirinya (Bil. 12:6), tetapi hal itu tidak diberikan pada mereka yang bernubuat.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Karunia bernubuat dibandingkan dengan karunia berkata‑kata dengan bahasa Roh (1 Kor. 14:5) dan ditambah karunia untuk menafsirkan bahasa Roh menyarankan persamaan nilai yang tepat. Tidak ada seorang pun akan mengatakan bahwa karunia untuk berkata‑kata dengan bahasa Roh dan karunia untuk menafsirkan bahasa Roh akan menempatkan para pemiliknya bersama para nabi.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Pemegang jabatan Nabi diberikan kepada orang-orang khusus, seperti Musa, Elia, Daud, Yesaya, dan lain‑lain. Akan tetapi, semua orang beriman yang biasa dapat memiliki karunia untuk bernubuat (Kisah 19:6).

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Karunia bernubuat bukanlah suatu ramalan. Penyelidikan yang seksama menunjukkan bahwa karunia itu sendiri tidak memberi kuasa untuk meramalkan masa depan. Harus diingat kata nabi “bukan berarti seorang yang berbicara untuk orang lain”, demikian pula nubuat bukan suatu ramalan. Begitu pula bernubuat bukan berkhotbah. Berkhotbah adalah memberitakan, menceritakan/menguraikan Firman sebagai kabar kesukaan.

 

<!–[if !supportLists]–>7.2.5.      <!–[endif]–>Karunia berbahasa Roh

 

Kisah 2:1‑4, pada hari Pentakosta murid‑murid Yesus, “penuhlah dengan Roh Kudus” dan sebagai akibatnya mereka mulai berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa lain seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Kisah 10:34‑48, dalam ayat‑ayat ini sekali lagi bahasa Roh sebagai bukti baptisan Roh Kudus. Dan berkata‑kata dalam bahasa Roh ialah bukti fisik yang awal dari baptisan, seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul.

Dalam 1 Kor. 14:18, Rasul Paulus berkata‑kata dalam bahasa Roh, bukan sekali, tetapi menurut kesaksiannya sendiri seperti ayat tersebut, “Aku berkata‑kata dengan bahasa Roh lebih dari kamu semua.” Dan apakah yang lebih masuk akal dan Alkitabiah daripada mengatakan bahwa ia telah menerima kemampuan untuk berkata‑kata dengan bahasa Roh pada waktu ia dibaptis dalam Roh Kudus?

Berkata‑kata dalam bahasa Roh ialah bukti fisik yang awal dari baptisan, seperti yang dibuktikan oleh ayat‑ayat dalam Kisah Para Rasul ini. Berkata‑kata dengan bahasa Roh adalah perkataan adikodrati oleh Roh Kudus dalam bahasa‑bahasa yang tidak pernah dipelajari oleh si penutur, tidak dipahami oleh akal si penutur bahkan hampir tidak dimengerti oleh si pendengar. Bahasa Roh ini sama sekali tidak bertalian dengan kecakapan ilmu bahasa, juga tidak berhubungan dengan akal atau kecerdasan manusia. Itu merupakan suatu manifestasi Roh Allah yang menggunakan alat suara manusia. Bila seorang berkata‑kata dengan bahasa Roh, akal, kecerdasan dan pengertiannya itu pasif, kemampuan Allah yang aktif. Tentu saja, kehendak manusia itu aktif demikian juga rohnya serta alat‑alatnya, tetapi akal yang sedang bekerja ialah akal Allah melalui Roh Kudus.

Kecakapan berbahasa dari manusia tidak digunakan dalam berkata‑kata dengan bahasa Roh, sama seperti kecakapan pembedahan tidak digunakan tatkala Petrus berkata: “Bangkit dan berjalanlah!,” dan dengan segera si timpang itu bangkit, melompat‑lompat serta berjalan!

Pada umumnya bahasa Roh tidak diketahui oleh para pendengar dan selalu tidak diketahui oleh si penutur. Akan tetapi, kadang-kadang bisa dimengerti oleh para pendengar, seperti yang terjadi pada hari Pentakosta ketika bahasa Roh itu tidak dimaklumi oleh orang yang menuturkannya, tetapi dikenal oleh orang yang mendengarnya. Hal itu bukan saja menjadikan bahasa Roh itu suatu mukjizat, tetapi membuktikannya sebagai mukjizat hal yang sama seringkali terjadi dewasa ini.

Berkata-kata dengan bahasa Roh bukanlah untuk memberi pimpinan atau petunjuk dalam perkara‑perkara pribadi melainkan untuk membangun, menasihati, dan menghibur sama seperti karunia nubuat (yang disamakan dengan karunia ini, jikalau disertai tafsirannya ‑ 1 Kor. 14:3‑5). Harold Horton, dalam bukunya “The Gifts of The Spirit” menjelaskan pemakaian bahasa Roh menurut Alkitab, sebagai berikut:

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Supaya manusia dapat berbicara secara adikodrati kepada Allah (1 Kor. 14:2).

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Supaya orang beriman dapat memuliakan Allah.

<!–[if !supportLists]–>c.       <!–[endif]–>Supaya kita dapat membangun diri kita (1 Kor. 14:4, 15, 18, Bil. 21:17).

<!–[if !supportLists]–>d.      <!–[endif]–>Supaya roh kita dapat berdoa demikian pula. akal kita (1 Kor. 14:14,15). Berdoa dengan roh itu berbeda sekali dari berdoa dengan akal budi (ayat 16). Saudara bisa berdoa dalam Roh dengan akal budi seperti dalam Efs. 6:18. Kita tidak dapat berdoa atau pun menyanyi dengan roh kecuali Saudara berkata‑kata dalam bahasa Roh. Doa yang menurut akal manusia semata‑mata tidak menurut kehendak Allah (Roma 8:27).

<!–[if !supportLists]–>e.       <!–[endif]–>Supaya dapat membangun gereja melalui karunia untuk menafsirkan bahasa Roh (1 Kor. 14:5, 12‑13, 26).

 

<!–[if !supportLists]–>7.2.6.      <!–[endif]–>Karunia untuk menafsirkan bahasa Roh

 

Menafsirkan bahasa Roh adalah suatu pernyataan adikodrati oleh Roh tentang arti ucapan dalam bahasa Roh. Penafsiran ini bukan pekerjaan akal si penafsir, melainkan akal Roh Allah. Penafsir tidak pernah mengerti bahasa Roh yang ditafsirkannya itu. Tujuan karunia tersebut adalah:

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Agar dapat dipahami orang lain, baik jemaat, maupun pemilik karunia itu. “Harus ada seorang lain untuk menafsirkannya, sehingga jemaat dapat dibangun”, 1 Kor. 14:5, 27.

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Menerangkan kepada pemilik karunia, pengertian apa yang telah dibangun rohnya ketika ia berbahasa Roh (1 Kor. 14:13,14). Tidak perlu segala sesuatu yang kita ucapkan sendirian dalam bahasa Roh harus diterangkan kepada akal kita, tetapi dalam keadaan di mana suatu penafsiran diperlukan atau diinginkan, Allah akan memberikannya supaya baik akal budi maupun roh boleh menerima faedah. Dan sehubungan dengan kebaktian jemaat, kita harus berusaha membangun, bukannya diri sendiri, melainkan jemaat, dan itulah tujuan terutama karunia untuk menafsirkan bahasa Roh (1 Kor. 14:12‑13, 17).

 

Karunia menafsirkan bukan untuk menerjemahkan bahasa Roh. Sebuah tafsiran adalah pernyataan dari arti, dan dapat dinyatakan dengan cara yang berbeda dengan bentuk aslinya. Tafsiran itu dapat berupa gambaran, perumpamaan, uraian, dan menurut arti harafiah, sesuai dengan dorongan Roh atau sesuai dengan watak orang yang mengartikan makna itu. Kata Yunaninya memberi arti: “menerangkan dengan cermat”, jadi bukan menerjemahkan. Perhatikan ketika Yesus menerangkan arti perumpamaan lalang itu, ketika Ia mengganti istilah‑istilah itu dari yang alami kepada yang rohani (Mat. 13:24‑30, 35‑43).

Yang perlu diperhatikan di sini pada 1 Kor. 14:30, adalah satu berita yang disampaikan oleh satu orang tidak boleh disertai oleh lebih dari satu tafsiran, meskipun ada sejumlah orang dalam kebaktian itu dapat menafsirkannya. Kita tidak boleh menolak untuk menafsirkan apabila karunia bahasa Roh itu dipakai secara sah, dan tidak boleh ada persaingan antara para penafsir dalam menyampaikan arti bahasa Roh. Yang perlu diperhatikan bila kita memiliki karunia untuk menafsirkan bahasa Roh, kita memerlukan iman yang lebih dewasa untuk menjalankannya daripada untuk berkata‑kata dalam bahasa Roh.

 

<!–[if !supportLists]–>7.2.7.      <!–[endif]–>Karunia iman

 

Karunia iman adalah karunia Roh kepada orang yang berkenan supaya ia boleh mengadakan mukjizat atau menerima mukjizat. Karunia iman ini berbeda dengan iman yang menyelamatkan (Kisah 16:31). Karunia iman dapat diterima sesudah penyelamatan itu terjadi. Karunia iman itu ajaib seperti halnya karunia Roh lainnya, sedangkan iman yang menyelamatkan bersifat ilahi, tetapi tidak ajaib.

Karunia iman itu berbeda dari iman yang adalah buah Roh (Gal. 5:22). Dan sungguh menarik bahwa iman saja yang terdapat pada daftar buah Roh di Galatia dan pada daftar karunia‑karunia Roh di Surat Korintus. Iman (hasil buah Roh) adalah watak, sedangkan iman yang merupakan karunia adalah untuk kuasa.

Kita yang mempunyai buah Roh iman percaya kepada Allah dan yakin memperoleh keselamatan. Akan tetapi, kita yang mempunyai iman, sebagai karunia Roh, percaya Allah begitu rupa sehingga Allah menghormati perkataan kita seperti perkataan‑Nya sendiri, dan secara ajaib melaksanakannya (Mrk. 11:23, Ayub 22:28, 1 Raja 17:1, Yak. 5:17).

Iman yang menyelamatkan mendahului penyelamatan, sedangkan iman buah Roh terbit sesudah penyelamatan. Karunia Iman datang sesudah baptisan dalam Roh.

Karunia iman berbeda dari karunia untuk mengadakan mukjizat, meskipun kedua‑duanya menghasilkan mukjizat. Pekerjaan karunia untuk mengadakan mukjizat lebih aktif. Kuasa mukjizat melakukan perkara‑perkara oleh Roh, kuasa iman menerima atau menikmati perkara‑perkara oleh Roh.

Jadi dengan demikian, karunia iman dapat diberi pengertian sebagai, “suatu kemampuan adikodrati oleh Roh”. Dan dengan kemampuan ini, apa yang diucapkan atau diinginkan manusia, atau difirmankan Allah, pada akhirnya akan berlaku.”

 

Karunia‑karunia iman:

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Untuk berkat adikodrati yang langsung sebagai penggenapan ucapan manusia (Kej. 27:28, Ibr. 11:20).

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Untuk perlindungan pribadi dalam keadaan bahaya (Dan. 6:17‑29, Ibr. 11:33, Mrk. 1:13, 16:18, Kisah 28:5, Luk. 4:30).

<!–[if !supportLists]–>c.       <!–[endif]–>Untuk makanan adikodrati pada masa kelaparan atau puasa (1 Raja 17:3‑4, 19:4‑8, Mat. 4:1‑11).

<!–[if !supportLists]–>d.      <!–[endif]–>Untuk menerima janji‑janji yang mengherankan dari Allah (Kej. 21:5, Roma 4:20).

<!–[if !supportLists]–>e.       <!–[endif]–>Untuk memberi teguran rohani kepada orang yang membuat pelanggaran yang berat (1 Kor. 5:1‑5, 2 Raja 2:23‑24).

<!–[if !supportLists]–>f.        <!–[endif]–>Untuk membantu menyelesaikan masalah rumah tangga (2 Raja 4:1-7).

<!–[if !supportLists]–>g.       <!–[endif]–>Untuk membangkitkan orang mati, Lazarus, Dorkas yang telah mati.

<!–[if !supportLists]–>h.       <!–[endif]–>Untuk mengusir roh‑roh jahat (Kisah 19:12).

 

Iman yang disebut dalam Ibrani pasal 11, yang memberi jaminan tentang ketentuan di kemudian hari dan realitas yang tidak nampak, adalah terutama karunia iman yang ajaib ini. Akan tetapi, segala jenis iman yang lain yang dibicarakan dalam pelajaran ini adalah: iman yang menyelamatkan (31), buah iman (4,13,26,36) dan “iman umum” (3 dan 6), yang meliputi iman yang menyelamatkan, iman yang menguduskan, dan segala macam iman yang menerima berkat, yang menyenangkan Allah, yang mewarisi sorga, bahkan yang menjadi dasar mukjizat.

 

<!–[if !supportLists]–>7.2.8.      <!–[endif]–>Karunia untuk mengadakan mukjizat

 

Mukjizat adalah campur tangan adikodrati dalam jalannya alam yang biasa. Karunia untuk mengadakan mukjizat bekerja oleh kekuatan tindakan dinamis yang berdaulat dari Roh Allah, terlepas dari hukum‑hukum pelbagai sistem alam. Kata mukjizat dalam arti karunia ini semata‑mata menunjuk kepada perbuatan‑perbuatan penuh kuasa. Kegunaannya:

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Untuk melepaskan umat Allah secara ajaib dari tangan musuh (Kel. 14:16).

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Untuk mencukupi keperluan orang yang dalam kekurangan (Kel. 17:1‑7, 1 Raja 17:8‑16, Mrk. 6:32‑44 dan Yoh. 21:9).

<!–[if !supportLists]–>c.       <!–[endif]–>Untuk melaksanakan hukum ketertiban Illahi (Kisah 5).

<!–[if !supportLists]–>d.      <!–[endif]–>Untuk mengadakan Firman yang telah diberitakan (Kisah 13:11‑12).

<!–[if !supportLists]–>e.       <!–[endif]–>Untuk melepaskan dalam keadaan‑keadaan bahaya yang tak dapat dihindari (Mat. 8:23‑27).

<!–[if !supportLists]–>f.        <!–[endif]–>Untuk menunjukkan kuasa kebesaran Allah (Mat. 11:5, Yoh. 5:36, 10:25).

 

Jadi, meskipun Allah merendahkan diri untuk menggunakan manusia sebagai sarana dalam pelbagai perbuatan ajaib‑Nya itu (yang sebenarnya menjadi makna karunia Roh), namun Ia dapat mengerjakan mukjizat tanpa perantaraan manusia sama sekali seperti kekacauan bahasa di Babel, bintang Betlehem, dan lain sebagainya.

 

<!–[if !supportLists]–>7.2.9.      <!–[endif]–>Karunia untuk menyembuhkan

 

Dalam naskah aslinya, karunia untuk menyembuhkan ini selalu ditulis dalam bentuk jamak, yaitu karunia‑karunia untuk menyembuhkan bukan karunia untuk menyembuhkan. Tiga kali karunia ini disebut dalam pasal 12:9, 28, 30, dan tiap kali dalam naskah asli dua kata itu berbentuk jamak.

Karunia‑karunia ini adalah untuk menyembuhkan pelbagai penyakit dan kelemahan tubuh secara adikodrati tanpa suatu ikhtiar alami, baik berkenaan dengan organ tubuh, fungsinya, atau saraf.

Tuhan Yesus telah membuat karunia ini sangat terkenal karena tidak terhitung banyaknya orang yang dilepaskan dari segala penyakit yang merongrongnya. Demikian pula Ia telah memberi kekuasaan pada murid‑murid‑Nya untuk mengerjakan karunia yang sama.

Penyembuhan‑penyembuhan yang diadakan oleh karunia-karunia ini telah dikerjakan oleh kuasa Yesus dengan perantaraan Roh.

Kegunaan karunia ini:

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Untuk melepaskan orang sakit dan membinasakan pekerjaan Iblis dalam tubuh manusia (1 Yoh. 3:8, Mat. 8:1‑3,7‑13, Kisah 10:38).

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Untuk menetapkan pernyataan‑pernyataan yang mengagumkan yang telah dipertegas oleh Yesus (Mrk. 2:1‑12).

<!–[if !supportLists]–>c.       <!–[endif]–>Untuk meneguhkan berita Injil, ketika diberitakan oleh para hamba Allah (Kisah 4:29,30,33, 5:12, 8:6‑7, Mrk. 16:15‑18).

<!–[if !supportLists]–>d.      <!–[endif]–>Untuk menetapkan kebangkitan Yesus (Kisah 3:15‑16).

<!–[if !supportLists]–>e.       <!–[endif]–>Untuk menarik orang supaya mendengar Injil (Kisah 6:7‑8).

<!–[if !supportLists]–>f.        <!–[endif]–>Untuk meyakinkan orang yang tidak percaya tentang kebenaran Firman Allah.

<!–[if !supportLists]–>g.       <!–[endif]–>Untuk memuliakan Allah (Mrk. 2:12, Luk. 13:17).

<!–[if !supportLists]–>h.       <!–[endif]–>Untuk membangkitkan iman dan keberanian dalam umat Allah.

 

Karunia‑karunia ini dapat bekerja oleh jamahan atau sepatah kata dalam hal yang terakhir, jarak yang jauh tidak menjadi rintangan (Maz. 107:20, Mat. 8:8). Dalam hal‑hal yang luar biasa penyembuhan dapat dihasilkan melalui pekerjaan karunia‑karunia ini tanpa kata atau jamahan, tetapi oleh kehadiran orang yang memiliki karunia‑karunia ini, seperti Petrus yang bayangannya mengalir seperti luapan urapan Illahi yang berkuasa (Kisah 5:15), atau oleh kain yang telah dijamah oleh mereka yang mempunyai karunia‑karunia itu, seperti Paulus di Efesus (Kisah 19:12).

Penyembuhan dengan cara mengoleskan minyak (Yak. 5:14) tidak dihasilkan oleh pekerjaan karunia‑karunia ini, tetapi terjadi sebagai tanggapan terhadap ketaatan dan sebagai pengabulan doa yang percaya.

 

<!–[if !supportLists]–>7.3.            <!–[endif]–>Roma 12

 

Dalam Roma 12:6‑8 diungkapkan tentang adanya 7 (tujuh) karunia Roh, yaitu:

 

<!–[if !supportLists]–>1.      <!–[endif]–>Karunia Bernubuat

<!–[if !supportLists]–>2.      <!–[endif]–>Karunia Melayani

<!–[if !supportLists]–>3.      <!–[endif]–>Karunia Mengajar

<!–[if !supportLists]–>4.      <!–[endif]–>Karunia Menasihati

<!–[if !supportLists]–>5.      <!–[endif]–>Karunia Membagi‑bagikan

<!–[if !supportLists]–>6.      <!–[endif]–>Karunia Kepemimpinan

<!–[if !supportLists]–>7.      <!–[endif]–>Karunia Kemurahan

 

Karunia Bernubuat telah dibahas dalam. butir 7.2.4. Untuk selanjutnya akan dibahas karunia‑karunia lainnya.

 

<!–[if !supportLists]–>7.4.            <!–[endif]–>Efesus 4

 

Dari Efesus 4:11 ada 5 (lima) karunia jawatan; dua di antaranya sudah disebutkan di depan (Karunia Nubuat/jawatan Nabi ‑ 7.2.4 dan Karunia Mengajar ‑ 11), tiga karunia lainnya adalah:

 

<!–[if !supportLists]–>1.      <!–[endif]–>Rasul

<!–[if !supportLists]–>2.      <!–[endif]–>Pemberita Injil

<!–[if !supportLists]–>3.      <!–[endif]–>Gembala

 

<!–[if !supportLists]–>7.5.            <!–[endif]–>Karunia Lainnya

 

Peter Wagner menyatakan bahwa Alkitab masih memuat daftar karunia‑karunia lainnya, yaitu:

 

<!–[if !supportLists]–>1.      <!–[endif]–>Karunia Pertolongan

<!–[if !supportLists]–>2.      <!–[endif]–>Karunia Kepengurusan

<!–[if !supportLists]–>3.      <!–[endif]–>Karunia Hidup Lajang (Pertakaran Seksual)

<!–[if !supportLists]–>4.      <!–[endif]–>Karunia Hidup Miskin secara Sukarela

<!–[if !supportLists]–>5.      <!–[endif]–>Karunia Kesyahidan

<!–[if !supportLists]–>6.      <!–[endif]–>Karunia Memberi Tumpangan

<!–[if !supportLists]–>7.      <!–[endif]–>Karunia Misionaris

<!–[if !supportLists]–>8.      <!–[endif]–>Karunia Pendoa Syafaat

 

<!–[if !supportLists]–>7.6.            <!–[endif]–>Cara Menemukan Karunia

 

Sebelum melangkah dalam menentukan karunia, seseorang harus memenuhi 4 (empat) syarat pokok:

 

<!–[if !supportLists]–>a)      <!–[endif]–>Mengalami kelahiran baru di dalam Yesus Kristus, yaitu menjadi orang percaya, sekaligus sebagai anggota Tubuh Kristus.

<!–[if !supportLists]–>b)      <!–[endif]–>Percaya akan karunia‑karunia Roh.

<!–[if !supportLists]–>c)      <!–[endif]–>Bersedia untuk bekerja dan melayani.

<!–[if !supportLists]–>d)      <!–[endif]–>Harus berdoa.

 

Langkah‑langkah yang harus diambil untuk dapat mengetahui karunia apa yang dimiliki adalah sebagai berikut:

 

<!–[if !supportLists]–>1.      <!–[endif]–>Menyelidiki pelbagai kemungkinan, dengan cara: menyelidiki Alkitab, mengetahui pendapat gereja lokal tentang karunia‑karunia, membaca bermacam‑macam buku, berkenalan dengan orang‑orang yang memiliki karunia, dan menjadi karunia‑karunia itu sebagai pokok pembicaraan.

<!–[if !supportLists]–>2.      <!–[endif]–>Mengadakan percobaan dengan karunia sebanyak banyaknya, yaitu dengan melibatkan diri dalam pelayanan‑pelayanan.

<!–[if !supportLists]–>3.      <!–[endif]–>Meneliti perasaan, yaitu memiliki damai sejahtera saat mengobarkan karunia dalam pelayanan.

<!–[if !supportLists]–>4.      <!–[endif]–>Memberi penilaian atas keefektifan karunia, dimana bila karunia-karunia yang betul sedang bekerja, apa pun yang seharusnya terjadi akan terjadi.

<!–[if !supportLists]–>5.      <!–[endif]–>Mengharapkan pengukuhan dari Tubuh Kristus, yaitu pengukuhan dari jemaat yang dilayani.

 

<!–[if !supportLists]–>8.      <!–[endif]–>Baptisan Roh Kudus (berikut ini adalah risalah yang ditulis oleh Pdt. Indrawan Eleeas)

 

Lukas, penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul mengutip kata‑kata penting yang diucapkan Yesus sebelum naik ke surga, “Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” (Kisah 1:5). Melalui perkataan Yesus ini, kita melihat dua macam istilah baptisan : baptisan air dan baptisan Roh Kudus.

Mengenai baptisan Roh Kudus, gereja‑gereja di sepanjang abad telah terlibat dalam pergunjingan, perselisihan dan permusuhan. Boleh dikatakan pergunjingan tersebut masih tetap berlangsung sampai hari ini. Sebenarnya gereja Tuhan perlu bersikap dewasa dan tidak terjebak ke dalam perangkap Iblis yang sangat senang memporak‑porandakan jemaat Tuhan melalui perselisihan‑perselisihan Firman Tuhan. Acapkali dalam perdebatan‑perdebatan yang timbul yang dikemukakan adalah dari buah pikiran manusia dan bukan kebenaran Firman Tuhan. Bahkan tidak jarang emosi seseorang yang terlibat dalam perdebatan tak mampu dikendalikan dengan baik. Berakibat ajaran Yesus sehubungan dengan penyangkalan diri sendiri menjadi pudar (Lukas 9:23).

Berpijak pada pro‑kontra pemahaman ajaran baptisan Roh Kudus, umat Kristiani menjadi terkotak‑kotak. Menghasilkan pemimpin‑pemimpin gereja yang membangun kubu masing‑masing.

Ada kubu yang sama sekali meniadakan ajaran baptisan Roh Kudus. Para pengikutnya menekankan bahwa manifestasi karya Roh Kudus baik yang berupa glossalaleo atau berkata‑kata dalam bahasa roh atau karunia‑karunia Roh Kudus sudah tidak ada/tidak berfungsi bersamaan dengan selesainya periode para rasul. Rasul terakhir yang adalah murid Yesus sendiri, Yohanes, hidup sampai akhir abad I ‑ dengan demikian karya Roh Kudus yang berupa glossalaleo dan pelbagai karunia Roh Kudus selesai bekerja di akhir abad I tersebut. Dengan selesainya periode rasul-rasul, selesai juga manifestasi Roh Kudus dengan karunia‑karunia‑Nya.

Kubu yang sama yang meniadakan karya Roh Kudus dengan pelbagai manifestasinya menyatakan bahwa manifestasi Roh Kudus selesai saat terbentuknya Kitab Suci, berdasarkan kanon Alkitab. Kanon Alkitab adalah daftar kitab‑kitab yang diakui gereja sebagai yang diilhamkan, yang menentukan bagi iman dan praktek hidup. Kanon Alkitab ini ditetapkan di dunia barat pada konsili di Kartago + tahun AD 397, sedang di dunia Timur, diterima pada + tahun AD 367 berdasarkan surat Paskah ke 39 dari Atanasius. Namun sebenarnya penggunaan istilah kanon Alkitab telah diputuskan pada konsili gereja di Laodicea sekitar tahun AD 363. Dengan demikian pada lebih kurang abad IV sejak kanon Alkitab terbentuk, maka berakhir juga karya Roh Kudus berkaitan dengan glossalaleo dan pelbagai macam karunia‑Nya.

Di sisi lain terdapat kubu yang meyakini bahwa pekerjaan Roh Kudus dengan tanda glossalaleo dan manifestasi karunia Roh Kudus tidak berhenti baik pada akhir abad I atau abad IV. Sebaliknya pekerjaan Roh Kudus masih tetap sama sejak gereja lahir pada hari Pentakosta. Kubu yang tetap percaya akan karya Roh Kudus semula hanya merupakan fragmen‑fragmen/ kelompok‑kelompok kecil umat Kristiani. Mereka merupakan minoritas. Dalam sejarah gereja tercatat yang minoritas tersebut tidak jarang dikenakan tindakan disiplin gereja. Alasannya mereka telah menyesatkan ajaran kebenaran firman Tuhan yang telah disepakati oleh gereja Tuhan, para penyesat amat membahayakan kehidupan gereja Tuhan. Akibatnya ajaran karya Roh Kudus yang disertai glossalaleo dan manifestasi karunia‑karunia Roh menjadi padam di tengah kehidupan gereja Tuhan. Memang terdapat fragmen‑fragmen umat Kristiani dalam skala kecil yang masih percaya dan mengalami kepenuhan Roh Kudus. Namun pada umumnya gereja Tuhan sudah tidak mengakui manifestasi karya Roh Kudus seperti glossalaleo dan pelbagai macam karunia Roh.

Tentunya dalam uraian singkat ini sulit dijelaskan secara terperinci riak dan gelombang sejarah kehidupan gereja Tuhan yang khusus berkaitan dengan pelbagai pekerjaan Roh Kudus dan manifestasinya.

Percikan nyala ajaran baptisan Roh Kudus tampak kembali setelah terjadi reformasi gereja. Percikan-percikan tersebut tampak pada abad ke-17, 18 dan 19. Glossalaleo dan pelbagai macam karunia Roh Kudus benar-benar mulai tampak dalam kehidupan umat Kristiani pada abad ke XX, karya Roh Kudus dengan manifestasinya timbul di tengah sekelompok orang Kristen di USA (sebelum tampak nyata di USA, percikan-percikan karya Roh Kudus sudah timbul di Eropa pada abad-abad sebelum memasuki abad XX). Memang ajaran Baptisan Roh Kudus juga tampak di kelompok-kelompok umat Kristiani di sepanjang abad. Namun dapat dikatakan bahwa tekanan ajaran baptisan Roh Kudus dengan manifestasi karunia-karunia Roh Kudus tampak jelas tanpa halangan berarti dari pihak gereja pada awal abad XX. Selanjutnya ajaran baptisan Roh Kudus meluas secara cepat baik di USA maupun di luar negara USA, bahkan ke seluruh dunia. Suatu fenomena yang menakjubkan.

Perlu dipahami bahwa seiring dengan ajaran baptisan Roh Kudus yang telah mempengaruhi gereja-gereja di seluruh dunia terdapat dua hal penting yang timbul di tengah kehidupan umat Kristiani :

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Ekses akibat tindak lanjut ajaran baptisan Roh Kudus yang diistilahkan “pengalaman” baptisan Roh Kudus. Ekses-ekses tersebut berupa tekanan-tekanan ajaran baptisan Roh Kudus yang menghasilkan kelompok Kristiani yang eksklusive.

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Perpecahan antar umat Kristiani yang berpijak pada “pengalaman” baptisan Roh Kudus amat mudah terjadi. Umat Kristiani yang hanya memfokuskan pada ajaran dan pengalaman karya Roh Kudus sering terbagi ke dalam kelompok-kelompok yang saling berlomba-lomba untuk memperoleh “wahyu Allah” dan lebih mengalami “jamahan” kuasa Roh Kudus. Perpecahan tersebut cenderung membentuk kelompok-kelompok umat Kristiani yang dapat dikatakan membangun “kerajaan-kerajaan” Kristiani. Istilah “kerajaan” dimaksudkan pemimpin kelompok-kelompok umat Kristiani tersebut memiliki otoritas yang absolut layaknya “seorang raja.”

 

Memperhatikan perkembangan ajaran baptisan Roh Kudus yang amat cepat berkembang disertai ekses-ekses dan perpecahan disana-sini, gereja Tuhan wajib bercermin pada Kitab Suci. Gereja Tuhan wajib bersikap seperti orang-orang percaya di Berea. Jemaat di Berea membiasakan diri menyelidiki Kitab Suci “untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian” (Kisah 17:11). Mereka menyelidiki Kitab Suci bukan untuk :

 

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Mencari kesalahan pihak lain.

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Menghakimi pihak lain melalui kritik-kritik yang negatif destruktip.

 

Kitab Suci tidak memuat alasan-alasan demikian. Yang jelas Kitab Suci menulis bahwa orang-orang Kristen di Berea baik hatinya.

Hati yang baik menjadi dasar yang kokoh. Orang-orang Kristen di Berea tidak gampang menunjuk kesalahan pihak lain. Sebaliknya semua ajaran Kitab Suci yang mereka terima, mereka selidiki kembali dengan seksama. Mereka tidak menerima ajaran-ajaran yang menyimpang dari kebenaran Kitab Suci. Langkah mereka merupakan langkah orang beriman yang terpuji dan patut dijadikan contoh. Uraian mengenai ajaran baptisan Roh Kudus dalam tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyerang atau membeberkan kesalahan-kesalahan pihak tertentu atau gereja tertentu atau kelompok-kelompok tertentu.

            Maksud dari tulisan singkat ini adalah untuk membagikan ajaran Kitab Suci mengenai baptisan Roh Kudus dan mengajak jemaat Tuhan untuk lebih sungguh-sungguh menyelidiki Kitab Suci dengan segala kerelaan hati. Juga agar setiap orang percaya dapat hidup dalam Roh dalam kehidupan sehari-hari, mampu menjadi saksi Kristus dan mampu mengalahkan segala macam bentuk tantangan hidup dan pencobaan iblis.

            Baptisan Roh Kudus adalah Alkitabiah. Artinya Kitab Suci mengajarkannya. Karena diajarkan Kitab Suci, jemaat Tuhan sudah selayaknya mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Tulisan singkat ini akan menguraikan empat bagian saja berkaitan dengan baptisan Roh Kudus :

 

<!–[if !supportLists]–>1.      <!–[endif]–>Pemahaman mengenai dibaptis atau dipenuhi Roh Kudus.

<!–[if !supportLists]–>2.      <!–[endif]–>Fenomena baptisan Roh Kudus pada hari Pentakosta.

<!–[if !supportLists]–>3.      <!–[endif]–>Fenomena baptisan Roh Kudus setelah hari Pentakosta.

<!–[if !supportLists]–>4.      <!–[endif]–>Manifestasi karya Roh Kudus.

 

<!–[if !supportLists]–>8.1.            <!–[endif]–>Pemahaman Mengenai Dibaptis Atau Dipenuhi dengan Roh Kudus

 

Istilah “baptisan Roh Kudus” dijumpai dalam keempat Injil dan Kisah Para Rasul. Istilah lengkapnya adalah “membaptiskan kamu dengan Roh Kudus” (Mat. 3:11; Mrk. 1:8; Luk. 3:16; Yoh. 1:33; Kisah 1:5). Kata “baptis” yang dipergunakan sama dengan kata “baptis” yang dipakai dalam istilah “baptisan air”.

Makna kata “baptis” tersebut berarti “terbenam/tenggelam”. Seseorang yang terbenam dalam air berarti air memenuhi seluruh tubuhnya. Kata “memenuhi” sangat penting. Kata “penuh” ini dipergunakan oleh penulis Kisah Para Rasul pada saat hari Pentakosta sebagaimana tercatat dalam Kisah 2:1-4.

Istilah “dibaptis dengan Roh Kudus” (Kisah 1:5) ternyata di Kisah 2:4 diistilahkan “penuhlah mereka dengan Roh Kudus”. Tampak jelas penggunaan kedua istilah “baptis” dan “penuh” sama dalam kaitan “baptisan Roh Kudus”. Dalam pernyataan Yesus dicatat di Kisah 1:5, “ … tak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus”, terealisasi pada hri Pentakosta, Kitab Suci menggunakan istilah “penuh”. Dengan demikian istilah “dibaptis dengan Roh Kudus” sama dengan “penuh dengan Roh Kudus”.

Beberapa ahli Kitab Suci ada yang tidak setuju apabila dibaptis dengan Roh Kudus sama dengan dipenuhi Roh Kudus. Alasannya, dibaptis dengan Roh Kudus hanya terjadi satu kali saja untuk selama-lamanya yakni pada hari Pentakosta. Berarti peristiwa serta fenomena Pentakosta tersebut tidak akan terulang kembali, sedangkan dipenuhi dengan Roh Kudus terjadi secara terus menerus.

Alasan yang dikemukakan beberapa ahli Kitab Suci tersebut adalah : istilah “baptisan Roh Kudus” tidak dipergunakan lagi dalam tulisan di Kitab-kitab Perjanjian Baru kecuali hanya satu kali saja dipakai oleh Rasul Paulus sebagaimana tertulis di 1 Kor. 12:13. Juga dipergunakan oleh Petrus di Kisah 11:16. Sebaliknya istilah “dipenuhi” oleh Roh Kudus lebih banyak dijumpai dalam tulisan Rasul Paulus.

Selanjutnya sejumlah ahli Kitab Suci juga menyatakan bahwa dibaptis dengan Roh Kudus berarti dibaptis ke dalam satu Tubuh Kristus. Dengan kata lain pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta merupakan “perayaan peresmian” berdirinya gereja Tuhan. Seseorang yang dibaptis dengan Roh Kudus berarti orang tersebut terhisap menjadi warga gereja Tuhan atau terhisap menjadi satu tubuh Kristus (1 Kor. 12:13).

Dengan demikian baptisan dengan Roh Kudus sebagaimana yang terjadi pada hari Pentakosta cukup satu kali saja. Peristiwa Pentakosta yang melahirkan gereja Tuhan tidak akan terulang kembali karena gereja Tuhan sudah terbentuk. Siapa saja yang percaya dan menerima Kristus sebagai tuhan dan Juruselamat merupakan orang-orang yang telah dipenuhi Roh Kudus. Otomatis mereka menjadi satu tubuh Kristus yaitu gereja-Nya. Itulah sebabnya istilah “dibaptis dengan Roh Kudus” dinyatakan tidak sama dengan “dipenuhi Roh Kudus”.

Terlepas dari ketidak-setujuan beberapa ahli Kitab Suci tersebut, penulis (Pdt. Indrawan Eleeas) melihat bahwa tidak dijumpai perbedaan mendasar antara istilah “dibaptis dengan Roh Kudus” dan “dipenuhi dengan Roh Kudus”. Karena kenyataan yang dijumpai di Kitab Suci, istilah “dibaptis dengan Roh Kudus” berarti “dipenuhi dengan Roh Kudus” (kisah 1:5 digenapi di Kisah 2:4).

Jadi apabila kita mendengar istilah “dibaptis dengan Roh Kudus” kita dapat memahaminya bahwa yang dimaksud adalah “dipenuhi dengan Roh Kudus”. Apabila istilah “dibaptis dengan Roh Kudus” tidak dipergunakan lagi dalam tulisan-tulisan di Perjanjian Baru setelah Kisah Para Rasul (kecuali di 1 Kor. 12:13 dan Kisah 11:16), hal ini bukan berarti istilah “dibaptis dengan Roh Kudus” tidak dapat dipakai lagi. Berdebat di sekitar istilah “dibaptis dengan Roh Kudus” atau “dipenuhi dengan Roh Kudus” tidak akan menghasilkan apa-apa karena hanya sekedar istilah. Yang paling utama adalah apakah Roh Kudus sudah memenuhi kita ?

Lebih lanjut sehubungan dengan istilah “dibaptis dengan Roh Kudus”, kita perlu hati-hati memahaminya. Sering kesalah-pahaman terjadi dalam kaitan pengertian istilah tersebut. Kesalah-pahaman terletak pada pengertian “dibaptis dengan Roh Kudus” yang dimengerti bahwa “Roh Kudus yang membaptis”. Pengertian yang benar bukan Roh Kudus yang membaptis namun Yesus yang membaptis dengan Roh Kudus (Mat. 1:1; Mrk. 1:8; Luk. 3:16; Yoh. 1:33).

Kesalah-pahaman yang lain berkaitan dengan pengertian bahwa hanya hamba Tuhan tertentu yang mampu membaptiskan dengan Roh Kudus. Benarkah baptisan Roh Kudus hanya dapat dilakukan oleh beberapa orang tertentu saja ? Mari kita perhatikan suatu peristiwa yang diungkapkan oleh Lukas, Penulis Kisah Para Rasul.

Saat itu terjadi “kebangunan rohani” di Samaria. Filipus salah seorang dari 7 orang yang diangkat para rasul untuk membantu pelayanan sosial/diakonia (Kisah 6:2-6) yang juga melayani pelayanan pemberitaan Firman Tuhan di depan masa yang banyak jumlahnya (semacam Kebaktian Kebangunan Rohani, istilah yang dikenal dengan singkatan KKR). Pelayanan kotbah di depan masa yang cukup banyak tersebut mengejutkan para rasul di Yerusalem. Mereka memutuskan mengutus Petrus dan Yohanes guna men-check “KKR” tersebut.

Petrus dan Yohanes bersukacita melihat banyak orang Samaria yang menerima Injil dan dibaptis. Saat Petrus dan Yohanes mendoakan mereka sambil menumpangkan tangan ke atas mereka, mereka menerima Roh Kudus. Peristiwa ini dilihat oleh seseorang yang bernama Simon, seorang ahli sihir di Samaria. Segera Simon memohon kepada Petrus dan Yohanes untuk menumpangkan tangannya ke atasnya agar dia dapat menerima kuasa yang sama seperti yang dilakukan Petrus dan Yohanes. dengan kuasa tersebut Simon berharap apabila ia menumpangkan tangannya kepada seseorang, maka orang tersebut dapat menerima Roh Kudus.

Permohonan Simon yang salah tersebut sempat menimbulkan reaksi keras Petrus. Bukan Petrus, Yohanes atau manusia  siapa-pun yang mampu memberikan Roh Kudus. Roh Kudus yang diterima orang-orang percaya merupakan karunia Allah sendiri (Kisah 8:14-20).

Pada jaman sekarang banyak orang berharap dapat dipenuhi Roh Kudus melalui sesama manusia. Bahkan ada yang sedemikian berharap kepada seorang hamba Tuhan yang sepengetahuannya hamba Tuhan tersebut dapat menumpangkan tangan ke atas kepalanya dengan tujuan untuk menerima Roh Kudus. Betapa banyaknya orang-orang yang seperti Simon yang meminta penumpangan tangan Petrus dan Yohanes bahkan rela menggantikannya dengan uang. Masa sekarang tipe Simon ini sekalipun tidak langsung membayar penumpangan tangan dengan uang namun banyak orang telah mengeluarkan uang pergi kesana kemari hanya untuk mencari hamba Tuhan yang dapat menumpangkan tangan agar mereka dapat menerima Roh Kudus.

Kasus Simon, ahli sihir ini amat menarik untuk diperhatikan. Sebenarnya Simon telah menjadi percaya oleh pemberitaan Injil yang disampaikan Filipus (Kisah 8:12-13). Simon juga telah dibaptis. Dia mengikuti pelayananfilipus. Dia takjub melihat tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat yang terjadi di tengah pelayanan Filipus. Simon sendiri melalui praktek sihirnya telah mencengangkan masyarakat Samaria (Kisah 8:9). Namun ketika menyaksikan pelayanan Filipus, Simon merasa kemampuan sihirnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kuasa yang “dimiliki” Filipus. Diam-diam hatinya ingin mendapatkan kuasa tersebut.

Saat Petrus dan Yohanes melayani di Samaria dan Simon menyaksikan bagaimana Petrus dan Yohanes mampu memberikan Roh Kudus melalui penumpangan tangan, Simon segera memohon kepada Petrus dan Yohanes agar memberikan kuasa yang sudah diinginkannya sejak perjumpaannya dengan Filipus (Kisah 8:18-19). Simon benar-benar ingin memperoleh kuasa. Kuasa yang lebih dahsyat daripada kuasa ilmu sihirnya agar lebih banyak orang datang kepada dia dan banyak orang takjub! Inilah motivasinya. Simon ingin memperoleh kemuliaan bagi dirnya sendiri.

Motivasi Simon yang tidak benar tersebut menimbulkan reaksi keras dari Petrus. Petrus menyatakan bahwa “hati Simon tidak lurus” dihadapan Allah. Simon harus benar-benar bertobat agar “hatinya yang jahat” memperoleh pengampunan Allah. Hati Simon yang jahat dilukiskan oleh Petrus seperti “empedu yang pahit” (Kisah 8:21-23). Pertobatan diperlukan!

Hikmat yang dapat kita timba dari kasus Simon adalah penerimaan Roh Kudus bukan dari sekedar penumpangan tangan manusia melainkan merupakan karunia Allah sendiri. Selanjutnya, penerimaan Roh Kudus bukan sekedar untuk memperoleh kuasa yang mampu menampilkan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat. Tampak jelas konsistensi Lukas dalam tekanan penulisannya terus-menerus berfokus pada pemberitaan Injil – “dalam perjalanannya itu mereka memberitakan Injil dalam banyak kampung di Samaria” (Kisah 8:25).

Penulisan Lukas di Kisah Para Rasul tidak berhenti di sekitar “kuasa” atau “tanda-tanda dan mukjizat”, namun Lukas melanjutkan dengan pemberitaan Injil yang merupakan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus (Kisah 1:8). Jiwa-jiwa yang diselamatkan oleh Injil atau pertobatan oleh Injil jauh lebih penting daripada sekedar mengalami dan menikmati tanda-tanda dan mukjizat.

Kembali lagi pada pemahaman istilah “dibaptis dengan Roh Kudus” dan “dipenuhi dengan Roh Kudus”, yang terutama yakni apakah kita telah dibaptis atau dipenuhi Roh Kudus ? Apakah kita sudah mengalami pembaptisan atau pemenuhan Roh Kudus dalam hidup kita ?

Pertanyaan ini sebaiknya juga menggelitik hati kita untuk bertanya : apakah sebenarnya arti kata yang dibaptis dengan Roh Kudus atau dipenuhi dengan Roh Kudus ? Bukankah kita sebagai orang-orang percaya sejak percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat sudah menerima Roh Kudus ? Mengapa kita masih harus dipenuhi dengan Roh Kudus kembali ? apakah Roh Kudus yang telah kita terima sejak kita percaya masih belum cukup untuk memenuhi hidup kita ? Lalu, apakah Roh Kudus memenuhi Roh Kudus memenuhi Roh Kudus sendiri ? Membingungkan bukan ? Bagaimana pengertiannya ?

 

<!–[if !supportLists]–>8.2.            <!–[endif]–>Pemahaman mengenai dibaptis atau dipenuhi dengan Roh Kudus berkaitan dengan keberadaan orang Kristen

 

Acapkali orang Kristen bahkan hamba Tuhan kurang atau tidak mengerti arti dibaptis atau dipenuhi dengan Roh Kudus. Bahkan penulis kuatir banyak orang Kristen sama sekali tidak mengerti karya Roh Kudus tersebut. Banyak orang Kristen sudah ketakutan dulu apabila mendengar istilah dibaptis atau dipenuhi dengan Roh Kudus. “Aku bukan orang Pentakosta, bukan kharismatik. Aku berasal dari gereja Protestan, atau dari gereja Katolik, atau gereja lainnya. Pokoknya tidak ada kaitan dengan gereja Pentakosta atau gereja Kharismatik”.

Banyak orang Kristen juga yang belum apa-apa sudah apriori menghakimi Gereja Pentakosta atau Kharismatik. Yang lebih menyedihkan, dalam khotbah-khotbah atau tulisan-tulisan, mereka amat mendiskreditkan pengalaman Pentakosta atau Kharismatik.

Haruskah sikap yang demikian negatip mewarnai kehidupan orang Kristen dan hamba-hamba-Nya ? Bukankah lebih baik sejuk membagikan berkat pemahaman Kitab Suci yang benar dan positip daripada menyalurkan kritik-kritik yang cenderung negatif destruktif atau mendiskreditkan kelompok lain ?

Guna mengerti makna dibaptis dengan Roh Kudus atau dipenuhi Roh Kudus, kita perlu memperhatikan dengan seksama pernyataan-pernyataan para penulis Kitab Suci di Perjanjian Baru mengenai keberadaan orang Kristen. Beberapa penulis Kitab Perjanjian Baru, baik Paulus, Petrus maupun penulis Surat Ibrani menyajikan pemahaman yang sama mengenai keberadaan orang Kristen.

Keberadaan orang Kristen terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama disebut orang Kristen yang belum dewasa yang disebut manusia duniawi (1 Kor. 3:1) atau anak kecil (Ibr. 5:13) atau bayi yang baru lahir (1 Pet. 2:2). Kelompok kedua disebut orang Kristen dewasa (Ibr. 5:14) atau manusia rohani (1 Kor. 3:1).

Menu makanan orang Kristen bayi adalah susu, sedangkan bagi yang dewasa, makanan keras.

 

8.2.1. Baptisan Roh Kudus berkaitan dengan orang Kristen yang bayi rohani

 

Berpijak pada pemahaman keberadaan orang Kristen tersebut, kita lanjutkan pengertian dibaptis atau dipenuhi dengan Roh Kudus. orang Kristen bayi adalah orang Kristen yang sebenarnya hanya menggunakan cap/label/materai Kristen.

Orang Kristen bayi adalah orang-orang yang tahu bahwa kekristenan merupakan hasil penebusan Kristus (1 Pet. 1:18-19). Dia memahami bahwa kekristenannya dalam kaitan penebusan Kristus dimateraikan oleh Roh Kudus (Efs. 1:13).

Hanya sayang kekristenannya hanyalah sebatas tahu/paham. Roh Kudus di dalam Kristus tidak menempati rumah hidupnya. Orang Kristen bayi tersebut tetap membiarkan rumah hidupnya “kosong”. Suatu saat kekosongan rumah hidupnya mengusik dia. Dia mencari Bapa di sorga. Bapa merangkulnya kembali dengan penuh kasih. Kini hidupnya tidak kosong namun diisi oleh kasih Bapa. Bapa di dalam Roh-Nya memenuhi rumah hidupnya. Atau lebih tepat lagi Bapa di dalam Kristus dan Roh Kudus mengisi dan memenuhi hidupnya. Ya, Roh Kudus memenuhi hidupnya. Dia mengalami kepenuhan Roh Kudus !

Barangkali Kristen bayi tersebut rumah hidupnya telah terisi oleh pelbagai macam roh-roh jahat. Saat dia mengalami kepenuhan Roh Kudus, roh-roh jahat meninggalkan rumah hidupnya.

Tubuhnya dapat terbanting ke lantai. Tubuhnya dapat terguling-guling di lantai. Jeritan-jeritan roh jahat yang meninggalkan tubuhnya terdengar melalui jeritan yang keluar melalui mulutnya. Bahkan ikatan-ikatan roh jahat yang menimbulkan pelbagai macam perbuatan jahat dan dosa akan berusaha bertahan dalam rumah hidupnya – roh-roh jahat tersebut tidak rela meninggalkannya. Di sinilah terjadi peperangan yang dahsyat. Namun Roh Kudus mematahkan dan mengusir keluar roh-roh jahat jenis apapun dari rumah hidupnya (band. Mat. 12:43 – istilah “apabila rih jahat keluar dari manusia”). Roh Kudus memberikan rumah hidupnya. Kondisi keluarnya roh-roh jahat yang dimanifestasikan lewat pelbagai ekspresi secara fisik sering kita saksikan saat seseorang dipenuhi Roh Kudus. Ekspresi fisik yang beraneka ragam inilah yang tidak jarang menakutkan orang-orang Kristen yang menyaksikannya. Namun, bagi orang Kristen yang memahami apa arti karya Roh Kudus di dalam hidup seseorang, dia tidak perlu takut atau was-was melihat fenomena yang aneh-aneh tersebut.

Fenomena fisik yang diekspresikan dengan pelbagai macam cara misalnya seperti : teriakan atau jeritan histeris, menangis keras-keras, menggoyang-goyangkan badan, menjatuhkan badan, dst. – semuanya dapat terjadi pada “Kristen bayi” saat mengalami kepenuhan Roh Kudus. Kondisi tersebut bukan ditimbulkan oleh roh-roh jahat tapi oleh pengaruh kejiwaan atau psikis. Efek psikis dapat menimbulkan gejolak emosi yang cukup dahsyat.

Dalam realita kehidupan sehari-hari, apabila seorang teman akrab mendadak meninggal beberapa teman yang mendengar berita duka tersebut, ada yang tak mampu membendung gejolak emosi yang timbul akibat efek psikis. Mereka akan berteriak histeris, menangis keras-keras, memukul-mukul dinding atau benda-benda lain. Kondisi tersebut bukan disebabkan oleh roh-roh jahat tapi hanyalah pengaruh psikis.

Pengaruh psikis dapat juga menimbulkan seseorang hanya sebatas meneteskan air mata. hatinya benar-benar hancur. Roh Kudus benar-benar menegur dan membersihkan hidupnya. Tidak dijumpai teriakan histeris menangis keras-keras, membanting-banting tubuh dan seterusnya. Yang dialami hanya kehancuran hati. Air mata yang keluar tak mampu dibendungnya. Roh Kudus yang memenuhi hatinya memperbaharui hidupnya.

Berpijak pada fenomena menifestasi fisik Kristen bayi tersebut di atas, umat Kristen kalau tidak hati-hati dapat terjebak dalam dua kekeliruan yang merugikan gereja Tuhan.

Kekeliruan pertama yakni baptisan Roh Kudus atau kepenuhan Roh Kudus yang disertai fenomena yang aneh tersebut dinyatakan sesat. Karena dianggap sesat, ajaran baptisan Roh Kudus atau kepenuhan Roh Kudus tidak perlu diikuti atau tidak perlu diajarkan dalam gereja Tuhan.

Kekeliruan kedua yakni gereja Tuhan hanya menekankan pada fenomena manifestasi fisik. Gereja Tuhan percaya bahwa semakin kuat timbulnya fenomena manifestasi fisik seperti di atas semakin nyata pekerjaan Roh Kudus. Fenomena manifestasi fisik dipakai menjadi patokan atau ukuran pekerjaan Roh Kudus dalam kaitan baptisan Roh Kudus atau kepenuhan Roh Kudus.

Dua macam kekeliruan tersebut di atas telah mengakibatkan pekerjaan Roh Kudus terhambat. Akibatnya gereja Tuhan tidak menjadi teladan yang baik bagi dunia. Kekeliruan tersebut dapat ditepis apabila umat Tuhan benar-benar bertumbuh dewasa tidak hidup sebagai Kristen bayi.

 

8.2.2.   Baptisan Roh Kudus berkaitan dengan orang Kristen yang dewasa rohani

 

Orang Kristen yang sejak awal pertobatannya yakni sejak dia percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan sungguh-sungguh bertumbuh imannya oleh pimpinan Roh Allah sendiri, kehidupan kekristenannya akan beralih dari status bayi rohani menjadi manusia rohani. Manusia duniawi, mengandung arti kekristenan masih banyak dipengaruhi atau dikuasai oleh hal-hal duniawi atau kehidupan dalam daging (seperti dalam Roma 8:9,12,13 atau keinginan daging di Gal. 5:16-17).

dalam pertumbuhan imannya ke arah dewasa rohani seorang Kristen akan merasa haus dan lapar akan kebenaran Firman Tuhan. Hati nuraninya akan berkata, “penuhi hamba dengan Roh-Mu ya Tuhan”. Jadi bagi orang Kristen yang dewasa rohani permohonan kepenuhan Roh Kudus akan terjadi setiap hari dalam persekutuan dengan Bapa di sorga.

Dalam ibadah di gereja atau persekutuan-persekutuan doa bersama, permohonan kepenuhan Roh Kudus dipanjatkannya agar Roh Kudus menguasai jalannya ibadah atau persekutuan yang dijalankan.

Perlu diperhatikan bahwa orang Kristen yang dewasa rohani yang membutuhkan kepenuhan Roh Kudus bukan berarti Roh Kudus tidak hidup dan tinggal di dalam hidupnya. Bukan berarti Roh Kudus yang tinggal dalam dirinya menjadi berkurang kemudian perlu ditambah lagi oleh Roh Kudus.

Orang Kristen yang dewasa rohani telah bertumbuh rohaninya oleh pertolongan Roh Kudus. Pertumbuhan rohani tersebut mengikuti langkah-langkah rohani yang dialaminya yang urut-urutannya sebagai berikut :

<!–[if !supportLists]–>a.       <!–[endif]–>Orang yang memberi hidup bagi mereka yang percaya dan menerima Kristus hidupnya telah dimerdekakan dari hukum dosa (Roma 8:1-2).

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Hidup orang yang bertobat adalah hidup menurut Roh yang telah menghidupkan rohnya, atau hidup dalam Roh dan tidak hidup dalam daging (Roma 8:5-9).

<!–[if !supportLists]–>c.       <!–[endif]–>Hidup dalam Roh adalah hidup dipimpin Roh (Galatia 5:25; Roma 8:14). Orang Kristen yang baru bertobat akan digerakkan oleh Roh Allah sendiri untuk memikirkan hal-hal yang dari Roh (Roma 8:5). Dia mulai mencari perkara yang diatas bukan di bumi (Kolose 3:1-2).

<!–[if !supportLists]–>d.      <!–[endif]–>Pikiran dan hatinya semakin dibukakan oleh kebenaran Firman Tuhan. Roh yang ikut bekerja dalam hidupnya akan semakin mendorong dia untuk memohon Roh Kudus bekerja lebih leluasa dalam hidupnya. Dalam kemanusiaannya dia akan berkata lewat doanya, “Bapa, penuhilah aku dengan Roh-Mu.” Bukan berarti Roh Allah yang telah tinggal dalam hidupnya berkata pada Roh Allah atau Roh Kudus untuk memenuhi Roh itu sendiri. Sama sekali bukan demikian pengertiannya. Tapi dia yang telah percaya dan menerima Kristus dan yang bertumbuh imannya, dalam kemanusiaannya akan timbul permohonan doa agar Roh Kudus memenuhinya. Dalam doanya, dia akan berkata, “Penuhilah aku dengan roh-Mu.” Roh Kudus yang memenuhi dalam diri kemanusiaannya akan menimbulkan dalam dirinya rasa haus dana lapar akan kebenaran firman-Nya. Dia rindu agar Roh Kudus dapat bekerja lebih jauh, lebih dalam, lebih leluasa dalam hidupnya. Dia rindu untuk bertumbuh terus ke arah manusia rohani atau orang Kristen yang dewasa rohani. Status bayi rohani ditinggalkannya. Hidup menurut keinginan daging dikuburkannya dan beralih menuju ke status dewasa rohani. Perubahan-perubahan ini terjadi karena kuasa karya Roh Kudus.

<!–[if !supportLists]–>e.       <!–[endif]–>Kepenuhan Roh Kudus merupakan kerinduan orang Kristen yang dewasa rohani. Karena dia sadar tanpa memberi keleluasaan penuh pada Roh Kudus, dia tak mungkin mampu menumbuhkan rohaninya. Roh Kuduslah yang menghidupkan Firman Allah yang menjadi makanan rohaninya. Roh Kudus yang menguasai hidupnya, Roh Kudus yang memimpin hidup orang Kristen yang dewasa rohani (Galatia 5:25).

Apabila kita mencermati tulisan rasul Paulus, kita dapat menemukan pernyataan-pernyataannya sehubungan dengan kepenuhan Roh Kudus. Memang rasul Paulus tidak memakai istilah “baptisan” tapi “dipenuhi”, karena “dibaptis dengan Roh kudus” berarti “dipenuhi dengan Roh Kudus”. Perhatikan surat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus yang dia sapa “kepada orang-orang kudus di Efesus” (Efesus 1:1). Jelas sapaan “orang-orang kudus” mengandung arti “orang-orang Kristen yang dewasa rohani”. Kepada mereka, rasul Paulus mengamanatkan, “hendaklah kamu penuh dengan roh” (Efesus 5:18).

Kepada jemaat di Tesalonika yang terdiri dari orang-orang Kristen yang dewasa rohani yang jelas nampak dalam kata-kata rasul Paulus, “kamu telah menerima Firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh kudus sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya” (1 Tesalonika 1:6-7), rasul Paulus mengamanatkan, “janganlah padamkan Roh” (1 Tesalonika 5:19). Pernyataan rasul Paulus yang berkaitan dengan kepenuhan Roh Kudus berhubungan erat dengan orang-orang percaya yang dewasa rohani. Jelas tampak bahwa orang-orang percaya yang dewasa rohani tetap membutuhkan kepenuhan Roh Kudus. Apa alasannya ? Mengapa orang-orang percaya yang dewasa rohani butuh dipenuhi Roh Kudus secara terus menerus ?

 

8.2.3.   Tiga alasan dasar mengapa orang percaya yang dewasa rohani butuh kepenuhan Roh Kudus

 

Banyak orang Kristen yang merasa sudah dewasa rohani menganggap tidak perlu kepenuhan Roh Kudus. Mereka merasa Roh Kudus sudah tinggal dan berkarya dalam hidupnya. Terbukti mereka mampu menyampaikan khotbah, mengajar di sekolah‑sekolah teologi, ikut berperan serta dalam pelbagai macam program gereja dan lain sebagainya. Apa perlunya kepenuhan Roh Kudus?

Namun orang Kristen yang dewasa rohani bagaimanapun juga tetap membutuhkan kepenuhan Roh Kudus. Mengapa?

 

<!–[if !supportLists]–>a.      <!–[endif]–>Keterlibatan dalam peperangan rohani

 

Setiap orang Kristen terlibat dalam peperangan rohani (Efs.6:12). Artinya orang percaya menghadapi kuasa roh jahat, roh setan serta Iblis sendiri. Tanpa Roh Allah sendiri yang memenuhi hidup orang percaya, kemenangan dalam peperangan rohani tersebut tidak mungkin dicapai. Perlu diingat bahwa Iblis sendiri selalu menunggu waktu yang baik untuk mencobai orang percaya. Lewat pencobaan yang datang dari Iblis, hubungan orang percaya dengan Allah diusahakan untuk diputuskan. Iblis selalu berusaha mencari waktu yang baik untuk menjatuhkan Yesus (Luk. 4:13). Dengan demikian Iblis pasti akan berusaha menghancurkan kehidupan orang‑orang percaya.

Kepenuhan Roh Kudus dibutuhkan oleh orang‑orang percaya agar orang‑orang percaya memiliki kuasa yang datang dari Allah untuk  mengalahkan Iblis dan para tentaranya.

 

<!–[if !supportLists]–>b.      <!–[endif]–>Pertumbuhan rohani

 

Roh Kudus yang memenuhi hidup orang percaya dibutuhkan untuk menumbuhkan kehidupan rohani orang percaya. Roh Kudus akan memimpin orang percaya untuk memikirkan hal‑hal rohani. Roh Kudus juga menghidupkan Firman Allah yang dibaca, dipelajari, direnungkan dan disimpan dalam hati karena Perjanjian Allah yang tertulis merupakan hukum tertulis yang mati (2 Kor. 3:6). Perjanjian tersebut yang disampaikan oleh hamba‑hamba-Nya berubah menjadi hidup oleh Roh‑Nya yang menghidupkan hati orang percaya dan firman‑Nya serta mengubah hidup orang percaya. Roh Kudus juga memampukan orang percaya mengaplikasikan Firman Allah dalam kenyataan hidup sehari‑hari. Kepenuhan Roh Kudus dibutuhkan agar orang‑orang percaya tidak kembali hidup dalam daging tetapi hidup dalam Roh.

 

<!–[if !supportLists]–>c.       <!–[endif]–>Menjadi saksi

 

Roh Kudus menganugerahkan kuasa kepada orang percaya untuk bersaksi. Arti bersaksi dapat dibagi ke dalam dua bagian:

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Bersaksi secara verbal, berarti orang percaya menyampaikan berita Injil/Firman Tuhan kepada sesama umat manusia atau menyampaikannya melalui kata‑kata. Sekalipun pemberitaan melalui kata‑kata, Roh Kudus perlu memenuhinya agar “baik perkataan maupun pemberitaan tidak disampaikan dengan kata‑kata hikmat yang meyakinkan tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh” (1 Kor. 2:4).

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Bersaksi secara non‑verbal, berarti bersaksi melalui :

 

<!–[if !supportLists]–>Ø      <!–[endif]–>Teladan perbuatan hidup sehari‑hari. Perbuatan hidup yang tampak dalam hidup orang percaya merupakan hasil pekerjaan Roh Kudus. Tidak ada manusia yang mampu menghasilkan perbuatan baik (Roma 3:12). Hanya Roh Kudus yang memenuhi orang percaya mampu menghasilkan perbuatan baik ‑ yang disebut buah Roh (Gal. 5:22‑23). Apabila Roh Kudus yang menghasilkan buah Roh dalam hidup orang percaya direalisasikan dalam hidup sehari‑hari, kemunafikan tidak akan dijumpai.

<!–[if !supportLists]–>Ø      <!–[endif]–>Menjadi saluran berkat. Sebagaimana teladan Yesus yang dipenuhi Roh Kudus (Luk. 3:22; 4:18), Yesus telah menjadi berkat bagi mereka yang miskin dan tertindas. Mereka yang lapar diberi roti, yang sakit disembuhkanNya, yang terkena musibah ditolong‑Nya. Menjadi saluran berkat berarti melibatkan diri dalam pelayanan sosial. Roh Kudus yang memenuhi orang percaya memotivasi orang percaya untuk menolong secara nyata pada sesama manusia.

 

Roh Kudus yang memenuhi hidup orang percaya akan melengkapi orang percaya dengan pelbagai macam karunia. Orang‑orang percaya yang harus menghadapi peperangan rohani membutuhkan karunia Roh. Dalam kaitan pertumbuhan rohani juga diperlukan karunia Roh. Untuk mampu menjadi saksi dibutuhkan karunia.

 

8.2.4.   Kendala yang berkaitan dengan baptisan Roh Kudus atau kepenuhan Roh Kudus

 

Sehubungan dengan pengalaman dipenuhi Roh Kudus, Rasul Paulus memberi nasihat khusus kepada dua jemaat, jemaat di Korintus dan jemaat di Galatia. Nasihat yang disampaikan Rasul Paulus kepada dua jemaat tersebut perlu kita perhatikan dengan cermat. Nasihat yang disampaikan kepada orang‑orang percaya tersebut amat berguna bagi jemaat masa kini yang rindu untuk dipenuhi dengan Roh Kudus. Pengalaman jemaat di Korintus maupun di Galatia dapat menjadi cermin bagi jemaat Tuhan masa kini agar kekeliruan tidak terulang di tengah jemaat‑Nya yang mengalami kepenuhan Roh Kudus.

Mengamati surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus dan di Galatia berkaitan dengan karya Roh Kudus, kita menemukan beberapa hal penting yang perlu kita perhatikan. Yang jelas, Rasul Paulus menulis dua pasal penuh, 1 Korintus 12 dan 14 berkaitan dengan karya Roh Kudus di tengah jemaat Korintus. Sedangkan di Galatia, rasul Paulus menulis sedikit mengenai hidup menurut Roh (Gal. 5:16‑26).

 

8.2.4.1. Kendala yang dijumpai di jemaat Korintus

 

Jemaat di Korintus merupakan kumpulan orang‑orang percaya yang dikuduskan dalam Kristus Yesus. Bagi Paulus, orang‑orang percaya di Korintus yang berhimpun menjadi jemaat adalah mereka yang dipanggil menjadi orang‑orang kudus. Rasul Paulus benar‑benar menempatkan istilah “jemaat” pada pemahaman yang sebenarnya. Istilah “jemaat” bukan sekedar organisasi atau nama kumpulan satu komunitas tertentu, tapi istilah “jemaat” merupakan kumpulan orang-orang kudus yang dikuduskan dalam Kristus Yesus. Paulus benar‑benar menghargai makna jemaat. Melalui penempatan makna jemaat yang sedemikian indah, Paulus bermaksud mengingatkan kumpulan orang‑orang percaya bukanlah merupakan kumpulan orang yang asal‑asalan, yang sembrono dan tak menghayati statusnya sebagai orang yang telah dikuduskan dalam Kristus.

Namun dalam kenyataan perjalanan jemaat Korintus, Paulus menjumpai sejumlah kesulitan bahkan penyimpangan-penyimpangan yang amat merugikan status orang‑orang percaya sebagai orang‑orang kudus. Sekalipun orang percaya sudah diberi label/cap orang kudus, Paulus tidak segan‑segan mengoreksi status mereka bahkan tidak segan‑segan juga menyatakan bahwa status orang kudus bukan merupakan jaminan berjemaat. Perhatikan perintah Paulus yang amat keras terhadap “orang‑orang kudus” yang melakukan kejahatan, “… usirlah orang‑orang yang melakukan kejahatan di tengah‑tengah kamu ” (1 Kor. 5:13). Selanjutnya nasihat yang amat keras juga keluar dari perkataan Paulus, “… janganlah sesat ! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah” (1 Kor. 6:9). Perhatikan kata‑kata “tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah”. Berarti, sekalipun jemaat di Korintus disapa sebagai orang‑orang kudus dan memang status orang percaya merupakan orang‑orang yang dikuduskan, status tersebut tidak menjamin mereka untuk memperoleh bagian dalam Kerajaan Allah.

Mencermati kembali pernyataan‑pernyataan Rasul Paulus yang amat keras seperti tertulis di 1 Kor. 16:22, pernyataan‑pernyataan yang keras tersebut memiliki latar belakang kondisi jemaat Korintus yang dilihat Paulus. Kondisi warga jemaat di Korintus benar‑benar amat memprihatinkan. Sekalipun status mereka disebut orang‑orang kudus namun di tengah mereka dijumpai dosa‑dosa yang cukup menyedihkan hati Paulus.

Dosa‑dosa yang diperbuat oleh sejumlah warga jemaat di Korintus benar‑benar bertolak belakang dengan status orang kudus. Rasul Paulus menyimpulkan bahwa sejumlah orang-orang percaya di jemaat Korintus bukanlah orang Kristen yang dewasa rohani atau yang disebut manusia rohani. Mereka disebut manusia duniawi. Karena menu rohani mereka sebatas susu, mereka sebenarnya dapat dikategorikan sebagai bayi Kristen atau Kristen anak.

Kunci pemahaman kendala‑kendala yang terjadi di jemaat Korintus sehubungan dengan baptisan Roh Kudus atau kepenuhan Roh Kudus terletak pada kenyataan kondisi sejumlah warga jemaat Korintus tersebut. Mereka yang dikategorikan sebagai manusia duniawi yang merasa mengalami kepenuhan Roh Kudus menimbulkan kekacauan di tengah jemaat Korin­tus. Ibadah jemaat menjadi tidak tertib.

Sebagaimana istilah yang dipergunakan Paulus kepada warga jemaat Korintus sebagai manusia duniawi, terdapat persamaan antara manusia duniawi dan manusia yang hidup dalam daging. Misalnya sifat‑sifat iri hati dan perselisihan yang menjadi karakteristik manusia duniawi (1 Kor. 3:3), sifat‑sifat tersebut juga dimiliki oleh mereka yang hidup menurut daging (Gal. 5:20). Rasul Paulus dengan tegas menyatakan bahwa manusia duniawi adalah manusia yang bukan rohani (1 Kor. 3:4). Sifat‑sifat iri hati dan perselisihan yang menimbulkan pengelompokan seperti kelompok Apolos, Kefas dan seterusnya (1 Kor. 1:11‑12) merupakan ciri manusia duniawi yaitu mereka yang hidup secara daging atau bukan rohani (1 Kor. 3:3‑4). Perpecahan jemaat yang ditimbulkan oleh pengelompokan merupakan ciri mereka yang “dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan hidup tanpa Roh Kudus” (Yudas 1:19).

Jadi dalam jemaat Korintus terdapat warga jemaat Tuhan yang hidupnya hanya dikuasai keinginan‑keinginan dunia atau keinginan daging/lahiriah. Mereka merupakan warga jemaat yang sebenarnya hidup tanpa Roh Kudus. Ekspresi glossalaleo dan manifestasi karunia Roh Kudus yang terjadi dalam jemaat Korintus hanya menimbulkan kekacauan dan tidak tertibnya peribadahan yang dilaksanakan karena timbul dari mereka yang hidupnya hanya mengikuti keinginan-keinginan daging. Ironisnya, mereka yang dikategorikan sebagai manusia duniawi jelas adalah mereka yang hidup tanpa Roh Kudus. Kondisi ini yang menyebabkan Rasul Paulus menulis cukup panjang mengenai karya Roh Kudus.

Melihat kondisi jemaat Korintus yang sedemikian “duniawi” dan bukan “rohani”, karya Roh Kudus dapat dimanipulasi oleh keinginan daging seseorang. Dengan kata lain, manifestasi yang tampak di sebelah luar yang seolah‑olah hasil pekerjaan Roh Kudus ternyata hanya semata‑mata cetusan “daging” atau “lahiriah” seseorang. Ekspresi “daging” ini kemudian dapat dipergunakan untuk memaksa orang lain ikut melakukan “ekspresi daging yang sama”. Betapa menyedihkan apabila warga jemaat hanya dikuasai oleh keinginan daging dan bukan oleh Roh Kudus yang sebenarnya.

Dengan demikian kendala utama di tengah baptisan Roh Kudus atau kepenuhan Roh Kudus adalah apabila warga jemaat yang hidup kekristenannya masih sebatas “manusia duniawi” atau “Kristen bayi” atau “manusia lahiriah”. Warga jemaat yang demikian ini dalam hidup kekristenannya hanya dikuasai oleh keinginan duniawi/daging/lahiriah dan hidupnya sama sekali tanpa Roh Kudus. Dibutuhkan pertobatan sungguh‑sungguh yang menjadikan Kristus sebagai Raja yang menguasai seluruh hidupnya dan memohon dengan segenap hati agar Roh Kudus memenuhi hidupnya untuk memimpin hidupnya menuju kepada manusia rohani.

 

8.2.4.2. Kendala yang dijumpai di jemaat Galatia

 

Kasus di jemaat Galatia berbeda dengan jemaat Korintus. Sejumlah warga jemaat di Korintus hidup kekristenannya hanya diisi oleh keinginan duniawi/daging. Bahkan beberapa macam dosa yang amat najis di hadapan Allah dilakukan di tengah jemaat Korintus. Ekspresi kedagingan manusia dianggap sebagai tanda kepenuhan Roh Kudus. Kondisi ini tampak di jemaat Korintus.

Di jemaat Galatia Rasul Paulus menemukan warga jemaat yang hidup mereka sudah dipimpin oleh Roh Kudus ternyata cenderung meninggalkan kebenaran Firman Tuhan. Warga jemaat di Galatia terperangkap oleh hal‑hal yang ber­sifat kedagingan. Sehingga rasul Paulus menyatakan, “kamu telah memulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?” (Gal. 3:3).

Memang jemaat yang mengalami kepenuhan Roh Kudus atau sebagaimana yang dikatakan oleh rasul Paulus, ” … Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah‑limpah dan yang melakukan mukjizat di antara kamu …” (Gal. 3:5), jemaat harus tetap tinggal/hidup dalam kebenaran Firman Tuhan. Betapa mudahnya orang‑orang percaya yang mengalami kepenuhan Roh Kudus dengan segala bentuk manifestasi Roh Kudus menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan.

Penyimpangan dari kebenaran Firman Tuhan atau Injil Kristus timbul dari ajaran‑ajaran orang yang bermaksud mengacaukan dan memutar‑balikkan Injil (Gal. 1:7). Berarti di tengah jemaat Galatia terdapat pengajaran‑pengajaran yang sama sekali tidak memiliki dasar kebenaran Firman Tuhan. Hasilnya hidup warga jemaat Galatia bukan lagi hidup yang dipimpin oleh Roh melainkan dipimpin oleh daging. Karena hidup orang‑orang percaya hanya menuruti keinginan daging, perbuatan daging yang muncul di tengah jemaat Galatia seperti: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Gal. 5:19‑21).

Penyimpangan dapat terjadi apabila jemaat yang mengalami kepenuhan Roh Kudus hanya semata‑mata mendasarkan kehidupan kekristenannya pada pengalaman kepenuhan Roh dengan segala bentuk manifestasi mukjizat. Warga jemaat tidak mendasarkan imannya pada kebenaran Firman Tuhan. Yang diutamakan oleh warga jemaat hanyalah kepenuhan Roh dengan segala tanda dan mukjizat‑Nya. Fokus jemaat hanya pada tanda mukjizat lahiriah !

Berangkat dari kondisi jemaat yang sedemikian, ajaran-ajaran yang sama sekali tidak memiliki dasar kebenaran Firman Tuhan dan hanya ajaran‑ajaran yang bersifat kepenuhan Roh Kudus disertai tanda dan mukjizat lahiriah dapat dengan mudah diterima dan diaminkan oleh jemaat. Sekalipun ajaran­-ajaran yang disampaikan tidak ada dasar kebenaran Firman Tuhan bahkan memutarbalikkan Firman Tuhan, jemaat tidak peduli, yang penting kepenuhan Roh Kudus dengan manifes­tasi mukjizat. Kondisi semacam inilah yang oleh rasul Paulus dinyatakan dengan tegas, “apakah kamu yang telah mulai dengan Roh namun mengakhirinya di dalam daging?” (Gal. 3:3).

Mengawali dengan Roh namun mengakhiri di dalam daging ‑ betapa sayangnya ‑ betapa menyedihkan ! Rasul Paulus bereaksi keras menghadapi kondisi jemaat yang demikian menyedihkan. Beberapa kati Paulus menggunakan kata “terkutuklah” (Gal. 1:8‑9). Yah, terkutuklah bagi mereka yang memutar‑balikkan kebenaran Firman Tuhan atau Injil Kristus.

Jadi kendala yang dihadapi jemaat Galatia adalah warga jemaat yang mulai menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan. Kerinduan untuk mengalami kepenuhan Roh Kudus mungkin tetap menyala‑nyala tapi kebenaran Firman Tuhan diabaikan. Akibatnya perbuatan‑perbuatan daging timbul di tengah jemaat Tuhan. Berarti kepenuhan Roh Kudus tanpa ajaran kebenaran Firman Tuhan yang kokoh dapat menghasilkan orang‑orang Kristen yang puas dengan tanda‑tanda lahiriah saja.

 

<!–[if !supportLists]–>8.3.            <!–[endif]–>Fenomena Baptisan Roh Kudus pada Hari Pentakosta

 

Baptisan Roh Kudus pada hari Pentakosta yang dialami 120 murid ditandai dengan fenomena, yang mencengangkan banyak orang. Fenomena pada hari Pentakosta tersebut telah menjadi perdebatan gereja Tuhan. Apakah fenomena supernatural tersebut masih terjadi pada masa kini? Ataukah fenomena yang dialami 120 murid hanya terjadi satu kali saja dan tidak terulang kembali?

 

<!–[if !supportLists]–>8.3.1.      <!–[endif]–>Fenomena pada hari Pentakosta

 

Fenomena yang terjadi pada hari Pentakosta sebagaimana tercatat di Kisah Para Rasul (Kisah 2:2‑4) adalah sebagai berikut:

 

<!–[if !supportLists]–>·        <!–[endif]–>Tiupan angin keras

<!–[if !supportLists]–>·        <!–[endif]–>Lidah‑lidah seperti nyala api

<!–[if !supportLists]–>·        <!–[endif]–>Berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa lain

 

Fenomena tersebut mengejutkan masa yang terdiri dari orang-orang Yahudi yang saleh dari pelbagai wilayah yang berkumpul di Yerusalem guna memperingati hari raya Pentakosta. Fenomena supernatural yang mengejutkan banyak orang yakni saat mereka mendengar murid‑murid mengucapkan kata‑kata yang menggunakan bahasa-bahasa di mana mereka tinggal. Misalnya bahasa Partia, Media, Elam, Arab, dan seterusnya (Kisah 2:8‑12).

Fokus peristiwa pada hari Pentakosta tersebut yang banyak disoroti yakni berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa lain. 120 murid mampu berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa lain karena pemberian Roh Kudus (Kisah 2:4). Fokus atas fenomena “berkata‑kata dalam bahasa-bahasa lain” ada yang meyakini sebagai glossalaleo atau istilah yang dikenal gereja‑gereja Pentakosta: glosolali. Di pihak lain, sejumlah umat Kristen memahaminya bahwa “berkata‑kata dalam bahasa-bahasa lain” bukan glossolaleo, tapi benar‑benar berkata‑kata dalam bahasa manusia yang dikenal dan dipahami. Ada yang mengatakan istilah “berkata-kata da;am bahasa-bahasa lain” disebut xenolaleo.

Jadi bukan glossolaleo. Berangkat dari perbedaan pemahaman ini timbul pergunjingan, perdebatan, perselisihan antar sesama umat Kristiani. Sebenarnya perselisihan tersebut dapat dihindarkan apabila sesama umat Kristiani mampu memahami dengan kerendahan hati ajaran kebenaran Firman Tuhan. Namun, perselisihan timbul apabila masing‑masing kelompok umat Kristiani mempertahankan doktrin, keyakinan denominasi bahkan saling mendiskreditkan satu terhadap yang lain. Kondisi yang buruk ini dapat diikuti dalam perjalanan gereja Tuhan atau yang dikenal dalam sejarah gereja. Sudah barang tentu hal‑hal buruk yang menimpa gereja perlu dihindarkan oleh gereja Tuhan masa kini.

Kembali pada fenomena “berkata‑kata dalam bahasa lain”, kita perlu mencermatinya dengan seksama. Perlu diakui bahwa Kitab Suci terkadang tidak memuat penjelasan secara terperinci perihal peristiwa-peristiwa penting yang bersifat supernatural. Akibatnya timbul pelbagai ragam interpretasi. Tentunya dibutuhkan pemahaman yang baik berkaitan dengan interpretasi kebenaran Kitab Suci. Di samping faktor intelek yang dipergunakan, bimbingan Roh Kudus amat dibutuhkan agar rahasia kebenaran Kitab Suci dapat diungkapkan dengan jelas.

Memperhatikan fenomena “berkata‑kata dalam bahasa lain” sebenarnya sudah dijelaskan oleh Kitab Suci sendiri yaitu berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa manusia yang dikenal (Kisah 2:6‑ “… berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri” atau Kisah 2:11‑ “… kita mendengar mereka berkata‑kata dalam bahasa kita sendiri …”). Dengan demikian saat murid‑murid dipenuhi Roh Kudus, mereka berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa yang dikenal dalam kehidupan sehari‑hari. Namun yang mencengangkan adalah 120 murid tersebut kebanyakan terdiri dari orang‑orang Galilea (Kisah 2:17). Orang‑orang Galilea adalah orang‑orang yang sederhana dan pendidikannya juga sederhana. Sedang orang‑orang yang berkumpul di Yerusalem sebagian besar adalah orang‑orang yang terdidik. Apabila kita mengikuti percakapan antara para imam Bait Allah dengan Petrus dan Yohanes, para imam tersebut kagum atas keberanian Petrus dan Yohanes karena kedua murid Yesus yang berasal dari Galilea adalah “orang biasa yang tidak terpelajar” (Kisah 4:13).

120 murid yang dipenuhi Roh Kudus yang kebanyakan berasal dari Galilea merupakan orang‑orang yang “tak terpelajar”. Apabila mereka mampu berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa lain berarti dapat dikatakan mereka orang terpelajar. Tapi faktanya ? Mereka, orang-orang Galilea yang tidak terpelajar. Lalu dari mana kemampuan mereka berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa lain? Jawabannya tegas, dari Roh Kudus. Mereka mengalami suatu peristiwa yang supernatural.

Berkata‑kata dalam bahasa lain sebagaimana yang dialami oleh 120 murid di Yerusalem merupakan anugerah Allah di dalam RohNya. Pada saat mereka mengalami peristiwa supernatural tersebut beberapa buku tafsiran Kitab Suci menyatakan bahwa sebenarnya Kitab Suci tidak secara jelas menyatakan apakah mereka ber‑glossalaleo. Namun, kita perlu memperhatikan pernyataan‑pernyataan yang ditulis Lukas dengan seksama saat peristiwa hari Pentakosta tersebut terjadi.

 

<!–[if !supportLists]–>1.      <!–[endif]–>Kisah 2:4 menyatakan, “maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh Kudus kepada mereka untuk mengatakannya”.­

 

Tampak jelas bahwa Kisah 2:4 dengan manifestasi “berkata-kata dalam bahasa‑bahasa lain” diekspresikan benar‑benar dalam bahasa manusia. Bukan bahasa yang tidak dikenal atau bahasa asing yang di luar jangkauan kemampuan intelek manusia. Atau bahasa supernatural yang diistilahkan oleh rasul Paulus “bahasa malaikat” (1 Kor. 13:1) atau “bahasa roh” (1 Kor. 14:18). Atau yang Lukas katakan, “berkata‑kata dalam bahasa roh” (Kisah 19:6). Tapi benar‑benar bahasa manusia yang dikenal dan dipahami.

 

<!–[if !supportLists]–>2.      <!–[endif]–>Lukas menulis saat Roh Kudus memenuhi 120 murid dinyatakan bahwa “mereka mulai berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa lain”. Kata “mereka” mengandung arti semua murid ‑ 120 orang yang berkumpul di ruang atas di suatu bangunan di Yerusalem (Kisah 1:12‑15). Istilah “mereka” yang mengandung arti “120 murid” sejalan dengan isi kotbah Petrus yang menyatakan bahwa Allah akan mencurahkan Roh‑Nya ke atas semua manusia baik laki‑laki atau perempuan (Kisah 2:17‑18). Sebagaimana kita ketahui bahwa 120 murid tersebut terdiri dari murid laki‑laki dan perempuan (Kisah 1:13‑14). Dengan demikian yang berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa lain yakni 120 murid baik laki‑laki maupun perempuan.

 

<!–[if !supportLists]–>3.      <!–[endif]–>Saat 120 murid “berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa lain”, suara yang keluar dari mulut mereka jelas hiruk pikuk. Dapat dibayangkan 120 orang berkumpul dan semua bersuara baik laki‑laki maupun perempuan di suatu ruangan, suara yang dihasilkan jelas merupakan suara yang bergemuruh. Bunyi yang gemuruh ini yang menarik perhatian orang‑orang Yahudi yang berkumpul di Yerusalem (Kisah 2:6). Kini kita perlu memperhatikan Kisah 2:6 tersebut. Mencermati Kisah 2:6 tampak jelas dua bagian penting yang Lukas kemukakan:

 

<!–[if !supportLists]–>·        <!–[endif]–>“Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak”. Bunyi apa yang mereka dengar? Jelas terdapat dua macam bunyi saat Roh Kudus memenuhi para murid. Bunyi seperti tiupan angin keras (Kisah 2:2) dan bunyi gemuruh 120 orang berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa lain (Kisah 2:4).

Memperhatikan konteks peristiwa seluruhnya saat dipenuhinya murid‑murid dengan Roh Kudus, bunyi yang didengar oleh orang‑orang Yahudi yang berkumpul di Yerusalem adalah bunyi tiupan angin keras yang kemudian disusul dengan bunyi suara orang banyak yang gemuruh. Bunyi tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah jelas menimbulkan efek bunyi-bunyian yang timbul dari pintu, jendela atau lubang angin rumah (sekalipun type rumah bangunan di Yerusalem berbeda dengan rumah‑rumah kita di Indonesia) yang segera diisi suara hiruk pikuk/gaduh 120 murid yang berkumpul. Momen ini tak seorangpun tahu jenis suara yang keluar dari mulut 120 murid.

Kisah 2:6 hanya menyatakan, “ketika turun bunyi itu … “ Kitab Suci terjemahan bahasa Inggris, King James Version menyatakan, “Now when this was noised abroad … ” (Acts 2:6). Kata Inggris noised berarti “suara ribut/hiruk pikuk/gaduh”. Istilah noised abroad mengandung arti “suara ribut­-ribut tersebar”. Dengan kata lain, suara hiruk pikuk/gaduh yang bersumber dari 120 murid mengalir keluar dari dalam ruangan tempat mereka berkumpul. Jadi dari dalam keluar. Dari internal berubah ke eksternal. Suara yang hiruk pikuk/ribut‑ribut/gaduh didengar oleh sejumlah orang‑orang Yahudi dan sebagian di antara mereka langsung mengatakan, “ … mereka sedang mabuk oleh anggur manis” (Kisah 2:13). Bunyi yang keluar dari ruangan tempat 120 murid berkumpul ditanggapi sebagai bunyi orang‑orang yang mabuk. Berarti, bunyi dari suara mereka tidak dimengerti oleh sebagian orang‑orang Yahudi tersebut. Karena mereka tak dapat memahami suara yang diucapkan oleh para murid yang dipenuhi Roh Kudus, mereka langsung memvonis para murid sedang mabuk anggur. Dari respon yang tak dimengerti ini, kita dapat menyimpulkan sambil bertanya, apakah 120 murid pada saat permulaan/awal berkata‑kata oleh karya Roh Kudus, mereka berkata‑kata dalam bahasa roh? Yakni bahasa yang tak dimengerti oleh akal budi seseorang sebagaimana dikatakan rasul Paulus di 1 Korintus 14:9? Bukan saja orang yang berkata‑kata dengan bahasa roh dikatakan mabuk anggur, tapi orang luar yang mendengar juga dapat mengatakan “bahwa kamu gila” (1 Kor. 14:23). Jadi pertimbangan kita terhadap bunyi yang didengar dibatasi oleh ruangan tempat murid‑murid berkumpul dapat dikatakan merupakan bunyi yang dihasilkan oleh pekerjaan Roh Kudus baik yang bersifat tiupan angin keras maupun yang bersifat kata‑kata yang diucapkan oleh para murid yang supernatural.

<!–[if !supportLists]–>·        <!–[endif]–>Bagian penting ke dua yang terdapat di Kisah 2:6 dikatakan, “… mereka bingung karena mereka masing‑masing mendengar rasul‑‑rasul itu berkata‑kata dalam bahasa mereka sendiri”. Setelah mereka berkerumun di sekitar ruangan tempat 120 murid yang dipenuhi Roh Kudus dan mendengar “bunyi ribut-ribut” atau noise, kemudian mereka menjadi bingung karena mereka mendengar para murid berkata‑kata dalam bahasa-bahasa yang mereka kenal dan pahami. Lukas, penulis Kisah Para Rasul, menggoreskan tulisannya di momen yang amat penting dan kritis tersebut dimana ia ternyata tidak berhenti pada momen noise atau “bunyi hiruk pikuk” tapi Lukas melanjutkan tulisannya dengan “bunyi” dari kata‑kata yang diucapkan para murid yang dikenal dan dipahami oleh banyak orang yang berkerumun di sekitar ruang atas tempat 120 murid berhimpun.

Dengan demikian tampak perubahan bunyi yang bersifat internal menuju eksternal. Bunyi yang bersifat eksternal merupakan bunyi kata‑kata dari pada murid yang dapat dipahami. Kata‑kata yang disampaikan para murid adalah “tentang perbuatan‑perbuatan besar yang dilakukan Allah” (Kisah 2:11). Kata‑kata tersebut merupakan berita yang perlu disampaikan oleh orang‑orang percaya (1 Pet. 2:9). Berita yang disampaikan merupakan kesaksian orang percaya. Orang percaya yang bersaksi menjadi fokus tulisan Lukas di Kisah Para Rasul sebagaimana tercantum dalam Kisah 1:8 – “kamu akan menjadi saksi-Ku”. Menjadi saksi Kristus adalah memberitakan‑Nya pada semua orang. Penyampaian berita tentang Kristus tentunya dilakukan melalui komunikasi yang jelas. Lukas tampak konsisten dengan tulisannya di Kisah Para Rasul yang bertumpu pada Kisah 1:8 tersebut. Tujuan Lukas menulis Kisah Para Rasul adalah menarasikan karya Roh Kudus yang memakai orang‑orang percaya menjadi saksi Kristus. Injil harus diberitakan ke segenap penjuru dunia ‑ diawali dari Yerusalem. Bertitik tolak pada pemahaman Kisah 1:8, Lukas konsekuen dalam penulisannya mengenai karya Roh Kudus. Itulah sebabnya Lukas dalam menyoroti turunnya Roh Kudus ke atas para murid pada Pentakosta, tidak berhenti sampai pada fenomena berkata‑kata dengan bahasa roh atau glossalaleo yang tidak dimengerti oleh sesama manusia. Karena fokus Lukas adalah menyaksikan Kristus dan Injil‑Nya dari Yerusalem sampai ke ujung bumi. Jadi bersifat internal ke eksternal ‑ Lukas lebih menitikberatkan para murid saat dipenuhi Roh Kudus “berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa lain” yakni bahasa‑bahasa yang dimengerti dan dipahami oleh sesama umat manusia. Tujuannya pemberitaan Injil dapat didengar dengan jelas oleh para, pendengar. Bagaimana dapat menjadi saksi Kristus apabila komunikasi yang dipakai berupa “bahasa roh atau bahasa malaikat” yang sama sekali tidak dipahami oleh manusia. Jelas manusia tidak akan mampu memahami dan menerima Injil.

Berpijak pada komunikasi yang jelas dalam kaitan dengan misi pemberitaan Injil yang perlu ditumbuh‑kembangkan dari Yerusalem sampai ke ujung bumi, Lukas tidak berfokus pada glossalaleo. Lukas lebih memusatkan pada visi misi amanat agung Kristus sebagaimana tertera dalam Kisah 1:8. Konsistensi penulisan Lukas ini bukan berarti Lukas mengabaikan glossalaleo (akan diuraikan lebih lanjut). Namun apa gunanya glossalaleo apabila Injil tidak diberitakan secara jelas dalam komunikasi yang jelas.

 

Jadi peristiwa supernatural yang terjadi pada hari Pentakosta sehubungan dengan dipenuhinya 120 murid dengan Roh Kudus tampak dua tanda spektakuler yang dialami para murid.

 

<!–[if !supportLists]–>1)      <!–[endif]–>semua murid berkata‑kata yang menimbulkan bunyi hiruk pikuk yang dianggap mabuk anggur karena tidak dimengerti/dipahami (glossalaleo)

<!–[if !supportLists]–>2)      <!–[endif]–>murid‑murid berkata‑kata dengan bahasa‑bahasa yang dipahami.

 

Peristiwa supernatural yang Allah kerjakan bukannya dimaksudkan untuk tidak dipahami oleh manusia, tapi begitu kebenaran Firman Allah yang supernatural perlu dikomunikasikan kepada umat manusia, komunikasi dilakukan dalam bahasa umat manusia. Peristiwa supernatural yang dahsyat dari Allah yakni ketika Allah menjadi manusia yang dinyatakan dalam diri Yesus, agar Allah dapat berkomunikasi dengan manusia, merupakan bukti yang amat jelas bagaimana Allah yang supernatural mengkomunikasikan dirinya dalam batas‑batas natural.

Dengan demikian dapat dikatakan para murid mengalami glossalaleo namun para murid yang dipenuhi Roh Kudus pada hari Pentakosta tersebut tidak membutuhkan penafsir glossalaleo. Para murid langsung menyampaikan bahasa roh ke bahasa yang dipahami oleh manusia. Para murid tidak berpuas diri dalam ber-glossalaleo atau berhenti pada bunyi yang hiruk pikuk/noise tapi para murid langsung membentakan perbuatan‑perbuatan Allah yang besar dalam bahasa‑bahasa yang dikenal dan dipahami.

Itulah sebabnya apabila kelompok umat Kristiani bersikukuh mempertahankan pendapatnya bahwa para murid di hari Pentakosta mengalami manifestasi glossalaleo saja ‑ jelas pendapat ini amat keliru. Apabila pendapat ini dipertahankan dengan menyatakan bahwa tanda kepenuhan Roh Kudus atas para murid di hari Pentakosta adalah semata‑mata glossalaleo, pendapat sedemikian jelas bertentangan dengan konsistensi Lukas sendiri sebagai penulis Kisah Para Rasul, bahkan bertentangan dengan Amanat Agung Yesus Kristus sebagaimana tercantum dalam Kisah 1:8. Artinya apabila hanya berglossalaleo saja, bagaimana orang‑orang yang berbahasa Partia, Media, Elam dan seterusnya mengerti berita Injil.

Sebaliknya, kelompok umat Kristiani yang meniadakan sama sekali manifestasi glossalaleo juga tidak benar. Karena baik Lukas maupun Paulus menghargai glossalaleo. Hal ini akan diuraikan lebih lanjut dalam penjelasan yang berkaitan dengan glossalaleo.

 

<!–[if !supportLists]–>8.4.            <!–[endif]–>Fenomena Baptisan Roh Kudus setelah Hari Pentakosta

 

Segera setelah fenomena baptisan Roh Kudus yang supernatural pada hari Pentakosta yang dialami oleh 120 murid, fenomena berikutnya yang berkaitan dengan karya Roh Kudus tercatat dalam empat bagian yang perlu. kita cermati sebagaimana yang ditulis Lukas di Kisah Para Rasul 2.

 

<!–[if !supportLists]–>8.4.1.      <!–[endif]–>Keberanian Petrus memberitakan Firman Tuhan

 

Sebagaimana kita ketahui, ribuan orang saleh “dari segala bangsa di bawah kolong langit” (Kisah 2:5) berkumpul di Yerusalem guna merayakan hari raya Pentakosta ‑ salah satu dari tiga perayaan utama yang sakral dari orang Yahudi. Dalam catatan di Injil Yohanes, murid‑murid “berkumpul di suatu tempat dengan pinta‑pintu terkunci karena mereka takut kepada orang‑orang Yahudi” (Yoh. 20:19).

Pada hari Pentakosta saat Roh Kudus memenuhi para murid, orang‑orang Yahudi terkejut dengan suara hiruk pikuk yang keluar dari tempat para murid berkumpul. Para murid tidak dapat menyembunyikan persekutuan mereka. Jendela atau pintu yang terkunci tidak dapat menahan suara/bunyi hiruk pikuk tersebut. Apabila Roh Kudus bekerja, orang‑orang percaya tidak dapat menyembunyikan identitasnya sebagai pengikut‑pengikut Kristus. Air hidup harus mengalir keluar membasahi tanah‑tanah gersang.

Murid‑murid Yesus yang berkumpul dengan sejumlah umat percaya harus secara terbuka berhadapan dengan ribuan orang saleh (Yahudi) di hari yang sakral, Pentakosta. Pada hari yang sakral tersebut, para umat percaya/murid‑murid membuat gaduh dengan bunyi/suara yang aneh didengar telinga orang‑orang Yahudi. Bukankah kondisi ini dapat mengakibatkan kemarahan orang‑orang Yahudi? Pencurahan Roh Kudus disertai bunyi hiruk pikuk dapat dipergunakan orang‑orang Yahudi untuk menghancurkan orang‑orang Kristiani. Jelas hari sakral yang sedang dirayakan oleh orang‑orang Yahudi dapat dikatakan terganggu bahkan tercemari oleh 120 murid yang dipenuhi Roh Kudus. Kondisi tersebut benar-benar amat berbahaya.

Pasa saat yang kritis tersebut, Petrus berdiri dan menyampaikan “kotbah perdana” di hadapan ribuan umat Yahudi. Kotbah Petrus ternyata memperoleh respon yang luar biasa. Lukas mencatat 3000 orang bertobat.

Dengan demikian tampak jelas bahwa tujuan utama karya Roh Kudus bukan glossalaleo atau “berkata‑kata dengan bahasa‑bahasa lain” tapi menjadi saksi Kristus yang dimampukan oleh Roh Kudus untuk memberitakan Fiman Tuhan yang menghasilkan jiwa‑jiwa yang bertobat. Tujuan utama karya Roh Kudus tampak dalam dua bagian penting :

 

<!–[if !supportLists]–>1)      <!–[endif]–>mampu memberitakan Firman Tuhan

<!–[if !supportLists]–>2)      <!–[endif]–>mampu memenangkan jiwa‑jiwa melalui pemberitaan Firman Tuhan

 

Jadi sasaran karya Roh Kudus adalah jiwa‑jiwa yang bertobat dan menjadi murid Yesus (Kisah 1:8 dan Matius 28:19) melalui pemberitaan Firman Tuhan.

 

<!–[if !supportLists]–>8.4.2.      <!–[endif]–>Penampilan kwalifikasi hidup orang percaya

 

Penampilan kehidupan orang percaya tampak jelas di Kisah 2: 41‑47. Pertumbuhan rohani mereka cukup menakjubkan. Kehidupan iman mereka tidak berhenti pada pertobatan dan baptisan (Kisah 2: 41). Setelah dibaptis, mereka memperkaya kehidupan iman dengan cara : bertekun dalam pengajaran rasul‑rasul (Kisah 2:42), berkumpul tiap‑tiap hari dalam Bait Allah (Kisah 2:6), bertekun dalam persekutuan (Kisah 2:42), berdoa (Kisah 2:42), bersekutu di rumah‑rumah (Kisah 2:49), memuji Allah (Kisah 2:47) dan seterusnya.

Disamping memperkaya kehidupan iman, orang‑orang yang percaya juga mengamalkan kehidupan iman mereka dalam kehidupan nyata setiap hari. Kehidupan yang ke arah vertikal disertai dengan kehidupan ke arah horisontal. Iman perlu disertai perbuatan nyata (Yak. 2:17). Perbuatan‑perbuatan nyata yang dilakukan orang‑orang percaya yakni : menolong sesama orang percaya (Kisah 2:45) dan menampilkan sikap hidup yang baik di tengah masyarakat sehingga “mereka disukai semua orang” (Kisah 2: 47).

Penampilan kehidupan nyata yang horisontal merupakan buah pertobatan orang‑orang percaya. Karya Roh Kudus tidak menciptakan suatu komunitas yang rohani saja. Namun Roh Kudus memakai orang‑orang percaya dalam penampilan kehidupan yang baik di masyarakat. Umat Tuhan tidak hidup bagi dirinya sendiri tapi hidup menjadi berkat bagi sesama orang percaya dan bagi semua orang. Kondisi sedemikian dapat tercapai apabila orang‑orang percaya mau hidup melekat di dalam Firman‑Nya. Roh Kudus yang menghidupkan Firman itulah yang menumbuhkan kehidupan iman umat‑Nya.

Mencermati kwalifikasi hidup orang percaya setelah Roh Kudus memenuhi 120 murid pada hari Pentakosta, kita melihat orang-orang percaya meningkatkan mutu iman melalui ketekunan dalam ajaran Firman Tuhan dan persekutuan doa. Kekayaan rohani yang diperoleh bukan sekedar untuk kepuasan rohani semata, namun diwujud‑nyatakan dalam perbuatan‑perbuatan konkrit di masyarakat dalam hidup sehari‑hari.

 

<!–[if !supportLists]–>8.4.3.      <!–[endif]–>Pelayanan yang disertai tanda‑tanda mukjizat

 

Lukas juga mencatat tanda‑tanda dan mukjizat vang terjadi di tengah pelayanan para rasul (Kisah 2:43). Perincian tanda‑tanda dan mukjizat tersebut tidak ditulis jelas. Kita tidak mampu mempelajari lebih jauh realita tanda‑tanda dan mukjizat vang dilakukan para rasul secara terperinci. Apakah pernyataan Lukas tersebut merupakan realisasi dari Markus 16:20 ?

Catatan Lukas berkaitan dengan tanda‑tanda dan mukjizat tidak hanya ditulis di Kisah 2:43. Panorama pelayanan rasul‑rasul yang bersifat supernatural dapat disaksikan di sejumlah peristiwa yang tertulis di Kitab Kisah Para Rasul. Dalam Kisah 3:1‑9 kita menjumpai mukjizat yang menyertai pelayanan Petrus. Seorang laki‑laki yang lumpuh sejak lahirnya disembuhkan seketika. Orang tersebut melompat‑lompat karena sukacita atas mukjizat yang dialaminya. Catatan selanjutnya dapat kita baca di Kisah 5:16 di mana “orang‑orang yang sakit dan orang‑orang yang diganggu roh jahat” disembuhkan.

Karya Roh Kudus yang berkaitan dengan mukjizat juga tampak dalam pelayanan Yesus. Lukas mencatat, “dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea … “ (Luk. 4:14). Dalam pasal yang sama, Yesus dengan kuasa Roh mengusir keluar roh setan yang menguasai seseorang (Luk. 4:37‑41). Di samping itu, Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon yang terserang sakit demam (Luk. 4:38‑39). Lebih lanjut, Yesus dalam kuasa Roh menyembuhkan banyak orang yang terkena pelbagai macam penyakit dan mereka yang terikat roh‑roh setan (Luk. 4:40‑41).

Tanda‑tanda dan mukjizat yang dilakukan para rasul yang dicatat oleh Lukas sejajar dengan apa yang dilakukan oleh Yesus. Kesejajaran tersebut diketengahkan Lukas dalam kaitan konsistensi penulisannya mengenai kuasa Roh Kudus. Dengan kata lain, apabila Roh Kudus memenuhi seseorang atau Roh Kudus menguasai hambaNya, tanda‑tanda dan mukjizat dapat tercipta. Di samping itu tentunya Lukas ingin menegaskan bahwa Roh Kudus yang berkarya dengan tanda‑tanda dan mukjizat tidak terbatas pada periode Yesus saja. Justru sebaliknya, Roh Kudus tetap bekerja dengan kuasa‑Nya melalui rasul dan hamba‑hamba‑Nya.

Berkaitan dengan tanda‑tanda dan mukjizat, Kitab Suci mengajar bahwa hal‑hal yang spektakuler tersebut tidak dipergunakan untuk “show” atau penampilan pertunjukan yang menakjubkan manusia (bandingkan dengan motivasi yang keliru yang dialami Simon, ahli sihir yang dihadapi Petrus dan Yohanes di Samaria (Kisah 8:9‑24). Kitab Suci memaparkan baik di PL maupun PB, tidak jarang tanda-tanda dan mukjizat yang supernatural memberi hasil yang paradoks. Melalui logika yang sehat, sebenarnya manusia akan tersungkur di bawah kaki Tuhan dan menyembah‑Nya saat menyaksikan peristiwa-peristiwa supernatural yang datang dari Allah. Namun ironisnya banyak manusia yang menolak keberadaan Allah, tidak mau taat pada hukum Allah dan tidak mau mengasihi‑Nya. Misalnya Firaun, sekalipun sudah melihat dengan mata kepada sendiri sepuluh keajaiban yang Allah perbuat, Firaun tetap tidak mau takluk di bawah kaki Allah. Umat Israel sendiri, bersafari lewat padang gurun selama 40 tahun di mana sejumlah kali mengalami dan menikmati mukjizat Allah namun satu generasi umat Israel ditimpa murka Allah karena ketidak‑taatan mereka terhadap hukum Allah.

Pada jaman Yesus, mukjizat berkali‑kali dilakukan‑Nya, namun banyak murid yang meninggalkan‑Nya (Yoh. 6:66). Dari sekian ribu jiwa yang menyaksikan tanda‑tanda dan mukjizat yang diperbuat Yesus, akhirnya yang benar‑benar jadi murid atau pengikut Yesus hanya tinggal 120 murid (Kisah 1:15).

Dengan demikian tanda‑tanda dan mukjizat tidak dapat dipakai sebagai jaminan kehidupan iman. Apabila kehidupan iman kita hanya kita bangun atas dasar tanda‑tanda dan mukjizat, kehidupan iman kita akan menghadapi resiko yang besar bahkan bangunan iman kita dapat mudah roboh menghadapi badai dan topan.

Itu sebabnya Lukas, penulis Kitab Kisah Para Rasul dalam menggoreskan tulisannya lebih terfokus pada pemberitaan Injil, pertobatan jiwa‑jiwa yang menerima Injil. Berdirinya gereja‑gereja Tuhan di Asia Kecil sampai Yunani dan Roma, pertumbuhan gereja‑gereja Tuhan dan penggenapan amanat agung Yesus Kristus yang memerintahkan murid‑murid‑Nya menjadi saksi dari Yerusalem sampai ke ujung bumi. Peristiwa‑peristiwa pasca‑Pentakosta tidak hanya diisi oleh tanda‑tanda dan mukjizat. Memang pelayanan rasul‑rasul dalam pemberitaan Injil disertai tanda‑tanda dan mukjizat, tapi fokus pelayanan rasul‑rasul tidak pada tanda‑tanda dan mukjizat, sebaliknya fokus diarahkan pada pertobatan jiwa‑jiwa, pertumbuhan iman dan perkembangan gereja Tuhan.

Berangkat dari pemahaman tersebut di atas, kita dapat mengerti mengapa rasul Paulus dalam tulisan surat‑suratnya tidak banyak menyinggung fenomena tanda‑tanda dan mukjizat. Rasul Paulus lebih menitik‑beratkan pada ajaran‑ajaran Firman Tuhan dalam seluruh surat‑suratnya.

Namun, kita juga tidak dapat cepat‑cepat menyimpulkan bahwa Rasul Paulus tidak percaya atau meniadakan karya Roh Kudus yang supernatural, atau tanda‑tanda dan mukjizat sudah tidak berlaku lagi. Kita harus memaklumi bahwa surat‑surat Paulus lebih banyak memberikan nasihat termasuk di dalamnya ajaran‑ajaran dan pembelaan baik atas posisi dirinya, pelayanannya maupun keyakinannya akan kebenaran Firman Tuhan/Injil. Hal ini disebabkan rasul Paulus menghadapi pelbagai tantangan yang mengancam keutuhan gereja, kemurnian ajaran Firman Tuhan serta ekses‑ekses yang timbul di tengah jemaat. Jadi surat‑surat Paulus cenderung bersifat guidance atau yang perlu segera ditindak‑lanjuti oleh para pemimpin gereja ajaran Firman Tuhan tetap dapat dipertahankan kemurniannya. Dapat dikatakan seperti seorang konselor yang mengkonseling klien. Karena cenderung lebih ke arah ajaran Firman Tuhan, fenomena‑fenomena supernatural tidak banyak disinggung. Fenomena‑fenomena seperti ‘membuat’ Elimas, tukang sihir menjadi buta selama beberapa hari (Kisah 13:8‑11); menyembuhkan seseorang yang lumpuh di Listra (Kisah 14:8‑10); menengking keluar roh jahat yang mengganggu pelayanan Paulus (Kisah 16:16‑18); mukjizat‑mukjizat luar biasa yang berkaitan dengan penyembuhan orang‑orang yang ditimpa sakit penyakit dan pengusiran keluar roh‑roh jahat terjadi di tengah pelayanan Paulus. Bahkan dengan saputangan saja, kesembuhan terjadi (Kisah 19:11‑12) ‑ fenomena‑fenomena tersebut sama sekali tidak disinggung dalam surat‑surat Paulus.

Apabila dalam surat‑surat Paulus, fenomena‑fenomena supernatural yang dialami dalam pelayanan tidak disinggung bukan berarti Paulus melupakannya atau terjadi ketidak‑serasian antara isi kitab Kisah Para Rasul dan isi surat‑surat Paulus. Kitab Suci tidak akan kontradiksi satu sama lain. Kitab Suci bukan kitab yang kacau yang membingungkan pembacanya. Namun, Paulus lebih menitik‑beratkan bimbingan yang berupa ajaran Firman Tuhan menghadapi pelbagai ajaran palsu yang hendak mengacaukan jemaat Tuhan. Paulus lebih memfokuskan ajaran Firman Tuhan daripada tanda‑tanda dan mukjizat. Dan memang jemaat Tuhan yang masih muda saat itu menghadapi pelbagai serangan ajaran‑ajaran dari para pengajar dan pemberita palsu yang dapat memporak‑porandakan jemaat Tuhan. Di samping itu Paulus tidak ingin umat Tuhan hanya menggantungkan imannya pada tanda‑tanda dan mukjizat saja. Umat Tuhan perlu memiliki ajaran kebenaran Firman Tuhan yang kokoh. Berpijak pada iman yang kokoh, umat Tuhan sanggup menghadapi tantangan apa pun. Beberapa catatan tulisan Paulus dalam surat‑suratnya yang berkaitan dengan karya Roh Kudus yang supernatural dapat dilihat di Roma 15:18‑19, Galatia 3:5 dan uraian Paulus mengenai karunia-karunia Roh Kudus di 1 Korintus 12 dan 1 Korintus 14.

Jadi Kitab Suci tidak meniadakan tanda‑tanda dan mukjizat. Kitab Suci tidak mengajarkan pada umat‑Nya untuk tidak dapat mengalami tanda‑tanda dan mukjizat. Kitab Suci tetap menyatakan bahwa kuasa Allah dalam Roh‑Nya sanggup menyatakan tanda‑tanda dan mukjizat di mana saja dan kapan saja sesuai dengan yang Dia kehendaki. Tanda‑tanda dan mukjizat tetap hadir sampai kini. John F. MacArthur, Jr., penulis buku “Charismatic Chaos” menuangkan tulisannya yang anti karismatik dalam bukunya tersebut, MacArthur adalah seorang Gembala Sidang Gereja Grace‑Community di Sun Valley, California. Sekalipun dia anti karismatik, dia tetap mengakui bahwa tanda‑tanda dan mukjizat tetap penting.

MacArthur menulis, “That is not to say signs and wonders were unimportant. As we have seen they had a distinctive purpose : they demonstrated that those who performed them were truly God’s messengers (Hebrew 2:4). And they often attracted people’s attention so the Gospel message could be proclaimed (cf Acts 8:6; 14:8‑18)”. Terjemahannya : “Bukan berarti tanda‑tanda dan mukjizat/tanda-tanda ajaib tidak penting. Sebagaimana telah kita lihat bahwa tanda-tanda dan mukjizat memiliki tujuan tertentu: tanda‑tanda dan mukjizat mendemontrasikan bahwa mereka yang melakukannya adalah benar‑benar utusan‑utusan Allah (Ibr. 2:4). Seringkali mereka menarik perhatian masyarakat agar berita Injil dapat diproklamasikan (bdk. Kisah 8:16; 14:8‑18)”.

Sebagai umat Tuhan, setiap orang percaya dapat mengalami mukjizat Allah di tengah pergaulan hidupnya sehari‑hari. Apabila iman berakar kuat pada Allah sendiri dan kebenaran Firman‑Nya, tanda‑tanda dan mukjizat dapat terjadi dalam kehidupan orang percaya. Dalam kehidupan sehari‑hari, setiap orang beriman tidak akan luput dari pergumulan hidup. Setiap orang beriman tak akan luput dari pelbagai cobaan hidup, juga tidak akan luput dari sakit penyakit dan masalah‑masalah lainnya. Menghadapi perjuangan hidup yang tidak ringan, setiap orang beriman membutuhkan kekuatan yang datang dari Allah sendiri. Kemampuan, kekuatan dan segala bentuk usaha manusia untuk mengatasi perjuangan amat terbatas.

Saat kehidupan berada di lembah bayang maut, orang beriman dapat berkata seperti Daud : “sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku, gada-Mu dan tongkat‑Mu itulah yang menghibur aku” (Maz. 23:4).

Tanda‑tanda dan mukjizat yang berasal dari Allah masih dapat dialami oleh orang‑orang beriman. Namun bagi orang beriman yang penuh dengan Roh Kudus, dia tidak sekedar menggantungkan hidup imannya pada tanda‑tanda dan mukjizat. Atau, dia tidak akan menjadi suam atau undur dari Tuhan apabila tanda‑tanda dan mukjizat tidak dialaminya. Orang beriman yang penuh Roh Kudus akan tetap berkobar‑kobar imannya di dalam Kristus dan Firman‑Nya sekalipun tanda‑tanda dan mukjizat tidak dialaminya. Hidup imannya tidak didasarkan pada tanda‑tanda dan mukjizat tapi pada Pembuat/Pencipta tanda‑tanda dan mukjizat yaitu Allah sendiri yang kita kenal dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

 

<!–[if !supportLists]–>8.4.4.      <!–[endif]–>Allah menumbuhkan jemaat‑Nya

 

Orang‑orang beriman yang hidupnya selalu dipenuhi Roh Kudus, imannya bertumbuh menjadi manusia yang dewasa rohani atau manusia rohani. Manusia rohani adalah orang‑orang beriman yang hidupnya tidak lagi dikuasai oleh dirinya sendiri atau kedagingannya, tapi hidupnya dikuasai oleh Roh Kudus. Rasul Paulus menggunakan istilah “tawanan Roh” (Kisah 20:22). Penulis Injil Matius memakai istilah “dibawa oleh Roh” (Mat. 4:1). Kedua bagian ayat tersebut berhubungan dengan “peperangan” yang harus dihadapi oleh Paulus maupun oleh Yesus. “Peperangan” yang dihadapi, disebabkan Paulus maupun Yesus adalah pemberita Injil. Iblis dan orang‑orang yang anti Injil berusaha keras menghancurkan misi Yesus maupun Paulus.

Apabila Roh Kudus memenuhi orang beriman, dia akan menjadi saksi bagi Injil‑Nya. Menjadi saksi bagi Tuhan akan menghadapi “musuh”. Namun kemenangan jelas di pihak hamba‑hamba‑Nya sekalipun harus mengorbankan jiwa raga. Orang‑orang beriman yang penuh Roh Kudus akan siap memasuki jenis “peperangan” apapun. Orang‑orang beriman tidak akan undur atau menyangkali imannya. Sebaliknya mereka siap sekalipun harus mati syahid menjadi martir.

Berpijak pada kwalifikasi iman yang baik, allah menumbuhkan jumlah orang‑orang beriman. Pertambahan jumlah umat Kristiani disebabkan umat beriman yang memiliki kwalifikasi rohani yang baik dan rela dengan penuh sukacita menjadi saksi bagi Injil‑Nya. Menyaksikan Injil‑Nya bukan saja lewat kata‑kata tetapi juga lewat perbuatan hidup sehari‑hari. Itu sebabnya, Lukas menulis “mereka disukai semua orang” (Kisah 2:47). Karena orang‑orang beriman disukai oleh masyarakat sekitarnya, otomatis pertumbuhan jumlah orang percaya meningkat. Lukas mencatat “tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kisah 2:47).

Apabila Roh Kudus leluasa memimpin hidup orang‑orang beriman, pertumbuhan jumlah orang‑orang percaya meningkat. Perhatikan istilah yang digunakan Lukas, “orang yang diselamatkan”. Berarti pertambahan jiwa dihasilkan dari petobat baru. Inilah pertumbuhan gereja yang sebenarnya (church growth).

Pertumbuhan gereja yang sejati adalah pertumbuhan jiwa‑jiwa yang diselamatkan, bukan pertambahan jiwa-jiwa asal pindahan gereja-gereja lain. Bukan juga pertambahan jiwa‑jiwa asal putra‑putri warga jemaat/orang beriman. Itu sebabnya Rasul Paulus tidak bersedia memberitakan Injil di tempat‑tempat yang telah dilayani oleh seseorang (2 Kor. 10:15‑16). Rasul Paulus rindu memperoleh buah yang murni yakni jiwa‑jiwa yang diselamatkan oleh Injil Kristus.

Pada masa sekarang, gereja‑gereja berlomba mendapatkan jiwa di tempat yang sudah ada, pelayanan dari sebuah gereja. Ironisnya, gereja yang sudah berdiri lebih dulu di suatu tempat tidak berkembang. Berangkat dari tidak adanya perkembangan sebuah gereja sedangkan wilayah tempat gereja tersebut berdiri ternyata merupakan wilayah dengan komunitas/masyarakat yang cukup besar jumlahnya, gereja-gereja kemudian saling berlomba untuk berkembang di wilayah tersebut. Barangkali strategi yang dipakai rasul Paulus sudah berbeda dengan strategi gereja di jaman modern.

Namun yang penting untuk dipahami yakni indikator karya Roh Kudus yang leluasa bekerja di jemaat‑Nya berkaitan erat dengan pertumbuhan iman atas dasar kebenaran Firman Tuhan, dan jemaat-Nya yang bertumbuh imannya pasti akan mengalami pertambahan jumlah atau multiplikasi jumlah warga jemaat.

Mencermati catatan Lukas mengenai karya Roh Kudus di tengah umat‑Nya setelah Kisah Para Rasul pasal 2, yakni memasuki pasal 3‑28, Lukas lebih memfokuskan perkembangan jemaat Tuhan melalui pemberitaan Injil. Amanat Yesus yang tertulis di Kisah 1:8 digenapi dalam penulisan Lukas di Kitab Kisah Para Rasul. Tampak jelas alur narasi Lukas berkaitan dengan perkembangan jemaat Tuhan. Diawali di Yerusalem pada hari Pentakosta berkembang ke wilayah-wilayah lain. Fenomena karya Roh Kudus pada pasca‑Pentakosta tidak semata‑mata difokuskan pada fenomena glossalaleo atau “tanda-tanda dan mukjizat” tapi dipusatkan pada realita penggenapan Kisah 1:8.

Dari Yerusalem, Injil tersebar ke Yudea dan Samaria. Lukas menulis, “selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai … Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus” (Kisah 9:31).

Memasuki Kisah 13, Injil mulai menyebar lebih jauh mencapai wilayah‑wilayah seperti pulau Siprus, sekitar Asia kecil, Makedonia, Yunani dan Roma. Wilayah‑wilayah tersebut merupakan implementasi menjadi saksi Kristus “sampai ke ujung bumi” (Kisah 1:8). Berarti Injil tersebar di wilayah manapun yang ada di bumi. Inilah fokus penulisan Lukas di Kitab Kisah Para Rasul yang diawali dengan tercurahnya Roh Kudus ke atas 120 murid.

Jadi fenomena karya Roh Kudus setelah peristiwa supernatural Pentakosta (Kisah 2:1‑4) merupakan fenomena tersebarnya Injil ke pelbagai penjuru dunia. Glossalaleo dan “tanda‑tanda dan mukjizat” tercatat di dalamnya, namun karya Roh Kudus lebih memusatkan misi‑Nya pada pengembangan pemberitaan Injil yang menghasilkan gereja‑gereja Tuhan di mana‑mana. Faktor penting yang seharusnya menjadi misi utama gereja/umat Tuhan yang hidupnya dipenuhi Roh Kudus. Umat Tuhan tidak boleh berhenti pada fenomena supernatural saja. Umat Tuhan juga tidak sekedar mengajarkan kemana‑mana fenomena‑fenomena karya Roh Kudus yang berupa manifestasi fisik saja.

Umat Tuhan tidak boleh berpuas diri dan bangga akan fenomena karya Roh Kudus yang spektakuler. Tapi umat Tuhan harus berfokus pada pengembangan pemberitaan Injil vang menyelamatkan jiwa‑jiwa terhilang yang dicapai oleh Injil Kristus dan menjadi teladan dalam perbuatan hidup sehari‑hari di tengah masyarakat, khususnya di tengah masyarakat Indonesia yang pluralistik. Lalu, apakah kita meniadakan tanda‑tanda dan mukjizat‑mukjizat ? Jelas sama sekali tidak. Allah pasti akan meneguhkan pemberitaan Injil yang hamba‑hamba-Nya sampaikan dengan tanda‑tanda, dan mukjizat‑mukjizat sebagaimana tertulis dalam Markus 16:20; Kisah 2:22; Kisah 2:43 dan seterusnya.

 

<!–[if !supportLists]–>8.5.            <!–[endif]–>Manifestasi Karya Roh Kudus

 

Manifestasi karya Roh Kudus yang diuraikan dalam tulisan ini hanya menyentuh “berkata‑kata dalam bahasa roh” atau yang dikenal dengan istilah, glossalaleo (orang‑orang Kristen dari Gereja Pentakosta mengenalnya dengan istilah “glosolali”). Juga beberapa ekses manifestasi karya Roh Kudus akan diketengahkan. Uraian yang terbatas ini adalah untuk menjaga agar tulisan tidak terlalu panjang yang dapat mengakibatkan tulisan tidak dapat diikuti dengan baik. Keterbatasan tersebut membawa pertimbangan penulisan yang berfokus pada, “berkata‑kata dalam bahasa roh”. Dalam tulisan ini akan diuraikan :

 

<!–[if !supportLists]–>1)      <!–[endif]–>berkata‑kata dalam bahasa roh

<!–[if !supportLists]–>2)      <!–[endif]–>ekses‑ekses yang timbul

 

 

<!–[if !supportLists]–>8.5.1.      <!–[endif]–>Berkata‑kata dalam bahasa roh

 

Istilah “berkata‑kata dengan bahasa roh” dijumpai dalam 1 Kor. 12:10; 14:2,4‑6, dst. Dalam Kisah 10:46 ditulis, “berkata‑kata dalam bahasa roh” ‑ bandingkan juga di Kisah 19:6. Kata “dengan” dan “dalam” tidak ada perbedaan. Dalam terjemahan bahasa Inggris, “speak with tangoues” atau terjemahan literalnya “berbicara dengan lidah”. Kata, “lidah” dalam bahasa Yunani adalah γλοσσα, glossa. Sedang kata speak atau “berbicara”, kata Yunaninya adalah λαλεω, laleo. Rangkaian kata‑kata tersebut menjadi glossalaleo atau lebih dikenal dengan istilah “glosolali”.

Dalam Kitab Suci dipergunakan istilah “berkata‑kata dengan bahasa roh” karena dalam 1 Korintus 14:2 dijelaskan bahwa orang yang “berkata‑kata dengan bahasa roh” sebenarnya bukan berasal, dari kemampuannya sendiri melainkan “oleh Roh ia mengucapkan hal‑hal yang rahasia”. Karena Roh Allah sendiri yang memampukan ia berbicara, dia dikategorikan sebagai orang yang “berkata‑kata dengan bahasa roh”.

Istilah yang dikenal oleh Gereja‑gereja Pentakosta dan kharismatik yakni “bahasa lidah” atau “glosolali” menjadi “tanda utama” seseorang yang dipenuhi Roh Kudus. “Glosolali” juga, diajarkan kemana‑mana oleh orang‑orang Pentakosta. Mereka yang mengucapkan “hal‑hal yang rahasia” (1 Kor. 14:2); mereka bukan “berkata‑kata kepada manusia tetapi kepada Allah” (1 Kor. 14:2). Mereka berkata-kata, dengan kata‑kata, yang tidak jelas dan tidak dimengerti (1 Kor. 14:9).

Uraian selanjutnya disajikan dalam bentuk tanya jawab. Tujuannya untuk memperjelas pemahaman “glosolali” atau “ bahasa lidah” atau “berkata-kata dalam bahasa roh”.

 

<!–[if !supportLists]–>1.      <!–[endif]–>Apakah “glosolali” merupakan tanda satu-satunya orang percaya yang dipenuhi Roh Kudus?

 

Pertanyaan ini telah menjadi polemik Gereja Tuhan. Pro dan kotra timbul di tengah umat percaya. Artinya ada yang menyatakan bahwa tanda satu‑satunya orang dibaptis/dipenuhi Roh Kudus adalah ”glosolali” atau “berkata‑kata dalam bahasa roh”. Sebaliknya ada yang mengatakan bahwa “glosolali” bukan merupakan tanda satu‑satunya orang yang dipenuhi Roh Kudus. Perdebatan yang menimbulkan pertikaian dan perpecahan antara umat percaya hanya mendukakan Roh Kudus (Efs. 4:30‑31). Baik yang pro maupun yang kontra tidak menghasilkan apa‑apa bagi kemuliaan Allah.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas kita perlu membaca Firman Tuhan dengan cermat dan memahaminya dengan seksama. Biarlah Roh‑Nya yang menerangi hati dan akal budi kita.

Kita akan melihat lebih dulu bagian yang terdapat di Kisah 2:1‑13. Bagian ini yang menjadi dasar pemahaman kita sehubungan dengan baptisan Roh Kudus. Selanjutnya kita akan melihat di Kisah 2:14‑47 yang merupakan bagian berikutnya yang tidak dapat dipisahkan dari Kisah 2:1‑13 tersebut. Dari kedua bagian ini kita dapat belajar apa sebenarnya tanda baptisan Roh Kudus. Apakah “glosolali”? Atau tanda lainnya? Sebagaimana telah diuraikan dalam tulisan terdahulu mengenai peristiwa Pentakosta yang spektakuler yang dialami oleh 120 murid, kita telah belajar bahwa pada saat murid‑murid dipenuhi Roh Kudus tampak dua hal penting:

 

<!–[if !supportLists]–>·        <!–[endif]–>Orang‑orang Yahudi di Yerusalem mendengar bunyi

<!–[if !supportLists]–>·        <!–[endif]–>Orang‑orang Yahudi mendengar murid‑murid menyampaikan perbuatan Allah dalam pelbagai macam bahasa yang dapat dipahami (Kisah 2:4‑6 dan 13).

 

Bunyi yang keluar dari ruangan tempat 120 murid berkumpul merupakan bunyi dari “tiupan angin keras” (Kisah 2:2) dan bunyi dari 120 murid yang “berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa lain” (Kisah 2:4). Dalam Kisah 2:6 orang‑orang Yahudi berkerumun karena mendengar bunyi tersebut. Sebagian orang Yahudi berkata mereka sedang mabuk (Kisah 2:13).

Sekalipun Lukas tidak menulis secara jelas bunyi awal yang keluar dari mulut 120 murid yang menarik perhatian orang‑orang Yahudi (Kisah 2:6), namun dari pertimbangan tulisan pada Kisah 2:6; Kisah 2:13; Kisah 10:44‑47; dan Kisah 11:15‑17, kita dapat menyimpulkan bahwa bunyi awal yang keluar dari mulut 120 murid adalah “bahasa roh”.

Mari kita renungkan sejenak bagian ayat‑ayat tersebut di atas.

 

<!–[if !supportLists]–>(a)    <!–[endif]–>Pada Kisah 2:6 tertulis “turun bunyi itu” ‑ dalam bahasa Inggris “noised abroad” (KJV). Yang dimaksud dengan “bunyi” tersebut harap dapat dibaca dalam uraian terdahulu (tidak perlu diuraikan kembali).

<!–[if !supportLists]–>(b)   <!–[endif]–>Kisah 2:13 merupakan respon sebagian orang Yahudi yang mendengar bunyi awal tersebut (hal ini juga sudah diuraikan).

<!–[if !supportLists]–>(c)    <!–[endif]–>Kisah 10:44‑47 mengatakan “mereka mendengar orang‑orang itu berkata‑kata dalam bahasa roh”. Atau dalam bahasa Inggris: “speak with tangoues”. Istilah “berkata‑kata dalam bahasa roh” jelas berbeda dengan “berkata‑kata dalam bahasa-bahasa lain” (Kisah 2:4-5). Fenomena yang terjadi di rumah Kornelius yakni turunnya Roh Kudus sama dengan fenomena pada hari Pentakosta. Artinya prinsip turunnya Roh Kudus tidak berbeda. Hanya indi­vidunya yang berbeda. Pada hari Pentakosta, 120 murid yang mengalami kepenuhan Roh Kudus, sedangkan di rumah Kor­nelius yang mengalami kepenuhan Roh Kudus adalah Korne­lius dan seisi rumahnya. Yang mencengangkan Petrus dan rom­bongannya yaitu ketika Kornelius dan seisi rumahnya “berkata­-kata dalam bahasa roh”. Mengapa mereka tercengang? Jawab­annya terletak di kesaksian Petrus sebagaimana tercatat dalam Kisah 11:15‑17.

<!–[if !supportLists]–>(d)   <!–[endif]–>Kisah 11:15‑17 menyatakan tegas‑tegas bahwa “Roh Kudus yang turun ke atas Kornelius dan seisi rumahnya sama seperti dahulu ke atas 120 murid” (Kisah 11:15). Berangkat dari pernyataan Petrus ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa 120 murid saat dipenuhi Roh Kudus juga berkata‑kata dalam bahasa roh. Istilah “bunyi” atau “noised abroad” itulah yang sebenarnya merupakan manifestasi “berkata‑kata dalam bahasa roh”. Hanya Lukas tidak mempertegas fenomena tersebut. Lukas cenderung lebih memfokuskan peralihan atau perubahan dari “berkata‑kata dalam bahasa roh” yang dituliskan sebagai “bunyi gaduh” atau “noise” kepada “berkata‑kata dalam bahasa‑bahasa lain”. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa Lukas lebih menitik‑beratkan pemberitaan Injil ke pelbagai bangsa sesuai Kisah 1:8 dari pada berhenti di fenomena “berkata‑kata dalam bahasa roh”.

 

Mencermati tanda orang‑orang percaya yang dipimpin Roh Kudus sebagaimana uraian tersebut di atas, kita dapat berkata bahwa tanda yang dimaksud adalah jelas berkata‑kata dalam bahasa roh. Tanda ini dilihat dan diakui oleh Petrus sendiri (Kisah 10:45‑46; 11:15‑16). Pengakuan Petrus sekaligus menguatkan fenomena berkata‑kata dalam bahasa roh saat 120 murid dipenuhi Roh kudus pada hari Pentakosta sekalipun Lukas tidak menyatakan secara gamblang.

Fenomena berkata‑kata dalam bahasa roh tampak kembali dalam catatan Lukas di Kisah 19:6, hanya Lukas menambahkan dengan kata “nubuat”. Dari pernyataan bagian‑bagian tersebut, kita tahu bahwa tanda‑tanda seseorang dipenuhi Roh Kudus adalah berkata‑kata dalam bahasa roh. Memang tanda‑tanda tersebut terjadi di tempat berbeda : di Yerusalem, di rumah Kornelius (non‑Yahudi) dan di Efesus. Menurut sejumlah ahli Kitab Suci, ketiga tempat tersebut memiliki makna tersendiri. Kaitannya ialah orang‑orang non‑Yahudi juga menerima kepenuhan Roh Kudus. Juga karya Roh Kudus tidak hanya bekerja di Yerusalem saja, sebenarnya kita dengan rendah hati harus mengakui bahwa berkata‑kata dalam bahasa roh merupakan tanda kepenuhan Roh Kudus. Tanda ini tidak dapat kita tolak atau hapus begitu saja.

Hanya pertanyaan yang sering membingungkan Gereja Tuhan yakni, apakah berkata‑kata dalam bahasa roh merupakan satu‑satunya tanda seseorang dipenuhi Roh Kudus? Pertanyaan ini telah menimbulkan perdebatan yang rasanya tak kunjung padam. Sebetulnya kita kembali harus rendah hati belajar kebenaran Firman Tuhan itu sendiri. Apa sebenarnya yang ditulis Kitab Suci perihal pernyataan tanda satu-satunya. Apakah benar demikian?

Mari kita lihat Kisah 2:14-47, bagian dari peristiwa Pentakosta yang tidak dapat dipisahkan dari Kisah 2:1‑13. Apa yang terjadi di Kisah 2:14‑47? Yang cukup menarik perhatian kita terdapat di Kisah 2:38‑39. Di sini Petrus menyinggung karya Roh Kudus dengan pernyataan “kamu akan menerima karunia Roh Kudus”. Selanjutnya Petrus kembali mengulangi nubuat Yoel yang menyatakan bahwa janji‑janji turunnya Roh Kudus adalah bagi semua orang (Kisah 2:39). Tampak jelas penekanan Petrus mengenai karya Roh Kudus.

Respon atas kotbah perdana Petrus pada hari Pentakosta tersebut yakni 3000 jiwa bertobat dan dibaptis (Kisah 2:41). Ternyata dalam catatannya atas 3000 orang yang bertobat sebagaimana tertulis dalam Kisah 2:41‑47, Lukas sama sekali tidak menulis mengenai fenomena “bunyi” atau “berkata‑kata dalam bahasa roh”.

Tiga ribu petobat baru tidak berkata‑kata dalam bahasa roh. Dari ayat‑ayat baik sebelum maupun sesudahnya, juga dalam pasal‑pasal berikutnya, Lukas sama sekali tidak menyinggung mengenai fenomena “glosolali” di tengah para petobat baru tersebut. Dengan demikian pada hari Pentakosta dijumpai dua macam fenomena. Fenomena yang dialami oleh 120 murid saat Roh Kudus memenuhi mereka yaitu “berkata‑kata dalam bahasa roh” yang segera berubah menjadi “berkata‑kata dalam bahasa lain” dan fenomena yang dialami 3000 petobat baru. Fenomena yang dialami 3000 petobat baru tidak dijumpai berkata‑kata dalam bahasa roh. Berpijak pada catatan Lukas ini, kita dapat mengerti bahwa berkata‑kata dalam bahasa roh bukan merupakan tanda satu‑satunya seseorang dipenuhi Roh Kudus.

Argumen yang menyatakan berkata‑kata dalam bahasa roh merupakan tanda satu‑satunya akan menimbulkan kesulitan untuk menjawab pengalaman 3000 petobat baru. Apabila Kitab Suci tidak menuliskannya, beranikah kita menambahkan “kata‑kata” kita sendiri ke dalamnya? Atau memberikan interpretasi/tafsiran yang sama sekali tidak memiliki landasan yang kuat dalam tulisan Kitab Suci?

Peristiwa berikutnya yang dapat kita pelajari yaitu Kisah 4:31. Lukas menulis “mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan Firman Allah dengan berani”. Sekalipun tampak konsistensi Lukas dalam penekanan penulisannya yang berfokus pada pemberitaan Injil, kita membaca bahwa saat mereka dipenuhi Roh Kudus, Lukas tidak menyinggung “glosolali” atau istilah lainnya seperti “bunyi” atau “noise” atau “berkata‑kata dalam bahasa lain” seperti yang ditulisnya di tempat lain di Kitab Para Rasul.

Peristiwa kepenuhan Roh-Kudus tanpa pernyataan fenomena berkata‑kata dalam bahasa roh tampak dalam pertobatan Saulus (sebelum berubah nama menjadi Paulus) ‑ Kisah 9:17‑18. Memang di kemudian hari Paulus menyatakan bahwa dia juga berkata‑kata dalam bahasa roh (1 Kor. 14:18). Hanya Kitab Suci tidak menjelaskan kapan Paulus mulai berkata‑kata dalam bahasa roh, apakah saat dia bertobat dan dibaptis, apakah saat dia menyendiri di tanah Arab (Gal. 1:17) ataukah saat dia ditumpangi tangan oleh para nabi dan pengajar di jemaat Anthiokhia (Kisah 13:1‑3)? Namun yang jelas Lukas menyatakan Saulus penuh dengan Roh Kudus (Kisah 13:9).

Pemahaman tersebut di atas menjelaskan bahwa berkata‑kata dalam bahasa roh bukan merupakan tanda satu‑satunya. Dengan kata lain ada orang yang berkata‑kata dalam bahasa roh tapi ada orang yang tidak berkata‑kata. Kondisi inilah yang dinyatakan Paulus, “ … adakah mereka berkata‑kata dalam bahasa roh … ?” (Kisah 12:29‑30). Jawabannya jelas, tidak !

Sejumlah orang mengatakan bahwa ada orang yang tidak berkata-kata dalam bahasa roh – kategori ini berkaitan dengan karunia. Apakah berarti karunia yang diperoleh orang percaya memang berbeda-beda ? Sehingga ada yang menerima karunia “glosolali”, tapi ada yang tidak.

Berdasarkan pada pemahaman mengenai karunia, memang ada orang‑orang percaya yang menerima karunia yang berbeda dengan orang percaya lainnya. Artinya masing‑masing orang percaya menerima karunia sesuai dengan anugerah Allah sendiri. Mereka mengatakan bahwa karunia berbeda dengan tanda! Karunia dapat berbeda-beda namun tanda hanya satu ‑ dengan kata lain tanda merupakan pernyataan Roh Kudus satu‑satunya.

 

<!–[if !supportLists]–>2.      <!–[endif]–>Apakah betul terdapat perbedaan antara tanda dan karunia sehubungan dengan kepenuhan Roh Kudus ?

 

Guna menjawab pertanyaan tersebut, mari kita melihat pernyataan Kitab Suci sendiri. Apakah memang Kitab Suci menyatakan bahwa tanda satu‑satunya kepenuhan Roh Kudus adalah “glosolali”?

 

<!–[if !supportLists]–>(a)    <!–[endif]–>Mencermati Kisah 2:1‑4, tanda pekerjaan Roh Kudus yang memenuhi 120 murid terdapat beberapa tanda yakni: bunyi tiupan angin keras, lidah‑lidah nyala api bertebaran dan hingga pada 120 murid, berkata‑kata dalam bahasa lain. Jadi dalam waktu yang bersamaan saat Roh Kudus turun ke atas 120 murid, tanda‑tanda fisik tersebut dialami oleh para murid. Sulit untuk dipisahkan antara tanda‑tanda fisik tersebut satu sama lain.

<!–[if !supportLists]–>(b)   <!–[endif]–>Dalam Kisah 2:38‑39, akhir dari khotbah Petrus, Petrus menekankan pertobatan, baptisan dan penerimaan karunia Roh Kudus. Petrus mengetengahkan istilah karunia, karena kutipan nubuat nabi Yoel berkaitan dengan pencurahan Roh Kudus berisi karunia‑karunia seperti bernubuat, penglihatan‑penglihatan dan seterusnya. Dengan istilah karunia, Petrus menjelaskan bahwa orang percaya akan dimampukan mengoperasikan hidup imannya oleh karunia Roh Kudus.

<!–[if !supportLists]–>(c)    <!–[endif]–>Kisah 2:41 tidak menampakkan 3000 orang percaya menerima tanda kepenuhan Roh Kudus berupa tanda‑tanda fisik seperti tiupan angin, lidah api, berkata‑kata dalam bahasa roh atau berkata‑kata dalam bahasa lain. Apabila dijumpai tanda‑tanda fisik, Lukas pasti mencatatnya karena Kitab Kisah Para Rasul sebenarnya merupakan kisah pekerjaan Roh Kudus. Apakah Lukas sengaja menghapus peristiwa spektakuler yang masih hangat terjadi di hari yang sama yakni hari Pentakosta? Tentunya catatan‑catatan peristiwa spektakuler berikutnya tidak akan luput dari pengamatan Lukas. Dapat dikatakan Kitab Para Rasul terisi dengan banyak catatan peristiwa‑peristiwa spektakuler. Apabila 3000 petobat baru tidak mengalami “glosolali”, Kitab Suci ingin memperlihatkan bahwa “glosolali” bukan tanda fisik satu‑satunya orang percaya dipenuhi Roh Kudus.

<!–[if !supportLists]–>(d)   <!–[endif]–>Kisah 4:31 saat orang‑orang percaya dipenuhi Roh Kudus, Lukas mencatat “goyanglah tempat mereka berkumpul”.

Tanda fisik saat kepenuhan Roh Kudus terjadi berupa tempat yang dipergunakan orang‑orang percaya berdoa goyang. Ruangannya goyang seperti tertimpa gempa bumi. Tidak dijumpai tiupan angin keras atau lidah‑lidah nyala api ataupun berkata‑kata dalam bahasa roh atau berkata‑kata dalam bahasa lain.

<!–[if !supportLists]–>(e)    <!–[endif]–>Kisah 6:8 mengatakan bahwa Stefanus “penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda”. Apabila istilah “penuh dengan karunia dan kuasa” dipahami sebagai “dipenuhi Roh Kudus”, kita melihat bahwa hasil yang keluar adalah mukjizat‑mukjizat dan tanda‑tanda. Tidak terbatas hanya satu tanda atau tampak hanya satu tanda. Namun, Lukas menulis tanda‑tanda Roh Kudus yang memenuhi Stefanus lebih banyak bekerja dalam kapasitas “berbicara” (Kisah 6: 10).

<!–[if !supportLists]–>(f)     <!–[endif]–>Selanjutnya kita juga dapat membaca dalam Kisah 7:55, Lukas melaporkan bahwa Stefanus “yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah”. Tanda yang Stefanus alami saat Roh Kudus memenuhinya yakni dia mampu melihat kemuliaan Allah.

<!–[if !supportLists]–>(g)    <!–[endif]–>Bagian‑bagian yang tertulis dalam Kitab Para Rasul dapat diteliti lebih lanjut yang berkaitan dengan tanda kepenuhan Roh Kudus. Uraian dibatasi sampai pada Kisah 6:8.

 

Berpijak pada uraian‑uraian tersebut diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa tanda fisik yang tampak dalam diri seseorang yang dipenuhi Roh Kudus tidak terbatas hanya berkata‑kata dalam bahasa roh. Disamping itu berkata‑kata dalam bahasa roh adalah pemberian Allah berdasarkan anugerah‑Nya atau yang disebut karunia. Pemahaman karunia ini ditulis oleh Paulus, dalam surat-suratnya khususnya di 1 Korintus 12 dan 1 Korintus 14. Pemahaman mengenai karunia juga ditulis oleh Petrus dalam suratnya.

Oleh sebab itu kita tidak dapat mengatakan bahwa tanda satu-satunya orang percaya dipenuhi Roh Kudus adalah berkata‑kata dalam bahasa roh. Sudah dijelaskan bahwa berbicara mengenai soal tanda, Kitab suci menuliskan beberapa macam tanda saat Roh Kudus dicurahkan. Kita tidak boleh terjebak pada pemahaman yang keliru bahwa berkata‑kata dalam bahasa roh merupakan tanda satu‑satunya. Pemahaman yang tidak berlandaskan kebenaran penulisan Kitab Suci ini dapat menimbulkan diskriminasi di antara orang‑orang Kristen. Akan timbul kelompok orang Kristen yang berglosolali dan yang tidak. Dapat juga timbul kesombongan rohani di mana kelompok yang berglosolali merasa merupakan orang Kristen kelas paling utama sedang orang‑orang Kristen yang tidak berglosolali berada di kelompok kelas rendahan. Bahkan tidak jarang timbul pernyataan‑pernyataan yang berupa vonis yakni, orang‑orang Kristen yang tidak berglosolali tidak selamat atau tidak masuk Sorga atau tidak menerima berkat‑berkat Allah. Pemahaman yang keliru ini benar‑benar amat disayangkan karena mengakibatkan Gereja Tuhan terpecah‑belah.

<!–[if !supportLists]–>3.      <!–[endif]–>Ada orang yang mengatakan bahwa kalau orang percaya belum berglosolali atau berkata‑kata dalam bahasa roh, dia belum dipenuhi Roh Kudus, benarkah?

 

Sebagaimana telah diuraikan bahwa berkata‑kata dalam bahasa roh bukan merupakan satu‑satunya tanda seseorang dipenuhi Roh Kudus. Berkata‑kata dalam bahasa roh merupakan karunia Roh Kudus. Apabila seseorang tidak berkata‑kata dalam bahasa roh, Kitab Suci tidak pernah menulis bahwa orang tersebut belum dipenuhi Roh Kudus. Apabila berkata‑kata dalam bahasa roh merupakan persyaratan mutlak seseorang dipenuhi Roh Kudus, niscaya seluruh penulis Kitab Perjanjian Baru sudah mencantumkannya.

Karena berkata‑kata dalam bahasa roh merupakan karunia, orang percaya tidak perlu kuatir, takut, resah, tertuduh bahwa kalau belum berglosolali berarti belum dipenuhi Roh Kudus. Allah memberi karunia pada setiap orang sesuai kehendak‑Nya (1 Pet. 4: 10; Roma 12:6‑8; 1 Kor. 12:4, 7‑11). Tidak semua orang percaya mampu berkata‑kata dalam bahasa roh dapat dibaca dalam 1 Kor. 12:29‑30.

 

<!–[if !supportLists]–>4.      <!–[endif]–>Lalu, apakah orang-orang yang tidak berkata-kata dalam bahasa roh tidak ada anjuran Kitab Suci untuk menerima karunia tersebut?

 

Rasul Paulus memang mengatakan, “aku suka supaya kamu semua berkata‑kata dengan bahasa roh … “ (1 Kor. 14:5). Selanjutnya Paulus menulis, ” … kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia‑karunia Roh … “ (1 Kor. 14:12). Apabila orang‑orang percaya berhimpun bersama‑sama, Paulus menganjurkan agar “karunia bahasa roh” juga dipersembahkan (1 Kor. 14:16).

Bagian‑bagian tulisan Paulus tersebut di atas memang “mendorong” orang‑orang percaya berkata‑kata dalam bahasa roh. Tidak ada salahnya apabila orang‑orang percaya berusaha memperoleh karunia berkata‑kata dalam bahasa roh. Bagi mereka yang merindukannya, kita tidak boleh mencegahnya. Tapi bagi mereka yang tidak menerima karunia berkata‑kata dalam bahasa roh tidak boleh berhenti untuk memperoleh karunia lain yang diberikan Allah sesuai dengan kehendak‑Nya.

Kita harus berhati‑hati bahwa memperoleh karunia berkata‑kata dalam bahasa roh disebabkan rasa takut dan resah karena teman-teman seiman segereja selalu mengatakan bahwa “kamu belum dipenuhi Roh Kudus”.

Apabila kita tidak memperoleh karunia glosolali, kita akan tetap diberi oleh Allah karunia lain yang berguna untuk pelayanan di ladang‑Nya.

 

<!–[if !supportLists]–>5.      <!–[endif]–>Apa manfaat berkata‑kata dalam bahasa roh?

 

Manfaat berkata‑kata dalam bahasa roh :

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Orang yang berkata‑kata dengan bahasa roh, membangun dirinya sendiri (1 Kor. 14:4).

 

Ia membangun dirinya sendiri karena berkata‑kata, dengan bahasa roh bukan berasal dari manusia tetapi berasal dari Roh Kudus.

Dari pernyataan Paulus dalam 1 Kor. 14:2 tampak jelas bahwa berkata‑kata dengan bahasa roh bukan berarti berkata‑kata dengan bahasa sehari‑hari yang otomatis dikontrol oleh akal budi manusia. Roh Kudus yang memberi kata‑kata. Berkata‑kata dengan bahasa roh juga bukan berarti berkata‑kata yang dapat dibuat oleh manusia. Akal budi menjadi tak berfungsi dalam kaitan menciptakan kata‑kata yang dikomunikasikan. Atau kata‑kata yang diberikan Roh kepada seseorang, ia sendiri tidak mampu menjelaskannya. Itu sebabnya Paulus menasihatkan kepada orang yang berkata‑kata dalam bahasa roh agar berdoa supaya dia diberi karunia untuk menafsirkannya (1 Kor. 14:13). Seseorang yang berkata‑kata dalam bahasa roh, dia berkata‑kata kepada Allah. Hasil komunikasi supernatural ini akan menguatkan iman.

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Orang yang berkata‑kata dalam bahasa roh bermanfaat untuk membangun jemaat (1 Kor. 14:12).

 

Berkata‑kata dalam bahasa roh yang ditafsirkan, bermanfaat untuk membangun jemaat (1 Kor. 14:5). Berkata‑kata dalam bahasa roh yang ditafsirkan akan membuat jemaat paham akan kata‑kata roh tersebut. Jemaat akan mengerti apa pesan Allah untuk jemaat. Seperti karunia untuk bernubuat, jemaat dapat mendengar orang yang bernubuat dan jemaat diteguhkan serta dibangun.

Berkata‑kata dengan bahasa roh yang ditafsirkan memiliki bobot yang sama dengan orang yang bernubuat. Tujuannya adalah untuk membangun jemaat (1 Kor. 14:5). Jadi karunia Allah untuk bernubuat bukan bertujuan untuk menghancurkan jemaat atau memecah‑belah jemaat.

 

<!–[if !supportLists]–>6.      <!–[endif]–>Apakah dalam perhimpunan jemaat, seseorang dapat dengan le­luasa berkata‑kata dalam bahasa roh?

 

Berdasarkan 1 Kor. 14:26, dalam perhimpunan jemaat, Paulus justru menganjurkan seseorang mempersembahkan bukan saja pujian atau pengajaran, namun juga karunia bahasa roh. Dengan demikian seseorang dapat dengan leluasa berkata‑kata dalam bahasa roh. Bukan satu orang saja tapi dimungkinkan beberapa orang (1 Kor. 14:27).

Hanya perlu diperhatikan bahwa mereka yang berkata‑kata dalam bahasa roh di tengah perhimpunan jemaat, mereka diminta untuk menyampaikannya seorang demi seorang dan harus ada yang menafsirkannya (1 Kor. 14:27). Apabila tidak ada orang yang menafsirkan kata‑kata roh tersebut, orang‑orang yang berkata‑kata dalam bahasa roh diminta berdiam diri. Maksud berdiam diri yaitu orang yang berkata‑kata dalam bahasa roh dapat berkata‑kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah (1 Kor. 14: 28).

Berarti berkata‑kata dalam bahasa roh secara serentak tidak diijinkan oleh Paulus. Mengapa? Di satu sisi berkata‑kata dalam bahasa roh secara massal akan dianggap gila oleh orang‑orang yang tidak beriman (1 Kor. 14:23). Dengan kata lain, orang‑orang yang tidak beriman tidak dapat dimenangkan jiwanya bagi Kristus. Justru sebaliknya perhimpunan orang‑orang percaya hanya menjadi cemoohan. Itu sebabnya mengapa Lukas menuliskan secara tegas bahwa 120 murid yang berkumpul pada hari Pentakosta berkata‑kata dengan bahasa lain yakni bahasa-bahasa sesama manusia yang dapat dipahami.

Murid-murid yang dipenuhi Roh Kudus tidak hanya berkata-kata dalam bahasa roh yang menimbulkan bunyi aneh sehingga sejumlah orang Yahudi mengatakan murid‑murid tersebut mabuk anggur. Lukas mencatat murid‑murid tersebut dengan cepat dipimpin Roh Kudus untuk berkata‑kata dalam bahasa lain. Tujuannya untuk menyampaikan kabar keselamatan kepada mereka yang tidak beriman.

Selanjutnya Paulus juga menyatakan bahwa berkata‑kata dalam bahasa roh tanpa dimengerti akan mendatangkan kesia‑siaan saja (1 Kor. 14:9). Kata‑kata roh tersebut hanya tertelan di udara. Tidak ada artinya sama sekali bagi mereka yang mendengarnya khususnya yang belum beriman.

Paulus menyimpulkan argumentasinya tersebut dengan menekankan orang yang “berkata‑kata dalam bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya” (1 Kor. 14:13). Sekalipun Paulus menganjurkan berkata‑kata dengan bahasa roh dalam perhimpunan jemaat, namun Paulus juga memohon agar ada orang yang diberi karunia untuk menafsirkan bahasa roh tersebut (1 Kor. 14:26).

Bagi Paulus sendiri, ia lebih senang memakai bahasa yang dapat dimengerti di tengah perhimpunan jemaat daripada bahasa roh (1 Kor. 14:19). Paulus sendiri secara pribadi berkata‑kata dengan bahasa roh.

Apabila kita mencermati tulisan Paulus tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa dalam perhimpunan jemaat lebih baik dipakai kata‑kata yang dapat dipahami daripada berkata‑kata dalam bahasa roh yang tidak dipahami. Kecuali apabila orang yang berkata‑kata dengan bahasa roh diberi karunia untuk menafsirkannya. Dalam perhimpunan jemaat ajaran Firman Tuhan akan jauh lebih baik disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti.

 

<!–[if !supportLists]–>7.      <!–[endif]–>Mencermati sebagian umat percaya dan sejumlah hamba‑hamba Tuhan yang menggunakan bahasa roh yang cukup bhiruk pikuk di ibadah‑ibadah masa kini, apakah suasana “berbahasa roh” tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Kitab Suci sebagaimana tersebut dalam butir 6?

 

Apabila kita menengok ajaran rasul Paulus berkaitan dengan “berbahasa roh”, kita tahu bahwa rasul Paulus memohon agar mereka yang “berbahasa roh” dibatasi jumlahnya yakni “dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada yang menafsirkannya” (1 Kor. 14:27). Kalau tidak ada yang menafsirkannya, mereka yang berkata‑kata dalam bahasa roh dimohon berdiam diri (1 Kor. 14:28). Berpijak pada pemahaman rasul Paulus tersebut bahasa roh yang diekspresikan secara massal atau banyak orang yang menimbulkan suara/bunyi hiruk‑pikuk tidak diperkenankan.

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Apabila orang luar masuk ke dalam perhimpunan orang‑orang percaya dan mendengar semua orang berbahasa roh, orang tersebut akan mengatakan perhimpunan orang‑orang gila (1 Kor. 14:23).

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Berkata‑kata dalam bahasa roh secara massal hanya menghasilkan kesia‑siaan melulu (1 Kor. 14:9).

 

Di samping itu, rasul Paulus tentunya tidak ingin pola penyembahan berhala di kuil‑kuil yang para imam dan pengikutnya menggunakan bahasa yang tidak dimengerti karena dalam kondisi trance atau kondisi “tak sadarkan diri sebab kerasukan” ditiru oleh jemaat di Korintus. Rasul Paulus tidak ingin bahasa roh dari Roh Kudus dicampur‑adukkan dengan “bahasa roh” berhala‑berhala/dewa‑dewa/ roh ilah-ilah kuil Yunani. Kondisi trance dari roh asing bukan tidak mungkin dapat mempengaruhi jemaat di Korintus. Akibatnya berkata-kata dalam bahasa roh yang hiruk pikuk dapat terjebak dalam suasana trance seperti yang dilakukan orang‑orang kafir dalam penyembahan kuil‑kuil Yunani. Kondisi semacam inilah yang amat dicermati rasul Paulus. Karena itu, Rasul Paulus memberi nasihat yang cukup panjang lebar sebagaimana tertulis dalam 1 Korintus 12 dan 14.

Kembali pada permasalahan yakni apakah berkata‑kata dalam bahasa roh dapat diekspresikan secara serempak. Apabila kita mempelajari istilah “noise” atau “bunyi gaduh/hiruk pikuk” di Kisah 2:6 sebagaimana yang dijelaskan di atas, yang menarik perhatian para saleh umat Yahudi yang berkumpul di Yerusalem, kita tahu bahwa 120 murid yang berhimpun di kamar loteng pada hari Pentakosta tersebut mengalami kepenuhan Roh Kudus. “Bunyi hiruk pikuk” awal merupakan suara “berkata‑kata dalam bahasa roh” secara serempak yang dialami 120 murid. Kemudian peristiwa di rumah Kornelius saat Roh Kudus memenuhi mereka yang berhimpun, mereka secara serempak juga berkata‑kata dalam bahasa roh (Kisah 10:44‑46).

Pemahaman dari dua peristiwa tersebut memberi indikasi kuat bahwa berkata‑kata dalam bahasa roh secara massal dapat terjadi. Kitab Suci jelas menyatakannya. Dengan demikian, berkata‑kata dalam bahasa roh yang diekspresikan oleh umat percaya di tengah perhimpunan mereka dapat terjadi.

Lalu, apakah penjelasan Rasul Paulus sehubungan dengan pembatasan orang percaya yang berglosolali dengan apa yang dialami oleh 120 murid di Yerusalem dan perhimpunan di rumah Kornelius bertentangan satu sama lain? Tentunya tidak! Sebagaimana “bunyi hiruk pikuk” yang keluar dari 120 murid di Yerusalem pada hari Pentakosta dan bunyi “bahasa roh” di perhimpunan di rumah Kornelius, semuanya terjadi di tengah perhimpunan umat percaya. Sekali lagi di tengah perhimpunan umat percaya! Apabila terjadi di tengah perhimpunan umat percaya tanpa dihadiri oleh orang luar (belum percaya atau belum paham makna bahasa roh atau karya Roh Kudus), Kitab Suci menyatakan kondisi sedemikian wajar‑wajar saja. Artinya bagi orang beriman yang mengerti karya Roh Kudus tak ada yang mengherankan atau mengejutkan. Karena bagi orang beriman hal ini biasa‑biasa saja. Tapi bagi orang tak beriman, kondisi demikian dapat dikatakan gila (1 Kor. 14:22‑23).

Sebab itu pada, hari Pentakosta, Roh Kudus segera mengubah bunyi “noise” atau “hiruk pikuk” menjadi berkata‑kata dalam bahasa-bahasa yang dikenal dan dipahami oleh orang‑orang lain. Kalau tidak, 120 murid tersebut akan dikatakan gila, dan kata‑kata mereka sia‑sia saja. Di perhimpunan di rumah Kornelius, Roh Kudus tidak mengubah bahasa roh menjadi bahasa manusia karena perhimpunan tersebut merupakan perhimpunan orang‑orang percaya (tidak dikelilingi orang‑orang luar/orang‑orang kafir).

Jadi berkata‑kata dalam bahasa roh di tengah perhimpunan umat percaya adalah wajar‑wajar saja. Barangkali yang perlu diperhatikan adalah hal-hal sebagai berikut :

 

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Tidak menjadi kacau sebab Allah tidak menghendaki kekacauan ‑ (1 Kor. 14:33). Hal‑hal yang tidak sopan dan tidak teratur harus dihindarkan (1 Kor. 14:40). Umumnya kekacauan dan timbulnya hal‑hal yang tidak sopan serta tidak teratur sering disebabkan oleh pengaruh emosi yang cukup intens. Ledakan emosi berakibat hilangnya kemampuan pengendalian diri. Manifestasi fisik harus dicermati dengan baik.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Dibutuhkan individu yang memiliki karunia untuk menafsirkan bahasa roh. Berkata‑kata dalam bahasa roh yang dapat ditafsirkan akan membangun jemaat. Saat umat percaya berkata‑kata dalam bahasa roh, individu‑individu lain perlu berdoa juga untuk memohon Roh Kudus menganugerahkan kemampuan menafsirkan bahasa roh tersebut.

<!–[if !supportLists]–>Ÿ         <!–[endif]–>Apabila perhimpunan umat percaya dihadiri oleh orang‑orang luar atau bayi‑bayi Kristen atau orang‑orang percaya yang tidak memahami karya Roh Kudus atau tidak percaya karunia-karunia Roh Kudus, berkata‑kata dalam bahasa roh lebih baik tidak diekspresikan secara massal karena bagi mereka yang belum paham atau orang luar, bahasa roh tersebut tidak ada gunanya bahkan perhimpunan orang yang berkata‑kata dalam bahasa roh dapat dikatakan gila. Dalam perhimpunan yang bersifat umum lebih baik digunakan bahasa yang dikenal/dipahami (1 Kor. 14:19).

 

<!–[if !supportLists]–>8.      <!–[endif]–>Apakah perlu kita melarang orang yang berkata‑kata dengan bahasa roh?

 

Kitab Suci memberi nasihat agar kita jangan melarang orang berkata‑kata dalam bahasa roh (1 Kor. 14:39). Namun Paulus menambahkan nasihatnya tersebut yakni jemaat yang mengaplikasikan karunia bernubuat, berkata‑kata dengan bahasa roh dan karunia menafsirkannya, semua harus dilakukan dengan sopan dan teratur (1 Kor. 14:40).

 

<!–[if !supportLists]–>9.      <!–[endif]–>Apakah kita wajib menguji karunia‑karunia roh tersebut?

 

Memang betul, semua yang berasal dari pekerjaan roh wajib diuji. Ujian diperlukan untuk mengetahui apakah mengeluarkan bunyi kata-kata yang mirip setiap kali berbahasa roh, apakah memang orang-orang yang berkata‑kata dengan bahasa roh memiliki bahasa roh yang serupa/seragam?

Sebenarnya orang berkata‑kata dengan bahasa roh adalah orang yang berkata‑kata atas kemampuan Roh Kudus (1 Kor. 14:2). Jelas tidak mungkin Roh Kudus terbatas dengan beberapa kata‑kata yang mirip / sama yang diucapkan / dilafalkan. Dikuatirkan mereka yang berkata‑kata. dengan bahasa roh yang selalu sama, ekspresi kata‑kata roh yang keluar dari mulut mereka sudah menjadi kebiasaan rutin. Setiap kali berhimpun, mereka otomatis mengeluarkan kata‑kata roh yang sama. Jadi ada keterbatasan berkata‑kata dengan bahasa roh. Padahal kita berbahasa Indonesia saja, sekalipun terdapat kata‑kata yang mirip sama tapi dalam setiap komunikasi banyak kata yang berbeda. Tentunya Roh Kudus memiliki bahasa yang lebih indah, lebih variatif ketimbang bahasa manusia.

Karunia berkata‑kata dalam bahasa roh merupakan karunia berkomunikasi dengan Allah yang amat indah. Seseorang yang diberi karunia berkata‑kata dalam bahasa roh, ia akan berkomunikasi dalam roh dengan Allah. Kata‑kata roh akan diberi oleh Roh Kudus sendiri. Oleh sebab itu, apabila berkata‑kata dengan bahasa roh menjadi kebiasaan rutin, kata‑kata roh akhimya ditangkap / didengar oleh pihak‑pihak lain sama atau mirip. Akibatnya dapat menimbulkan tanda tanya apakah betul seseorang berkata‑kata dengan bahasa roh atau kata‑kata roh muncul hanya karena kebiasaan yang memang sudah terbiasa diekspresikan.

Dalam hal ini penulis tidak mau menghakimi orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. Penulis hanya rindu agar orang‑orang berkata‑kata dengan bahasa roh benar‑benar mengalami kemampuan supernatural dari Allah sendiri, sehingga kata‑kata roh yang diekspresikannya tidak membuat keraguan atau cemoohan bagi yang mendengarnya.

 

<!–[if !supportLists]–>10.  <!–[endif]–>Apakah berkata‑kata dengan bahasa roh dapat diajarkan karena sejumlah hamba Tuhan ada yang memohon warga jemaat yang didoakan untuk menirukan kata‑kata roh yang diucapkannya?

 

Mengajukan kepada orang lain atau orang lain diminta menirukan kata‑kata roh yang diucapkan hamba Tuhan ‑ hal ini jelas‑jelas merupakan penyesatan! Orang beriman harus tegas menolak ajaran demikian. Kitab Suci tidak pernah mengajarkan hamba‑hamba‑Nya untuk mengajarkan orang lain bagaimana berkata‑kata dengan bahasa roh. Glosolali merupakan karunia Allah, bukan buatan ciptaan manusia.

 

<!–[if !supportLists]–>11.  <!–[endif]–>Ada sekolah Alkitab yang meminta persyaratan murid yang masuk harus mampu berkata-kata dengan bahasa roh, apakah sekolah Alkitab tersebut benar?

 

Jelas sekolah Alkitab tersebut tidak benar. Amat disayangkan istilah sekolah Alkitab yang disandangnya tidak memiliki dasar pemahaman Kitab Suci yang baik.

Sebaliknya bagi sekolah Alkitab yang melarang muridnya berkata-kata dengan bahasa roh yang dilakukannya secara pribadi, juga tidak benar. Paulus menasihatkan, “jangan melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh” (1 Kor. 14:3 9).

 

<!–[if !supportLists]–>12.  <!–[endif]–>Bagaimana dengan doa sepuluh hari menjelang hari raya Pentakosta di mana sejumlah gereja melaksanakannya, apakah doa sepuluh hari tersebut sejalan dengan ajaran Kitab Suci?

 

Kitab Suci tidak pernah menginstruksikan orang‑orang percaya untuk memperingati doa 10 hari menjelang hari Pentakosta. Di seluruh Kitab Perjanjian Baru, kita tidak akan menjumpai peringatan doa 10 hari. Doa 10 hari tersebut merupakan inisiatif gereja khususnya gereja‑gereja Pentakosta.

Tidak ada kelirunya melaksanakan doa 10 hari, khususnya memohon Roh Kudus memenuhi kehidupan orang‑orang percaya. Hanya gereja perlu berhati‑hati karena dapat terjebak pada pandangan umat yang sederhana, yang berpikir bahwa kepenuhan Roh Kudus hanya terjadi setahun sekali yakni pada saat doa 10 hari tersebut.

Doa 10 hari juga bermanfaat untuk mengingatkan orang‑orang percaya bahwa keberadaan dan pekerjaan Roh Kudus tetap berlangsung sampai kini. Keberadaan dan pekerjaan Roh Kudus lengkap dengan seluruh karunia‑Nya masih tetap beroperasi sampai sekarang.

Yang perlu diperhatikan umat percaya harus memahami bahwa dalam kehidupan iman sehari‑hari umat percaya membutuhkan kepenuhan Roh Kudus. Beri kesempatan Roh Kudus menguasai hidup kita dan memakai hidup kita sebagai instrumen Allah di tengah lingkup hidup sehari‑hari.

 

9. Pengurapan Roh Kudus

 

Dalam PL dinyatakan bahwa sebelum para nabi dan raja melakukan tugas dan jabatannya, diurapi oleh Tuhan dengan tujuan memperlengkapi jabatan dan pekerjaan dengan kemampuan dan kuasa yang sangat diperlukan dalam tugasnya (1 Sam. 10: 1,9, 16:13).

Demikian pula Yesus Kristus diurapi Allah dengan Roh‑Nya pada awal pelayanan‑Nya sebagai Mesias (Kisah 10:38, 4:27‑28). Begitu pula setiap orang percaya diurapi dan dilengkapi oleh kuasa Roh Kudus dalam meneguhkan tugas dan jabatannya (2 Kor. 1:21‑22, 1 Yoh. 2:20,27).

Pengurapan Roh Kudus bisa sering terjadi, tidak hanya sekali saja. Pengurapan Roh Kudus berguna untuk pelayanan yang kita butuhkan. Misalnya, di dalam pelayanan berkhotbah kita diberi pengurapan Roh Kudus supaya tidak hanya sekedar berkhotbah, tetapi harus dapat mengadakan kontak dengan jemaat sehingga ada respon dari jemaat. Kita perlu belajar berkomunikasi dengan orang yang berbeda‑beda (dengan orang tua, dengan remaja, pemuda, dan anak‑anak). Kita juga perlu belajar untuk mampu bergaul dengan pelbagai macam orang, termasuk yang tidak cocok dengan kita sehingga khotbah kita tidak sekedar penyampaian kata‑kata tanpa tahu respon dan penerimaan.

Hubungan horisontal dengan sesama lebih diutamakan karena menentukan apakah ibadah kita dapat diterima Tuhan (Mat. 5:23‑26). Hubungan antara suami istri merupakan hubungan yang paling vital karena dapat mempengaruhi hubungan yang lainnya. Perkara dengan sesama harus diselesaikan dengan segera, jangan sampai melalui hukum karena tidak ada belas kasihan dan anugerah untuk kita di dalam hukum. Sebagaimana kita hidup di dalam anugerah, bukan dari hukum karena kita dibenarkan bukan dari hukum, tetapi karena anugerah. Maka begitu pula sikap kita terhadap sesama dalam kehidupan sehari‑hari, supaya kita selalu diampuni oleh anugerah Tuhan.

Kita hidup dari iman kepada iman, dari anugerah kepada anugerah, hidup dari respon (Roma 1:17). Ini juga termasuk pengurapan Roh Kudus. Kita hidup dari pengurapan Roh Kudus dari hari ke hari karena kita tidak akan mampu menghadapi pelbagai sikap sesama manusia dengan kemampuan sendiri, dengan kedagingan kita sendiri.

Pengurapan adalah suatu anugerah yang nyata diberikan oleh Allah Roh Kudus kepada mereka yang dipilih untuk memampukan seseorang melaksanakan panggilan pekerjaan Tuhan dalam hidup mereka. Seluruh Alkitab menjelaskan bagaimana Allah memanggil dan mengurapi umat‑Nya untuk melakukan pekerjaanNya, contoh:

 

<!–[if !supportLists]–>1)      <!–[endif]–>Musa memiliki urapan Roh Allah atas hidupnya (Bil. 11:17).

<!–[if !supportLists]–>2)      <!–[endif]–>Yosua memiliki urapan melalui penumpangan tangan (Ul. 34:9).

<!–[if !supportLists]–>3)      <!–[endif]–>Elia dan Elisa menerima urapan untuk mengerjakan mukjizat atas hidup mereka (1 Raja 19:14‑16).

<!–[if !supportLists]–>4)      <!–[endif]–>Yesus mulai pelayanan mukjizat‑Nya setelah menerima urapan atas kehidupan‑Nya (Kisah 10:38).

<!–[if !supportLists]–>5)      <!–[endif]–>Kita dapat menjadi saksi‑Nya di dunia ini setelah menerima kuasa urapan‑Nya (Kisah 1:8).

 

Pengurapan merupakan suatu fakta yang penting karena menghasilkan kuasa (Yunani: δυναμις, dynamis) yang berarti “kemampuan atau kesanggupan menarik kuasa Allah untuk melakukan mukjizat‑mukjizat tertentu” (Kisah 19:11‑12, 2 Raja 2:13‑14, 13:21).

Kita dapat mengerjakan pekerjaan Yesus Kristus dengan pengurapan Roh Allah (Yoh. 14:12). Oleh karena itu, kita memerlukan persekutuan hidup dengan Dia seperti Yesus dengan Bapa sehingga Yesus ada di dalam kita melalui Roh Kudus‑Nya dapat melaksanakan kehendak Bapa (Yoh. 14:10‑11).

 

 

 

‑‑‑ 0000000000 ‑‑­

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: